sekaligus peringatan OCEAN-Day International jatuh 8 Juni kemarin... better late than never....,
Ikan kakak tua (Parrot fish) menyantap karang hidup. Mengunyahnya hingga berubah menjadi pasir halus yang menarik. Setiap spesies individu dapat menciptakan “timbunan” lebih dari 1 ton tiap tahunnya.
Struktur anatomi tubuh Ubur-ubur 98% adalah air.
Ikan terkecil adalah Tiny Goby, ditemukan di Philipina. Panjang tubuhnya sekitar ½ inch.
Barakuda punya gigi tajam yang hampir dapat mencabik setiap ikan yang dimangsanya.
Ikan layar (Marlin) kerap mengibaskan sirip layar-nya (dorsal fin) untuk membingungkan para mangsa yang berenang dalam kelompok (schooling).
INFO sekilas Parrot Fish :
Dibilang ikan kakak tua, karena mereka punya gigi mirip paruh…plat gigi tunggal (Dental plates). Bukan sekedar ganyang karang, tapi mengunyah bagian segmen tubuh karang yang ditumbuhi algae (sejenis lumut laut). Sebagai menu utama santap. Dalam proses olah asupan nutrisi, pencernaan internal mereka akan memisahkan menu algae dengan “butiran” pasir unik yang berasal dari karang tadi. Butiran pasir akan keluar bersama e’ek-nya! Kerap terlihat menyembur via anus saat mereka berenang.. jadi sajian observasi menarik bagi para penyelam.
Per-individu mampu menimbun “pasir” lebih dari 1 ton/tahun. Akibat kebiasaan pola makan itu mereka dianggap sebagai mayor contributor sedimentpada lingkungan pesisir dan zona sekitar terumbu karang. Sekaligus menjawab fenomena pasir Merica di Lombok pada artikel pendahulu.
Di Lombok, warga lokal menyebut mereka ikan Lembain. Jadi olahan ikan asin pilihan dibanding spesies ikan lain.
Sumber : buku MARINE FISHES – A Field Guide for Anglers and Divers – by Gerry Allen hal. 198-199
klo saja kemelut Ambalat berujung Perang bilateral...., Saya berharap aksi tersebut semata demi konsep pertahanan RI...pertahankan Harga diri... tanpa terkontaminasi kasus basi Manohara. Bikin huru-hara....demi entertain... dari kebiasaannya Hura-hura.... Nelangsa yang mutakhir..... gak rela bangsa ini ambruk oleh cuma tipikal manusia kelebihan bobot. over dosis... 4 hari membengkak karena suntik. Knapa gak sekalian bilang di Santet suami!!!! Mano.. huru-hara!
ayo kenal tanah... mari geluti AIR demi TANAH... demi AIR!!!! for ARCHIPELAGO.....,
Sekian jauh perkembangan tehnologi komunikasi, sarana penyambung lidah via nirkabel. Tetap saja ada sesi kembali ke sejarah awal. Berawal dari rengekan Gingga minta mainan sederhana, mau gak mau nuruti curiosita yang hadir. Sekaligus jadi mediasi belajar ala kadar. Perantara transfer ilmu... penghantar tele-komunikasi. tele-pati... tele-graph...meranjak tele-phone. Getar suara mengalir via rambat kabel.... temuan fenomenal si mbah kakung, almarhum mendiang Alexander Graham Bell.
Kutip someone said...., Konon sejarah lahirnya produk HP merk SonyEricsson juga berawal dari halangan sendat bincang.... obral omong...."cuap-cuap". Gak puas dengan keterbatasan fasilitas konvensional, static facility. Dibutuhkan sarana mobile sebagai pendukung aktivitas lebih leluasa. Konsep dasar multi ruang. Tokoh sentral bernama akang Sony... tergugah inspirasi. kian fokus bereksperimen... angan kian bangkit... TEGAK berdiri.. demi obsesi. Sehingga menamai gerakan inovatif perdana-nya dengan debut keren "SOnyErection". Jelang ajuin hak paten ditolak biro terkait. IniSIAL yang dianggap gak bawa hoki... dulang sial kancah reProduksi....ups! maksudnya geliat produksi. So, lahirlah nama SonyEricsson.
Sejurus waktu, alih daur edar masa... bisa terlihat dari jibun edar Kelepon-Kelepon genggam. sebagaimana contoh inset gambar diatas tadi. Percaya gak Percaya ini penuh muslihat eja kata. .. reka-reka...rekayasa kalimat subsidi ber-parodi. Jangan percaya 100%.... Terhibur gak terhibur... Saya memang bukan kategori Pria penghibur.... Lagi jenuh kehabisan amunisi jemput ilham..... dapat wangsit bisikan usil syaitonir rojim... was-wasil honnas!!!!
Lantaran ulas Feeding Frenzy, saya jadi teringat pengalaman silam. Tentu bukan jenis yang mematikan seperti spesies Irukandji. Terlebih Box Jelly fish alias Chinorax fleekeri yang umum disebut SeaWasp. Rata-rata mereka miliki tubuh transparan. Persis performa kue agar-agar…
Berbekal laju arus air mereka-pun menjelajahi samudra. Sirkulasi hidup yang dijalani dengan tabah, sesuai takdir. Tiba saat musim bertelur, mereka memasuki wilayah teluk berceruk sempit. Terutama zona minim arus. Fenomena alam menarik. Karena dalam satu hamparan luas akan tampak permukaan laut di huni ratusan bahkan ribuan “agar-agar” hidup. Tonjol punggung dipermukaan air. Saat yang tepat melakukan ajang kumpul masa reproduksi. Melepas telur… menempel pada substrat alami, biasanya pada akar bakau (Mangrove) dan juga helai-helai Lamun (sea grass). Para dewasa hengkang lokasi begitu tiba masa peralihan arus. Kembali tabiat gaya pelagis…arung samudra. Tiba masa daur tetas, para telur jadi anakan muda disebut juvenile. Beberapa saat huni teluk sebagai zonanursery. Ketika tiba tepat ganti musim… ngelayap bersama arus.
Tipikal jenis lain
Ada juga spesies warna lain. Sejauh yang pernah saya amati ada yang berwarna coklat. Jadi lebih mudah terdeteksi visual. Tidak pasif ikuti arus, tapi atraktif dengan gerak ritmik… gaya propulsion. Tenaga dorong dihasilkan dari katup masuk-buang. Dibekali organ alamiah intake dan exhaust. Ilham sederhana bagi pengembangan tehnologi kinerja jet-ski dan kapal bermesin hydro-foil.
Menarik-nya lagi spesies ini berenang lincah. Belum saya identifikasi lebih jauh. Punya ikan pendamping setia sebagai teman seiring perjalanan. Sebuah potret simbiosis. Si ikan bertugas pembersih bakteri penempel pada tubuh si Ubur2 coklat. Sekaligus naung keselamatan hidup dari predator ikan besar lain. Ogah PDKT karena riskan terbelai lengan-lengan penyengat sang ubur-dubur.
Saya gak tau sejauhmana rasa efek sengatnya. Dulu pernah dialami rekan ditahun 1995. Satu kesempatan, latihan renang rutin jelang momen RLSA (Renang Lintas Selat Alas ‘95). Asyik ayun lengan si Riko terpekik diantara 8 rekan lain. Ternyata tersengat ubur-2 coklat. Beberapa jenak kemudian pada lengan-nya dipenuhi bentol merah. Tidur malam kadang menggigil.. campur gigau tahan sakit. jelang sembuh semua bentol kering persis luka lecet. Konon panas-nya luar biasa. Nikmati ada-nya….
Tiba gilir saya,
Merasakan hidayah… ktimpa “nikmat” pembawa sengsara. Satu sore usai tutup konter masih sempatin main kano di teras depan pantai Senggigi. Bersama rekan mitra jaga konter. Persis di areal koloni kecil terumbu depan Senggigi Beach Hotel, sesuatu menarik perhatian mata. Kilap Hijau memantul sinar mentari jelang senja. Magic hours….,
Ternyata saya mendapati sebuah store box – container tersangkut pada dahan karang Acropora. Segera saya pungut. Tersentak liat sekilas isi. Ada beberapa lembar rupiah serta lipatan perangko nominal 700 perak. Entah siapa pemilik, pastinya milik wisatawan. Barangkali asyik berenang trus terlepas kebawa arus, hingga tersangkut di bilangan karang.
Sejenak muter cari-cari sosok pemilik. Tapi sekitar arah datang arus sudah sepi para swimmer. Hingga timbul bisikan usil …”ini status temuan – ambil saja”. Kami saling senyum sendiri mendayung arah balik konter. Gempita hati sikapi durian runtuh…,
But wait,
Jelang tepi bibir pantai saya melambat pola dayung. Ada sesuatu benda lain berwarna biru. Benda asing mengapung. Diterpa penasaran, main asal pungut. Mendadak sontak “benda” kecil sekilas mirip bohlam 5 watt itu menghantar rasa panas pada jari saya. Astagfirullah!!!! gilir saya nyebut saking kaget. Saya tepis sensasi rasa api itu! Sekali lagi saya pungut pakai ujung dayung. Baru-lah saya paham. Ini dia yang disebut ubur-ubur Biru.
Terkenal dengan sebutan “Blue-Bottle”. Bernama latin Physalia physalis. Nama keren lainnya Portuguese Man of War. Karena bentuknya mirip kapal layar portugis (caravel) abad 15-16. Berlipit layar pola segitiga…
Singkat ulas, biota ini biasa hidup dipermukaan air. Mengapung berkat bantuan organ kantung udara pada tubuhnya. Tidak ber-Propulsion, tapi manfaatin sarana bantu media gerak tempuh jelajah. Berupa kombinasi angin, arus dan pasang-surut. Layaknya class Hydrozoa lain, spesies ini memiliki rumbai lengan tentakel sebagai lengan pencahar makanan. Menyengat mangsa korban berupa suntikan enzim toksin dengan intensitas varian dosis. Tergenggam tentakel berarti kian lancar subsidi sengat.
Kembali kasus pribadi.
Seketika jari saya memerah. Efek panas kian menjalar lengan. Campur sensasi rasa demam. Sedikit erang tahan sakit. Sensasi toksin khas laut, nematocyst. Tilik tentakel blue-bottle yang tertinggal di jari, panjang transparans ungu dengan segmen titik-titik biru. Persis mengamati performa telur katak. Pada jaringan lapis bawah kulit ari terdapat bintik putih lepuh sesuai jiplak format bintik biru tadi. Meninggal jejak cemeti…,
Ampun dah rasa-nya! Secuil jari bisa ber-sensasi panas kayak gitu. Apalagi tersengat di organ vital yang jibun pusat syaraf. Misal leher, bisa jadi saya langsung pingsan. Terlebih ogah tersengat dibagian alat vital. Bagi anda, gak saya rekomendasikan berenang telanjang!!! Swear…. Don’t swim without underwear. Kcuali yang minat julurin “titit” mirip metode mak Erot.
Ujung-2nya saya sikapi ini sebagai ibrah sekaligus sesi kenal biota. Gegas pulang Senggigi sekedar pingin dapat obat penawar yang tertingggal di rumah.
Stingose, pemberian tamu diving yang pernah saya handel. Next step progressive life, perangko saya pergunakan berkirim surat penyambung silturahmi. Dan duit sejumlah 120.000 rupiah telah saya jadikan ajang selametan bareng teman lainnya. Santap sop kikil. Nikmat…sengsara…nikmat….
a note : materi photo pendukung berasal dari Wikipedia.org
ini contoh karya logo basis Computerized via olahan paint versi lama. Ada juga "beberapa" yang lain. Ide-nya sederhana saja, mengangkat salah 1 materi pelajaran fisika penyelaman. sesi khusus yang bahas efek visual pada saat penyelaman. semua benda yang tampak didepan kita saat Diving akan tampak lebih BESAR dan Lebih DEKAT 25% dari jarak sebenarnya.
next, garapan penampilannya saya olah realitas-imajiner...., Moorish Idol yg berada lebih dekat toh juga akan tampil Bueeesaaaar dibanding biota ikan lain yang berada lebih jauh dari observasi via masker. Ini sebenarnya garapan yang pingin terlahir jadi karya nyata. Distro... selagi aktif jadi pengurus klub Rinjani Diving Club (RDC). next, saya masih punya obsesi bikin distro on-line...., see next step.
NB : baru taon 2011 mimpi ini saya wujudkan. Dan desain di atas tadi menjadi desain perdana dari aksi 3T (talk thru T-shirt). sekedar intip link http://talk-thru-tshirt.blogspot.com/
Jauh sebelum penangkaran di gili Trawangan dibikin. pernah lahir kepedulian, cuma bisa saya tuangkan dalam aksi LOGO.... talk thru T-Shirt.
Foto inset sebelah kiri adalah memori kunjung gili Terawangan tahun 2005. Selagi ikut nimbrung pandu rombongan STUDI BANDING - program akselerasi persiapan implementasi - Community Based Resources Management (CBRM), rangkaian project COREMAP (Coral Reef Management Project) tahap 2 wilayah Indonesia bagian Barat. Dimotori oleh sub-bidang afiliasi project terkait, bernama CRITC - Coral Reef Information and Training Centre. Pusat di Makasar-Sulsel.Gak seperti kunjungan studi banding sebelumnya. selagi saya masih aktif sebagai CO (Community Organizer) di gili Meno, ikut direkrut dalam Program Aliansi 3 Gili (SIGI). periode kegiatan 2000-2002. Sempat juga pandu kelompok studi banding lain dari otorita Makasar. Kesan kunjungan ke-2 kali ini terasa garing! Kantor SATGAS Terawangan terbengkalai-tanpa personil. Tergolek sisa bangunan... berantakan isi dalam. Buru-2 ada personil dalam struktur organisasi. Cerai-berai...., Ktemu salah satu personil toh dia-pun ngelayap pergi dengan risih. "Nih saya bawain tamu studi banding! mereka mo liat gaung keberhasilan SATGAS... yang konon sensasi berita-nya meluas skala Nasional". Realitas pedas bagi mereka. Entah!!!!Rombongan-pun akhirnya kami giring melihat kegiatan penangkaran penyu yang dikelola salah satu warga. pak Zainuddin - pemilik Dino Cafe. Alternatif field trip program kunjung.
Sekedar info :meluruskan artikel berita lingkungan yang pernah ditulis oleh beberapa rekan pewarta lokal. Tempat penangkaran penyu di Gili Terawangan ini BUKAN eksis sejak lebih awal tahun 2000an (lebih-2 sudah ada sejak 1991- Newsletter Samanta). Alibi ini terkait fungsi aktif saya sebagai CO yang saat itu wira-wiri 3 gili. Program SIGI (Aliansi3Gili) bertema ecoturism. Kelirumologi yang patut diluruskan. Pengecualian, bila prediksi pusat penangkaran ini muncul jelang akhir program SIGI. Tahun 2003an ke-atas.
Telusuri runut kasus,
Kegiatan penangkaran penyu di Gili di Gili sejak awal sudah dilakukan oleh pengusaha bidang wisata penyelaman. Mr. Ernest, bule asal negara Inggris. Salah satu dive operator mukim di Gili Aer, bernama Reef Seeker. Program "hijau" mereka ini sudah saya liat sejak 1997-1998an. Kerap juga menampung penyu limpahan dari pihak AL. Hasil operasi laut buru-sergap nelayan Flores yang hendak lego tangkapan mereka ke pengusaha Restoran bali. Kegiatan sektor konservasi ini ternyata membawa dampak baik. Secara langsung turut membantu tahapan usia tumbuh para tukik. Dengan prediksi usia ideal dilepas kembali ke habitat asli. Ketika tiba saat, jadi momen fenomenal bagi suguhan tamu. Dan tentu saja bisa mendulang nominal sekalipun dengan dalil sumbangan. 5 USD / release by hand...., what ever!
Herannya, opsi "motif" usaha tadi agak lamban terserap masyarakat. Hingga tiba giliran pihak managemen Reef Seeker menoleh kans aneksasi usaha-nya. Mendapat ijin hak pengelolaan usaha di 1 pulau bernama Bidadari, kawasan wisata marina kepulauan di Labuan Bajo (Flores) . Kisaran tahun tepat jelang pusat Penangkaran penyu di gili Terawangan mulai berdiri.
Singgung pulau Bidadari-Flores, Awal pengelolaan si mr. Ernest di pulau itu ternyata sempat mencuat berita heboh. Kasus penjualan pulau dari pemda setempat. Agak simpang siur berita-nya. konon hanya masalah remeh gara-2 sang pengelola marah usir nelayan yang singgah pantai di pulau tersebut. Sang pemilik merasa beli..."privacy-area". Nelayan tergores perasaan... karena pola rutinitas terusik. Merebaklah kasus penuhi tiras... media cetak juga elektronik. Gilir nongkrong (2007) di pertemuan anggota Program Mitra Bahari - Regional center NTB. Ada celetukan menarik dari 1 anggota sektor pengusaha Mutiara. Konon, blow-up media tentang berita pulau Bidadari sengaja dilakukan oleh dinas intelegen. Pengalihan fokus opini masyarakat. Terkait geliat suhu politik Nasional... pengadilan bagi pak Soeharto.
Saya hanya angguk-angguk, sekedar pahami dan hormati opini pencetus. Agak skeptis menyikapi. Bisa jadi benar... bisa pula hanya rangkaian bumbu kasus penyerta. Sekelumit bungkus dan tehnologi alih kemas... teori konspirasi. Bukan apa, jejak naratif dan kronologis (saya pribadi) lebih condong pada "cipratan" kasus lain. Hengkang-nya TNC (The Nature Conservancy) dari bumi pesisir Flores ujung Barat. Sejak kasus penembakan beberapa nelayan lokal. Mereka biasa melakukan operasi laut rutin dalam kelompok terpadu. Mengejar nelayan pengebom.... tembakan peringatan gak di gubris... akhir nya, meletus tembakan pencabut nyawa. TNC penggagas program utama jelas terkena getah... diserang dari berbagai konsep opini. LSM demi LSM bergotong royong usung keprihatinan... isu merembak dan bergolak. mundur teratur... TNC beralih mukim program di taman laut Raja Empat. mr Ernest bagaikan pion setitik...., rusak sebelanga wajah nusantara digodok pihak media. Bukan main... gak main-main. ups!
perihal Pasir khas pesisir Lombok. Para komunitas pedagang aqurium di pasar Burung- Malang sering bilang dengan istilah pasir "Merico". Awalnya saya penasaran, dari mana kantungan plastik berisi pasir putih itu berasal. Entah-berENTAH... terjawab dari celetuk salah seorang pedagang. "iki kabeh tekan Lombok, Mas!!!!"
kupasan sdikit mendalam, sekilas amati detil, pasir Merica adalah pecahan partikel terkecil dari koloni batu Karang yang sudah mati. terhempas oleh ombak dalam bentuk bongkah... teraduk oleh proses alami berjalan kurun waktu panjang- sirkulasi rutin berulang. Hingga hancur dan terbentuk pernik-2 mungil. (seperti pada image terlampir diatas). Terburai oleh dorongan hempas ombak ke wilayah pesisir. Genangi sebagian garis pantai dominan. di Pulau Lombok sekilas rapid observasi, bentangannya meliputi kawasan sebelah Barat Daya hingga Selatan main-island. Pada kawasan Barat Laut hingga atas Utara lebih dominan hitam hingga tembus kawasan pesisir timur pulau. Setidaknya mementahkan anggapan rekan peneliti dari ibukota. Warna pasir Hitam dan Putih dipengaruhi oleh tipikal formasi alur badan sungai. Meliuk dominan Putih... beralur lurus dominan hitam. Tercetus gamblang tanpa penjelasan runut ilmiah.
Padahal logika-nya bicara lain. Dimana-pun muara sungai pasti membawa sedimentasi berupa lumpur. Juga partikel perut bumi yang lain. disebut istilah Run-Off. Laju arus dan adukan pola ombak yang kemudian berperan sebagai filter unsur alam. Lumpur terburai... Pasir hitam mengendap di pesisir dan mulut estuarium. Kadang mengandung kwarsa. Bahan baku "kaca". Next, keberadaan pasir puith bisa beraneka sebab. Contoh termudah, dibilangan pesisir kawasan wisata Senggigi. Pasir dominan hitam... kecuali pada ujung hotel Senggigi Beach... ceruk titik poin Laguna (Lagoon). Acap dijuluki danau air asin saat air laut surut. Tampak gugus karang format melingkar... akan tergenang dan tenggelam saat pasang tiba. Tetap saja disinyalir sebagai cikal bakal gunung api. Terbentuk ratusan tahun silam. Sehingga memberi nuansa menarik, pertemuan 2 paras hamparan warna pasir. Tidak beda hal-nya saat menatap keindahan 3 Gili, pasir juga Putih. Karena merupakan pulau yang terbentuk dari geliat aktivitas magma yang jauh terbenam di bawah kulit bumi. Pulau-pulau karang... dulunya terbenam. Lalu terangkat akibat dorongan tenaga magma. Tidak heran klo pernah muncul rumor, banyak ditemui Gili Nongol di NTB. Belum berbentuk totalitas pulau sering disebut sebagai Gosong atau kategori Gubal.
Pada kutat seminar lampau. saya pernah simak tentang peluang kawasan Selatan Lombok dikembangkan sebagai zona turisme alternatif dengan judul GEO-wisata. Sekaligus memperkuat alibi perihal keberadaan sebaran Pasir MERICA. Lebih dominan di wilayah selatan Lombok. Tersebar mulai wilayah pesisir Sekotong...Buwun....Sepi...Mekaki... Kuta hingga Teluk Ekas. Terlebih Kuta - Lombok, menampilkan pulau Batu hitam..yang sebenarnya adalah fosil Gunung Api. Bahkan tebing-2 menawan di pesisir Pantai Surga - zona lingkarTeluk Ekas. Terdapat fosil aneka kerang (moluska) pada tegakan dinding-nya. Dan yang tidak bisa dipungkiri lagi...., senantiasa berwajah pasir putih...si pasir Merica.
At least, di penghubung akhir tulisan ini saya tersadar. Mengungkap Pasir Merica bak seperti mengangkat profil sesuatu yang hanya sebesar biji "Dzarrah". ungkap kajian Qurani. masih banyak melimpah "Harta terpendam" dibalik sesuatu yang mungil. Mari lebih mahfum, bahwa kita memang hidup dan berpijak dilahan alur zona magma - RING of FIRE. Semoga wacana ini mampu jadi sirkulasi pemicu bagi kemajuan geliat Pariwisata NTB pada umum-nya.
Dampak geliat infrastuktur digital (digit-ALL?)kian menyentuh pinggiran... desa dan pelosok. Perubahan wacana dan alih tehnologi kian mudah ter-akses. Mampu-kah merubah sebuah struktur budaya yang konon telah berurat akar sejak jaman kala bendu... nenek moyang.
pergeseran nilai-nilai... budaya terbarukan. serba-serbi kultural hengkang. Etos kerja menekankan pada konsep serba instan... praktis dan efisiensi. Sehingga berujung pada efek "global", menyama-ratakan sebuah tatanan yg silam terbangun dengan ciri tersendiri. Saya pribadi tidak ingin kehilangan itu. Ciri khas... tipikal pembeda. Salahi kodrat... dari ungkapan paling mendasar "perbedaan itu anugrah". Ayo tepis bersama... Tatanan Dunia baru. Jangan latah.... Jangan terlena. Sigap dan mawas menyikapi sarana tehnologi terjalani.
berikut contoh kilas gambaran.... pola dan motif... dampak samping IT pada Petani negeri sendiri. menjual konsep program wisata SIGHT-SEEing.... mampukah membuka penglihatan batin? moga saja