Selasa, 27 April 2010

Tebing Fosil... Lombok Selatan

Hmmmm.....,
Saban kunjung ke tempat ini, gak ada lain. Nuansa lebih mewakili paras negri kerontang. Dominan terik.. bakar kulit. Batok kepala serasa d panggang. Dehidrasi pula! Hanya persis tiba musim kemarau. Hujan bisa dibilang enggan datang. Sebagian bilang inilah perwakilan pesona 'lahan tidur' pesisir pulau Lombok bagian selatan.
Secara spesifik, lokasi ini adalah termasuk dalam kawasan luas teluk Ekas bagian timur. Masuk wilayah kabupaten Lombok Timur bagian selatan. Secara pembagian wilayah hampir 3/4 kawasan adalah milik Lombok Timur. Kcuali bagian pesisir ujung barat. Merupakan wilayah kabupaten Lombok Tengah. Dengan nama desa Awang.
Jadi wajar, secara penamaan peta seluruh kawasan disebut sebagai teluk Ekas. Namun bagi warga Lombok Tengah menyebutnya dengan istilah teluk Awang. Alasan sederhana, ada sebagian wilayah lingkar teluk yang masuk dalam batas wilayah administrasi mereka. Betapa konyol ungkapan rumor, bila kemudian hari ada konflik tikai antara ke 2 belah pihak. Akankah disebut konflik Perang Teluk? seperti edisi jazirah Timur-Tengah. Maksudnya tentu saja Lombok Timur VS Lombok Tengah!!! Gombal.....,

Minimalis Hijau..
curah hujan yang rendah mengakibatkan hampir di kawasan bagian selatan Lombok rawan masalah pangan. Peralihan tiba musim hujan digunakan untuk peluang tanam. Itupun sebatas palawija, termasuk Padi gogo-rancah. Jadi bisa dibayangkan saat kemarau panjang. Efek perubahan iklim global. Kurangnya daerah ikatan air bisa memperparah kondisi yang ada. Hanya segelintir spot-spot hijau. Itupun hanya vegetasi khas yang mampu beradaptasi dengan lingkungan minim air. Termasuk garis pesisir. Rimbun semata vegetasi kelompok asosiasi mangrove.

Tourism development area...
Jauh sebelumnya, kawasan Teluk Ekas lebih di kenal dengan satu poin pesisir yang oleh warga-nya di sebut sebagai pantai Surga. Gulungan ombak menyatu dengan sirkulasi rutin tak henti, subsidi hempasan angin selatan dari Samudera Indonesia. Secara sederhana oleh warga dianggap sajian eksotis. Menikmati sajian anugrrah alam. Gumpal buih putih di analogikan laksana gerombolan biri-biri.

Tempat saya nangkring (pada inset) adalah bungalow beach view - resort Heaven On The Planet (HOTP). Letaknya berada di dusun Lendang Terak. Nama HOTP sengaja dipilih oleh owner sebab mengacu pada konotasi surga. 5 tahun sebelumnya agak sulit menempuh jalur aspal. Akses aspal yang terputus di batas desa terakhir, disambung jalan tanah. Musim penghujan berupa belepotan lumpur. Hanya mampu ditempuh dengan vehicle tipe 4X4. Alhasil sempat dijuluki nyeleneh. Punya pantai Surga tapi akses tempuh berupa jalur Neraka!.
Disisi lain secara psikologis, kondisi jadi serasi. Teori pasangan yin-yang. Mencapai Surga memang harus ditempuh dengan serangkaian ujian sulit. Dan faktanya memang begitu. Ombak pesisir selatan Lombok sangat digemari, memancing minat kunjung para surfer mancanegara. Dimulai dari spot ujung barat, batu gendang - Pelangan. Runut ke timur, Kuta, Tanjung Aan, Gerupuk dan Teluk Ekas.
Dan belakangan kendala tadi tidak perlu di kuatirkan lagi. Pemda Lombok Timur kini sedang getol membangun infrastruktur di kawasan itu.

kans Geo-Wisata
Peluang lain yang belum total di garap adalah Geo-wisata. Wacana ini sebelumnya pernah dilansir pihak LIPI dalam presentasi (tahun 2003) topik pengembangan wisata geologi di kawasan selatan Lombok. Redaksional yang merujuk pada teori pembentukan daratan, muasal kepulauan nusantara, termasuk Lombok. Sejarah vulkanologi sebagai bagian zona lingkar api (Ring of Fire).
Peninggalan fosil gunung api purba di sekitar pantai Kuta Lombok menjadi salah satu bukti otentik, hingga saat ini. Relevansi terhadap teori pembentukan daratan. Timbuk struktur spektrum gempa. Pergerakan lempeng hingga pengangkatan daratan dari gugus terumbu era bahula.
Bukti-bukti lain adalah peninggalan tebing fosil yang berada disepanjang lingkar timur dataran dinding teluk Ekas. Kebanyakan adalah fosil biota berupa cangkang kelompok moluska (wikipedia), krustasea, dan patahan koral (rubble). Struktur bisa dibilang rapuh. Karena dari tinjau belakangan ini beberapa kontur sudah mulai runtuh. Bisa jadi karena faktor abrasi, pasang-surut air laut.

Tampak fisik, padatan kontur memang rentan rontok. Mungkin karena, secara kajian geologis sederhana.. proses pembentukan alamiah yang masih fase tahap awal. Campuran butir dan partikel rapuh. Belum membentuk unsur kapur/limestone (CaCo3) yang dominan putih. Sedikit berbeda dengan kandungan bukit bebatuan yang terdapat di sekitar Awang dan mengarah sedikit ke bagian tengah pulau besar. Sekalipun warna mendekati sama, kuning kecoklatan, namun kepadatannya lebih solid. Biasanya dari iris penampang terlihat campuran unsur batu apung dan material bawaan lain. Dan masih bisa dibentuk untuk keperluan kerajinan batu ukir masyarakat lokal. Dinamakan Batu Paras.
Ingin sekedar menikmati fenomena tebing fosil itu, silahkan menikmati rangkaian foto yang terlampir dibawah ini.


bongkahan dinding mulai runtuh...


struktur kontur atas lebih padat...


masih terlihat patahan karang (rubble) dari jenis staghorn
dan bagian ini lapisan terbawah dr kontur yg rapuh


cangkang kepiting tampak masih utuh



Minggu, 25 April 2010

fenomena samurai lentur

Bahas pedang unik...,
Bagi khalayak yang kerap berkutat bisnis barang antik rasanya pasti pernah mengenal, paling tidak mendengar istilah samurai lentur. Beberapa kalangan lain menyebutnya samurai sabuk. Lebih konyol, bahkan pernah ada edar kisah non-sens, konotasi lentur/sabuk tadi, serta merta pedang ini di-analogi-kan bisa di gulung bak umumnya ikat pinggang. Tentu saja usik nalar sehat. Sekaligus di bikin penasaran. Apakah demikian ada-nya, atau sekedar cerita runut, mulut demi mulut. Belum lagi ditambahi bumbu muluk. Entah sebagai efek estapet promo niaga sang pencipta, pemilik, beserta kurcaci down-liner.

Hingga tiba waktu, saya berkesempatan bertatap langsung dengan benda "heboh" ini. Melalui jalur rekan peminat barang antik. Saya gak sempat mengabadikan via kamera. Tapi penampilannya lebih kurang mirip dengan foto pada inset. Secara fisik bisa saya deskripsikan dengan spesifik sebagai berikut :


* Sangat tidak mirip wujud samurai khas jepang! Hunus bilah total lurus (gak sedikit lengkung seperti samurai) Berhiaskan gambar naga dari ujung hingga pangkal bilah. Terlebih memiliki format tajam kedua sisi tepi bilah (khas samurai hanya tajam 1 sisi bilah). Tapi sengaja dibikin tumpul. Dengan alur sisi yang terpoles sangat rapi. Seolah secara tegas ungkapkan fakta gamblang, pedang ini adalah status benda suvenir! Sekedar hadir sebagai item pajang. Dan BUKAN lahir sebagai murni fungsi senjata tajam.
* Fleksibilitas bilah terlampau lentur. Penampang bilah serba flat. Tidak terdapat garis tengah gunduk bilah, seperti halnya bagian "ada-ada" istilah pada keris. Mungkin sengaja diciptakan begitu sebab menyesuaikan performa lentur layaknya sabuk. Tadinya saya berhipotesa pedang ini dibikin lentur karena satu alasan. Seperti pedang khas cina yang dipakai oleh para pemain wushu. Tapi tidak demikian. Alasannya kembali pada julukan yang terlanjur meluas. Benda ini tetap di juluki embel-embel samurai. Pertanyaannya sederhana, sebagai samurai.. bahkan klo-pun di sebut pedang, sajam tipe ini gak memiliki nilai pesona tebas mumpuni. Apalagi digunakan fungsi tusuk. Terlalu lemas.. layu bergerak meliuk. Terlebih satu sumber mengatakan material 'samurai' unik ini memang terbuat dari logam cikal bakal gergaji. Wajar mudah melengkung! plus poin ini menghantar saya pada pemikiran lebih lanjut. Apa yang bisa disimpulkan? Tipe jenis senjata apa? prototipe apa yang jadi acuan dari tercipta-nya sajam ini? Ataukah Replika dari senjata jenis tertentu?
* Penampilan luar ; jangkau hunus bilah sekitar 1,5 meter. Agak terlalu panjang untuk ukuran pedang standar. Pada pangkal gagang handel dilengkapi hiasan rumbai. Bila d cermati ternyata ujung handel tersemat pisau kecil, terpasang pada sekrup d selongsong gagang. Saya prediksi sebagai sisip pernik senjata rahasia. Sarung cover bilah terbuat dari kulit. Mendekati bagian pangkal sarung bilah lagi-2 tersemat pisau kecil. (kian aneh, klo di cermati sisipan model gini seperti garapan umum khas pengrajin dalam negri. kreativitas imbuhan pada sarung senjata yang di jiplak dari senjata khas negara lain ). Entah gunanya sebagai apa. Pakem janggal termasuk membingungkan!!...penampilan katana kog demikian ribet?


Sedikit catatan...,
Terlanjur amburadul, simak istilah samurai yang disebutkan tadi. Julukan makin 'keruh' ini bisa jadi karena sekedar untuk permudah unsur sebutan saja. Maklum, kalangan dan peminat disinyalir berasal dari jenis kalangan. Padahal secara harfiah, samurai adalah sebuah status bagi kalangan militer atau anggota strata kelas ksatria. Jadi tidak identik dengan nama senjata tajam. Untuk mempermudah penelusuran, intip via narasi wikipedia berikut : Samurai , Katana, Wakizashi.

Referensi Manga
Yah! akhirnya saya menemukan titik cerah. Cuma sekedar dari bacaan komik Jepang (manga). Katana lentur ataupun yang sering disebut sebagian kalangan sebagai "samurai sabuk". Bisa jadi merupakan proto-tipe jiplakan dari alat pembunuh kuno mematikan, berjuluk istilah disebut "HAKUJINNOTACHI". Bisa ditemukan di serial Samurai X - Petualangan si Jago Pedang, edisi ke-10. Karya Nobuhiro Weatsuki.
Dikisahkan, pedang lentur ini di miliki oleh figur Cho, anggota Juppongatana. Karakter antagonis (si pemburu pedang) salah satu lawan tangguh dari tokoh sentral si samurai X, Kenshin Himura.
Secara eksplisit pedang ini tampak sebagai senjata rahasia. Tidak disandang gamblang. Melainkan tergulung dibalik baju sang pendekar pemakai. Punya fungsi 'rangkap' sebagai perisai tersembunyi. Guna menghindari serangan dititik rawan tubuh dari pihak lawan tarung. Semacam fungsi baju zirah. Terlebih dilengkapi tadah khusus untuk penempatan alur lingkar pedang.
Hakujinnotachi memang tipikal pedang lentur. Bilah dibuat super pipih dan tajam. Namun keuletan bahan tidak kalah dengan pedang biasa. Hanya saja bagian ujung bilah diberi volume lebih berat (tebal) dibanding bagian hunus bilah. Melalui penelitian dan kajian berkali-kali oleh sang empu. Dijabarkan pula, pedang ini mampu meliuk dengan format serangan yang sulit diduga. Hanya dengan tehnik variasi pergerakan tangan pada handel. Panjang hunus bilah mencapai 3-4 kali panjang pedang biasa. Artinya, hanya dengan skill khusus pedang ini mampu ber-atraksi layaknya senjata rahasia. Sehingga wajar klo hanya seorang pendekar/ samurai level tertentu yang memiliki-nya.

Vice-versa :
Hipotesa wacana tadi sedikit membuka wawasan. Bahwa "pedang lentur" bukanlah seperti yang dibayangkan banyak orang selama ini. Pedang lentur yang banyak beredar sengaja dibikin lemas mendekati konotasi lingkar pinggang. Hampir identik dengan pemaknaan lain samurai sabuk. Dan mungkin istilah nyeleneh lainnya.
Hakujinnotachi versi asli adalah murni senjata. Bisa jadi, tidak diproduksi masal seperti katana, pegangan wajib para samurai. Lalu kenapa versi replika yang salahi pakem ini bisa di bandrol dengan harga fantastik. Tembus skala milyar rupiah!!!!
Bisa jadi ulah supporter di usaha terkait. Hal yang "sangat" di harapkan oleh pihak tukang contek dalam negri. Sekaligus menciptakan harga mitos... walaupun menyalahi kodrat sejarah.


By the way,
klo anda pilih mana... bergengsi karena nilai mitos atau lebih "Gaya" karena Harga Sejarah? Kalkulasi sendiri! semoga narasi nyaBlak ini bermanfaat!





Cho, si pemburu pedang







Minggu, 21 Maret 2010

ATLANTIS...the lost city.

fgdjdhgdhjgdk.......,
blupp ...blub,, blukutuk -blukutuk.....
bluoeooep djnanj bleuop ,,,sluruop....
akjnf jnkn ;kma;kkmv lkml
n kkf lmgl kmldkmv lm'lk l'm j lknak mklml la 'lm'ldmf ''m 'lm kml'akm'lkm a'lkma'l m'lma'mv 'lma'l m'lma''mairjq04ij 0-maje0 jafp op pppppam ;pksr pok pokpdefk ofpdlmf FPA ,MA ;L, s, lm slururpp [[[[ xsplashhhhh..... sbluruuuuup... sluriiiriiiuuuuupp pp,,slslssasppjjjjhhhh, ,, , kcimpluuuuung!!!!!

apa kabar pulau KOMODO ????

22 maret 2010,
saya cuma dapetin info terkini. Taman Nasional Komodo (TNK) dalam ajang New Sevens Wonder of Nature saat ini berhasil masuk urutan 21 dari 28 finalis. Nelangsa ? bisa jadi, tapi bila 1 digit lagi saja turun, berarti TNK* berhasil masuk ranking sensasional. Urutan 7 dari Belakang!!!! Gak percaya silahkan hitung sendiri, versi count-down.
......, sekian hari koma aksi pena, Mendadak ada berita menarik. Tanggal 25 Maret kemarin telah menetas sebanyak 25 telur komodo di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Sebuah bilangan keramat, sinyalir tanggal dan jumlah individu hewan melata yang baru hadir. Sebuah poin cerah tentu saja. Mengingat kontroversial kasus yang mengiringi nasib dan status satwa langka itu sendiri. Tidak saja di tanah asalnya, tapi musabab eksistensi sebagai khas endemik purba yang di akui sebagai world's heritage. Dilansir pihak internal KBS*, kini gradasi statistik koleksi komodo meningkat menjadi 69 ekor. Populasi terbanyak di antara koleksi satwa lainnya. Simak wacana terkait di yang berjudul '25 Telur komodo itu akhirnya Menetas'.

Lalu bagaimana dengan nasib pulau komodo? Ajang pilih the New 7 wonders. Tidak sedikit berbagai komunitas maya berpartisipasi ikut berupaya mensukseskan perihal nasib TNK di forum Voting internasional tadi. Seperti halnya galang supporter bagi para anggota NGI*. Saya-pun tergerak sebagai partisan. Sekaligus terlanjur skeptis sejak awal. Masalahnya sederhana, ajang polling ini berbasis subsidi vote via internet. Modus operandi yang belum sepenuhnya bisa di katakan jujur. Semata berdasar total jumlah suara responden, bisa multi suara dari 1 oknum partisan sama. Cenderung subyektif. Bahkan saya kata-in mirip ajang pilih idola cilik. Perolehan data kolektif sms fans pendukung. Obyek wisata skala internasional penilainnya jadi gak bisa obyektif. Lagi, ditambah seberapa banyak sih? belum pasti angka warga kita yang melek Internet.

Kembali pada cikal muasal the New 7 wonders. Momentum ini dilakukan atas skenario dan dorongan sebagian negara tertentu. Internasional Tourism Board, panitia yayasan internasional ambil langkah taktis. Apakah benar, sinkronisasi akibat sinyalemen faktor cemburu, bahwasa-nya promosi pariwisata segelintir negara telah di untung-kan oleh status "7 Keajaiban Dunia", versi lama.
Aneh bin ajaib, selagi wacana ini bergulir, Berbilang pirsawan luangkan diri berbaur kolektif dukung masa depan komodo. Mendadak muncul dilematis lain. Polemik dalam negri, entah berlatar skenario atau alibi apa. Memindahkan komodo ke pulau Dewata, Bali.... dan lagi-lagi Bali. What's going on?

Dalih Konservasi Genetik...,
Ternyata berupa headline gempar. Wacana pemindahan spesies komodo ke Bali adalah atas dalil berjudul upaya konservasi genetis satwa eksotis tersebut. Telusur jejak kasus, bahkan konon telah mendapat rekomendasi dari menteri Pariwisata dan Budaya, bapak Jero Wacik. Tentu saja diusung oleh departemen kehutanan, melalui sub-ordinat BKSDA. Lembaga otorita pengelolaan & managemen pengawasan TNK. Dulu kinerja lapangan pernah di back-up oleh yayasan amrik bernama TNC*. Menarik lagi, dalih judul tadi di embeli dengan peluang pengelolaan kawasan pulau Komodo (dan mungkin zona sekitarnya) menjadi konsensus lingkar tambang (mining). Tolak ukur samar tanpa skala prioritas gamblang. Serta-merta, gelombang kritik muncul dari berbagai pihak. Terutama dari komunitas lokal NTT*, terkait nilai subsidi kas yang tidak kecil bagi PAD. Kenapa harus bali lagi pak Jero Wacik ????

Bali, menurut jargon terminologi umum adalah 'etalase' Indonesia. Miniatur Indonesia, kalau gak mau disebut TMII jilid 2. Dan ini tidak bisa di pungkiri. Aktivasi promo gencar sudah lebih dikenal, jauh meninggalkan daerah lain. Namun apakah poin ini lantas memuluskan usung wacana yang hendak di realisasikan. Konservasi genetis... tapi dibalik itu mengundang kans ekploitasi habitat asli bagi hewan endemik. Apakah Bali bisa dianggap sebagai lahan representatif ? atau semata tujuan bisnis komersial, tambang emas pariwisata. Menciptakan miniatur resmi atas nama konservasi. Kian getol mendulang kans kunjungan wisman dan domestik. Sehingga gak ada porsi jatah untuk daerah lain. Kebiri nuansa daya tarik alamiah beribu wajah nusantara.

Bahkan sempat, dalam ajang dialog interaktif antar sesama anggota forum maya, National Geographic Indonesia, sinis saya sindir. Bukan maksud tebar amarah, tapi lebih pada ajakan tilik-kuak kasus. Dalih saya begini...., layakkah Bali? sementara secara fakta tidak mampu (gak becus) melindungi satwa endemik mereka sendiri. Sebut saja Panthera tigris balica, jenis harimau eksotis yang terlanjur di labeli PUNAH. Atau stok aves eksotik kategori Appendix CITES, jalak bali. Nama latin leocopsar rothschildi. Pernah terjadi kasus pencurian di pusat penangkaran - TNBB. Bahkan kasus pencurian masal sejumlah jalak ini belum terungkap.
Gara-gara celetuk ini, pihak admin NGI cuma bisa bilang... harap jangan emosi, cool-down, Padahal ,aslinya saya sedang terkekeh. Sambil lintas kenang, terbayang alun lirik Yopie Latul, rilis 80-an... lagu "Kembalikan Bali-ku" karya Guruh.

Dalih Travel warning...,
Beberapa opini menyebutkan, anjloknya rating pulau Komodo terkait isu akibat ulah terorist, akibat masih subur bercokol di bumi Indonesia. Tinjauan implikasi yang bisa jadi benar. Hingga efek pada pelarangan wisatawan dari pemerintah negara bersangkutan. Tapi gak absolut. Buktinya tetap saja kita berkaca pada bali. Sekalipun mengalami 2 kali masa traumatik, Bom Bali 1 & 2, tetap saja wisatawan doyan kunjung.
Bersebelahan tetangga dengan bali, NTB memang agak prihatin. Jadi teringat jargon lama Nasib Tergantung Bali. Boleh saja, tapi gak lumrah kalo mendalami situasi faktualnya. Ada saja laporan celetuk tamu yang kadang konyol (mungkin jenis turis pandir). Di Lombok gak tersedia pertokoan. Fasilitas minim. Lombok pusatnya ilmu hitam. Bla..bla..bla..bla....,
Bahkan celetuk para penjaja koran di pelabuhan Feri penyeberangan PadangBai - Lembar (Bali - Lombok) suka memperbesar wacana. Setiap berita ekspos sekedar perang kampung yang ada di halaman koran. Langsung jadi bahan headline news..., mulut ke mulut. Nerocos sekenanya di hadapan para tamu klasifikasi back-packer di geladak Feri. Tadinya saya pikir ini ungkapan biasa 'trik' agar korannya terbeli. Tiga kali kans saya hantar perjalanan. Celetuk model itu ternyata berulang. Barulah saya paham, ini memang modus operandi yang demikian rapi di rencanakan. Hebatnya, dari berbagai multi kepentingan dan kalangan. Se-ia sekata...tanpa pandang kasta.
Juntrungnya kian gamblang saat saya ikut dalam pelatihan & kursus pemandu wisata selam. Undangan Gahawisri-Bali tahun 1996. keluarlah pernyataan "ringan" kepala dinas Parpostel Bali. Pembukaan acara malam perdana, bahwa apapun situasi-nya, bali akan mempertahankan angka kunjung wisatawannya. Berkaitan dengan durasi lama kunjung para tamu dan tingkat hunian. Sebisa mungkin diupayakan kian menanjak.. berkurang NO WAY!!!!. Halal segala cara di tempuh? Silahkan menilai sendiri. Gak masalah korbankan obyek wisata lain. Alibi dibalik slogan.. obyek wisata ~ obyek penderita.
Kepala Dinas parpostel itu asli orang Padang - Sumatera Barat. Bagi saya ungkapan tadi memang sengaja di lontarkan pada peserta yang notabene ada beberapa dari daerah lain sebgai peserta. Nasehat terselip dalam orasi singkat. Waspadai aset wisata daerah masing-masing!!!!

Pesan Moral :
Saya pribadi terjemahkan begini...., kita sebagai konotasi satu bangsa boleh jadi ikut bangga dengan keberadaan Taman Mini Indonesia Indah. Atau terkesan daya tarik polutan magis sensasi pulau Dewata. Tapi ini bukan berarti akan (Di LARANG KERAS) memangkas, mendeskriminasi, mendiskreditkan, mengkerdilkan, atau-pun memBonsai nalar sehat dalam sikapi cara pandang kita terhadap Wawasan Nusantara.
Ayo..lebih MAWAS diri akan potensi KAWAS-an "nagari" sendiri...



Key
Note
:
KBS : kebun Binatang Surabaya
TNK : Taman Nasional Komodo
TNC : The Nature Conservancy
NTT : Nusa tenggara Timur.
PAD : Pendapatan Asli Daerah
TMII : Taman Mini Indonesia Indah
TNBB : Taman Nasional Bali Barat
BKSDA : Balai Konservasi Sumber Daya Alam
NGI : National Geography Indonesia

Minggu, 14 Februari 2010

Efek bola salju...sinematography "9/11"

Apa kabar "almarhum" menara kembar WTC ???

Sejumlah pertanyaan yang pasti gak menuai jawaban pasti. Sebagian opini berpendapat, menguak misteri kabut kasus WTC sama dengan upaya percuma. Bak membongkar kematian mantan presiden Amrik sendiri, JFK. Mumet ~ seperti bungkulan benang ruwet. Tanpa rambu penunjuk, penuh intrik. Terjebak labirin konspirasi.

WTC's crash boom bang...., telaah singkat yang cukup menarik adalah begini. Saya sekedar ingin berprilaku seperti detektif bedah kasus, seperti tokoh sentral di film Da Vinci Code, Robert Langdon. Bermuatan sisip pesan simbolis dan permainan anagram. Begitu rapinya dalam jabar aksi maupun konotasi terlampir. Seperti ini :
Kejadian tanggal 11, bukan tanpa makna. 1 adalah angka permulaan...induk dari deret bilangan. Formasi tegak angka 1, bila di kaitan dengan angka 11, seperti tampilan II (hurut "i" kapital). Gak beda jauh dengan performa julang menara kembar WTC. Belum cukup signifikan, entah sebagai layer propaganda. Momentum kejadian di bulan september... sinergitas angka 9. Bila digabung akronim versi "September 11" tersingkat 911. Kode call resmi kondisi darurat, kesepakatan bagi negara Amrik. Seolah infiltrasi artifisial "mayday-mayday...."

Gilir kini, bukan maksud saya untuk mengajak lebih fokus mendalami jelajah kasus. Sia-sia klo cuma hanya berbekal rekam data sejengkal. Sebelas September 2001 silam, cukupkah bagi kita untuk tetap dirundung kepulan asap yang sudah menipis. Untuk tidak perlu lagi di hantui teori teror "
kabut tebal". Smisal ancaman wedus gembel yang keluar dari cerobong gunung vulkanis.
Ajakan saya lebih pada rangkai kejadian paska teror. Kesampingkan biang pelaku yang masih samar. Sebab ini sekedar referensi efek bola salju pengaruhi 9/11 dalam kerja para sineas bikin pilem. Terpantau versi layar lebar (komersil thriller juga karya plesetan humor) maupun dokumenter stasiun TV. Apa saja.....,


di perankan aktor Nicholas Cage sinopsis intip di SINI

tayangan investigasi jurnalistik thn 2002 garapan CBS (columbia Broadcasting System) sempat di larang biro penyiaran federal (FCC) sinopsis baca di SINI


karya kontroversial tahun 2004 winning award sinopsis intip SINI

mengungkap nasib para veteran perang Irak tkait slogan anti terorism internasional, tahun 2006 intip website di SINI

recently launching 2010
my name is KHAN


Sabtu, 12 Desember 2009

apa kabar Pulau Bungin?

Tiap menyebut nama pulau Bungin serta merta saya kembali teringat masa bocah. Pulau ini terletak dalam ceruk teluk di wilayah Alas - Sumbawa. Tahun antara 1977 - 1980 adalah masa kenang silam. Pelabuhan penyeberangan penghubung antar pulau Lombok dan Sumbawa, saat itu masih di teluk Alas (Belum Labuan Tano). Bungin berada dalam satu kawasan lingkar teluk. Tidak ada data detil yang tersimpan di memori saya saat itu. Kecuali serpihan kisah penghantar Bapak dalam tiap kesempatan pelayaran arung antar pulau. Konon dulunya berupa gugus pulau karang. Mungkin maksudnya berupa 'taket' atau 'gosong'. Gugus karang yang terbenam dan akan tampak permukaan saat air laut surut. Lalu ada komunitas suku Bajo-Sulawesi mendirikan beberapa bangunan rumah panggung. Sejurus waktu pulau ini kian berkembang luasannya, seimbang dengan perkembangan laju pertambahan penduduknya.
Saya tidak akan melebar pada rujukan data statistik resmi terkait sejarah dan perkembangan pulau Bungin. Sebaiknya bisa anda baca dalam website yang lebih banyak mengulas detil tentang wacana Bungin. SumbawaNews.

Sedikit mengulas poin-poin Bungin,
Apa saja kelebihan pulau ini dalam jajaran koleksi pulau milik Nusantara? Lebih spesifik merunut pada khazanah kepulauan NTB. Sejalan waktu laju populasi yang kian bertambah, pulau ini-pun bertambah luas. Berangsur kurun lintas waktu. Berdirilah rumah-rumah panggung, satu demi satu. Biasanya ditandai dengan ada-nya pernikahan pasangan pengantin baru. Cikal bakal wadah rumah tangga. Pondasi dasar bangunan didirikan. Secara gotong royong warga saling membantu. Namun tugas awal sepasang calon pengantin adalah diwajibkan mengumpulkan batu-batu disekitar pinggir pulau. Sebagai bahan material pondasi. Bagi saya, agak makin membingungkan statemen ini. Bahkan cenderung dilematis. Bertolak belakang dengan kondisi realitas. (akan saya bahas dalam akhir wacana).
Belakangan pamor pulo Bungin kian menanjak. Padahal menurut info, sumber fokus pemerintah daerah karena diawali pada kasus masalah tingkat rendahnya higienis seperti tipikal hunian standar layak. Pulau ini rawan penyebaran penyakit. Faktor kepadatan antar rumah dengan space terbatas, berjejal seperti yang tampak pada foto satelit diatas. Foto versi baru - karena sebelumnya pulo Bungin terpisah dari daratan induk, lalu dibuatkan jalan tembus. Sepanjang pengetahuan saya.. era tahun 90-an track itu tadinya berupa jalur bentang-jajar tiang listrik. Subsidi fasilitas penerangan bagi warga disana.
Apakah sebagai sebuah intrik dongkrak kondisi keterpurukan? cibir minoritas konotasi negatif, entahlah! Mungkin sudah menjadi pertimbangan lain yang di-olah para stake holder dan pemangku kepentingan. Ini adalah 'daratan-buatan' alias artificial island. Dulu-nya mantan gugus terumbu karang...taket ataupun gosong sebagai debutnya. Sehingga wajar susah ditemui ragam vegetasi disini. Alhasil, warga yang memiliki ternak kambing memberi pakan apa adanya. mulai dari sisa fillet ikan, dan 'ampas' rumah tangga lain-nya. Bahkan lebih unik, musabab keterbatasan pakan, kambing di bungin juga menyantap kertas.
Sejalan waktu promosi pulau ini melekat dengan banner resmi "Kambing Makan Kertas". Demi kiat memancing kunjung wisatawan datang bingkai lahan turisme. Kans PAD dan tentu saja harkat warga Bungin, ktiban getah hidayah. Termasuk tagline yang gak kalah menarik. "Pulau Terpadat di Dunia". Wooow... wah.. wah...

Agenda Bungin terkini....,
Lama tanpa juntrung kisah, topik Bungin kembali muncul ke permukaan. Menjadi kajian ala kadar yang gak begitu hangat. 14 Desember 2009 di lokakarya 4-th KMB-NTB (Konsorsium Mitra Bahari). Bertema Design Kawasan Konservasi.
Bagi saya pribadi konsep pengelolaan Bungin mestinya menjadi sajian menarik. Alasannya, hampir 3 pertemuan beruntun sebelumnya yang saya hadiri. terasa materi hambar (panas-2 tai oyok). Dua kali pertemuan penyelenggara Diskanlut propinsi NTB fokus fasilitasi dan pemantapan Kawasan Konservasi Kelautan Kab, Lombok Tengah dan terakhir status peralihan penanganan TWAL Gili Indah. Estapet dari Dephut ke pihak DKP.
Kenapa menjemukan, karena pembahasan tidak lebih dari sosialisasi wacana saja. Belum menyentuh substansi tema utama.
Kembali poin, beberapa pentolan Diskanlut prop. NTB esok hari (15 desember 2009) langsung bertolak ke Bungin. Konon Meresmikan status sebagai stok lokasi tujuan wisata ranah pesisir. Sekaligus memperingati hari Nusan
tara. Singkatnya masih penasaran saya dibikin, knapa Bungin?

Kontroversi promosi & konservasi

Hampir sepanjang akhir 2009 saya mendengar variasi usung program tentang wacana pemberdayaan masyarakat pesisir. Acuan tetap di 2 kubu instansi utama, Diskanlut & Depparpostel propinsi NTB. Diskanlut gelontor PNPM masyarakat pesisir hingga sentil Bungin. Sementara Depparpostel motor utama bkaitan tema Lombok-Sumbawa Promo 2012. Sekaligus pembahasan pariwisata dan lingkup Konservasi. Permintaaan pangsa konsumen luar negri yang mewajibkan Indonesia sebagai zona tujuan wisatawan kudu peduli terhadap kelestarian lingkungan. Relevansi sama dengan konsep KKP (Kawasan Konservasi Perairan) flowchart kebijakan DKP. Pertanyannya bisakah instansi program ini bersinergis?
Kembali poin, saya mencoba ber-asumsi terhadap sinkronisasi promosi Bungin. Selidik upaya investigasi dari karya lokal film dokumenter berjudul "Crescent Moon over the sea" (Bulan Sabit di Tengah Laut), karya sinematograf berlatar belakang Bungin. Baca detil lebih lanjut di SINI.
Apakah dompleng promo tenar momentum? sehingga instansi terkait kian terpacu mengangkat pamor bungin? Bisa ya.. mungkin juga tidak. Alasan saya sederhana saja. Apakah semata evolusi tujuan promosi lantas mengesampingkan logika berpikir? Juntrung akhir akan jadi bumerang akibat ketidak-jujuran, gelitik konsep pengelolaan tercanangkan.

Pendalaman kasus yang tidak terkuak. Sebagai habitat buatan, Bungin
bukanlah konotasi pulau alamiah. Tidak ada calon pengantin memungut batu karang (yang mestinya kategori sudah 'mati') disekitar pesisir. Sisi pulau sebelah mana? Habitual yang terjadi, calon mempelai pria harus bekali diri dengan modal yang tidak sedikit demi cikal bakal pondasi rumah. Perluasan lahan membangun rumah tangga baru. Sebagai entitas perilaku lumrah. Pondasi rumah panggung adalah timbunan bongkah karang, digali dari wilayah perairan sekitarnya. Terminologi beda dengan sekedar 'memungut' karang di pinggiran pantai. Tentu berupa pola yang merusak habitat biota laut. Bahkan pernah dikatakan, nilai-strata pria bajo bungin akan menanjak dilihat dari besar ukuran rumah yang akan dibangun. Katarsis finansial dan sinambung gengsi dan harga diri. Kiblat unsur kasta duniawi...,
Berpaling atau memang gak menggubris konservasi habitat. Seperti itulah potret yang berlangsung. Seberapa besar kontribusi pengrusakan tergantung kemampuan jejalah santroni gugus terumbu yang mampu di rengkuh. Sekali dayung... 2-3 pulau dikebiri habitat terumbu. Jagal lingkungan... percepat ajal ekosistem yang ada.

Muara akhir perspektif,
Lalu kemana kebijakan kelola Bungin diarahkan oleh Pemda ? Mempertahankan status quo dari kondisi yang ada. Mendongkrak sinyalemen pamor bungin dengan kontradiktif anti konservasi lingkungan. Atau mulai sekarang merupakan gaung titik awal pembenahan inovatif dengan sisip 'misi' terselubung. Menyelamatkan aset stok wisata beserta komunal etnis didalamnya. Bekali diri dengan tematik ramah lingkungan. Paham wawasan dan nilai kawasan.
Kans opsi terakhir sudah ada. Akses masuk bungin sudah permanen! Bagi saya statusnya kini jelang menyatu dengan daratan utama. Kesampingkan citra buruk untuk menjadi lebih baik. Semoga tercapai.....,




*sabit rumput didaratan.... hentikan sabit karang di dasar perairan!!!
Rasa-nya poster karya saya sendiri bisa ikut tampil jd penghias insert... mumpung ada korelasi kasus.

Senin, 23 November 2009

demam KIAMAT 2012....

Ternyata sosialisasi sinematografi.....,

Sekian lama saya absen menulis materi blog. Terutama judul akhir terkait isu Kiamat 2012, jadi artikel mlompong yg sekedar berhias gambar dan 2 sub-judul. Masalahnya, belum menyempatkan diri nonton pilem-nya! Disamping aktivitas FB-an ternyata lebih banyak menyita bergaul di sirkulasi ruang publik. Statement dinding....serasa jadi media efektivitas dan esensi efisiensi. Tapi gamblang dan runut masih membutuhkan lahan lebih luas.

Terlepas siapa-pun, pasti juga tergelitik dengan isu bakal heboh calon Kiamat 2012. Berbalut bungkus penghantar kemasan pihak Media. Efek wacana tadi bergulir bagai efek bola salju. Gumpal kian membesar. Mungkin sudah menjadi "indikasi" yang sangat di harapkan oleh pihak tertentu. Lengkap bumbu kaitan warna sejarah maupun background scientifik.
Sebut saja, perhitungan kalender suku Maya. Hingga perdebatan jatuh tempo terjadi-nya gejala alam, Badai matahari di taon 2012 nanti. Baur kalkulasi angka dan deret numerik. Ketika tiba pada penghujung kulminasi puncak bincang hangat, headline news... seketika terkuak modus operandi (ini penilaian saya pribadi) dibalik isu Kiamat. Muncul Film garapan Holywood dengan judul 2012. Bingo....Eureka!!!! Fenomena belakangan ini akhirnya terjawab dengan sendiri-nya.
Semata demi isi pundi keuntungan berlipat, status "BOX OFFICE". Celah itu dimanfaatkan pihak sinematograf. berTag-line pongah "We Were warned". Kita telah di-ingetin.....Hahahaha!!! Seperti implementasi tugu peringatan namun berbasis bisnis komersil.

while, baru 2 hari lalu (7 Des 2009) saya tergerak nonton film 2012. itupun sekedar comot VCD bajakan pinggir jalan muatan 10-1...Ten in One, seharga 6000 rupiah. Ogah dalem-2 kuras saku...maklum "sistim peringatan dini" saya lebih awal bekerja! Di Mataram-Lombok gak ada 21. Pusat penyewaan VCD... terlanjur mati kartu keanggotaan. Tentu saja ini bukan langkah anjur! berdalil membantu para penjaja kecil pinggiran dengan membantu sejumlah beli rupiah. Yang notabene juga purna rupa sindikasi bisnis bajak hak cipta. Tag line saya cuma sederhana "I was just WARNED". semata rangkai Amar makruf....

bocah-bocah INDIGO,
Selagi wacana kiamat menjamur, pembahasan juga menyinggung sekelompok bocah khusus. Bahwasanya menjelang akhir usia bumi akan datang paritas bocah Indigo. Mereka ditengarai adalah kalangan spesifik yang mempunyai keunggulan dan keistimewaan. Terutama membaca gelagat pesan alam dan menembus transfer logis dunia metafisik. Tentu saja tetap di-embel-2i "mereka" adalah bocah pilihan perpanjangan Kuasa Tuhan. Gak kurang telah banyak disinggung kalangan peramal dan paranormal. Dari Mama Laurent....Ki Joko Bodo...Ki Jiki Pinter...mungkin juga Ki Joko Cerdas. Banyaklah.....

Korelasi tematik bocah "mutu" tertentu ini setidaknya bikin saya geming. Mesti-nya ini bukan wacana baru. Kajian Kitabullah (maupun jabar kitab suci agama samawi lainpun) sudah terlalu gamblang ulas tuntas. Runut kronologis peradaban sejarah Manusia. Bahwa bocah-bocah INDIGO sudah pernah ada, tidak hanya di era kini jelang momen sambut calon kiamat 2012.
Para rasul utusan Tuhan mustinya juga layak di sebut "eks" bocah INDIGO. Ketika tiba masa pengabdian mereka-pun berbekal dogma tabligh. Pesuruh berkurikulum pondasi IMANisasi. Ajaran berisi kabar gembira, peringatan dan ancaman. Lengkap pula sandang porsi keistimewaan (unik) tersendiri, berjuluk Mukzizat.
Sekedar refresh-remind...., mari gali kisah berdasar translasi surat Al-Anbiyaa. Dimulai dengan si Abul-Anbiyaa (bapak para Nabi). Nabi Ibrahim (Abraham) masa kecil-nya memiliki otak kritis & logis, sinyalemen pencerahan mencari wujud Tuhan. Lalu ada si cilik Musa (Moses), sejak orok dibesarkan, sekaligus sebagai simbol penumbang imperium Firaun. Berlanjut Nabi Isa, si bayi penterjemah saat ibunda gagu sejenak.
Terakhir rasul Penutup, figur Muhammad. Setidaknya ada 2 ungkit referensi masa bocah-nya sbg calon predikat INDIGO. Pertama saat status penggembala kambing di penitipan induk semang, Halimatus Sa'diyah. Disaksikan 2 bocah lain, beliau mengalami "operasi" organ internal dengan cara gaib. Kejadian lain, saat beliau berada dalam iringan kabilah pedagang. Sang kakek mendapat pesan seorang rahib mengenai tanda kenabian sang bocah indigo tanah arab. Kemana-pun rombongan berjalan selalu di naungi kanopi awan.
Semata berpikir.... silahkan pilih. Bodoh...pinter...cerdas... berpulang pilihan masing!

Selasa, 27 Oktober 2009

Garden SONG by john Denver


The Garden Song

Chorus
Inch by inch, row by row, gonna make this garden grow
All it takes is a rake and a hoe and a piece of fertile ground
Inch by inch, row by row Someone bless these seeds I sow
Someone warm them from below
Til the rain comes tumbling down

Pullin' weeds and pickin' stones,
we are made of dreams and bones
I feel the need to grow my own cause the time is close at hand
Grain for grain, sun and rain I'll find my way in nature's chain
Tune my body and my brain to the music of the land

Chorus

Plant your rows straight and long,
Temper them with prayer and song
Mother earth will keep you strong if you give her love and care
An old crow watching hungrily from his perch in yonder tree
In my garden I'm as free as that feathered thief up there


Jumat, 23 Oktober 2009

Fenomena Bintang Jatuh

Info menarik saya dapat dari beberapa kunjung wall rekan sesama FB mania. Dua hari kemarin (21 & 22 Oktober) bakal ada peluang sajian fenomena alam, di kanvas langit. Taburan hujan meteor, atau kerap dijuluki bintang berekor. Gejala langka ini menurut pada ilmuwan adalah aksi rutinitas skala jangka waktu. Komet yang punya ulah itu bernama “ORIONID”. Bisa dinikmati pada saat jelang pukul 12 malam hingga tiba jam 4 dini hari. Terutama saat di terpa cahaya tiba fajar di ufuk timur. Saya begitu semangat ingin jadi pirsawan. Sayangnya moment berharga itu terlewat, akibat fokus jeda kantuk.

sekedar referensi coba intip LINK


Singgung bahasan tema terkait,

Secara impulsif redaksional ayat Qurani, saya sering dibikin penasaran dengan fenomena lontaran batu-2 angkasa. Konon, adalah aksi "jumrah" para malaikat ditujukan pada kelompok Jin. Para pencuri dengar.. berita-berita Gaib di singgasana langit. Terutama jin para utusan para ahli Ramal...sebagai rekan pendamping. Profesi pengais wangsit perantara sekutu, manusia-demit. Komunitas Jawa bilangnya konsep "Perewangan".


"Make a wish..." saran seseorang. Cetuskan harapan saat melihat bintang jatuh. Terlepas dari berbagai jenis keyakinan, semua berpulang pribadi masing-masing. Toh, semua itu kadang hanya sekedar sajian pelengkap alur kisah di film dan sinematografi. Gak bisa dipungkiri, kerap mengundang sisi latah kita. Berharap pada sesuatu yang bukan "sanad"-nya.

Adakah ko-relasi dari fenomena aksi lempar "jumrah" para malaikat. Entah ber-entah..., nalar saya berusaha menyatu titik-temu. Bahwa bukan "kita" saja sebagai manusia, yang kerap ingin intai sesuatu yg "sirr" di tabir misteri langit gelap. Malam memang punya sensasi tersendiri. Apakah cuma ada lengang di beranda negeri bintang? Galaksi yang bungkam... lalu kenapa harus ada ekspedisi luar angkasa? Semata ber-pondasi rasa penasaran, ingin menguak hijab dengan berbagai latar belakang ilmu. Astronomi... Astrologi....


kembali pada celetuk FB...,

Bagi sebagian orang, taburan hujan meteor adalah kewajaran gejala alam. Lalu saya coba giring pada momentum korelasi kini. Apakah terdapat konotasi pesan terlampir? Pelantikan Orde terpilih di Indonesia. Jabatan tahap ke-2, pak SBY dan jajaran-nya.

Semata merangkai benang merah jalin sejarah pendahulu. Kurun Orde Baru - masa enyam presiden Soeharto. Konon di selimuti misteri serba klenak-klenik. Koleksi tosan aji dan mustika.Memiliki komunitas orang "pintar" pilihan dari pelbagai pelosok nusantara. Mereka inilah sang andalan, staf oknum pembaca "pesan" dibalik fenomena kejadian alam semesta. Semata demi kelanggengan tahta tergenggam.


Gak jauh dari komunitas para empu pencipta benda pusaka. Sirkulasi kisah yang tidak jauh dari tematik bintang jatuh. Dibutuhkan "material" logam terpilih. Ilmu kini disebut Metalurgi. Prosesi mengharap hidayah Maha Pencipta, melalui ajang bersih diri, tirakatan. Sembah-Tareqah. Hingga tiba material yang dinanti, watu-tiban. Bongkah meteorit...yang tidak aus tergesek atmosfir. Bahan yang di tunggu sang empu. Kajian tehnologi sekarang, batu meteor mengandung logam unggul, berupa Nikel dan Titanium. Lebih punya strata dibanding sekedar biji besi (al-hadid). inti-nya, pusaka muasal "watu-tiban" di anggap punya martabat dan kasta yahud. Gak sembarangan prosesi kejadian.

Lalu bagaimana dengan oknum "pagar"... new ordo ala SuraBaYa dan para bonek-nya (plesetan inisial), menyikapi fenomena hujan meteor? Adakah sisip pesan membaca gelagat?


berikut ungkap celetuk....,

era ORDE Baru, tampuk pimpinan jaman pak Harto yg kerap dwarnai tema klenak-klenik... sebuah gejala alam selalu dikait-2kan dengan sebuah konotasi pesan Dumateng paraning Gusti. well, Ordo SuraBaYa...dengan para bonek-nya....memaknai apa thd berita pesan-2 langit???? semata gejala alam biasa....atau sdh sibuk menghubungi para ahli Falaq. Ramalan hujan meteorit.....,

Celetuk ringkas (saya) ala wall FB itu ternyata mengundang rekomen rekan jejaring. Lha menurut mas Taufan sendiri gimana? O-oooo...., mengharap reaksi komentar... waiting wishing's-list on under column, malah ktiban pertanyaan bailk. Awalnya sekedar saya jawab "Waduh! saya bukan peramal mas!" Jeda selang sehari ngendap... muncul was-wasil honnas! Saya timbun jawaban sekena-nya. Berbunyi gini-nih......,


@HA : bisa bnyak konotasi... ini bisikan wangsit yg br sy terima. Akan banyak muncul para Bintang yg ahli d bidang-nya utk sgera menyelesaikan tugas-2 tertunda negri ini.....,
tp ibarat hukum SISI KOIN : bakal banyak warga RI yg kepala-nya di lingkari rotasi bintang-2....alias pusing 7 keliling. tambah puyeng liat kondisi yg kian semrawut. gak jg kunjung sembuh skalipun telan puyer bintang 7. hatta atas resmi petunjuk resep dokter.
hehehehe.... itu td berita ANGIN di serambi Gugus Bintang. Bukan forward dari emak si Mamah Lauren.