Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Oktober 2017

Jenguk Gili Asahan

gili #Asahan 2017..., 
meski bukan tempat hinggap baru. Silaturahmi kali ini seperti mengawali situasi terbaharukan, Slice of Investigation..selidik tipis"...non PRA (Participatory Rural Appraisal). Tapi mengandalkan RAP (Rapid Assesment procedures) ..tehnik himpun data lekas. metode yang biasa dilakukan lembaga pemerintah maupun NGO dalam menyusun langkah pendekatan survey kewilayahan. Ziiiiiing!!!!
Sudah berubah iya, pasti. Tapi secara data demografi..gili dengan penghuni (inlander) gak lebih 30 KK, terhimpun hanya 1 komunal status rumpun RT. Jika dilakukan sensus akan lebih mudah. Plus, ketambahan para kaum pendatang. Segelintir pengusaha asing dan total jumlah staf. Dinamika sosial-nya gak seribet tangani misal macem gili Gede. Gili paling besar dalam hirarki gugus pulau sepanjang lansekap teritori Sekotong Barat.
Kompilasi data ringan :.. pak Munakip, RT pendahulu sudah ganti, bahkan sudah pindah ke pinggir (pulau induk, di jajaran desa Batu Putih). Gitu juga dengan triple guru yang bertugas. Kepsek Jhoni..ibu Mulyati dan terakhir, eh! Syamsul Rijal si guru dengan lapis peran, apa kabarmu kini? 
Meminjam istilah /NGO-an.., lalu siapa Agent of Change (Agen Perubahan) disana? ketemunya malah dengan Waitri. putri pak Munakip. Yang dalam kunjungan kali ini menjadi "jujukan mampir". Atas rekomendasi rekan di komunitas "#KelasInspirasi".
"Kelas Inspirasi" ini yang (belakangan ini) getol mengisi kegiatan edukasi di kelas SDN1 batu putih-gili Asahan. Kegiatan belajar-mengajar disana memang tetap memprihatinkan. 
Dalam riwayat catatan blog ...masa dinas "pendampingan" dulu (lembaga 'LIve & Learn Environmental Education). Gelintir siswa disini kerap saya juluki gak ubahnya pasukan #LaskarPelangi. Meski dengan pelesatan  inovasi sebagai "#LaskarPelangan". Masa transisi keprihatinan itu terjawab dengan gulir waktu. Sekolah itu 'tetap' terbengkalai. Yang bertugas adalah Guru status honorer. Jadwal masuk gak rutin. Gak tinggal di pulau..honor cekak, baru pake ongkos nyebang PP dah ludes. Menambah daftar miris bersimultan.
Setidaknya, peran Kelas Inspirasi cukup banyak membantu. Termasuk bisa dapat jalur donasi untuk biaya rehab gedung sekolah. Seolah terhimpit keadaan serba salah. Kemelut klasik persis suguhan kisah film laskar Pelangi.
Missing link yang dimaksudkan, adalah periode kekosongan..ditengarai dengan mutasi 3 guru sebelumnya. Otorita dinas pendidikan pemerintah kabupaten Lombok Barat agak keberatan dengan alokasi pembiayaan operasional proses belajar-mengajar. Gak imbang dengan serapan jumlah murid. Apalagi dengan beda usia bocah.  

Uniknya, syahdan.. postingan kegiatan Kelas Inspirasi yang menggugah foto kegiatan di  sekolah Asahan dan sempat men-tag 1 pemuka pemerintah daerah malah kebakaran jenglot ðŸ¤£ðŸ¤£ Share dokumentasi itu dianggap seolah ungkap getir aib daerah. Loh!? bukan malah mengapresiasi sudah turut mendukung program pendidikan di kawasan pulau kecil  juncto "tertinggal". Yah kayak simalakama... "Tertinggal" dalam status pendidikan dasar para bocahnya. Tapi bak sisi mata uang, Asahan menyimpan peluang besar pengembangan potensi wisata marina. Semoga inlander melek situasi ini..



Alih-alih bahas. Celetuk Witri menambahkan tentang selenting kabar Andrea Hirata (penulis buku Laskar Pelangi) yang akan kunjung kesana. Melihat profil Witri seperti melihat refleksi sosok ayahnya, pak Munakip. Gesit.. ramah dan sikap terbuka. Hospitable! Aris suaminya, sudah memiliki 3 armada transport boat trayek Kores-Asahan. Tentang kesadaran aksi bidang sanitasi. Bahwasanya, memiliki jamban adalah semacam hikmah yang belakangan di sadari. Yah...ini baru salah satu dampak keberhasilan yang gak bisa diharapkan dalam 1 periodik pendampingan. Program penyadaran masyarakat di sektor Sanitasi dan Penyehatan masyarakat itu perlu rentang durasi lama. Uji dan pembuktian-nya berbuah kelak. Dan hari ini saya bisa tersenyum oleh serentetan kisah inspiratifnya. Salut! 
Dan seperti ungkapan saya di postingan sebelumnya. Silaturahmi 'diam-diam' ini akan ada pencerahan tersendiri. Saya dan Aris merangkul bahu saat pamitan. "Tetep main kesini, pak Topan"...bilangnya. Dia gak pernah tau...kalo selama 6 tahun terakhir. Ada saja jadwal kegiatan saya keluyuran zona ujung. Misi Kablet-Pemalikan, jenguk portal Grower & Desert point...meski jarang mampir jenak di Kores. Bagaimana bisa mampir... Lha kami geraknya saat gulita.. macam wisata gerilya 














#Asahan versi 2011 & 2017 :
Macem nostalgia kepulauan. Foto" berikut ini membuka simpul cerita. Si anak kecil baju merah itu.. lupa namanya. Saat itu dia masih kelas bawah. gak ikut dalam program pendidikan lingkungan seperti kakak kelasnya. Bandel...sekaligus cengeng. Mitra ributnya yang pake baju pink . secara alur trah kekerabatan, mereka adalah paman-kemenakan. Kemarin kami satu perahu. Kini dia jenjang SMP. kami ngobrol singkat. Gaya bicaranya lebih lugas... yang gak ilang raut bandelnya, masih terasa. Meski tatanan beda, sesuai pertumbuhan usia.

Dulu, nimbrung Asahan koordinasi-nya intens ya dengan ketua RT..pak Munakip. Minggu lalu peran itu kog ya nurun ke putrinya, Witri. Last but not least, tandon air (PAH : Penampung Air Hujan) itu mengungkap dimensi kontra visual...sayang gak ada bumbu gelak tawa bocah, di kunjungan minggu lalu.


@@Si bocah cilik... yang beranjak ABG




@@ di taon 2011... ketua RT gili Asahan di pimpin oleh pak Munakib. Dulu, kami sering berkoordinasi dalam aplikasi kegiatan yang dilakukan disana.Saat itu dia satu-nya pemilik perahu untuk moda penyebrangan. Di kunjungan 2017.. ternyata, pak Munakib sudah hijrah ke pinggir pulau besar. Peran ketua RT sudah berganti orang lain. Dan pendamping sekaligus pemandu di kunjungan kali ini ditemani oleh putri-nya Witri. Agen perubahan baru...sebagai orang lokal yang banyak berperan dalam mendukung kegiatan rekan di Kelas Inspirasi.




Bagian ujung timur sekolah ini menyimpan banyak cerita. Bangunan PAH (Penampung Air Hujan) itu masih tegap berdiri. Sayangnya tidak berfungsi lagi. Setidaknya dia menjadi semacam 'monumen semen' yang secara tidak langsung menjadi penghantar media tutur. Bahwa dulu, ada keceriaan yang pernah saya lewati disini. Celoteh dan keriangan para bocah.  






Minggu, 18 September 2016

Bisnis Sirip Hiu.. komunal Bajo & sejarah Maritim.

Menyoal Tanjung Luar yang kadang terlalu acap diliput sebagai berbagai media tanah air. Bisa di maklumi ujung-nya kawasan ini seolah di munculkan sebagai "spot" ekploitasi paling terwakili jadi profil suram jagat maritim Indonesia. Padahal persoalan-nya gak sesederhana itu. Bisnis ini sudah mengakar kuat sejak lintas peradaban. Terjalin erat..antara korporasi kuliner eksotis..sindikat dagang..pialang..dan nelayan. 

Bahkan, sejak lawatan Alfred Russel Wallace ke gumi Nusantara. hingga melahirkan karya "The Malay Archipelago" (1869). Bab catatan kunjungan ke Lombok dan Sulawesi juga termaktub. Hingga kelak lahir istilah garis wallace (klasifikasi pembagian teritori fauna). Saat itu dia juga mencatat tentang aktivitas perburuan hiu yang dilakukan oleh komunitas Bajo. Hingga merayap teritorial laut barat Australia. Bayangkan sendiri.. betapa lestari-nya kegiatan ini pada lintas peradapan yang bergulir.
Nah, yang lebih menarik lagi. Pernah ni sekali waktu seorang peneliti Hobbit (manusia kerdil purba-Liang Bua) sekaligus konsultan Sanitasi asal aussie. Dimana kami pernah berinteraksi pada kegiatan sama. Dalam dialog intens dia memaparkan tentang alur sejarah panjang tentang masyarakat Bajo yang sudah kerap 'mampir' disana. Besar kemungkinan telah bercengkrama lebih akrab dengan penghuni asli Aborigin. Meski dikurun warsa-warsa itu Australia memang sdh diakui sebagai lahan resmi Britania Raya. Sejak berstatus tempat pembuangan para kriminal. hingga mengalami laju hijrah arus migran asal Eropa. Sejak tambang emas menjadi faktor magnet utama-nya. (wiki/Australia).


Mau tau apa peninggalan komunal nelayan Bajo disana? gak lain..gak bukan, adalah tegakan dan sebaran pohon Asem** (kurma India). Si Tamarindus indica itu. Para "Gipsy Laut" mereka ini yang nanem. Karena asem sudah merupakan bahan menu masak yang wajib dibawa di perhelatan lintas samudra. Artinya vegetasi ini ditengarai bukan tanaman asli. Mereka tumbuh atas campur tangan manusia pembawa-nya. Berbeda dengan tanaman khas ekosistem Mangrove yang memiliki tipikal sama di belahan dunia manapun. Karena mangrove adalah tanaman khas pesisir. dianugrahi kemampuan trans-lokasi ala mandiri. Katakan semacam buah jenis Rhizophora dengan putik buah panjang itu. Pada etape masak.. nyemplung air..lalu bergerak mengikuti tabiat arus laut. Kemana-pun pergi. Sesuai titah fitrah dan emban misi sang pencipta-Nya. "Tuh... berkutatlah disana...hijau-kan green belt pesisih-pesisih inyo!"
Kembali pada masyarakat Tanjung Luar. yang berdasarkan pengakuan mereka-pun rana kunjung juga hampir ke perbatasaan Australia. Toh, beberapa warga LabuhanBajo (NTT) mengakui mereka kerap kunjung lokasi sama. Yang berarti secara turun-temurun spot disana secara 'de facto' dikenal sebagai "spot wilayah tangkap". Hihihi....di poin ini saya mendadak cengar-cengir. Padu-padankan dengan kasus perairan Natuna di Laut China Selatan yang marak konflik RI-RRC itu. RRC ngeyel mengklaim klo itu adalah "Tradisional Fishing Ground". yang sudah mereka keruk dari jaman" bahula. Meskipun itu sudah jadi wilayah kedaulatan RI. Bayangkan saja..., klo modal alasan "tradisional fishing ground" apa susahnya juga kita ngeklaim wilayah perairan Australia utara berdasarkan fakta sejarah suku Bajo tadi. :) Dengan mengabaikan kedaulatan Aussie..toh warga asli-nya adalah trah dinasti Aborigin. Yah. Tanjung Luar itu baru sepotong zona yang dikenal. Kebetulan ber-akses prasarana mudah dicapai. Transportasi gampang. Liputan reportase langsung jadi..ujug" blar! semacam trending topik yang paling riskan untuk di ulas. Jika sewaktu-waktu diperlukan..layak sebagai pengalihan isu dari tema ekploitasi sumber daya perairan. Tanjung Luar itu cuma alibi andalan :) Bisa kalian bayangkan.. Indonesia seluas ini. Penduduk/pemukim dengan status pulau-pulau terluar dan tersentuh modernisasi. Tapi warga-nya telah hidup dari kesinambungan hasil laut. Apakah tidak ter-ekploitasi? Katakan saja kita berfokus di wilayah timur..sebelah kanan garis Wallacea yang lebih marak gugus nusa kecil dan imut-imut. Tidak adakah bisnis sirip?.. ah! naif juga klo kita menutup mata perihal fakta para Gypsy-Laut. Tidak adakah pengusaha sektor kelautan yang melihat dan menangkap peluang maha kaya dari peta potensi sumber daya di kutub Indonesia timur. Oh iya.. ibu mentri kita itu. pemilik Susy Air. Begitu hebat... tidak saja menguasai lintas udara sejarah harfiah. Air in-english itu udara..air ya air. Perairan. Tapi saya yakin beliau gak mungkin jadi penampung ilegal fishing macem empak-empak kliyu tiye! Beliau pembasmi kapal-kapal iilegal fishing asal china yang handal. diNatuna-dinatuni..., 
Don't be negatif thingking... Rumangsa-mu... Prasamu...syak-syak wasongko... wingko taburan roso iwak pindang!


Note : soal pohon asem. yang kerap ditanam oleh para pelaut Bugis maupun para nelayan suku Bajo sebagai gypsi laut. cuplikan dari kanal wikipedia. Pelaut-pelaut Bugis pada masa lalu diketahui menanam pohon asam jawa di pantai utara Australia, di Northern Territory di saat mereka beristirahat menunggu datangnya angin untuk kembali ke daerah asal. Pohon-pohon asam jawa ini menjadi petunjuk kontak orang Aborigin setempat terhadap orang luar sebelum kedatangan orang Eropa. Catet ya...sebelum orang Eropa datang!!

Kamis, 29 Maret 2012

Banjir Bandang Belanting 2012

Limpah air.. antara Berkah & Bencana...,

Baru saja terlewati momen ultah gingga ke-7. Bertepatan perayaan nyepi, jumat 2 hari sebelumnya. Itupun tanpa hidangan tart dan tiup lilin seperti taon sebelumnya. Hanya menyempatkan main di fun-city, have fun ala kadar bocah. Dan syukurlah. Pasukan cilik saya, kali ini gak terlalu banyak nuntut. Hanya minta kesempatan mengumbar tawa di kolam bola. Itu-pun Gingga sempat kecewa, lantaran luap obsesi yang terbatasi karena libur nyepi tadi. Emosi tersendat. (Baru terpenuhi hari sabtu)
Alhasil sepanjang perjalanan balik pulang, dengan berkutat motor yg dihuni sarat penumpang. Saya harus banyak berceloteh. Sekedar mengalihkan bara kecewa si bocah sulung. Perhatian pada beberapa momen perjalanan. Gak ada yang unik. cuma lengang Mataram paska perayaan ogoh-ogoh. Mulut gang kampung hindu banyak yang tertutup, lantaran ritual pati-geni. Tak luput, sisa beberapa gelintir boneka bhuta-kala tergelok juga persis di gapura ujung. Berpalang for bidden to across. Dan ini cukup menjadi bahan kisah pembekalan pengetahuan buat Gingga.

Merintis jalur aspal. Antusias gingga lebih intens. Pada setiap perempatan besar masih tampak seliweran relawan mengumpulkan sumbangan. Demi bantuan warga wilayah Belanting - Lombok timur yang baru saja terkena bencana banjir bandang. Akibat curah hujan yang marak di 1/3 awal bulan maret. Hulu selasar atap Rinjani sebelah utara mengirim subsidi banjir berikut material pendampingnya. Mewakili reportase detil bisa baca di artikel "Banjir Bandang kembali Menenrjang Kecamatan Sambelia" (gemaalamntb.org).
Hingga tercetus ada keinginan saya untuk melihat langsung ke wilayah Belanting. Penasaran ala pewarta community jurnalism. Semangat liputan yang kambuh. Dan gingga ternyata merekam hasrat saya itu.

Minggu, 25 Maret 2012.
Dan "rongrong" itu muncul lagi sejak pagi. "Ayah, kapan kita ke Belanting?". Saya sedikit idap malas, semalam terkuras melek jatah browsing. Ngarep masa in-charge. Dan lagi-lagi, cuaca mendung ujung ufuk timur, bikin enggan, pangkat kuadrat. Dobel males-nya! Tapi gak lama... turn-on! gak tega liat Gingga yang setia dampingi saya tergolek di matras. Bola mata-nya sirat sedih. Sisi lain, pemicu-nya unik. Dilalah pecah bohlam ide. Ter-ilhami momentum, Ogah-ogahan... konotasinya kog seperti nasib boneka ogoh-ogoh jumat lalu. Terbengkalai mubazir paska rutinitas ritual. Dan saya gak pingin gingga kecewa ke-2 kali. Bisa jadi ini bakal jadi hadiah ultah gingga yang "lain". Sigap bangkit tegak. Umbar dinamika gerak. Gak peduli perih mata... tanpa basuh mandi. Jitu mengawali semangat kiprah avonturir... wake-up! brand new day....,

Meski matahari mulai tergelincir jelang nanar siang. Touring dimulai. Ada keinginan mampir pasar jelojok-Kopang. Tapi aktivitas sudah mulai berkurang, alhasil kami putuskan sekedar ganjal perut dengan santap bakso Kopang. Lumayan sekedar hangati lambung. Temperatur beranjak dingin maklum level ketinggian wilayah. Menyempatkan mampir disalah satu masjid turunan perempatan Rumeneng. Jamak-Qasar jatah zuhur-asar. Sesekali pit-stop sekedar keremus bekal camilan. Teguk usir dehidrasi. Perhitungan jarak dan jatah sisa waktu bikin saya riskan prediksi durasi tempuh. Maksimal 6 jam pulang-balik Mataram-Belanting. Dan speed motor gak bisa total geber ala single touring. Harapannya, mudahan tidak disergap gelap saat pulang nanti.

Jelang masuk pertigaan Labuan Lombok. Langit masih benderang, tapi gumpalan awan tebal dicerobong Rinjani bermuatan mendung mulai berarak arah timur laut. Ah! 100% berpeluang hujan. Sedikit kebut melintas zona lian hingga labupandan. Persis tanjakan sambelia, hujan mulai turun. Sempat saya ragu... terusin atau cukup di poin terakhir. Tapi gingga minta terus. Yah sudah, dengan berlapis ponco kami telusuri alur aspal. Hawa dingin mulai susupi tubuh. Sesekali kami berpapasan dengan rombongan touring motor. Bisa jadi mereka menyalurkan bantuan sumbangan. Termasuk lalu lalang ambulance, tim SAR dan PMI. Sejauh pengamatan, semua perangkat tampak berkordinasi.

Berkungkung jas hujan, dan laju motor 30km/jam tentu saja membosankan. Dan lagi-lagi, saya musti bercerita. Tentang apapun yang eye-catching. Gerombolan domba dengan bulu dekil.. persis konotasi wedus gembel. Penggembala puluhan kerbau yang menutupi akses aspal. Termasuk ulasan kisah lokasi bekas saya ngajar di SD Tekalok (edisi 2011). Bahkan kami sempat ketemu seorang anak yang masih saya hafal wajah. Cuma lupa nama. Mengayuh laju BMX butut di dekat kantor Desa Tekalok.
Melewati batas dusun Kokok Pedik, hujan makin deras. Beberapa kiri kanan jalan mulai terlihat tumbangan pohon merefleksikan musim angin pada awal bulan maret. Dan suguhan ini sudah akrab terlihat sejak tanjakan dusun transat - wilayah pemekaran arah timur desa Sambelia dengan batas desa Labupandan. Indikator sisa banjir juga mulai teridentifikasi. Pinggiran aspal tampak genangan becek. Material gunduk tanah yang terbawa laju air. Terlebih parah adalah lintasan air yang membelah beberapa lahan perkebunan penduduk di lahan miring/slope. Terlihat seperti bentukan anak sungai kering (creek) yang baru. Lucu, sebab kontras dengan tegakan sisa pagar vegetasi pembatas. Tebangan pohon dan raung chain-saw terdengar nyaring. Beberapa warga bakal punya stok kayu bakar yang cukup. Sementara ada pula warga yang menjual pada penjual skala besar. Truk pengangkut terutama pohon berdiameter lebar seperti sengon, lainnya jati dari jenis bibit super.

Singkatanya, kami tiba di lokasi jembatan putus. Melewati sedikit gundukan bukit. Persis di sambungan patah jembatan di kali Batu Sela. Nama yang disandang dusun bersangkutan. Sesuai inisial, tempat ini memang bercokol bongkahan batu besar di beberapa tepi ruas tanjakan aspal. Tampak pada inset gambar diatas. Terlebih pada paras sungai yang menunjukkan kesan identik. Serba batu. Mengingatkan pesona negeri Flint-stone. Wilayah dominasi di sela bebatuan. Jadi sangat wajar klo dinamakan begitu.
Terkait peluang dampak banjir. Kawasan ini memang prioritas terkena limpah air bah. Pada kejadian banjir belanting edisi sebelumnya (2006). Kasus patah jembatan di lokasi yang sama juga di alami. Alasan utamanya, sebab alur "sungai" ini merupakan 'jalur' alami yang terbentuk oleh retakan paska letusan besar gunung Rinjani. Sejarah letusan tua yang belum resmi tercatat. Pastinya ledakan maha dahsyat. Hingga mampu bikin ceruk besar, kubangan kepundan / kaldera. Yang kini membentuk danau Segara Anakan. Gali-kaji sejarah erupsi dengan alibi dan analisa sederhana saja. Puncak tertinggi dari Rinjani sekarang adalah 3726 mdpl. Gak tepat juga kalo di katakan puncak (top mountain ataupun high peak) sebab rekor ketinggian tadi merupakan teras dari bilangan lingkar rim. Bibir lereng tertinggi. Dengan berpindahnya bongkah ceruk tadi, kebayang dah! betapa besar daya yang dibutuhkan. Energi dentum maha kuat! Entah dengan sekali momentum erupsi maupun proses berkelanjutan. Transfer material dan kandungan mineral baik dari aneka kategori, debu-pasir-kerakal-batu-dan bongkahan besar menyerupai ukuran gubuk hingga rumah. Seperti yang kini terlihat berserakan, sepanjang hampar lansekap pulau Lombok. Terutama di zona bagian timur.

Kembali ke bahasan utama, perihal Batu Sela. Soal banjir dan daya gerus air tentu gak bisa lepas pengaruh aksi rambah hutan di bagian hulu. Intensitas curah hujan tinggi menjadikan kombinasi seia-sekata. Kalkulasi total dampak bencana limpahan air. Biar agak relevan, ayo mendeteksi lebih intens, telaah hasil intipan tehnologi remote sensing, versi Google Earth.
Sengaja saya lingkari pola poligon warna oranye, sekedar menandai coverage dari wilayah yang notabene merupakan bentukan dari letusan Rinjani. Terlihat gamblang bahwa sobekan Kaldera Rinjani memiliki ceruk tajam mengarah ke zona timur. Jalur lelehan yang alami terbentuk. Tanda panah Merah hanya menegaskan lokasi tepat dimana Batu Sela berada. Garis liuk putih menunjukkan alur sungai. Poligon oranye ini sekaligus menandai zona yang patut di waspadai sebagai kategori kantung rawan bencana. Dulu, ada informasi menarik seputar zona bentukan eks erupsi itu. Luberan-nya membentuk pola lebar. Para geologist menyebutnya zona pola kaki bebek. Bahkan dikatakan, bahwa sebelum Rinjani meletus, paras pulau Lombok, khusus wilayah Sambelia dan Belanting tidak seperti sekarang. Konon, pihak pemerintah Belanda (lagi-lagi) memiliki 2 over-lay beda peta. Pencitraan mapping edisi pra-paska erupsi. Bahkan disebutkan komplek gili Lampu dan Gili Lalat (Lawang & Sulat) merupakan estapet prosesi pembentukan daratan melalui geliat aksi vulkanik-tektonik di tanah Lombok. Paduan Erupsi dan timbuk lempeng selasar Ring of Fire. Bagi saya ini sebuah anugerah pelajaran yang berharga, Local Geography. Dan teriring syukur pada tehnologi Remote sensing. Mengintip bumi... seolah saya lagi ongkang-ongkang di serambi Galaxy...


Zooming lagi, dan kini tampak jembatan Batu Sela. masih utuh karena ini hasil jepretan setahun sebelumnya, riwayat tertera di bawah kiri angle, imagery date :24 Agustus 2011. Tercatat dengan detil posisi geografis S : 08° 18’ 24.93” E : 116° 37’ 52.56” dan elevasi 395 Ft. Gak ada indikasi apa-apa, ini cuma bahan dasar pengenalan buat Gingga, how to used a GPS.


Next,
Kini siap pulang balik Mataram. Sudah sekian jepretan kamera saya lakukan. Uniknya, tampak 2 lokasi yang terpisah oleh patahan jembatan menjadi seperti 2 kubu terminal. Beberapa pria lokal seperti ketiban peluang rejeki. Mereka menawarkan jasa "penyebrangan" khusus untuk motor yang hendak menuju desa seberang. Sebab memang itu rute terdekat. Dibandingkan kudu ambil alur aspal lingkar di level daratan terendah.
Hujan masih turun di sekitar Batu sela hingga sekitar lian. Agak pegel juga badan dibuat. Bahu kaku fokus dikemudi masih ditambah balutan hawa dingin. Selebihnya, arak awan mendung mulai tipis. Sisi barat lombok masih tampak cerah. Terang nanar melahirkan cahaya ke-emas-an. Momen Golden magic hours, seperti istilah tehnis di bidang Fotografi. Menerobos relung-relung aspal lintas timur-barat. Gingga terkekeh. Senyum dan terbahak tiap kali mendapati penunggang motor lain melindungi pandangan mata akibat silau mentari jelang karam. Persis adegan hormat bendera... Oh, hormat sang surya. sang Hinomaru bagi bangsa jepang sana. Dan perjalanan pulang ini kami lewati dengan riang. Tanpa beban penat yang berarti. Mengejar mentari.... meninggalkan bayangan dibelakang yang memanjang. Hilang dengan sendirinya... bercampur kala senja. Jadi teringat lirik senandung "back in the Sun".

Inset terakhir adalah tulisan Gingga tentang kesan perjalanan tadi. Masuk gerbang batas kota, Sweta sudah gelap. Tiba rumah, baru terasa dera pegal. Lemas... capek lah! Sebentar lagi tergeletak. See you next trip....,


Sabtu, 13 November 2010

Pit-Stop of my life....,


Hampir 5 bulan blog ini terbengkalai. Lewati kumparan periodikal waktu. Jeda yang cukup panjang. Sekalipun bukan berarti saya total absen up-date materi isi dari rangkaian blog lain. Pertama, saya teralih pada pakem posting di wahana lebih instan skaligus efisien. Mikro-blogging ala FB......,

Kadang timbul kesal sebab gak bisa lontar residu opini. Padahal begitu banyak lalu-lintas ide berkecamuk. Menulis dan coba untuk menulis...., Rongrong alamiah....inspirasi metodologi 'iqra' . Bacalah... atas nama Tuhan-mu....,
Toh ujung-nya jengah terlantarkan saya pada sebentuk pengalihan diri di belantara tehnologi informasi. Larut jenak di rutinitas harian. Ya sudah!

NEW STARTing POIN
Tentu saja ada momen terpenting. Adalah penantian singkat hadirnya putri kami ke-3. Selamat datang Keysha Jihan Kawakib. Semoga hadir sebagai Bintang alam-raya dengan kehidupan yang lebih baik. Tepat sehari melewati tanggal keramat, 11-10-2010. Seperti juga harapan ortu yang lain. Kami sempat terpacu adrenalin hasrat nomer cantik 10102010. Toh pelajaran hidup sebagai ibrah menghantar rasa syukur yang 'lain'. Keysha-ku tiba tetap selepas sholat subuh. Membelah hening bangsal dengan tangisan perdana. Lewati ujian sungsang... bekal peluh cemas, tak ayal lagi.
Terima kasih ya Allah. Pelajaran via bocah cilik-ku menyadarkan kami. Setidaknya kami tidak ikut latah pada obsesi tanggal keramat tadi. Sangat alamiah... dan hadir tanpa rekayasa caesar. Semata apa ada-nya kami....., Alhamdulillah ya Rabbal Al-Amin...., Pada-mu muara sanjung duhai Dzat yang Maha Terpercaya.

last but not least,
langkah ke depan... moga kian antusias menulis... menulis... dan menulis....,

Minggu, 06 September 2009

Madu...Ramadhan....kajian surat An-NAHL.....,

Sabtu, 5 September 2009,
Ada ajakan mendadak lepas siang kemarin. Via jerit HP yang sebenarnya malas saya angkat. Maklum masih diguyur hawa kantuk. Rundung siang tengah sasi ramadhan. Hasrat serasa tak ingin cerai dari dekap bantal, beralas matras gulung. SMS singkat.. "siapin handycam.. ayo pigi Narmada shoot hunting Madu". Saya gak bergeming. Sanding ogah jengah!
Lintas detik.., mendadak kesadaran avonturir saya pulih. Mungkin kambuh. Lantun bisik..Ayo daripada lemah gak berdaya, sambut peluang itu. Kapan lagi umbar aksi saat ramadhan. Ini kans kajian khusus kurikulum semesta.
Percik "asa" itu sekaligus asupan geliat tindak lanjut. Sejurus kemudian saya-pun melesat ke rumah kakak misan bergabung tim kecil. Anjangsana tuju lokasi perburuan. Nama desa (..........) bagian kecamatan Narmada - kabupaten Lombok Barat.
Suasana paras lansekap beralih serba hijau. Maklum kawasan ini merupakan zona kantung air. Lingkar utama pendukung subsidi PDAM bagi kota Mataram dan sekitarnya.
Persawahan selayang pandang. Kami-pun tempuh aksi-kaki setelah parkir motor di tepi pemukiman penduduk. Ada serumpun lebat hijau vegetasi di ujung sana. Tepat tengah sawah. Lokasi sarang lebah madu hutan.....,

Tiba zona inti. Tampak personil para pasukan pemburu madu tengah persiapan prosesi. Tampak inset adalah profil utama. Punya julukan unik, pak Bandeng. Sudah lumayan lama kami kenal. Bercengkrama singkat ala silaturahmi seperti biasa. Saya-pun mulai aksi gelar tayang take a shoot. Kliping moment segmen dokumentasi....,
Next, muncul tantangan lain. Gak bakal menarik intipan konvensional. Sekedar liput kegiatan di bawah. Demi "angle" yang menawan saya harus rela ikut panjat pohon. Tidak terlalu susah lantaran tersedia "jalur" bantu. Melalui tegak batang julur bambu yang menempel tepat di pohon tujuan. Namun cukup menguras keringat. Ah@! sekalian olahraga...men sana in corpore sano...men sana...men sini... menclok sana-sini...gala aksi dahan!
Selanjutnya saya gak bisa banyak bercerita. Maklum, selain terpesona dengan saji adegan depan mata... saya hanya bisa merangkumnya dalam rekaman data video. Lewat kekhawatiran tersengat pasukan para lebah pekerja. Denging mereka mendesing berseliweran....cuma berjarak 2,5 meter! Semoga rekaman nanti bisa pula sy up-load dalam posting pendukung artikel ini.

at least, jabaran kurikulum hari ini sudah memberi saya nuansa baru. Pendalaman kasus biota - masyarakat lebah. Tentang kisah Kitabullah di surah AN-NAHL. Intisari ayat 68-69, dengan bait bunyi translasi sebagai berikut ;

· Dan Tuhan-mu telah mewahyukan kepada lebah : “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”.

· Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagi-mu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.


new blog launchnig : getah-lebah

Senin, 24 Agustus 2009

my Anti 's birthday....,



selamat Ultah....,
moga makin dewasa...,
moga kian tegar dampingi... aku
aku + kamu = KITA.....,

Jumat, 21 Agustus 2009

1-st day of RAMADHAN


Marhaban ya Ramadhan.....
Gaungkan indah-mu
program Suci... bersih diri....


salam kami keluarga....,

Senin, 13 Juli 2009

EJA gelagat gempa....,

Masih relevansi artikel pendahulu,
Kian mendekati tanggal 22 Juli. Semakin menumpuk rasa penasaran. Resah JUNI mendekati muara JULI. Benarkah nanti-nya akan ada peluang tsunami seperti yang sudah diramalkan. Paling tidak ada beberapa catatan dari pihak BMG. Serangkaian aksi gempa di beberapa daerah tanah air. Entahlah, apa ini bisa dijadikan langkah deteksi dini agar semua komunitas pesisir lebih waspada.
Berikut dibawah ini ada sekedar catatan yang saya ambil dari Tempointeraktif.com. Tentu-nya hanya sebagai ulasan bersahaja. Bukan referensi lengkap bagan dan timbun data statistik. Penghantar wacana dengan balut gelisah yang menyelimuti obsesi dan couriosim pribadi. Saya hanya berkaca dari pengalaman nimbrung bahasan seminar yang pernah saya ikuti. Bahwa sebelum bencana besar biasanya selalu diawali dengan pernik progresitas letup bencana kecil.

At least, fungsi saya sebagai Fasilitator Dalam strata kapasitas paliiiiing rendah, dalam Pelatihan Penanggulangan Bencana Berbasis Kemitraan tidak sekedar lembar sertifikat, bernasib penghias bendel arsip. Bisa jadi sesuatu yang bermanfaat. Syukur-2 diterima jadi kupas-kaji. Demi kebajikan antar sesama, dalam bingkai CCR = Coastal Community Resilliance .. pernah di-gaungkan dalam alur program kebijakan flowchart pemerintah.

Gempa 6,4 SR Menggoyang Kota Sumbawa Besar

Senin, 13 Juli 2009 | 18:43 WIB

TEMPO Interaktif, Mataram - Kota Sumbawa Besar Nusa Tenggara Barat digoyang gempa Senin (13/7) pukul 18.52 waktu setempat. Goyangan cukup besar sehingga menyebabkan penduduk berlarian keluar rumah yang umumnya rumah panggung tiang kayu.

Salah seorang warga Sumbawa Besar Khaiiruddin mengaku sedang duduk di pinggir jalan , ikut merasakan getarannya. ‘’Luar biasa. Orang ketakutan sambil berteriak linir...linir...linir,’’ kata Khairuddin menjelaskan suasana di Jalan Diponegoro seberang timur depan Markas Polres Sumbawa. Di sekitarnya terdapat lima rumah panggung yang bertiang kayu. Tetapi belum diperoleh info terjadinya kerusakan dan korbannya.

Menurut informasi dari Badan Meteorologi Geofisika, kekuatan gempa mencapai 6,4 skala richter pada posisi 9.44 lintang selatan dan 119.32 bujur timur atau 107 kilometer barat laut Waingapu Nusa Tenggara Timur di kedalaman 86 kilometer.


SUPRIYANTHO KHAFID

Mentawai Diguncang Gempa 5,2 Skala Richter

Minggu, 12 Juli 2009 | 08:02 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Gempa dengan kekuatan 5,2 skala Richter mengguncang wilayah Sumatera Barat, Minggu (12/7). Berdasarkan pantauan Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika, titik gempa berada di di 206 Kilometer Barat Daya Pagai Utara Mentawai.

Gempa terjadi di kedalaman 45 Kilometer di 3.67 Lintang Selatan dan 98.47 Bujur Timur. Gempa yang masuk dalam kategori rendah itu terjadi sekitar pukul 02.35 WIB dan tidak menimbulkan korban jiwa.

BMG/RIKY FERDIANTO

Banggai Diuncang Gempa 5,5 SR

Jum'at, 10 Juli 2009 | 18:29 WIB

TEMPO Interaktif, Luwuk - Kabupaten Banggai dan Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep), provinsi Sulawesi Tengah, Jumat siang (10/7) diguncang bencana alam gempa tektonik berkekuatan 5.5 Skala Richter (SR). Akibatnya warga di dua kabupaten tersebut berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri

Pusat gempa tersebut berada di Teluk Tomini atau sekitar 52 kilometer arah tenggara Kota Gorontalo dan dekat dengan kota Luwuk ibukota Kabupaten Banggai. Gempa itu tak menimbulkan tsunami.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Palu melaporkan, episentrum gempa yang mengguncang wilayah timur Provinsi Sulteng itu berada pada koordinat 0,24 lintang utara dan 123,44 bujur timur, dengan kedalaman 211 kilometer dari permukaan laut.

Informasi dari lapangan menyebutkan warga di dua wilayah ini merasakan getaran gempa sekitar III-IV MMI (Modified Mercally Intensity). Guncangan gempa tersebut terasa hingga 10 detik. Beberapa penduduk merasakan getaran gempa tersebut sekitar IV-V MMI

Seorang warga Luwuk, Masdar mengatakan guncangan gempa terjadi beberapa menit menjelang Salat Jumat. Akibantya banyak warga tak melakukan shalat Jumat. Mereka memilih melarikan diri ke bukit-bukit yang mengitari Kota Luwuk.

Begitu juga para pegawai yang masih berada di kantor serta sejumlah orang yang berada di dalam masjid menunggu kotbah dan salat Jumat juga berlarian keluar ruangan karena khawatir tempat itu ambruk. "Gempanya cukup keras, warga lari menghindari ancaman tsunami.. " kata Masdar.

Warga Banggai sudah trauma dengan gempa. Pada 4 Mei 2000 Banggai dan Bangkep diguncang gempa besar berkekuatan 6,5 SR dengan kedalaman normal, yang mengakibatkan 54 orang tewas dan 23.000 bangunan penduduk rusak di Kabupaten tersebut.

DARLIS

Selatan Nusa Tenggara Barat Digoyang Gempa

Kamis, 09 Juli 2009 | 07:21 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Sebuah gempa menggoyang laut selatan Nusa Tenggara Barat, Kamis (9/7) pukul 05.16 WIB.

Menurut informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) gempa berkekuatan 5,4 skala Richter itu terjadi di kedalaman 38 kilometer.

"Gempa itu tidak berpotensi tsunami," tulis BMKG melalui situs webnya.

Gempa yang terjadi di koordinat 10.9 Lintang Selatan 117.66 Bujur Timur, terjadi di 255 kilometer arah selatan Nusa Tenggara Barat.

Gempa sebelumnya terjadi di pada pukul 03.11 WIB di barat daya Ternate. Gempa berkekuatan 5,0 skala Richter itu terjadi di kedalaman 40 Km arah barat daya 99 kilometer dari Ternate.

NUR ROCHMI/BMKG

Gempa 5,4 Skala Richter Mengguncang Gorontalo

Minggu, 28 Juni 2009 | 21:56 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Gempa mengguncang Gorontalo dengan kekuatan 5,4 skala richer pada pukul 21.18 WIB. Pusat gempa berada pada posisi 1,47 Lintang Utara-122,35 Bujur Timur.

Pusat gempa ini diperkirakan sekitar 130 kilometer arah barat laut Gorontalo, 176 kilometer arah timur laut Tolitoli Sulawesi Tengah, 276 kilometer Manado Sulawesi Utara, 315 kilometer barat laut Bitung Sulawesi Utara, dan 364 kilometer Poso Sulawesi Tengah dengan kedalaman 10 kilometer.

Namun menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, gempa ini tidak berpotensi tsunami.

EKO ARI

Gempa 6,0 Skala Richter Guncang Bengkulu

Sabtu, 20 Juni 2009 | 18:54 WIB

TEMPO Interaktif, Bengkulu: Gempa berkekuatan 6,0 skala Richter mengguncang Bengkulu pada pukul 16.21WIB. Posisi gempa berada di kedalaman 28 kilometer bawah laut, 5,19 Lintang Selatan dan 102,87 Bujur Timur.

"72 kilometer barat daya Bintuhan-Bengkulu," kata Dadang Permana, Kepala Stasiun Geofisika Kepahiyang, Provinsi Bengkulu.

Berdasarkan cacatan Stasiun Geofisika, guncangan yang dirasakan warga mencapai III Modified Mercali Intensity (MMI). "Tidak sampai menimbulkan kerusakan," ujarnya.

Gempa tektonik ini terjadi karena tabrakan antara lempeng Indo-Australia dan Euroasia. "Masih satu blok dengan gempa yang terjadi pada tanggal 11 juni 2009 yang lalu," ujarnya.

Sebelumnya, pada tanggal 11 Juni, Bengkulu diguncang gempa berkekuatan 5,5 skala Richter di kedalaman 22 kilometer bawah laut, 4,99 Lintang Selatan dan 102, 86 Bujur Timur, 61 kilometer barat daya Bintuhan-Bengkulu.

Dadang mengimbau warga, khususnya yang tinggal di pesisir pantai, untuk tidak panik karena tidak ada potensi tsunami. "Kekuatan gempanya masih di bawah 6,5 SR," ujarnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Tempo, warga yang tinggal di pesisir Kabupaten Kaur sempat berlarian keluar rumah dan berdiam di luar selama 30 menit karena takut terjadi terjadi gempa susulan dan juga tsunami.

Stasiun Geofisika Kepahiyang mengatakan getaran gempa ini bisa dirasakan hingga Pagar Alam-Sumatera Selatan.

Hingga berita ini diturunkan belum terjadi gempa susulan. Namun, Dadang mengatakan, jika pun ada gempa susulan, kemungkinan kekuatannya tidak akan lebih besar.

HARRI PRATAMA ADITYA