Senin, 05 Agustus 2013

Ampenan & tsunami jilid 2

Klenteng (Konco) ajang bocah ngumpul berharap angpow.
Bak klimatolog mandiri....,
Sejak awal tahun, saya jadi sedikit konsen dengan tema pergantian cuaca. Cukuplah dilingkungan terdekat. Mengangkat wacana Ampenan dan sekitarnya. Bukan apa sih. Tabiat cuaca yang semacam "gak punya pendirian" belakangan ini kog makin gak jelas di prediksi. Sekalipun ramalan pihak BMKG selalu ter-update. Minimal bisa menjadi panduan antisipasi terhadap peluang bencana. Para nelayan jadi ogah melaut. Was-was dengan intensitas angin merubah pola hembus. Ombak beriak... level ombak kian garang hempas bibir pantai.
Musibah air laut pasang awal januari serasa begitu menghantui warga Ampenan pesisir. Income anjlok dan sirkulasi kegiatan operasional ngadat total. Semacam timbulkan dampak masal angka pengangguran sementara waktu. Dan prilaku angin menambah deretan masalah lain. Dari pihak staf Puskesmas ada laporan gejala meradang penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas). Rangkaian yang selalu tersaji begitu. Sejak dulu.

bocah memancing di petakan sawah yang terbengkalai
Ekor badai Narelle menghilang. Lalu masuk alih bulan februari. Ditandai perayaan Tahun Baru Imlek. Memang intesitas-nya turun. Sejauh pantauan masih menyisakan rasa enggan di kaum nelayan untuk kais rejeki pigi laut. Dengar-dengar sih, ada bantuan bergulir dari Pemkot untuk warga pinggir pesisir. Sekedar menyiasati kekurangan pangan akibat jeda menunggu cuaca blehek tadi.
Satu kesempatan saya kunjungi daerah Karang Panas. Masih penasaran dengan program paket pengembangan pesisir yang sempat heboh. Pendirian Hotel mewah Ampenan Harbour. Meski belakangan edar desas-desus gak ada kelanjutan lagi. Hanya saja saya tergerak liat segmen aktivitas proyek pembenahan garis pantai, berupa penimbunan tanah yang kelak bakal jadi lintas boulevard. Tembus Karang Panas... ujung Sintung muara dan menghubungkan Kampung Melayu Bangsal. Artinya, sungai Jangkuk mulut muara kelak dikangkangi jembatan baru.
Tiba sana, saya disuguhi fenomena sama. Beberapa sampan nelayan tergolek di gundukan pasir yang memisahkan batas laut dengan cikal bakal aspal boulevard. Bahkan ada terlihat karamba apung kelompok nelayan yang di-entas pula ke pinggiran. Karamba terlihat masih baru. Tulangan warna biru cerah, bongkah pelampung belum banyak ditempeli teritip.  Sistim knock-down. Gulir bantuan dari Dinas Kelautan Perikanan.

nelayan jaring anco.. sekedar cari tambahan lauk.

Semakin pertegas suasana prihatin. Dari sekian kelilip visual, akhirnya saya mendapati sesuatu yang lain. Berbekal kamera, saya-pun liput aktivitas gelintir nelayan menjaring ikan di genangan air payau. Dikawasan ini terdapat banyak spot-spot kolam alami (natural ponds). Kategori lahan basah (wetlands) indikasi bahwasanya lokasi ini merupakan "lahan parkir" alami bagi subsidi limpah air, kiriman dari dataran lebih tinggi. link photo
Seperti juga zona Ampenan utara. Ada tempat dengan penamaan khas. Karang Kerem,* kerem bermakna rendam dalam bahasa sasak. Atau di kelurahan Otak Desa, ada 1 bagian daerah ini yang dinamai kampung Pintu Air. Hanya akibat bertambah populasi penduduk, kawasan ini telah menjadi beralih fungsi menjadi pemukiman. Notabene lokasi rentan banjir. Terutama musim penghujan datang. Konsekuensi lumrah dan wajar. Perubahan tata guna lahan yang berubah dalam 4 dasawarsa terakhir.
Nyatanya, petak genangan ini memberi sedikit alternatif bagi nelayan lokal untuk mencari tambahan tangkapan ikan tawar. Berupa jenis mujair dan betok. Melalui dialog singkat, saya peroleh informasi bahwasanya inilah yang dilakukan mereka selama belum bisa melaut. Memakai metode jaring Anco, adalah tehnik penangkapan umum yang ada di tambak udang. Belakangan saja mulai dilirik, memaksimalkan fungsi tangkap biota air di sungai. Bahkan situ demi situ yang bertebaran di seantero pulau Lombok.

tsunami cilik jilid 2   
Dimulai awal tahun, tercatat telah banyak rekaman informasi kekalutan cuaca ekstrim. Beberapa laporan keterlambatan ferri penyeberangan Bali-Lombok, juga Tano-Kayangan. Meluas pula berita kasus pelayaran yang mengalami musibah laut. Apalagi jika mengandalkan pencarian di search engine afiliasi google. Hampir di pelosok Indonesia mengalami hal sama. Beruntung saya punya stok sobat berprofesi sailor. Dari setiap pelayaran yang dia arungi selalu di up-date via status Facebook. Direct news on the spot. Mendekati kesan catatan sailing log-book. Menunggang phinisi mengiris shaf-shaf alun riak kulit gelombang.
 
ombak di bantaran pantai kampung melayu Bangsal
Puncak kulminasi dari energi amarah gelombak, justru terjadi pada bulan Mei 2013. Lagi-lagi hingar-bingar terdengar dari zona pesisir kampung Melayu Bangsal. Huru-hara apa lagi nih?
Bergegas raih kamera dan segera meluncur TKP.  Ternyata daya ombak sorong lagi unjuk kebolehan. Hantaman-nya terjang tembok penghalang (barrier). Memecah debur riak air hingga terangkat capai tinggi 3 meteran. Energi-nya mampu memindahkan sejumlah partikel pasir ke ceruk pemukiman melalui gang-gang sempit. Bahkan meluluh lantak kanopi asbes rumah yang berada paling pinggir dekat pantai.  
situasi di pesisir Pondok Perasi

Gak puas di spot sama, saya beranjak tuju kampung Pondok Prasi. Sesuai prediksi, akibat pantai landai tanpa penghalang apapun, terjangan ombak mengalun mulus. Sejumlah rumah dan gang terendam air asin. Beda-nya dampak kerusakan kali ini sudah bisa diminimalisir oleh warga setempat. Beberapa jukung tampak telah ditambat jangkar agak jorok tengah laut. Hanya segelintir jukung terlihat merepotkan para nelayan. Terutama yang tergeletak nangkring di gunduk pasir. Mereka bergotong-royong mengamankan aset berharga. Bahkan, beberapa personil warga blok sebelah mulai berdatangan turut bantu. Diliat dari geliat kondisi cuaca, ombak melaju frontal dengan ketinggian capai 4 meter. Anehnya, malah hembus angin terasa lebih sepoi dari biasa. Seolah gak ada sinkronisasi daya sebab-akibat. Yah! tsunami cilik ini semacam efek dari perubahan pola alamiah lain. Seperti istilah umum yang disebut banjir rob dikalangan masyarakat nelayan, Tambak Lorok - Semarang dan pesisir sekitarnya.. Berupa limpahan air laut akibat indikasi menurunnya permukaan tanah kota Semarang. Bedanya hanya pada intensitas pola rutin. Jika banjir Rob semarang bisa jadi menu harian dan mencapai puncaknya pada bulan tertentu. Rob di Ampenan terpantau 2 kali terjadi. Januari dan Mei.

Selidik dan telusur info via internet. Walah! perilaku ganas ombak ternyata dialami juga di beberapa daerah di Indonesia. Bahkan di beberapa pantai lokasi wisata telah memakan sejumlah korban. Sekalipun tidak bersamaan waktu, namun antara 1 dengan daerah lain memiliki rentang kejadian harian. Info pencerah justru akhirnya saya dengar dari rekan pemancing. Tsunami kecil yang dialami Ampenan terjadi tanggal 25 Mei 2013. Bertepatan pelaksanaan hari raya Waisak tahun 2557. Saat itu posisi bulan sedang purnama penuh. Sempurna rupa bundar. Pantas saja! pola pasang-surut drastis ini menjadi pola di luar kebiasaan. Efek gaya tarik akibat siklus bulan.
 
Kadang informasi memang terlalu lambat untuk dicerna. Entah akibat putusnya link sosialisasi. Atau memang banyak pihak yang tidak mengindahkan. Periodikal pola pasang-surut mestinya sudah cukup dipahami oleh pihak yang berkepentingan dengan laut. Semisal bidang transportasi perairan, pelayaran, pembangunan rana pesisir. Dan mestinya menyentuh di kalangan penyelenggara wisata marina. Dimanapun pelosok pantai kategori lokasi plesir. Cukup riskan saat diketahui ada kejadian korban meninggal disapu ombak pasang dalam angka beruntun. Sementara di perairan Jepara konon terbersit kabar ada wisatawan asing yang juga jadi korban. Melengkapi sederet sensus korban demi korban. Ada yang dialami oleh sosok individu, bahkan kalkulasi jenazah disaat momentum sama. Kog bisa ya? Apa pihak pengelola lokasi wisata tidak memasang rambu peringatan tegas? Apa pihak ini belum terjalin dengan sistem Alert-Network pada jaringan arus informasi ter-integrasi. Belum ada pembekalan bagi oknum pengelola tentang sadar bencana. Apa mungkin mereka sebenarnya paham? Hanya saja sengaja mengacuhkan...menyamarkan informasi demi tetap mempertahankan angka kunjungan wisata lokal or domestik, demi pundi-pundi income ticketing. Demi PAD... demi duit. Belum begini...belum begitu... belum-belum rajin berburuk sangka. Ah! susah juga menyusun penalaran dari kasus yang semestinya bisa di tekan menambah angka mortabiltas akibat kecerobohan sendiri.
Korban masal sejumlah 9 remaja (alumni setingkat SMP) disinyalir sebagai akibat luapan rasa bahagia. Sebab jelang momen Waisak bertepatan acara kelulusan Sekolah yang juga terjadi di bulan Mei 2013. Memuntahkan amunisi kesenangan yang akhirnya menuai petaka. Ujung dari penyesalan ini, hanya berharap pada kesadaran. Kelak kemudian, moga kondisi jadi lebih terkendali.
Bercengkrama dengan alam berarti kita mampu untuk adaptasi. Paham gejala dan gelagat perubahan. Baik disaat bersahabat maupun ketika tiba waktu perlu diwaspadai.
Amiiiiin,

NB : sebagai perimbangan visual berikut saya sertakan dokumentasi pantai Ampenan ketika kondisi sangat menyenangkan. Permukaan air rata, hanya beriak kecil pinggir. Peluang menghangatkan tubuh dengan siraman cahaya pagi. Warga turun laut menyalurkan hajat menjaring ikan tipikal pesisir.

 






Catatan :
* Karang Kerem : jika ada nama wilayah di sekitar Mataram diawali nama Karang, artinya merujuk pada plot kawasan yang ada pengaruh dari unsur kerajaan hindu, KarangAsem. Kerem = bahasa sasak rendam.

Selasa, 30 Juli 2013

Doctor Fish... dimana kalian???

lokasi kali kecil di dusun Bentaur - Desa Medas, Lombok Barat
Kilas cerita....,
Sekitar 3 bulan lalu, saya punya agenda khusus buat 2 bocah di rumah. Gingga dan adiknya Fathir. Apalagi kalo bukan akibat rongrong mereka kepingin main air di Kura-Kura Water Park Lombok. Sekali-dua mungkin gak papa. Tapi kalo nuntut sering, wah! ini sih bakal menguras isi dompet. Kans arus kas keluar. Laju sirkulasi wajib bendung, Hehe....,
Saya-pun susun strategi. Bikin pengalihan tematik serupa. Opsi poin utama-nya, tetap saja. Di upayakan muatan wawasan lingkungan. Dekat dengan habitat alam terbuka. Outdoor educated. Minimalisasi kadar budget konvensional. Tapi tidak mengurangi keceriaan energi bocah. Anggap ini bimbingan belajar non-formal. Lately, saya lagi tekuni biking, saya jadi punya referensi varian spot lokasi kunjung. Berhubung judul air, maka saya menggiring mereka pada wacana sungai kecil (Creek). Lokasi jenguk kali ini ada di dataran tinggi level sedang dari hamparan lansekap kota. Hanya berdurasi tempuh 4 Km dari rumah. Full arsip foto my Kids on the Creek

size 6-8 cm.. bersungut pendek
Kenapa Dokter Fish?
Bukan tanpa alasan kenapa mau telisik si Ikan Dokter. Sebenarnya masih rangkai rasa penasaran yang belum terpenuhi dari obsesi ingin tau sebelumnya. Sejak lihat outlet khusus terapi ikan dokter, Garra rufa. Spesies pisces air tawar asal Turki. Artinya ikan ini khusus di impor dari negara asalnya. Dan perkembangan terapi ikan ini rasanya begitu menjamur. Hampir di kota-kota besar di Jawa. Paling tidak yang pernah saya liat langsung di Semarang dan Malang. Kisaran antara tahun 2004-2005. Kebanyakan gerai outlet yang ada di Mall pusat perbelanjaan. Bisa jadi saat itu merupakan awal trend si Doctor fish masuk di Indonesia. Karena awal kejutan, jadi wajar kalau harga terapi cost-nya cukup terbilang mahal. Berbeda dengan perkembangan berikutnya. Ketika secara semangat nasionalisme mulai kambuh. Runut beberapa kanal referensi internet, kini telah bertebaran banyak pusat lokasi terapi di tanah air. Tidak lagi di mall dan swalayan besar. Namun digelar di lokasi tertentu. Jauh dari kota yang penat, lebih memilih penempatan lokasi pinggiran, bahkan pegunungan. Sekalian menyisipkan wacana wisata dan relaksasi khas sub-urban. Dan bagusnya lagi, telah dikenalkan pada khalayak perihal doctor fish lokal. Paling sering di sebut ikan Nilem. Sama biota air tawar. Secara fisik, memiliki rupa tubuh dengan formasi sisik serupa dengan Garra rufa. Bibir dilengkapi sungut pendek, Hanya beda signifikan pada bentuk tubuh. Nilem agak lebih oval diperforma perut. Garra rufa langsing memanjang. Pasti-nya tidak memiliki gigi pencabik mangsa. Sebab bukan tipe ikan carnivora. Serupa ikan mas ataupun karper. Tabiat utama suka menghisap makanan yang ada di dasaran (substrate). Ciri nilem dikatakan mulut-nya berkerinyit (seperti bentuk sikat halus). Demikian hal-nya ikan garra rufa. Memudahkan mereka untuk melahap makanan yang menempel pada permukaan benda lain di air. Semisal lumut pada batu.

acara gowes dan baur sungai kecil
Hasil nihil. Gak ada spesimen identik yang mendekati rendaman tubuh kami. Bahkan dalam rentang kunjung berikutnya, sengaja saya berbekal goggles agar mudah celingukan bawah air. Identifikasi spesies. Cuma terlihat dominasi beberapa ekor wader. Bergerak lincah air dalam dekat kucuran air deras. Tubuh transparan dan sisik gemerlap. Ada juga jenis ikan lain. Size lebih kecil 3-5 Cm dual tone abu-hitam. Tabiat nyisip di dasar dan celah batu, menghindari arus. Belum sempat terdeteksi jenis or nama lokal.

Referensi Film dan pengalaman Survey
cover pilem cukup gamblang pilih Ikon Ikan & sepatu
Tingkah polah garra rufa memang unik. Begitu ada pasien terapi yang langsung membenamkan anggota atawa seluruh tubuh, secara kompak mereka langsung kerubuti. Melahap jaringan kulit mati. Disela jari maupun kujur tubuh. Pastinya saat tubuh kita benamkan dalam air kondisi permukaan kulit bakal berangsur rentan lembab. Memudahkan proses sedot santap. Selanjutnya dari aktivitas sucking, para fish dokter ini menghasilkan enzim dithranol (Antralin). Memberi efek micro massage sekaligus micro pelling effect. Alias tukang pijet kenyot. Disinyalir memberi banyak manfaat bagi kesehatan manusia.
Konon begitu. Padahal jauh sebelum trend dokter fish merebak, fenomena ikan menyantap jaringan kulit mati juga pernah saya. Bahkan mungkin semua pada tau. Tonton saja pilem karya sineas asal Iran, Majid Majidi. Judulnya "Children of Heaven" Alurnya cerita sangat ringan dan human being. Menawan..syarat pesan kemanusiaan. Topik utama hanya pada sepatu (point of interest). Pengalaman mengharukan dan sangat menyentuh dari kakak-adik (keluarga miskin), Ali dan Zahra. Kasus sepatu Zahra hilang, lalu di siasati dengan saling tukar pakai diantara ke-2nya untuk keperluan sekolah. Hingga tiba momentum kejuaraan lari, Ali antusias ikut sebagai peserta, lantaran bagi juara ke-3 tersedia hadiah sepatu. Demi menyenangkan si adik. Stamina Ali terbentuk prima. Akibat hampir tiap hari kalang-kabut lari demi bergantian sepatu, shift masuk kelas beda waktu. Sehingga saat test uji calon peserta lomba (wakil sekolah), dan Ali terpilih. Segmen lomba terlihat Ali mampu menyusul peserta lain. Hanya ketika dekati garis finish, dia mulai atur langkah perlahan. Berusaha menempatkan diri di urutan 3. Naas-nya dia tersenggol peserta lain, dan sempat terjerembab. Ali segera bangkit dan berlari sekencang mungkin. Malah pertama masuki garis finih. Berhamburan guru dan teman sekolah menyambut gembira. Eh, si Ali malah menangis sedih akibat gak dapet hadiah yang jadi target awal. Segmen sequel yang kontradiktif. Sangat mengharukan. Puncak-nya, ditutup Ali yang merendam kaki di kolam. Jemari kaki lepuh akibat lari bekal sepatu butut. Secara dramatik disinilah bumbu visual paling menggugah dan menebar pesan moral terdalam. Ikan-ikan di kolam itu berdatangan kerubuti kaki Ali. Perjuangan penuh makna!
Nah, di adegan buntut itu jadi tampak bahwa ikan mas hias (Fancy golden fish) juga memiliki prilaku sama dengan garra rufa. Tingkah pola biota yang sebenarnya lumrah. Tapi jika dikemas-saji secara apik oleh sineas cerdas, bakal menjadi pesan cantik. Nyentuh kalbu.


cuma ilustrasi.. program susur sungai
Next, kisah menarik lain. Justru saya alami saat saya bergabung di kegiatan survey Sungai. Sekitar pertengahan taon 2008. Kebetulan, dari link teman asal semarang ada yang menangkan tender proyek dinas PU propinsi NTB  berjudul "Penyusunan DataBase Sungai". Liput kawasan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dan kabupaten Sumbawa.
Secara hirarki, saya rangkap multi tugas. Pemandu lokal, tukang jepret, sopir. Tentunya ikutan praktek bikin cagak-bungkul  bench-mark (BM). Di cetak secara langsung on the spot. Macem Pal penunjuk Kilometer pinggir jalan. Selanjutnya di geo-tagging via perangkat GPS. Mengukur lebar sungai dan sedikit catatan tambahan point of interest lain. Lebih sebagai catatan pribadi seperti yang acap lakukan dalam ritual anjangsana lokasi.
Meliput banyak alur sungai, embung, bendungan, hingga telusuri pelosok pedalaman selatan pulau Sumbawa. Khazanah jadi tambun dan variatif. Seperti ketika kami menyusup jauh di selatan kecamatan Empang. Gak ada aspal, kecuali pembukaan makadam berlanjut liuk setapak tanah. Menanjak bukit cadas miring 45 derajat! Sempat-sempatnya saya jungkir balik akibat nuntun motor dan tarikan gas yang kelewat penuh. Ketemu pemburu tradisional yang di iringi pasukan anjing pemburu sekaligus pelacak handal. Fenomena ilegang lodging dan tegakan rupa pohon yang selama ini cuma saya kenal nama sekedar tau dari buku.
Lain pula saat datangi wilayah Labangka. Kawasan ini terbagi atas pembagian 5 zona. Cukup luas hampar lansekap-nya. Merupakan pengembangan areal transmigrasi yang didominasi oleh warga asal Lombok. Kami beraksi model padat-karya. Siang-malam bergerak memaksimalkan efisiensi jatah waktu. Cukup melelahkan tenteng sak semen di kegelapan dan menembus rimbun semak tentukan posisi bench-mark ideal. Cuma berandalkan sorot senter. Sesekali diwarnai bunyi.."grak-gruk..grak-gruk" dengus babi hutan. Sedikit was-was. Lantaran memori saya sudah rekam bekal kisah. Konon babi hutan yang galak/buas adalah jenis yang pernah terluka akibat sabetan parang atau tusukan tombak yang tidak terlalu dalam. Alias gak terbunuh. Jika luka beranjak pulih dan mulai kering, kulit si babi hutan menjadi gatal. Membuatnya berubah beringas. Agresif serang manusia. Mungkin saking susah garuk badan sendiri. Or bisa jadi jadi pelampiasan akibat proses perburuan warga yang pernah gagal. Pengalaman mendebarkan sekaligus seru. Aina'... mantap benarr!!!!
Ada kisah sedih, ketika kami tiba di ujung batas pesisir areal Labangka 5. Kami disertai oknum lokal sebagai pemandu. Pantai-nya khas kawasan selatan. Berpasir di gunduk atas, selanjutnya garis pesisir berupa gorong-gorong batu cadas. Khas struktur break-water natural.  Gak bisa diabaikan, serangan agas bikin gatal luar biasa. Serang kujur permukaan kulit terbuka tanpa proteksi suit. Muara disini tidak lebar sama sekali. Bentang lebar 3 meter. Bahkan berupa genangan saat debit air rendah. Tidak terhubung sambung laut. Kecuali saat musim hujan. Kalo-pun menjadi daftar observasi karena alur anak sungai itu menjadi stok ketersedian air minum bagi warga disekitarnya. Belakangan kami baru paham kenapa pak camat sampai perlu membekali kurir pemandu khusus. Ternyata baru seminggu lewat, ada kejadian 1 warga yang tewas diserang buaya. Paska hujan, orang itu menjaring ikan di muara cilik tadi. Sehari semalam gak kunjung pulang, akhirnya keluarga berinisiatif mencari. Ternyata mendapati jasad mengambang dipermukaan air. Pangkal selangkangan terkoyak dengan isi perut rongga-hampa. Sekaligus saya peroleh pengetahuan tabiat serang predator air itu. Metode caplok-nya mengarah titik lemah tubuh. Bergelinjang sensasi liar siksa korban hinggga mati kelelahan dan atau sengaja seret dalam air. Biar kelelep! Dan itu sudah cara lazim tehnik buaya melumpuhkan mangsa. Selanjutnya seruput jeroan perut korban sebagai menu pembuka. Sebab itu bagian empuk untuk langsung diganyang. Adapun sisa tubuh korban (hewan or manusia) akan di selip-rendam diantara akar yang bersinggungan air. Trik alamiah percepat proses pembusukan, dan sajian daging 'empuk' siap koyak sudah tersedia untuk menu lanjutan. Ngeri sih... tapi cukuplah sebagai imbuh catatan saja. Waspadalah...,
Malamnya kami inap di rumah dinas Camat Labangka. Persis bersebelahan kantor. Berada di rata ketinggian dan menghadap langsung arah Samudra Indonesia. Membuat kami gegas terlelap. Diganjar lelah seharian dan terpa hawa dingin hantaran angin samudra. sensasi Air Conditioner yang betul-betul alamiah.
Beda lagi saat menyusur sungai Sepayung yang menjorok liuk hingga tembus muara dan bilangan petak luas tambak. Masih bersentuhan dengan wilayah utara Empang. Air cenderung payau warna pekat. Hal yang unik disini malah kami temui 1 sumber mata air tawar yang disebut orang lokal sebagai "Dewa Botel". Sangat kontras dengan air permukaan yang dominan payau dan bahkan asin. Mata air ini semacam artesis yang nongol luber permukaan. Bahkan sudah dibenahi dengan membenamkan pipa diameter besar sebagai cerobong luapan-nya. Disekitarnya tampak banyak kerbau berkubang. Dan terlepas dari apapun faktor warna mitos. Syahdan, lokasi ini tetap menjadi zona khusus dari keluarga ningrat Sumbawa. Punya tradisi temurun memandikan jabang bayi baru lahir dari garis trah keluarga sebagai ketentuan syarat yang wajib dilakukan. Pantang untuk dilanggar.
Padatnya jadwal survey, akhirnya kudu kesampingkan niat saya meliput kegiatan masyarakat lokal yang tidak kalah menarik. Produksi khas terasi Empang. Udang pesisir disini terkenal lebih gurih. Bisa jadi akibat belum tinggi tingkat cemar limbah akut. Beda jauh dibanding rasa terasi jawa asal olahan rebon jalur Pantura. Yah sudah lah! urungkan hasrat itu demi tabungan obsesi trip berikutnya, kelak.

zoom Google Earth diatas kecamatan Utan - Sumbawa. Alur sungai Brang Utan.
Nama-nya survey sungai, sudah pasti ada selingan basah kuyup. Lengket peluh selama tempuh alur trip dan terpaan terik nanar mentari. Ogah pake lotion tabir surya. Senantiasa kami bilas mandi kali. Suweeger tiada tara....., Semacam  recharging, energi terbarukan paska gerilya di luasan kerontang sabana.
Yang paling berkesan justru saat hinggap disungai besar yang membelah lintas kecamatan Utan. Sungai Sekokok...sebagian menyebut istilah Brang Utan*. Secara koordinat titik geografis tertera di inset. Observasi di alur sungai ini menjadi salah1 prioritas penting yang diharapkan dari Dinas PU. Karena saking seringnya mengalami musibah banjir saat musim hujan tiba. Dari laporan database ini diharapkan muncul rekomendasi bentuk kegiatan apa yang perlu dilakukan disana. Hasil trek info adalah bakal di canangkan upaya proyek normalisasi sungai. Padahal proyek bronjong tahun sebelumnya tanpa meninggalkan jejak sisa. Akibat Tergerus laju banjir terakhir. 
Gambaran fisik brang Utan, memiliki kontur bebatuan besar-kecil. Spot yang kami tancap BM adalah lokasi zona kelokan terparah yang mengalami gerus erosi. Ukur lebar antar tepi bantaran hampir capai 70m. Saat kondisi debit air level rendah, tubuh alur sungai hanya terisi sekitar lebar 15 meter saja. Dari pantauan kondisi real, zona ini menjadi pusat lokasi penambangan batu kali.Tampak jelas jejak seliweran lintas roda dump truk. Bahkan satu sisi daya gerus banjir telah mencapai batas lahan kebun warga. Cuma tampak jajaran pohon pisang. Minim sekali vegetasi penguatan garis bantaran. Jadi wajar klo tiap tahun menuai efek banjir dari subsidi laju air kiriman up-land.
Sudah sikon miris gitu kog malah bisa saya bilang justru berkesan? Saya gak ada bayangan sama sekali bakal muncul rekomendasi dan langkah penanggulangan apa lagi untuk kawasan kondisi kontradiktif macem gitu. Nanar terik..lagi-lagi aura sabana. Gak menyisakan teduh kanopi tajuk alami pepohonan. Berbaur dengan  gelintir papin (**), kami-pun celup tubuh di sirkulasi laju air bening. Bunyi gemericik zig-zag diantara formasi acak tonjolan batu besar. Sambil sandar batu saya berusaha resapi nikmat sensasi hidayah alam. Eh! lagi enak-enak selonjor mendadak saya geliat kegelian. Rasa geli itu berkelibat di antara kaki dan paha. Ternyata ulah ikan-ikan kecil! Entah mereka sedang gerogoti biang panu atau parasit kulit. Langsung saja saya terbahak senang. Pengalihan daya magis kata singkat  "Eureka".
Teringat konter garra rufa di mall Mataram. Si ikan fenomenal itu ternyata saya temukan disini. WOW... jauh-jauh garra rufa di-import dari negri Turki. Trus kenapa gak pernah tergerak menciptakan peluang dan optimalisasi kekayaan biota negri sendiri. 100% saya bergumam... kebangetan klo otorita pemda lokal gak pernah menyadari aset biota endemik-nya. Semacam alternatif memberdayakan terapi ikan nilem yang ada di Jawa sekitarnya.
Perihal spesies saya belum tau persis. Yang jelas "Pisces utanensis" mungil itu bertubuh mirip garra rufa. Condong panjang langsing dan tidak mirip profil si Nilem. Tubuh Transparan... dan terlihat tipikal sukai air deras. Bahkan saking senangnya, julukan lokal-nya saya sampe lupa. Padahal papin mitra rendam kami tadi sudah sebut gamblang. Pikiran saya langsung fresh.. tidak lagi galau digayut kata banjir bandang. Statistik angka kerugian... maupun konsonan petaka. Ada peluang yang terabaikan di sungai ini. Opini penyeimbang....,

Kemiripan spesimen Laut
ikan Kambingan, Mullidae
Sekarang mari telusur baur biota...,
Secara tingkat persistensi spesies dan family jelas beda. Anggap saja secara taksonomi, trah klasifikasi ilmiah di runut tingkat Ordo. Meski berbeda pula tipe habitat air, Tawar dan Asin. Kalo di amati seksama kelangkapan perangkat tubuh, ciri khas pembeda antar 1 jenis ikan dengan lain-nya. Sampe kemiripan prilaku. Paling tidak ada 3 tipe spesies laut terhimpun di figur Garra rufa (tipe lokal utan) disingkat Gr. Saya gak bisa menjadikan acuan Garra rufa asal Turki, soalnya melihat mereka sebatas etalase aquarium. Bukan di habitat alami mereka. Hehehe....., prediksi sementara saya anggep Gr lokal dan Gr Turki mirip.
1. Jika dipadankan tipe kulit transparan, Gr  mirip dengan kelompok ikan cardinal. atau family Apogonidae. Hanya saja apogon tipe statis. Cenderung pemalu. Ngumpet dan berlindung disekitar teritorialnya jika di dekati. Kontras dengan Gr. Tetap mempunyai teritori tersendiri di balik bebatuan. Tapi cukup friendly dekati manusia.
cleaner wrasse membersihkan mulut ikan Sweat lips.
2. Jika melihat bentuk sungut. Gr mirip sekali dengan tampang Goat fish. Kelompok Mullidae. Lokal sasak menyebutnya ikan Jenggotan atau Kambingan. Gr bersungut pendek, sedang goat fish lebih panjang. Artinya ada kemiripan mereka cara cari makan. Memilah dasaran substrate dengan mengandalkan kinerja sungut. Log sucker istilah keren-nya.
3. Ditilik dari kemampuan adaptasi uniknya. Bagi saya prilaku Gr seperti di anugerahi hidayah khusus, seolah rela bersimbiosis "sementara waktu" dengan mahluk lain (manusia). Meski hanya sekedar rela jadi tukang pembersih. Bak staf cleaning service yang ramah! Di kelompok biota laut. Tabiat penuh pengabdian ini dimiliki oleh kelompok Cleaner Fish. inset samping tampak si mungil Cleaner Wrasse, Labroides dimiatus. Ada juga ikan lain semisal Remora yang nebeng di tubuh sekelompok Hiu. Mereka penggganyang parasit yang menempel di biota induk semang.
Poin ke-3 ini menggambarkan betapa unik bila tatanan sebuah ekosistem bisa terjalin dengan dinamis. Toh gambaran pola simbiosis mutualism juga banyak kita lihat di zona darat. Burung jalak hitam atau bangau yang senang mencari 'kutu' di punggung kerbau. Bahkan jenis burung lahan basah yang ambil peran jadi perawat gigi bagi taring di rahang nganga para buaya.

Jadi, betapa komplit dunia fauna. Baik darat dan perairan...,
Adakah nikmat Tuhan yang patut di dustai?
Ada Doctor Fish.... ada pula Dentist Bird. 



Catatan :
* Brang = istilah lokal menyebut sungai
** Papin = istilah penyebutan lokal untuk kakek tua 

Kamis, 25 Juli 2013

kumat Mancing.........,

Lokasi : bilangan tambak tanjung Luar - LoTim
Memancing tentu menjadi semacam hobi menyenangkan bagi sebagian penggemarnya. Konon bukan sekedar kemampuan finansial bagi yang menganggap sebagai penyaluran olahraga, sport fishing. Sekaligus wadah melatih kesabaran, insting dan sensasi strike. Hingga kepuasan mampu menaklukkan ikan buruan. Faktor yang gak bisa dipungkiri, tentu saja faktor nasib. 
Nah, soal pancing memancing buat saya pribadi semacam kegiatan yang susah dijadikan tolak ukur. Dulu, masa SD dan SMP, saya pernah gandrungi aktivitas ini. Tentu diawali akibat gaul dengan teman sepermainan, sekolah dan lingkungan rumah. Mulai dari sekedar bikin kolam kecil dan menangkap ikan sekedar pake cakupan tangan. Itupun sekedar jenis ikan kepala timah (iwak gathul : versi jawa). Yang banyak bertebaran di selokan dan lahan basah (wetland) tengah kota saat era bocah di Sumbawa Besar. Lalu sejak pindah Lombok, aktivitas mancing jadi intens dan kerap tersalur, lantaran kami tinggal di rumah keluarga yang punya banyak petakan kolam air tawar. So, memancing menjadi sirkulasi mutualism tabiat-habitat. 


lokasi : tonggak eks pelabuhan Ampenan
Beranjak mulai kenal joran dan reel perdana, saat SMP di Malang. Memancing menjadi acara pengisi hari libur. Tapi sudah agak mix dengan kegiatan lain. Biking dan berburu burung dengan air rifle. Saya menjadi punya kegiatan jelajah di kanal kecil di zona pinggiran kota. Paling jarang ikutan di kolam berbayar. Masalahnya sangu cekak! Kalopun bawa untuk sekedar beli jajan. Saya dan rekan lebih cari suasana bermain dan doyan kelayapan. Cukup melihat peluang survival ala kadar di habitat alam terbuka. Jenis yang disasar gak ada lain ikan lele, dan paling sering Kotes. Masih satu family dengan gabus atawa Tomman. Jika berhasil dapat tangkapan, paling ujung-ujungnya cemplung di kolam kecil rumah. Perbendaharaan sementara. Yah, paling apes berakhir di wajan penggorengan. Jadi tambahan santap kuliner jatah melek malam minggu dengan para misan yang tandang rumah.

Masa itu akhrnya berlalu ringkas. Paska SMA , waktu bergulir hingga saya balik lagi ke Mataram - Lombok. Bekal pancing sejak saya pake sejak SMP ikut dibawa. Itupun tidak banyak fungsi. Akhirnya beralih hak milik. Alias di pinjam teman, tapi gak pernah kembali, selama-nya! Padahal perangkat 1 set seharga Rp 15.000,- begitu banyak menyimpan kenangan petualangan. Melow yang terlambat. Hahaha....,
 Sejak itu, memancing seperti tidak pernah lagi saya tekuni. Semacam pengalihan alibi abnormal. Ah, ngapain lagi berkutat aktivitas bocah. Ego janggal... ah! toh dulu pernah lakukan itu. Bosan! konsentrasi jenuh. Pengalihan berikutnya memang saya lebih kecantol hobi lain, Drawing. Bukan aktivitas baru sih, justru berdayakan energi curiosita yang terbentuk sejak awal. Hidayah talenta barangkali. Dan kebetulan masih awal kuliah di bidang Komputasi. Sama sekali gak kepingin jajal jagat perpancingan. Padahal di Lombok, gak perlu jauh-jauh mencari spot lokasi. Baik tawar maupun laut. Terjangkau dari segi waktu dan biaya.


Jeda panjang...., 
Masa awal 92'an seolah era kegelapan untuk urusan mancing. Tapi bukan berarti saya sama sekali gak bersinggungan dengan dunia ikan. Justru pindah bermukim, "menjauh" dari ortu dan ikut bude di Lombok, saya kecipratan aktivitas baru. Kebetulan di lokasi saya bernaung, juga berkutat sekretariat Klub Penyelaman. Nama-nya Rinjani Diving Club. Otomatis terbentuk secara dampak lingkungan. Olahraga renang menjadi menu tiap minggu. Pembentukan mental dan kawah candradimuka yang 'beda'. Dari sekedar memperbaiki gaya renang standar, bukan lagi 'asal' gaya kali. Perkenalan alat snorkeling hingga scuba. Menekuni profesi sebagai dive-guide. Sampai melakukan pekerjaan lain bersifat komersial diving meski tetap berbasis perangkat Scuba. Mencari jangkar kapal feri yang hilang, membersihkan bagian lambung feri maupun yacht milik orang bule. Pembersihan as alur propeler kapal feri yang ngadat akibat disusupi jaring nelayan. Pekerjaan salvage ala kadar... pekerjaan inspeksi bawah air. Dokumentasi foto, dan masih sederet item pekerjan lain. Di lingkup aksi sosial paling-paling tergabung dalam tim SAR. Utamanya bila ada kecelakaan laut yang dialami kapal penumpang. Memburu beberapa jasad korban yang tersangkut di kapal karam. Semua-nya memberi warna tersendiri. Komplit suka-duka yang mengiringi-nya.    



that's me, tubir miring terumbu gili Lawang - Lombok Timur.
FACE TO FISH...., Bertatap langsung dengan biota dalam air? tentu saja!!! Justru sejak geluti olahraga selam saya jadi leluasa bercengkrama dengan mahluk air. Tidak lagi sekedar ikan. Tapi beberapa biota khas lain. Tetap menjanjikan wawasan edukasi lingkungan.
Apalagi ketika dapat pembekalan MPTK (Metode Penelitian Terumbu Karang). Semacam pakem standarisasi tehnis sensus karang dan ikan. Betapa pengkayaan materi itu kian menambah khazanah dunia Bahari. Paham... dan sekaligus memupuk rasa peduli. Cara pendekatan yang perlahan terbentuk oleh porsi simbiosis mutualism. Secara gak langsung seolah tertanam solidaritas. Terpatri bak doktrin dengan cara tersendiri. Namun bukan berarti saya antipati makan ikan. Lalu latah jadi mahluk herbivora binti vegetarian. Enggak lah! Masih taraf normal paham nilai gizi dan protein. Betapa lebih gurih ikan segar. Daripada ganyang isi sarden kaleng maupun ikan asin. 

dengan pose gini... serasa saya menjelma profile mbok jamu
Beda-nya gini.., kalo dulu mancing gak peduli jenis apapun yang terangkat kail. Kini lebih mawas dan bisa pilah-pilih. Artinya jenis apa yang enak. Ambil dengan size ideal... jangan sasar indukan dan tipe baby-fish. Tehnik buru juga beda. lebih mengandalkan spear-gun. Alias panah ikan. Sisi efektif-nya, di dukung peralatan scuba kami bisa lebih leluasa cari spot ikan potensial. Sementara jatah Night Dive dilakukan untuk mencari lobster di ceruk dan liang karang identik persembunyiannya. 


di karamba stingray.. pastinya itu bukan Steve Irwin

Memancing, perlahan mulai saya gemari lagi. Terhitung sejak tahun 2000 ke-atas. Tapi tidak dengan kecenderungan drastis. Minat kambuh gara-gara liat para boat-man selalu mengisi luang disaat perahu yang kami gunakan survey kegiatan laut. Selagi beberapa surveyor meneliti parameter kondisi air. Saya nyemplung dasar laut atau sekedar pengamatan via aksi snorkeling. Iseng, para boatman dan kernet-nya mulai memancing. Seloroh umum yang mereka ucapkan, "maeh, poroq-poroq boyak empak kadu kanduk" * 
Sirkulasi ini semacam melahirkan pencerahan pembaharu buat saya. Betapa mereka masih berpikir alternatif membawa "sesuatu" bekal pulang untuk sekedar penuhi asupan gizi keluarga. Hanya bekal metode standar. Pancing dasar tipe hand-line untuk buru ikan dasaran substrate. Dan biasa disambi mancing ikan pelagis. Target kuwe alias jack** dan Tengiri. Tangkapan ikan dasar yang berukuran kecil/medium kerap langsung dijadikan umpan hidup. Menggugah minat jajal. Pematik hal baru. Metode sahaja dan beda cara tangkap acap justru memancing reaktif.


lokasi : embung jalan Airlangga - Mataram
Setidaknya, daya perca mozaik visual tadi semakin akut. Tiap ada kesempatan saya mulai ikut mancing, selagi tidak usik porsi kerja utama. Sekedar pancing dasar ala hand-line. Cukup menyenangkan. Perlahan saya mulai bisa menikmati. Seperti mengulas titian memori, 'benang-merah' masa bocah dulu. Betapa asyik-nya jalani peran si Bolang! 

Satu sisi saya mulai paham, selama ini kenapa saya jadi ogah tekuni hobi ini. Ternyata selain alasan butuh waktu tersendiri, memancing juga perlu konsentrasi dan kesabaran tingkat tertentu. Kita gak akan pernah bisa merasakan esensi-nya jika masih dibaur dengan kegiatan lain. Apalagi di jatah waktu yang bersamaan. Non sense terlaksana ! Inti-nya, cuma memperkuat tekun dan niat. Tujuan mancing, yah sudah mancing saja. Jangan tergerak belah fokus lakukan aktivitas lain. Sesederhana itu saja, tanpa ada perasaan sesal sekalipun hasil boncos. Hasil hampa tanpa tangkapan sekalipun. Justru malah menimbulkan efek penasaran lagi, seolah terpatri sugesti 'next will be better'.
 

Syukurnya, saya mulai ada teman yang memang benaran demen mancing. Awal saya masih pinjam perangkat. Belakangan mulai tergerak beli sendiri. Alasannya lebih baik mengenal akrab alat pribadi. Kalaupun ada resiko alat rusak, itu sudah menjadi konsekuensi. Perlahan saya mulai doyan keluar-masuk toko pancing. Melengkapi beberapa keperluan aksesoris pendukung. Casting dan popping... dan sedikit mulai lirik jigging. Adapun trolling beberapa minggu terakhir saya sudah mulai coba. Adanya kegiatan penelitian kerang bakau di gili Lawang dan Sulat memberi kesan leluasa. Sebab tinggal pasang joran dan dilakukan aksi tarik-ulur kenur selama perjalanan rute pulang-pergi gili. Yang bikin was-was justru status alat yang bukan peruntukan trolling. Dari 3 bulan berlalu, belum tunjukkan hasil. Strike baru kejadian minggu lalu. Saat lintasan boat kami melewati bilangan terumbu pinggir dekat jetti gili Sulat. Drag reel menjerit nyaring... pasti-nya ikan besar! Baru hendak menghajar, eh! mendadak jadi ringan.
Prediksi minnow terlepas, meski sudah saya kaitkan kabel nickelin di ujung line utama. Gegas gulung reel... ternyata minnow masih utuh, cuma kehilangan treble hook depan. Ring penghubung ternyata terurai... dan juga ada jejak karat. Memang sekedar pakai minnow murah-meriah harga 10 ribuan. Merk Bakau lagi, persis ekosistem yang sedang kami jelajahi. Terbukti daya handal tipe lure memang sebanding harga dan kadar mutu. 


Efek lain. Jadi kerap kunjung toko pancing. Beli asesoris tambahan. stok mata kail sampe stok timah karena sering kasus nyangkut. Istilah pemancing umumnya di anggap gak kunjung strike berarti kudu rela nyajen. Atau justru sekedar kunjung cuci mata. Mengenal berbagai perangkat yang someday bakal jadi prioritas target animo. Tentu-nya yang masih terjangkau. Ada juga sih, penasaran pingin nabung dan jajal beli alat standar advance. Cuma kadang kog malah menghalangi niat. Padahal ada sebagian angler yang punya semboyan sederhana. Ikan gak bakal kenal merk. Ngeributin mata kelilipan brand... trus kapan mau bisa menyalurkan hajat mancing dengan perasaan damai. Bahagia dan penuh nuansa relaksasi. 

ampas VCD rusak cukup bermanfaat sebagai bahan umpan buatan 
Oiya, khusus untuk lure demi support aksi casting, ternyata beri kans untuk kreatif ala mandiri. Tips sekedar siasati low-cost budget. Faktor mahal harga minnow or popper karya pabrik. Mending ber-hasta karya sendiri. Mulai dari tutup botol sampe potongan keping Compact Disc. Enaknya CD miliki kilau spektrum warna jika di terpa cahaya mentari. Serupa dengan warna khas tubuh ikan kecil yang menjadi buruan para ikan pemangsa. Kalo-pun kudu korban entah sebab kasus nyangkut atawa putus mendadak karena sambaran ikan babon, gak bakal jadi penyesalan seumur jagung. Mendingan nyajen ala kadar-nya. Bahkan lure tipe made-in sendiri ini bisa di modifikasi dengan model dan bahan seada-nya. Memanfaatkan limbah rumah tangga. Semboyan reduce...re-use.. re-cycle. Sekali lagi ingat motto simpel "ikan gak melek MERK".
Poin lain,  bermukim di zona dekat pesisir. Jadi bukan halangan untuk mudah mendatangi sajian spot potensial.  Muara... pasiran atau sekedar target ikan permukaan di dekat tumpukan krib penghalang abrasi. 
 

Salam strike !!!



catatan :

* "Iseng Ah, cari ikan sekedar buat lauk"  
** Jackfish dalam istilah sasak menyebut Langoan, Sementara di Sumbawa/etnis sulawesi rantau kerap disebut Mangali atawa Mengali.

Selasa, 12 Februari 2013

Rebo Bontong 2013

suasana Rebo Buntung di muara kali Jangkuk - Ampenan
9 Januari 2013...,
Mengulas catatan lalu. Selang 2 hari dari nota terakhir di liputan kebakaran dan paska tsunami "kecil" di pesisir Pondok Prasi - Ampenan. Ternyata masih ada kelanjutan agenda lain. Pampang baliho besar di jembatan Jangkuk cukup tegas merapal informasi. Akan digelar ritual adat " Rebo Buntung dan Tetulaq Tamperan.
Hanya saja lokasi perhelatan akbar ini agak jauh dari Mataram. Tepatnya di Pantai Tanjung Menangis, Ketapang. Kecamatan Pringgabaya masuki wilayah Kabupaten Lombok Timur. Ada banyak hal yang melatar belakangi kenapa momen ini menjadi sangat istimewa. Pertama, dikatakan warisan leluhur sebagai ritual adat yang layak dipertahankan eksistensinya. Dinas pariwisata setampat bahkan mendukung penuh, mengingat kans sangat potensial sebagai event wisata. Sehingga telah dinyatakan sebagai agenda wajib dilaksanakan tiap tahun. Sekaligus sarana hiburan bagi rakyat.

Apakah acara ini hanya dilakukan di wilayah Lombok Timur saja? Gak juga! satu referensi kanal maya menyebutkan ritual rebo Bontong hanya dilaksanakan di 3 tempat saja. Yaitu sungai Jangkuk, tepatnya dibagian alur sungai yang membelah kota, tepat di perkampungan Dasan Agung. Pantai Tanjung Menangis - Lotim, dan pantai Kurandji, masuk wilayah Lombok Barat. Pesisir persis arah zona Ampenan selatan.  (tampak pada inset diatas).
Tapi dari hasil mesin pencari, saya mendapati bahwa ritual ini-pun dilakukan oleh para warga gili MatRa (Meno-Terawaangan- Aer : red). Dan jika mengulas kali Jangkuk. Bahkan di spot muara, warga Kampung Melayu masih melakukan ritual ini. Sekalipun hanya cuma mandi.. sekedar ber-basah ria. Bersenang-senang... senda gurau, sambil balut niat setengah hati dengan bekal keyakinan ala kadar, mandi safar. Demi menyambut momen babak berikutnya, Maulid Nabi Muhammad SAW. 

dewasa.. tua-muda ngumpul jadi satu
Jika di Lombok dikenal Rebo Buntung, masyarakat Jawa, Sunda, kalimantan Selatan dan Bangka Belitung menyebut istilah Rebo Wekasan. Baik rebo Bontong dan Rebo Wekasan meyakini hal yang sama. Yaitu membersihkan dan mensucikan diri sebelum memasuki perayaan maulid Nabi. Kedua tradisi yang cuma beda istilah ini merupakan sebuah nilai muatan lokal yang terwujud dalam bentuk semangat akulturasi antar agama dengan kearifan budaya setempat. Yang kembali lagi, demi tujuan perkayaan promo wisata akan sangat berpeluang dikembangkan dan mengundang pundi PAD. Itu alasan paling mudah ditengarai. Digaris bawahi... layak bertanda centang-perenang. Hehehe....., 

Dilema 2 kubu...,
Agak riskan, bahkan cenderung miris. Ketika sebagian pihak mengaitkan seolah momen ritual adat rebo buntung dikatakan syarat nilai agama. Tuntunan mana? agama mana?. Terlebih bakal menyesatkan jika ungkapan macam ini dilontarkan oleh pemuka agama. Tokoh agama dengan plat resmi islam. Saya akan maklum klo sekedar diucapkan oleh petinggi instansi pemerintah. Toh sekedar jadi rekayasa demi obsesi mendongkrak pamor wisata. Dan yang makin parah beberapa artikel yang mengulas wacana yang sama, pun pula, ada yang dengan santai menulis, ber-kalimat penutup...Adat bersendi syara'... syara' bersendi Kitabullah.
Unik memang. Seperti sudah menjadi tabiat kolot, soal kait-mengait antar kejadian. Mungkin sudah anugerah watak mendasar klo kita paling bisa bikin rangkaian momen satu dengan lain. Sambung... jalin-pilin momentum. Pokoknya harus berantai !! dan bila perlu di perkuat dengan titah tokoh agama lokal. Pasal mau di tunjang hadist atawa landasan ayat Qurani, yang sebisa mungkin mepet makna pendukung. Bukan esensi ... namun cukup nyerempet secara bunyi bahasa. Oke-oke saja.....,

Urai kasus mudah. Semenjak awal tahun 2013 perilaku cuaca berubah intensitas ekstrim. Secara kajian BMKG ditengarai sebagai akibat badai Narelle. Beberapa wilayah di Indonesia yang dilalui 'alur badai' rentan mengalami hal serupa. Sama halnya wilayah Nusa Tenggara dikatakan juga terkena dampak sekedar 'ekor' badai Narelle. Lucu-nya dengan ada-nya limpah badai tadi gelaran ritual rebo bontong diselenggarakan. Segera di wujudkan dalam pelaksanaan sembah laut. Berbaur kutub berbagai nalar dan referensi kajian nara sumber. Opini lain bilang, menjelang ritual rebo bontong ditandai dengan transfer energi alam berupa aneka rupa penyakit. Masuk akal sih! toh badai notabene angin adalah media natural yang mampu memindahkan epidemi penyakit antar zona di belahan bumi kita. Perubahan iklim global sudah cukup mampu memberi dampak itu. Semisal mulai beredar-nya benih penyakit baru yang sebelumnya hanya ada / khas wilayah negara tertentu. Hatta, dulu-nya berada di wilayah ter-isolir sekalipun.
Dan ini semacam menjadi sinkronisasi dari ritual rebo bontong. juncto mandi safar pelaksanaan dekati fenomena kejadian badai Narelle. Konotasi wujud syukur sekaligus menolak bala yang dilakukan dengan melakukan larung sesaji. Andai saja tidak ada kejadian badai di awal tahun, lalu dalil apa lagi yang bakal jadi alibi? Pergerakan dinamika waktu yang seandainya di tahun berikut (2014) tidak ada Narelle. Kemudian jatuhnya safar persis masuki februari yang biasa ditandai dengan angin besar jelang Gong xi fat chai. Apakah badai tahun baru cina itu akan ikutan jadi alibi demi dalil kuat penyelenggaraan ritual adat. Entahlah...,
Bedah runut, toh sebenarnya acara larung sesaji di Lombok sebenarnya juga sering dilakukan oleh komunal  masyarakat nelayan di wilayah Tanjung Luar. Saya tau-nya dengan istilah Ngalamak Lauk. Hanya saja masih bersisip unsur kepercayaan Animisme, balur dengan nuansa adat sulawesi yang diwarisi leluhur adat komunal Bajo, khas masyarakat pesisir. 
Lalu lebih ditelaah lagi, tentang mandi safar. Tentang konsep berbenah, tentang program bersih diri yang konon entah diyakini semacam tuntunan demi afdol-nya masuk agenda Maulid Nabi. Menjadi ajang hiburan rakyat. Terlebih menjadi agenda menarik bagi khazanah menarik minat wisatawan untuk kunjung ke daerah. Yah! apalah beda-nya dengan mandi jama'ah bagi masyarakat hindu di India, bergenang-genang ria di sungai suci Gangga.

Mau dikaitkan apalagi? kalo masih kurang, tengok saja diwilayah Kabupaten Lombok Utara (KLU). Bahkan ada 1 wilayah yang ber-inisial Gangga. Hanya saja point of interest yang sering diunggah adalah site air terjun. KLU yang terlahir sebagai kabupaten terbaru (2008) sudah barang tentu akan menjadikan sebagai aset wisata alamiah-nya. Karena dari bentang lansekap, selain laut.. primadona 3 gili Matra. Bagian kaki Rinjani merupakan stokist dari beberapa juntai air terjun. Hanya saya belum tau tahapan ide apa yang akan digarap oleh pemda setempat. Toh bisa saja, seandai-nya dalam perkembangan membangun kota Hijau, saya pernah mendengar istilah Sister City. Dimana ada akad kolaborasi antara 2 kota beda negara menjalin kerjasama demi rupa-padan dan ciri khas adat kultur, secara misi dan visi memiliki program kompak dalam terapan aksi. Dan bahu-membahu membangun citra pariwisata yang mengandalkan utamakan lebih peduli HIJAU. 
Kenapa tidak, jika kemudian Gangga (KLU) menjadi semacam miniatur sungai Gangga India. Terlepas apakah disana... ditubuh cabang anakan sungai (creek) berpeluang dikembangkan beberapa titik ajang ritual mandi suci. Tentu bukan latah mengarahkan pada konotasi mandi safar. Tapi mandi sebenar-benar mandi. dalam arti harfiah dan etimologi muasalnya. Hehehe.....,

Bahasan jelang titik nadir...,
Perihal versi bersuci. Ternyata tidak juga cukup bagi kita 5X dalam sehari. Terlebih jika masih ditambahi ibadah sunnah lain-nya. bersuci demi bersuci... ulang-bersulang hakikat limpah hidayah air. Menampik kondisi krisis minim bahan liquid.
Lalu bagaimana bila ritual tolak bala tidak tercapai. Entah jika secara islami bisa berwujud istisqo' (mohon curah air) maupun pelaksanaan sholat Taubah sekalipun. Enggan dilakukan oleh umat pemeluk. Sebab niat yang tumpul. Setengah hati... gak rela kaffah, akhirnya senantiasa berpikir alternatif. Jahil-jahil.. liah-liah*.. modernis!
Bahkan, bukankan secara gamblang begitu sering disisip dalam bait qunut subuh. Sambil membalik telapak tangan, sang imam pemimpin... di-amini jama'ah komplit. "Allahummad fa' anna minal bala, faqsa..dst". 
Akhirnya, seolah tiba pada konklusi. Jatuhnya bala' kalaupun memang bakal datang secara kehendak sang Kuasa, bakal selalu menjadi kutub dilematis. Disatu sisi umat muslim (disini) rajin tengadah demi menghadang datang-nya Bala'. Namun sebagian yang lain justru mengharap bala' untuk disegerakan tiba. Terwujud... dan kemudian lalu dijadikan ajang "pesta" semarak. Mensyukuri bala'. Tidak ada lagi kontinuitas pahami super indera Sang Pencipta. Tidak akan pernah ada Tuhan yang Maha mengetahui segala isi hati. Lupakan juga, sebaris statemen Kitabullah.. bahwa Allah maha pengabul... dan menuruti segala apa yang di mau oleh mahluk-Nya.


Catatan Redaksi
* Liah : dalam bahasa lokal sasak bermakna liar. grasak-grusuk

Minggu, 10 Februari 2013

Green-Belt khas kota Mataram

Aktivitas pagi di lorong Jangkuk
Tentu kita semua pernah mengenal apa yang disebut Green Belt. Atau biasa disebut sabuk hijau yang menghiasi jalur perkotaan umumnya. Berupa deretan tegakan pohon/ terumbuhan baik itu yang berdiri sepanjang kiri kanan jalan aspal, Maupun yang sengaja tumbuh di "pematang" pembelah 2 jalur aspal. Definisi singkatnya yang saya kutip di kamus maya disebutkan "a belt of parks or rural land surrounding a town or city". Jalur taman atau zona pedesaan yang mengelilingi kota. Bahkan bisa dikaitkan sebagai bagian dari program peduli hijau. Entah itu berupa aktivitas pertamanan, gerakan reboisasi, maupun konsep pengelolaan lingkungan lainnya. 
Jika kunjung Jawa. Pemandangan paling eye-catching bagi saya adalah view perbukitan teh. Hamparan meluas batas hingga penuhi kantung visual. Hijau yang menawan. Jejumput ujung dedaun sedikit menambah varian kuning. Dibilas terpa cahaya surya, idealnya saat condong pagi dan jelang senja. Pemandangan tadi akan semakin klop ketika baur aktivitas para ibu pemetik daun teh. Kegiatan Human interest yang selalu undang tekun, ogah berpaling. Maka tidak mengherankan bagi kalangan kaum Jawa-dwipa mengenal istilah pewarnaan tersendiri. Ijo royo-royo.... Seperti terdapat pada bait lirik karya sunan Kalijaga. tembang Lir-Ilir.. tandure wus sumilir (Sayup-sayup bangun dari tidur, tanaman sudah mulai bersemi). Jika mengaitkan teori irisan spektrum warna... entah di posisi mana. Barangkali Hijau Pupus.

Floating Green belt
Bermukim di Lombok. Bukan berarti tidak bakal menemui sajian seperti kajian prakata diatas. Ada banyak kegiatan dan ciri bercocok tanam yang memiliki taste khas kearifan lokal. Mengunjungi atap Bayan (nun sana mendekati up-land Rinjani) kita akan disuguhi konsep Bangket Bayan. Sistem cocok  tanam sawah dan pengaturan irigasi yang dibangun turun-temurun di kalangan komunal Desa Bayan. Sangat khas sistimatik tradisional, high-lander. Artikel ini sebenarnya pernah saya coba ulas. Cuma sayang kehilangan stok dokumentasi pribadi. Sekitar 4 tahun lalu. 
Menurun level pertengahan. Sajian eksotik adalah perkebunan kopi. baik milik perorangan, maupun perusahaan. Brand terkenal yang dikelola oleh satu korporasi adalah merk Kopi555. Cuman belakangan ini sepertinya meredup, tersaingi oleh beberapa brand instan asupan distribusi dari daerah lain. Kopi sachet ala pabrikan. Di ketinggian dataran sedang, lebih identik dengan lokasi penanaman lahan tembakau. Gak berkala. Tapi selingan paska musim tanam padi. Saat jelang musim panen suasana juga menarik. Aktivitas pekerja pemetik daun tembakau juga bernuansa karakter tersendiri. Terutama kegiatan sejak petik daun hingga proses di oven tembakau.  Saya beberapa kali kesempatan sekedar aksi pengamatan. Belum tergerak mendokumentasikan lebih jauh.


 ibu pemetik Kangkung dibawah bayangan jembatan
Next, karakter unik dan beda panen pucuk daun justru ada di bilangan level down-land. Sungai dan aliran kali yang membelah kota Mataram. Merupakan pecahan sungai besar, Sub-Sungai Dodokan. Meliputi kali Meninting, Jangkuk dan Ancar. Bagi saya inilah floating green belt yang memberikan banyak fenomena khas bagi kehidupan warga disekitarnya.
Floating Green-Belt ini berupa tanaman kangkung khas Lombok. Karena tumbuh di lahan basah speiesnya jenis kangkung rambat. Menjulur ambang dipermukaan air. Selain itu vegetasi hidrofit ini merupakan komoditas unggulan bagi sebagian warga yang tinggal di sepanjang sempadan sungai. Mata rantai penunjang finansial. Mudah perawatan. Cukup memanfaatkan ketersediaan lahan basah, atawa Wet-lands. Dan tidak memerlukan pupuk khusus. Segalanya berjalan alamiah. Pasang tonggak khusus dan bentang tali, selanjutnya semua pemilik bersinergi olah dan mengawasi proses tumbuh. Musim tanam kangkung kali dilakukan sepanjang waktu. 

panen harian untuk dijual di pasar terdekat
Hanya stok bisa bervariasi. Melimpah saat diluar musim penghujan. Sebab debit dampak curah hujan tinggi memberi peluang regulasi arus kali lebih kencang. Bahkan riskan banjir. Hanya sebagian warga saja yang bertahan menanam kangkung. Artinya sajian pelecing kangkung masih bisa didapat di rumah makan manapun. Terlebih di menu hidangan rumah tangga.
Seperti juga aktivitas para ibu pemetik daun teh. Kebanyakan hanya kaum ibu saja yang panen di 'taman' apung itu. Cukup berbekal pisau dan ban bekas, atribut wajib untuk penunjang kerja. Mengapung.. potong ujung putik, sambil sesekali membersihkan 'gulma' berupa subsidi sampah. Mereka riang satu sama lain. Berceloteh... senda gurau dinamika sosialita khas warga urban-sempadan. Kerap geli tiap mengamati prilaku-nya. Mereka terlihat seperti bocah di kolam renang, bermain air. Kecipak tangan-kaki bekal 'dunkin-dunat' warna hitam, ngepas di lingkar pinggang.

memilih sampah diantara kangkung
Selain petani kangkung, ada sebagian warga juga berprofesi pencari pasir. Mereka bersinergi meski dengan beda kepentingan usaha. Bahkan diluar jadwal kerja, ada beberapa gelintir orang yang memanfaatkan luang mengais rejeki lain. Memunguti aneka limbah sampah yang terbawa arus hingga mulut muara. Kebanyakan sortir sampah plastik. Artinya secara langsung mereka melakukan pola simbiosis mutualism. Keberadaan usahawan penampung barang bekas telah menciptakan sebuah peluang mata pencaharian. Menurut data statistik mulai marak sejak lima tahun terakhir. Dus, secara gak langsung ampas sampah mulai dilirik sebagai kans nilai tambah, raup sejumlah nominal rupiah.
Khusus aksi kaum pemulung, mereka biasa pinjam pakai beberapa rakit persegi milik para pencari pasir. Bahkan ada juga kerabat penggali pasir yang kerja rangkap. Istilah sasak-nya poroq-poroq begawean timbang momot meco. Iseng bekerja daripada diam sama sekali. Rupanya kegiatan ini memberi pencerahan pembaharu. Kali menjadi bersih. Kangkung secara tidak langsung menjadi semacam filter alamiah. Sekalipun bukan berarti sudah bebas 100% dari sampah. Gulir semboyan inspiratif, reduce.. reuse..recycle.
Semoga kelak kesinambungan ini berdampak positif. Bahkan saya masih terbayang kisah para tetua Kampung Melayu mengenang nostalgia kisah. Jangkuk dulu jernih.... sedalam dasar lubuk...  sebening lubuk hati, dan demi sejengkal niat. Berbenah... bersih-bersih.

*inset foto diambil di lokasi kali Jangkuk - muara. 

Jumat, 08 Februari 2013

kabar awal Januari 2013

Sungguh, sudah lewat waktu. Sebulan ini hampir terjalani dengan berbagai variasi kegiatan. Sepeninggal catatan akhir blog. Atau lebih tepatnya log-book (brangkali).... Terlalu jenuh disiksa koneksi yang lemot. Alhasil kini saya membekali dengan 2 opsi modem. Gak ada yang utama. Cukup berfungsi back-up. Penunjang 1 sama lain...,

Selayang pandang Januari 2013...,
Seingat saya masih berkutat dengan sepoi badai Tropis, yang disebut-sebut dengan inisial Narelle. Itupun bercampur dengan dominasi langit mendung. Pekat atau sekedar kelabu tipis. Subsidi hujan sudah tentu menambah intesitas curah dari biasanya.  Kian menambah daftar iklim yang tidak bersahabat. Tumben mendekati Februari, yang biasa lebih identik kecamuk angin barat di peralihan tahun baru China, Gong Xi Fat Cai.
Bagi kami yang bertempat tidak jauh dari pantai. Tentu terlampau mudah mengidentifikasi datangnya gempur angin. Pesisir Ampenan yang berjarak kisar 400meter cukup mampu menghantarkan debur gema hantaman ombak. Terlebih jika malam beranjak lebih larut. Lengang semakin beri kans hiruk-pikuknya. Keras angin juga membawa dampak lain. Listrik kerap padam. Bahkan bisa sampe 5-6 X byar-pet! Bisa dimaklumi efek yang terlanjur mudah diterima nalar. Musim banyak pohon tumbang. Tentu, menjadi tugas berat Dinas Pertamanan Kota Mataram dan institusi PLN. Setiap keluyuran lintas aspal pemandangan itu akrab ditemui. Pangkas rimbun tajuk daun. Herannya kog baru beraksi ketika geliat angin sedang getol kuat hembus. Selalu bukan tindak preventif. Antisipasi yang mubazir. Mau bilang apa lagi klo sudah begitu citra kinerja. 

Aktivitas foto saya sedikit berkurang. Lembab... kuyup basah bukan kondisi yang ideal untuk daya tahan kamera tipe low-end yang saya miliki. Nikon D3100... bukan jenis item yang tahan banting dan tangguh di medan ekstrim. Toh, mesti tetap disyukuri eksistensi-nya memberi saya keleluasaan saat diperlukan. Still life, foto produk untuk asupan dokumentasi blog dan isi toko maya, juga tematik outdoor. Jadi minim kudu punya atensi extra demi asas manfaat selagi kondisi dan peruntukan sesuai dengan tujuan pemilikan. Semoga tetap bandel sampe Shutter-Counter tercapai limit akhir. Lumayan kuras kocek. Tapi semoga kelak bisa up-grade level semi-pro... atau sekalian tipe full-frame. gak usah nanggung punya obsesi. Hehehe.....,

7 Januari 2013 :
Sirkulasi pagi gulir seperti biasa, namun ada momen yang tidak biasa. Sisa 1/4 daya kantuk saya mendadak hengkang. Ada sedikit gema onar di depan rumah. What's news??... begitu buka pintu depan, mendadak saya disuguhi pemandangan kepul asap hitam. Membumbung tinggi diarah utara rumah berjarak 2 blok. Beberapa ekspresi panik mulai terlihat di wajah tetangga sekitar. Yah termasuk saya! Hanya sedikit lega, karena posisi asap tadi letaknya agak jauh dari zona kawasan Pertamina di pinggir pantai. Cuma dijajaran gudang tua nurut saksi mata yang melintas.
Antusias kambuh. Segera ambil kamera dan ambil sepeda kayuh dekati spot lokasi. Ternyata yang terbakar kios rokok non permanen, persis nempel tembok gudang tua berhalaman luas. Resiko-nya cukup besar. Dibelakang spot kobar api adalah lahan parkir beberapa truk besar pengangkut minyak. Persis berlajur deret ruko tua khas graha lama. Miniatur nuansa pecinan, China Town.
Bahkan, jarak 300 meter arah barat adalah zona kilang Pertamina. Tampak gurat cemas para staf Pertamina.  Ini termasuk dalam lingkar range utama... zona bahaya.

Bejibun manusia nonton. Anehnya wajah mereka hanya dipenuhi keingin-tahuan tanpa menyadari resiko. Saya tiba saat raung mobil PMK sedang masuki ujung gapura simpang lima. Segera aksi jepret berlangsung. Cuma masih jaga jarak 50-an meter. Dan satu momentum, mendadak semua orang berlarian menjauh titik zona api. Api menyembur julang atas.... hampir capai ketinggian 25-an meter. Momentum lari ini cukup menarik untuk di abadikan. Cuma tersadar, kuatir sepeda yang saya parkir, bakal jauh pengawasan. Sama saja konyol klo kecolongan. Ogah! cukup saya jepret dari jauh. Selanjutnya saya gegas pulang... dan balik lagi. Ngos-ngosan berlarian gak mau kehilangan segmen peristiwa.
Gitu balik suasana sudah lebih rame dari sebelumnya. Dinas PMK sudah mulai semprot air. Sementara beberapa rekan wartawan terlihat nyusup di antara kerumun manusia dan petugas pemadam. Yah, akhirnya terkuak dari mana sumber api. Ternyata kios rokok selain menjual bensin eceran juga menampung sejumlah drum berisi solar. Bumbung api tadi penyebab utama ada 1 drum yang tersulut, dan meletup karena tertutup. Panas kobar api telah memaksa permukaan atas drum menjadi cembung! Dan pastinya efek panggang api telah menyebabkan golak kian meningkat. Syukur gak meledak! Padahal gak terbayangkan klo saja drum tadi dalam posisi tergeletak...entah kemana arah sembur-nya.

Tim PMK dinas kota Mataram bergegas umbar aksi. Sudah hampir 4 tanki air yang datang. Diantara hiruk-pikuk toh akhirnya muncul Janggal. Kenapa pihak Pertamina yang memiliki satuan pemadam (internal) gak bersegera tanggap lebih awal turun tangan? Analisa sederhana saja. Mestinya pihak mereka terlebih dahulu yang sigap mengamankan aset teritorial mereka dari ancaman rembet api. Kenapa mesti tunggu PMK dinas kota yang kedatangan bakal lebih lama karena jarak tempuh dan durasi penanganan selisih jauh?
Kumpulan logika ini semakin merangkai analisa berikutnya. Bisa jadi bagi pihak Internal Depo Pertamina Ampenan situasi ini menjadi bak buah simalakama. Secara gamblang mudah diirunut, bahwa muasal "pangkalan" distrik BBM eceran itu jelas ilegal. Bukan resmi mendapat "jatah" subsidi minyak... tapi merupakan hasil penimbunan ber-kala. Umumnya dari hasil oknum warga yang geluti usaha sampingan. Tangkap peluang bisnis "Truk Kencing". Dan pemandangan itu tampak nanar. Gak ada upaya penertiban. Gamblang di setiap pintu masuk & keluar depo Pertamina. Pasti ada saja warga belarian. Bekal ember atau wadah plastik cat bekas size 20 liter. Menghentikan truk tangki... beberapa detik saja. Cukup sekedar buka katup keran sekedar menuai "tetes" yang bernilai. Analogi mudah. Truk datang sore... artinya ambil sisa tetes. Stop truk pergi, keluar pagi berarti memanfaatkan sisa tetes, sekaligus yang lebih menggiurkan, adalah selisih kadar minyak yang dibawa tangki. Ada porsi lebih yang sebenarnya secara standar operasional kudu melebihkan sedikit jatah tampung. Untuk antisipasi susut, selama BBM di distribusikan ke wilayah tujuan. Ini sih fenomena umum bin lumrah yang bisa ditemui dimanapun. Bukan hanya Depo Ampenan!

1 jam berlalu, upaya takluk api mulai tampak gejala mengecil. tapi gak total padam. Bahkan aliran tumpahan solar yang terbawa air masih menyala. Dan secara perlahan tim Fire Fighter Pertamina mulai unjuk peran. Truk khusus mereka mundur perlahan dekati zona api. Tampak selang yang dijulur ukuran lebih kecil. Memang bukan keluar semprotan air. Tapi seperti bahan kimia tertentu. Gak sempat saya interview tentang bahan khusus apa yang dipakai. Hasilnya sangat efektif. Api mati seketika. Hanya setelah itu meninggalkan jejak bau yang pekat. Plus menciptakan efek semacam kabut tebal di sekitarnya. Serasa terkungkung dalam belantara halimun. Nebula putih.. ditambah langit mendung. Bahkan gak ada celah matahari. Suasana yang unik. Beberapa wartawan malah menyempatkan saling jepret ajang narsis. Memanfaatkan situasi. Kelegaan tampak disemua wajah. Sumringah. Hingga terlontar celetuk.. "Kenapa gak dari tadi?..Huh!!! "

Sejurus kemudian, alih tugas polisi memasang yellow band - Police line. Menandai poligon TKP. Aktivitas berangsur normal. Truk pemadam hengkang satu persatu. Berganti seliweran kendaraan lain. Halimun buatan tadi juga mulai menipis bersama terpa angin. Sudah cukup panen berita hari ini? ternyata tidak! Dari obrolan wartawan saya mendengar kisah lain. Dilalah tadi malam juga ada sedikit bencana dialami nelayan Pondok Prasi.
Selenting berita yang terlewatkan. Padahal semalam saya baru tidur jauh malam. Angin memang tetap gempita hantam pesisir. Bercampur gema house musik, hingar bingar kejauhan dipusat warga penampunngan titik Pelabuhan. Tabiat biasa... di kutat habitat.
Sempat pula mangkel. Heran sama orang-orang disitu. Angin kondisi mirip prahara, toh mereka tetap saja suka-cita... easy going.
Belakangan ketahuan, sekitar jam 11 malam ( 6 Januari 2013)  kondisi ombak juga bergelora hebat. Secepat kilat saya anjang sana observasi situasi. Bahkan kondisi lebih unik. Jajaran jukung jumlah ratusan yang biasa tata rapi di sepanjang pesisir Pondok Prasi berubah posisi parkir.
Hampir semua dihempas ombak hingga menutupi lintas aspal kampung nelayan disana. Kebanyakan rumah di garda depan semua dihujam moncong jukung. Sedimen pasir juga turut terangkat hingga menutup aspal. Terlihat lonjoran katir terserak sana-sini. Baik kondisi utuh dan patah. Pastinya jika dikalkulasi total alami kerugian besar. Terlebih situasi gelombang belakangan tidak baik untuk melaut. Seorang nelayan bertutur perihal situasi malam itu. Bukan angin penyebab ombak bergelora, tapi akibat dampak ombak sorong. Istilah tabiat arus yang menyebabkan pola pergerakan arus. Sampai-sampai mereka menyangka ada gejala tsunami.
Logika tepat, bahwa pergerakan dorongan arus kian meningkat tensi terjang. Bagaimana tidak. Posisi kontur pantai landai cuma tersisa dari garis Pondok Prasi ke arah utara. While, dari ujung Jangkuk - Melayu Bangsal daya terjang ombak diantispasi deretan krib dan tembok penghalang. Sehingga akumulasi daya tuang meluber kearah tepi pantai yang lebih landai. Tanpa atribut penghalang apapun. Alami maupun buatan.