Kamis, 20 November 2008

kenang Hari Pahlawan di Gumpal Awan

Mayday…mayday… maybe our Flight in Trouble!!




10 November 2008

Jelang 10 pagi jemputan Liza travel di ujung gang sudah tiba. Sejurus kemudian meliuk lincah di panjang aspal Malang tuju Juanda, mengiris padat lintas. Masih sempat berbalas SMS dengan sobat masa SMA, si Agit Suhardini. Garap dialog skena-nya….gojlok Malang-an.


AS : “xy, gimana klo awakmu nangkring de’ moncong pesawat ae? Ben seperti film Titanic”

Aku : “golek isis ta! Glem klo awakmu dadi partner, dan adegan bakal paling tak inget nyKeth kamu Baring di sofa! Hahaha…”

AS : “boleh…tapi kiro-kiro judul sing tepak opo?

Aku : “PETANic_Agit! Gole’ tumo…


Hahahaha…bla-bla-bla hingga salam penutup, sudah dekati gerbang masuk bandara. Turun dan berjejal di padat antrian. Bergegas ke gate 3 usai urus boarding pass. Jadwal flight masih 2 jam lagi, kini terobsesi buru hotspot. Sayangnya sinyal lemah…jauh dari pancar sumber gelombang. Alhasil aku suntuk di serang jenuh. Tidur-tidur ayam…luar biasa tersiksa di ruang tunggu. So loooooooong on lounge!!!

Detik-detik jelang berangkat aku beranjak pulih bugar. Satu persatu penumpang mengisi lambung Lion, si Singa tubuh lonjor. Komplit penuhi lajur deret kursi. Dengung mesin meninggi..menggetar badan pesawat, bergerak lamban…take on position. Hentakan gas tarikan penuh…meluncur deras di landas pacu. Seketika lepas landas menembus cakrawala timur. Terkesan apa ada-nya…seperti biasa.


Lelap berselubung dengung mesin, lampaui setengah jam durasi terbang. Henyak ringan akibat suar-ujar pramugari di moncong speaker, ntar lagi dekat Lombok. Namun terasa ada “beda” suasana. Alami guncang dampak eksternal, “kita masuki cuaca buruk…” susul suar-ujar tanpa indikasi panik sedikitpun. Entah terbiasa atau kerap terlatih samarkan mimik. Dasar para kernet cantik!!!

Longok jendela, awan bagai gumpal selimut, kian bungkam kami dengan aura kalut. Pilot memutuskan terbang rendah diatas selat, lalu manuver miring arah utara. Surya senja menembus dibilangan deret jendela sisi kiri. Terpa kami dengan benderang, mengusir gelap usai terjebak dilapis atas langit tadi. Tiga gili baru saja several left behind…. Terpaksa balik kembali Surabaya.

Desah penumpang lepas lega, pahami keputusan pilot demi solusi selamat. Saat itu pula aku teringat deret kalimat seperti sub-judul di atas. Barangkali seperti itu ancang pesan di ruang cockpit. Dan sedikit celetuk hibur diri tetangga kursi samping, “jangan-2 kita di suruh lebih lama dekam Surabaya untuk sejenak kenang pahlawan terkait hari”. Dibalas bijak “lho, kami yang datang lebih pagi di Juanda tadi sudah sempat heningkan cipta kog!”. Ternyata memang ada momen ringkas seremonial khusus berlaku bagi seluruh pengunjung bandara. Aku kesiangan….kini dapat jatah kali ke-2nya. Hehehe…..


Landing lagi di landas pacu Juanda…, penumpang di harap turun pesawat dan nangkring diruang tunggu. Baru saja hendak berkemas…wait! Ada laporan cuaca bagus…jangan turun dulu! Maaf ralat lagi…., laporan tadi kurang akurat, silahkan penumpang turun (ksengsem sipu si pramugari). Tangkas beranjak… aku manfaatin kilas waktu rapel sholat di musholla sudut selasar. Kini terasa lebih segar dan yakin dengan doa perjalanan….,

“Panggilan kepada penumpang Lion tujuan Mataram IW8384…mohon menuju lagi ke pesawat!” belah suar mencerca selasar. Cuma rehat sekitar 30-an menit…

Ulang lagi prosedur rutin… singkat interval Lion membumbung belah angkasa gelap, segelap harapan baik pada cuaca yang bakal dihadapi. Memasuki wuwung atap Bali ternyata “ujian” gelagat resah kian mengumbar ciut nyali. Pesawat gemetar… ginjal-ginjal seperti menabrak gundukan polisi tidur. Tapi ini bukan daratan!!!

Lagi celetuk bapak di sebelah..” ah! Ini blom seberapa, Amrozi aja mantep ngadepi peluru!”. Sedikit menghibur diantara suasana lengang kabin. Aku timpali joke sekena-nya, “tuh Pak! Didepan ada satu simpatisan-nya, doa-nya pasti afdol mengiringi penerbangan ini”. Mengacu pada satu penumpang, sosok bergamis putih, jenggot lebat dan jidat ber-noktah legam. Bahkan istrinya saja tampil bercadar.

20-an menit dibalut awan gelap…., langit perlahan kian menipis…. Dan kemerlap cahaya di pesisir Lombok mulai beri cerca harapan. Akhirnya! Alhamdulillah….Allahu akbar!


Sang pilot ternyata pahlawan kami hari ini. sekalipun sempat bikin dentum landing agak keras di altar pacu Selaparang . Puuuuih!!!!!

Rabu, 19 November 2008

Expedisi G-LAT 18-23 Mei 2008

Kegiatan yang terlewati kadang membawa sedikit kenangan tersendiri. Dari 2 foto dibawah ini akan tampak jelas nuansa yang terbangun. Nampang Bersama kru BROK/SEACORM jelang hengkang pulang kandang, Prancak-Bali. Ada saja sisipan dialog sekalipun jelang in-action depan kamera. Inget, baca balon kata hendaknya mulai dari ujung kanan ke kiri, biar naratif. Go ahead…..



Bandingkan kalo sudah ready in capture…,


Padahal, dokumentasi sebelumnya saat berkubang di Gili Lawang dan Sulat, benar-2 tampil alamiah apa ada-nya. Bercengkrama dengan lingkungan, 2 pulau Bakau di Sambelia – kabupaten Lombok Timur. Ada yang focus jelalatan pelototin Lamun / Seagrass, kelompok lain konsentrasi di lahan Bakau. Aku dan 2 personil lain : Uchup dan Elvan, cemplung diri sebagai Blue Worker on the Depth.








Selasa, 11 November 2008

Kunjung Aceh….paska 2 tahun Tsunami

Bukti MIMPI bukan sekedar bunga tidur!

Kini giliran bahas Aceh…. MIMPI sekian tahun lalu ber-item tentang kilau kubah hitam Baiturrahman…masjid berdinding kaca-air…ajakan sosok asing pada panggilan adzan yang ternyata berbalik arah. ”itu Istiqlal..” ujarnya seraya rengkuh bahu-ku ajak menjauh. ???? Terakhir, segmentasi imajiner aku duduk di gundukan cuat tanah, tampak seliweran kura-kura dengan warna sisik cangkang yang bikin risih. What a logical transfer???



Next….,

Mimpi naratif tadi mulai unjuk realisasi “gejala” awal saat aku gabung di Koran Mataram. Masih itungan hari jadi kartunis, headline news merebak amarah tsunami Aceh di 26 Desember 2004. Adrenalin bangkit, serasa ada dorongan gelombang batin. Sempat terpikir ambil inisiatif gabung di supply relawan, tapi bini lagi hamil besar…sedang gendut-2nya. Surut meredam asa, sambil renungi gelagat minat. Sengaja manfaatin sarana gratis jalur relawan untuk “tujuan” lain, hunting foto. Urung… kuatir berujung kualat.

Sebagai kompensasi obsesi ngadat tadi, alhasil jadi terpola lebih giat umbar serapah gambar.. Ikonic kartun ( bisa liat di http://glxgallery.blogspot.com judul Aceh’s Tsunami on my cartoonic- play ground). Ide terkait tema mengalir tanpa aral bendung, selalu saja ada celah kolom untuk berkiprah. Tapi banyak juga yang parkir di personal portfolio. Aksi-pun mengalir selaksa konotasi hikayah filosofi tirta.

Sejalan berita susulan, pengejahwantahan MIMPI kian unjuk diri. Masjid kaca-air bernuansa aquarium…kian gamblang sirat makna. Paras lansekap sapuan bekas tsunami menyisakan terlantar rongsok-puing, hanya berdiri kokoh masjid…tegar BANGUN-an” yang utuh. Entah apakah sebagai kesan terselubung. Ketika unsur duniawi rebah, hanya “kebenaran” mutlak yang masih sanggup “berdiri”. Sebentuk pesan moral-spiritual terhantar begitu sederhana.

Sisi lain, kala itu aku masih dibingungkan dengan inisial Baiturrahman yang dibilang Istiqlal oleh bisikan sosok asing namun terkesan sudah akrab. Kutipan Arabic dictionary-walking sebagai nara sumber kian mengantar pemahaman. Istiqlal ternyata berarti “merdeka”. Terangkai lagi jalinan fakta terlahir. Bukankah Aceh memang dulu rajin menuntut kemerdekaan, pingin cerai dari wadah Negara kesatuan?! Harus diakui membahas mimpi senantiasa dipenuhi misteri, imbuhan ikonik-simbolis, namun indah jabar luar biasa. Sebagaimana referensi kajian tentang mimpi yang benar, menurut sebuah literature. Bukan sekedar bunga tidur…jika mengalami di pojok malam jatah al-Lail, dan terekam “efek” kesan mendalam selama 3 harian. Nah! Celaka-nya, aku berkutat mimpi tadi nyaris 1 dasawarsa. Eram hangat di saku jiwa…lalu menetas tuntas menjadi realita. Alhamdulillah…Allahu-akbar! pada-Mu al-Haq…hakikat tegaknya sang ALIF!

Terpuaskan? Jelas tidak! spasi kisah kura-kura belum lagi terkuak….,

Tahun 2006-2007 adalah dwi-annual jeda antara, terdapat sisip kans otobiografi. Aku berkesempatan ikut dalam serangkaian proyek kelautan, ajakan teman yang domisili Semarang. Awalnya bertugas jadi asisten instruktur, diklat selam bagi staf DKP propinsi Sumatra Utara. Pembekalan terkait program Coremap. Jajaki Medan…selusuri setapak aspal jalur tuju Sibolga. Tebing tinggi..Balige..Pematang Siantar dan mampir selasar Toba. Rana tinjau berakhir di pulau Poncan dan pulau Mursala, mengukir aksi kedalaman.

Kembali Medan, kini ada agenda lain. Kawan (Amiruddin) ajak pulang jenguk kampung halaman, kota kecil bagian kabupaten Lhoksemawe. Sajian lintas aspal kini dominasi luas hampar perkebunan sawit. Kebut Avansa membelah lengang senja bersanding album golden sweet memories dan sayat melankolis Ebiet. Hujan berbaur bait Listen to rhythm of the Falling Rain… syair Ebiet melenceng dipenuhi plesetan. Ngakak berdua usir jenuh…,

Jelang sehari tidur inap, esoknya langsung hengkang ke Banda Aceh. Bergerak jelang dini. Sejenak mampir di dataran tinggi terminal singgah. Suguhan kopi tarik menyalakan lagi hawa tubuh. Subuhpun tiba, Dititik ini hati makin berdebar. Apa ini obsesi penuhi “panggilan” Aceh?

6 february 2007.., momentum pijak kaki tepat 2 tahun paska tsunami. Tampak geliat hidup berangsur pulih. Roda perekonomian bergulir..hasrat bangkit dari keterpurukan. Konon bakal kontras di banding hitungan hari paska bencana. Kitari jalur utama kota…semat kemilau legam dikejauhan. Itu dia kubah Baiturrahman!!! Berpola tonjol garis-garis kotak mirip sisik ular! Bergidik kenang kisah di kolom media…hempasan laju lidah-lidah tsunami sempat terlihat saksi mata berbentuk tegakan Kobra.

Terjebak antara kagum-penasaran, aku cuma minta usai makan siang “harus” mampir di Baiturrahman, apapun alasannya. Hasrat terpenuhi disesi tunai Dzuhur. Koridor internal masjid bergaya multi tiang penyanggah. Decak puas, kini berada di zona inti negri Serambi Mekkah. Sempatkan diri lantunkan surat al-Mulk. Sisanya jalin asa belai rindu manikam… buah penantian panjang! Mengabadikan momen dengan kamera saku.

Melebur di sisa terik, melanjutkan perjalanan di lingkar pesisir. Seliweran dump-truk timbun pinggiran pantai, Fringing barikade. Melihat lagi sisa korban bisu tsunami di jembatan alur muara pelabuhan penyebrangan tujuan Sabang. Dan terakhir tutup Asar di masjid Ulele. Akhirnya aku temukan makna “gundukan cuat tanah”, saat lepas tatap jauh di tingkat 2 loteng masjid. Kawasan teluk terhampar dengan aktifitas pekerja membangun tipikal rumah huni anti tsunami. Gak semuanya model sanggah-panggung, yang sengaja dimodifikasi antisipasi sepak terjang air. Beberapa malah terbangun lekat pondasi. Gambaran slow motion si kura-kura? Entahlah! Pastinya saat itu panitia pembangunan rekonstruksi Aceh paska tsunami lagi gencar di sorot berbagai pihak. Terkait lamban kinerja selesaikan target bangun sebagian tanah Rencong. Lengkap sudah jawaban atas mimpi. Desisku ulang doa sahaja di tangkup Baiturrahman siang tadi. “ya Allah, sempatkan aku bertamu ke rumah-MU, bukan sekedar hinggap di serambi-nya, beserta orang-orang terdekat….melalui cara unik-Mu..jalan yang tidak pernah di sangka-sangka”. Wassalam…. Akhiru_kalam.




nampang depan masjid



"multi pilar"




kontributor penggerus lansekap


pondasi sisa terjang tsunami



short-shoot from above Ulele Mosque