Jumat, 02 Maret 2012

KENAPA Paul Gurita?... APA Pancing Gurita?




Mungkin ini benar-2 patut di juluki postingan basi. Membongkar Rahasia Paul Gurita. Terbilang wacana flash-back klo berpatokan periodik waktu. Repotnya, hal tertunda tetap saja merongrong dalam diri. Inner aspect, acap minta di ungkap. Sekecil apapun itu. Toh anggap saja seperti jabaran ayat. Sampaikan meski hanya sebaris kalimat. Jiplak versi "walau minnal ayat".
Back in time. Trending topik tentang si Paul gurita. Biota laut penghuni Akuarium Sea Life Centre, Oberhausen, Jerman. Selagi aktif meramal grup yang bakal juara dalam perhelatan akbar sepak Dunia 2010. Fenomena itu sempat merebak. Tidak lepas dari pengaruh blow-up pihak media. Terlebih, kepentingan media lokal Jerman yang berharap ini bisa sebagai senjata psy-war. Memerangi mental lawan tanding. Hanya saja porsi bagian ini tidak pernah terkuak. Nyaris pirsawan menganggap sebagai fenomenal luar-biasa. Di yakini tanpa beri kesempatan nalar ambil alih. Sekalipun gak semua ramalan Paul tepat. Namun prediksi si paul tetap menjadi sensasi tersendiri.


Polemik Wacana & Wikipedia,

Okeh, barengan, kini kita coba bedah dan telusuri. Hal apa yang paling spesifik tentang sosok gurita. Langsung merujuk pada Tempo dgn judul "10 Hal ganjil tentang Paul gurita Ajaib". (dasar, pemberitaan konvensional ala media umum ; masih saja si paul di juluki embel-embel "Ajaib"- alay hiperbolis) Selubung "blow-up" pada faktor ganjil yang seolah sulit terungkap. Saya cukup mengambil 2 dari 10 poin terlampir tadi. yaitu nomer 7 dan 9 :

7. IQ Tinggi
Gurita adalah hewan yang memiliki IQ tinggi dan terbukti memiliki ingatan kuat. "Gurita seperti Paul sangat cerdas. Kami menyamakan kecerdasan mereka dengan anjing dan mereka menyukai masalah dan suka menyelesaikannya," kata Fiona Smith.
9. Tiada Rekayasa
Paul meramal hasil pertandingan dengan membuka tutup salah satu
dari dua wadah makanan di akuariumnya. Staff Oberhausen Sea Life Centre, Tanja Munzig, membantah dugaan bahwa ada sesuatu yang diletakkan di salah satu wadah. "Tak ada tipuan. Makanan sama dan segalanya di kedua wadah itu sama, kecuali benderanya," kata Munzig. Mungkin Paul memilih karena warna bendera.

Dari dua poin diatas cukup jelas, sengaja saya warnai khusus pada alur kalimat. Intisari-nya adalah, Gurita memiliki IQ (kecerdasan) tinggi. Dan proses ramal cuma dengan menyertakan 2 makanan di wadah yang sama. Cuma di bedakan dengan identitas BENDERA! tanpa rekayasa. tipuan atau trik apapun. (ah! yang bener ????)

Nah! Kini gilir kita sinergikan dengan fakta ungkap deskripsi gurita di wikipedia. Adakah titik korelasi dan relevansi-nya? cukup saya copas di bahasan spesifik tentang faktor kecerdasannya.

Kecerdasan

Gurita sangat cerdas dan kemungkinan merupakan hewan paling cerdas di antara semua hewan invertebrata. Kecerdasan gurita sering menjadi bahan perdebatan di kalangan ahli biologi [1] [2] [3]. Hasil percobaan mencari jalan di dalam maze dan memecahkan masalah menunjukkan bahwa gurita mempunyai ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang, walaupun masa hidup gurita yang singkat membuat pengetahuan yang bisa dipelajari gurita menjadi terbatas.
Gurita mempunyai sistem saraf yang sangat kompleks dengan sebagian saja yang terlokalisir di bagian otak. Dua pertiga dari sel saraf terdapat pada tali saraf yang ada di kedelapan lengan gurita. Lengan gurita bisa melakukan berbagai jenis gerakan refleks yang rumit, dipicu oleh 3 tahapan sistem saraf yang berbeda-beda. Beberapa jenis gurita seperti gurita mimic bisa menggerakkan lengan-lengannya untuk meniru gerakan hewan laut yang lain.

Pada percobaan di laboratorium, gurita dapat "mudah diajar" untuk membedakan berbagai bentuk dan pola. Gurita juga bisa membuka tutup toples dengan belajar dari melihat saja[4], walaupun penemuan ini sering dipertentangkan berdasarkan
berbagai alasan[1] [2].

Titik simpulnya, prediksi sementara, bahwa Gurita, pada percobaan di laboratorium mudah diajar untuk membedakan berbagai bentuk dan pola. Walaupun penemuan itu masih jadi pertentangan dengan berbagai alasan.
Selanjutnya...go ahead, yuk bongkar alibi tadi. Karena ini semua bagian terapan ilmu 'pengen'tahuan. Kadang dunia scientific punya beda katarsis. Ilmuwan akan punya berbagai dalil demi kepentingan tertentu. Satu pihak terbuka (open minded)... kubu lain pilih bungkam. Demi misteri yang seolah sukar di bongkar. Tidak sekedar dulang sensasi tapi juga kais nominal rejeki nomplok. Dipoles blow-up... menuai trending topik. Dan hasilnya, contoh mudah. Showroom laut - sea life center, tempat Paul bercokol panen dipadati pengunjung. Biasa! gelagat komersial....


Fenomena Pancing Gurita
Pucuk dicinta.. momentum tiba. Masih di kisaran taon 2010. Sebelum jelang pelaksanaan hari Pangan Sedunia ke-30 di Lombok. Beberapa minggu sebelumnya, saya kedatangan rekan lama. Muasal instansi DKP (Departemen Kelautan & Perikanan) Jakarta, bernaung pada sub direktorat kajian iptek bidang laut. Namanya Agus Cahyadi (akronim nick-name ACAH). Relevansinya, seperti biasa dengan antusias menunjukkan karya terbarunya. Sebuah alat pancing unik yang dirancang khusus sebagai kail khusus gurita. Mungkin terbilang tidak baru, karena alat tersebut sudah diuji-coba dan diperkenalkan pada komunitas nelayan di wilayah Wakatobi. Terinspirasi dari alat sederhana yang oleh nelayan Madura dan perairan Muncar (jatim) dikenal dengan istilah pocong. Secara inovatif kail ini dikembang dengan moda baru. Menyertakan chip elektonik kecil yang dibenamkan pada sebentuk gumpal media. Berupa material serupa padatan gips motif lonjong dengan 2 tonjol mirip tanduk dibelakangnya. Pada ujung moncong menjulur 2 kabel kecil. Berfungsi sebagai saklar utama yang mengaktifkan kinerja chip saat di celupkan dalam air.
Selanjutnya, chip akan bekerja dengan mengirim sinyal suara frekuensi rendah (sub-sonic). Penjelasan scientific sederhana, sinyal suara tadi akan langsung di respon oleh si gurita. Spesies biota bertabiat soliter. Penyendiri yang ogah hidup kelompok. Penghuni di balik karang dan celah-celah lubang di kontur dasar bawah laut (bottom). Sisi lain, gurita memang di kenal sebagai biota nocturnal. Alias aktif saat hari gelap. Intinya, suara sinyal rendah tadi bakal memaksa si hidden-octo keluar persembunyian. Menyerang 'pancing gurita' yang dianggap sebagai rival. Pengusik teritorial-nya! Rancangan unik bukan!?

Oiya! prototipe yang diperlihatkan saat itu juga memiliki motif polkadot, bodi multi totol. Menggunakan cat khusus yang memiliki efek menyala di saat intensitas cahaya mulai redup di kedalaman level air. Semacam radium/luminasi pada index hour arloji tipe diver watch. Sekaligus menyertakan 2 pasang kaki flexible, digantungi material lempeng metal baja. Fungsinya memantulkan bias cahaya. Bagian ini di modif untuk menyerupai lengan pencahar sang gurita. Identik tentakel... yang akan efektif bergerak sesuai gerak tarikan senar atau ikuti pola arus sekitarnya. Pada bagian tepi dan ekor pancing gurita dipasangi mata kail. Memudahkan si gurita target tersangkut saat menyerang.

Kajian bahas yang lain. Patut
di-GARIS-BAWAH-i ini adalah penemuan inovatif melalui kajian penelitian dan percobaan uji laboratorium. Mempelajari tabiat sekaligus siasati sisi lebih dari mahluk yang dianggap cerdas ini. Tepat seperti rujukan penghantar wacana di Wikipedia yang poin-nya saya jabarkan di atas tadi. Gurita juga punya mata yang khas. Berkemampuan tinggi merespon gerakan dan perubahan cahaya. Namun pancing khusus ini lebih menekan pada kapasitas respon frekuensi suara. Yang sebenarnya juga dimiliki oleh Paus dan Lumba-lumba, hanya saja para mamalia laut ini memanfaatkan kelebihan/berkah sebagai sarana komunikasi. Tehnologi Sonar sounding termasuk berkiblat pada hidayah alamiah. Dengan polesan ilmiah, tentu saja.
Adapun motivasi dari tercipta-nya alat ini sebenarnya tidak jauh dari upaya konservasi lingkungan. Menemukan alternatif pangan produk perikanan dengan tidak mengekploitasi kadar/ degradasi lingkungan. Sebelumnya, nelayan khusus penangkap gurita biasanya kudu menyelam ke lokasi dimana ditengarai banyak terdapat spot gurita. Memakai alat tehnik penyelaman hookah. Penyelaman tradisional bernapas via bentang selang kompresor. Cukup riskan akibat resiko terkena penyakit dekompresi. Juga kategori destruktif fishing. Sebab cara tangkap penyelam yang kudu meluluh-lantakkan terumbu yang menjadi liang persembunyian gurita target.
Latar belakang lain masih terkait trending topik, perubahan iklim global. Berakibat kerawanan pangan. Sehingga muncul tema keberlanjutan dan ketahanan pangan. Diperlukan temuan inovatif dan kreatif yang adaptif. Seperti tulisan yang tercantum di kotak kemasan pancing gurita. Tepat alat-nya... tepat ikan-nya.
Pemancing cukup beraksi di permukaan air dengan perahu. Menggantung kail persis di atas jajaran terumbu. Sisi idealis, tangkapan bisa di dapat dalam kondisi hidup. Termasuk bisa pilih-pilah. Misal menentukan target tangkapan dengan maksimal berat 1 Kg ke-atas. Lebih kecil dari kriteria bisa di lepas lagi untuk memperhitungkan daur hidup dan kemungkinan proses regenaeratif. Namun tahap ini sebagai canangan rencana dengan modus tertata dan integral di kemudian hari. Semoga tercapai... sukses buat produk ACAH, yang secara cerdik merujuk singkatan inisial penciptanya dan sinyalir singkat dari Atraktor Chepalod Harian.

Sesingkat sesi rekam dialog dan wawancara ala kadar nimbrung di teduh berugak sore hari (flash back 2 taon lalu).



NOTE :
Berikut beberapa dokumentasi saat persiapan sehari sebelum acara Hari Pangan Sedunia yang berlokasi di Praya- Lombok Tengah. 18 Oktober 2010. Prototipe pancing gurita kali ini beda bahan. Logam campuran baja-alumunium, anti karat. Warna coklat tanpa motif polkadot. Sinyalemen tahap inovasi bergulir dari si pencipta-nya.
Tantangan untuk format display di stan DKP adalah menyiapkan satu specimen gurita hidup. Dan kami segera meluncur ke perairan teluk Ekas diwilayah Awang. Momen kejar tayang! Memanfaatkan sisa waktu berharap dapat tangkapan sebelum hari gelap. Kondisi yang mendebarkan... tapi terbayar saat satu momentum.. hentak tarikan senar relawan pemancing. Menjemput paul ternyata pengalaman mengasikkan.


ACah bin ACAH narsis sejenak sebelum turun laut...,
lokasi : bakal pelabuhan di teluk Awang

Setting Pancing Gurita...

Lokasi spot gurita persis di depan areal surfing pantai Surga...
garis pesisir timur teluk Ekas.. depan properti resort Heaven On The Planet

pemancing in action. Bekal perahu kecil... dan masker untuk pantau lokasi dasar terumbu,observasi demi biota target


Akhirnya... specimen target dapat juga..,


Ups!! try to escape...


Airator... menjaga sirkulasi kadar oksigen
termasuk menyiapkan cadangan air laut untuk bekal penggantian
upaya menjaga si gurita tidak stress.




flash-back lebih silam, Melongok jauh, sebelum pancing gurita ditemukan. Taon 1999, sekelumit aktivitas di gedung BPPT (Badan Pengkajian & Penerapan Tehnologi) Thamrin-Jakarta. Selagi trending topik pemetaan, Peta citra dan penginderaan jauh (Remote Sensing). Perhatikan figur si acah. :)



si tutor guidance - meja digitizer & software Arc-info



nangkring atap.. mo perbaiki antene receiver NOAA
(National Oceanic and Atmospheric Administration)
While, aspal Thamrin bawah, diwarnai banyak aksi demo (jelang setahun menyambut peringatan Reformasi 1998)

Selasa, 21 Februari 2012

instan kuliner ala SOTOJI

Alhasil, tiba jeda waktu yang ditunggu. Jelang siang 21 Februari lalu, bingkisan paket yang dinanti datang juga. Amplop coklat ukuran sedang, berlapis plastik JNE. Hanya 3 hari sejak pendaftaran sebagai calon peserta di kontes penulisan Blog Sotoji. Penyelenggara dan berkat kerjasama deBlogger, komunitas blogger asal Depok dan di sponsori pabrikan resmi Sotoji. Adapun maksud dan tujuan, sebagaimana cuplik dari kanal terkait LINK. Dikatakan.

Lomba ini diadakan dengan tujuan untuk me-review produk Sotoji, yakni produk Soto Jamur Instan yang baru saja diluncurkan guna meraih opini publik yang positif namun juga kritis-solutif dari para konsumen. Para calon peserta lomba akan dikirimkan sampel produk Sotoji secara cuma-cuma untuk bahan review.

Singkatnya, seolah mengharap testimoni dari khalayak luas. Sebuah strategi unik dan menarik. Terlebih merangkul jaringan blogger. Pendekatan mengakomodir opini dan advetorial versi virtual. Cepat... tepat ... efisien! Semudah fenomena buru info via jari di selasar mesin pencari. Dan demi penuhi rasa penasaran kali ini, saya tergerak (lagi) nimbrung kepul dapur... bakal selezat apa yah?

Jujur, tatap awal pertama, memberikan 'citra' gak jauh dari mie instan pada umumnya. Saya menduga isi-nya bakal identik keriwil kuning. Kesan yang sangat konvensional banget! Maklumlah. Keterbiasaan dan pola rutin akan berdampak demikian. Ternyata enggak. Selain bungkusnya warna beda. Sotoji menggunakan bahan utama sohun. Mie putih bahan dasar beras, yang keliatan seperti gumpalan senar pancing. Disamping, kandungan lauk yang menyertakan jamur kian menambah obsesi rasa, sensasi enyam lidah. Sesuatu yang beda.....,

Juga sedikit agak janggal. Konotasi judul dominan "soto" menjadi gak relevan. Lebih tepat disebut kemasan sohun rasa soto. (Meski belakangan saya baru ngeh SOTOJI tak lain singkatan SOTOJamurInstan). Tentu saja berkat racikan bumbu dan minyak soto yang di upayakan lebih mendekati cita rasa yang diharapkan. Namun, bisa saja ini merupakan trik cerdik dari pabrikan Sotoji. Judul kontradiktif. Sekaligus undang hasrat jajal, bagi siapapun kategori mania panganan kemasan instan. Cepat saji. Punya nilai cukup gizi memadai. Dan tentu saja tanpa meninggalkan jejak nikmat santap. Yummy... delicious!!!

Proses olah

Siapa saja pasti bisa, gak bakal alami kendala berarti. Sebab pengolahan dan cara masak cukup mudah. Segampang balik telapak tangan, ala dolanan hompimpah!. Tertera di balik bungkus. Lengkap urutannya. Seperti khas sajian instan lain, memang di modifikasi bagi tipikal survival ala kadar. Siapin peralatan masak umum. Nimbrung dapur. Secara sederhana dijabarkan begini.. ni..,

1. Siapin beberapa peralatan. Kompor.. piring.. dan alat pemasak wajib lainnya. (seperti inzet di sebelah)
2. Siapin 2 gelas air dengan takaran 200mL.
3. Nyalain kompor dan tuang air pada wadah pemasak berikut sohun & Jamur. Aduk sohun hingga matang.
4. Sementara, siapin pula bumbu, minyak soto dan cabai bubuk di mangkok.
5. Selanjutnya tuang sohun dan jamur beserta kuah kedalam mangkok, campur hingga rata.
6. Selanjutnya sajikan...

Mau sebagai menu utama atau lauk pelengkap nasi.... silahkan ganyang dengan penuh konsentrasi. Dijamin halal thoyibban! Mau maem sendiri... bahkan bergerombol sekalipun. Boleh kog! Asal tidak mengurangi jatah ransum rekan penyicip. Dan jangan merasa berdosa klo ada pihak yang masih ngiler mengharap porsi lebih. Ikuti pesan moral, pepatah-petitih... "Nyaman sama di mulut... kurang, yah bikin lagi !!!"


Testimoni pribadi ...
Nyam-nyam-nyam..Nyaman! sluruuup, seruput. Pastinya, hidangan Sotoji akan lebih nikmat jika disantap saat kondisi hangat. Memang gak dipungkiri, dengan disertakan jamur tiram, Sotoji menjadi beda dengan yang lain. Kenyal.. nendang-nendang gimana gitu! Gurih! dengan baur sensasi aromatik minimalis bumbu rempah. Meski tentu saja, sekali lagi, gak bisa dibilang mendekati rasa komplit 'soto' yang sebenarnya. Terlanjur foremon saya berharap deteksi aroma khas. Terutama serai dan bau tajam daun bawang. Sayang, aroma ini gak nongol dari semerbak hangat Sotoji. Daya endus yang ter-eliminasi. Sedikit hambar dengan tanda "kutip". Dan opini ini semoga menjadi masukan bagi pihak pabrik terkait.

Seperti ungkapan rahasia umum bagi kalangan kuliner. Faktor "berani bumbu". Imbuhan yang semoga dalam produksi sotoji berikutnya akan tergerak lebih inovatif. Memainkan "pangsa rasa" dengan tambahan varian rempah khas Tanah air. Padahal klo merujuk referensi kuliner khas Soto. Wah! kurang apa hayo!
Sebut saja via urut.. soto Banjar, Madura, Lamongan, Kudus, Betawi, dan lain-lain. Ini saja belum kelar habis perbendaharan masakan khas. Masih ada lagi racikan soto khas yang sudah cukup terkenal. Semisal Soto Gubeng asal Surabaya. Sebagaimana kriteria gamblang tentang soto dari wikipedia.

Next, baru menggagas sotoji perdana saja, saya sudah cukup salut kog! Secara filosofi, perusahaan ini terasa punya 'kadar' nasionalisme yang patut dibanggakan. Mampu menghadirkan panganan instan namun dengan tidak meninggalkan ikon ke-Indonesia-an. Dan ini sesuatu yang lain!
Terlebih (jika dan hanya jika) berani menggagas lebih jauh. Sotoji dengan variabel pilihan rasa Soto khas Nusantara. Setidaknya, kelak akan lahir kecintaan dan kepedulian terhadap produk karya dalam negeri. Dengan sinergi dan identikal warna Nusantara. Saya tersenyum, nyaris bergolak. Bahkan filsafat Bhinekka tunggal Ika bisa tercermin dari sekedar kreatifitas rana kuliner ( Berbeda-beda.. tetapi tetap satu rasa ) Sekaligus tip&trik garap idealisme terselubung. Bisa jadi. Mungkin saja. Disisi ini, gak perlu lagi tunggu ucapan khas pak Bondan Winarno, makyuuuus! Ini lebih pada gerilya aksi MakKKJoooos!!!

Kembali pada tampilan menu saji,
Tergerak siasati menu hidang. Mumpung lagi intens semangat ber-eksperimen. Terkait dengan identitas konotasi siap-saji tadi. Saya mencoba menyertakan partikel tambahan, persis gambar sampul depan kemasan. Ada hiasan tomat... taburan bawang goreng dan sedikit perasan jeruk nipis. Terlewat kecuali pajangan telur rebus. Lantaran stok di kulkas lagi ludes.
Belakangan muncul ide mendadak. Saya menyempatkan lari ke warung tak jauh dari rumah. Sekedar jajal ide spontan. Penyertaan lain, taburan kacang asin dan irisan sosis. Bahan yang murah-meriah. Semudah memperoleh di beberapa kios pinggir. Hasilnya, memang beda. Sensasi goyang lidah kian rancak. Aktif berdecak... seruput yang aduhai. Berkah berkuah.. sensasi kaldu yang undang liur jatuh. Kunyah emang kunyah! Apalagi ditambah partitur 'kriuk-kriuk'... bunyi merdu butiran kacang asin. Begitu nikmat diselingi slice of so Nice. Berbaur segala atribut penganan kecil di semangkok purnarupa Sotoji. Aaah..... Wouuw... Hmm.... Ouch-Yessss! panen celetuk, gumam ber-gumam....,
Dan ini gak bisa anda... kamu... se-Kalian cuma bayangkan. Ter-imingi oleh my taste-moni (baca: testimoni mandiri). Tanpa berani uji-coba sendiri. Silahkan.... silahkan....,


Last but not least, terus maju Sotoji... demi perbaikan citra sekaligus cita-rasa...,
Untuk realisasi wacana dan dedikasi kuliner Indonesia.
Semoga tercapai...

demi lidah-lidah menari...,
desis kompor.. celoteh duel sendok-garpu.. sekerabat panci
Demi Tuhan & para koki... (saya ketagihan!)

DEMI...kian! ..........seKIAN!


sekedar catatan kaki ;
postingan ini di buat dan disertakan pada Lomba menulis Sotoji versi blogger.

Kamis, 02 Februari 2012

Kampung Melayu Ampenan....,

Postingan ngadat,
Lumrah saja. Mengingat begitu banyak sajian pilihan gambar yang bisa di pilih. Tapi gilir mana yang paling representatif sebagai wajah asli Kampung Melayu, ini yang bikin bingung. Terutama suguhan gambar ikonik yang merupakan esensial tematik. Ah! kenapa tetap saja seolah saya di siksa dan risih?
Padahal, sekali lagi gak ada aturan baku! Sajikan apa apapun
yang ada.. ditemui, dari hasil olah indera netra. Kelilipan aura kisahnya, syukurlah...,

Selayang pandang. Mendengar 'kata' Kampoeng Meladju tentu akan merujuk pada konotasi struktur dinamika sosial. Melayu, identik keberadaan bangsa pribumi. Suku rana budaya di bilangan teritorial Sumatera bahkan jajaran entitas negri Malaysia. Agak persis dikatakan begitu, sempatkan baca rujukan wikipedia. Dan jika dikatakan sebagai ras khas, titik wilayah pertemuan budaya Nusantara. Bisa jadi benar. Begitu pula dengan konotasi warga pesisir. Sebab, kampung melayu Ampenan berlokasi tepat eks pelabuhan lama. Masih dilengkapi peninggalan bangunan tua sisa era kolonial. Dimukimi oleh perwakilan sejumlah suku, antara lain. Sulawesi, Banjar, Jawa, dan suku lokal Sasak. Disamping juga akulturasi pendatang Arab, china, India. Baur sejak duluuuu kalaaaaa.....,
Dan mengawali image pembuka (inset atas). Sengaja saya pilih plank nama jalan di mana saya tinggal. Jalan Seroja. Menghantar lintas jenak pada nama grup musik kejayaan trending irama melayu. Tema vintage.. dengan fluktuasi nada, mendayu-dayu.., Alamak!

Dan sajian potret berikut semoga kian menjadi bianglala penghantar wacana,
Inilah paras eks pelabuhan lama. Kini tinggal menyisakan bekas pondasi dan gelintir onggok pancang tiang besi tua. Seolah mengisahkan sisa peninggalan, potret legenda kota Bandar yang berjaya di waktu silam.
Kini, tiang pancang itu lebih banyak dimanf
aatkan oleh para pemancing sebagai fasilitas hinggap. Interaksi intim dengan kelompok camar, yang bertengger di ujung tumpul besi. Sambil melukis noktah guano.
Buih-buih ombak tampak memutih dengan shaf gulungan alun. Memecah debur... dan menerbangkan kristal asin di sekujur pori pengunjung. Bukan tanpa sebab. Momen ini saya jepret ketika tiba musim angin barat. Gelagat menyambut imlek... gong xi fat choi 2012.
Dan memang tidak jauh dari aspal lurus memasuki kompleks pelabuhan terdapat vihara. Tidak terlalu besar. Tapi disaat momen perayaan imlek cukup riskan macet bagi alur lalu lintas selasar aspal utama tadi. Jamaah budha yang ingin sembahyang berdatangan dari penju
ru ceruk kota. Memadati hari raya. Dan sepanjang hari itu vihara bernuansa merah. Kepul hio bak halimun, jauh mengalahkan pesona warung sate. Tajam menusuk hidung oleh daya hantar angin. Dan talu genderang (konon diasumsikan sebagai tabuhan mengetuk langit) menandakan kegembiraan aksi barongsai. Warga sekitarpun berduyun datang, sekedar menikmati atraksi dan obsesi ciprat angpaw. Kali ini saya gak geming, berbaur seperti tahun sebelumnya. Padahal mestinya menawarkan banyak poin of interest fotogenik.

Persis sebelah barat vihara, adalah lokasi Depo Pertamina
Ampenan. Aktivitasnya berjalan rutin. Seliweran mobil tangki minyak ukuran sedang dan besar. Menyempatkan bangun pagi, bagi penggemar fotografi aliran Human Interest (HI) tentu akan banyak menuai momen aktivitas. Seperti jejalan sopir truk tangki menunggu jadwal panggil. Bergerombol dengan uniform biru. Atau bisa mengabadikan aksi pemburu "bensin tetes". Berlarian tak peduli terik menyambut truk tangki pulang kandang. Demi rejeki.. etalase bensin eceran. Ach, ada saatnya saya bakal nimbrung lebih intens.

Dari komplek Depo Pertamina dan Viahara, sedikit bergeser selatan dikit. Pecahan aspal jalan Aria Banjar Getas, terdapat bongkahan gudang tua. Sebenarnya, ini bukan 1-1nya graha kuno. Tembok kokoh berhias kerak lumut kering. Dan beberapa sudut kadang berhias tumbuhan paku. tumbuhan parasit.. sisip hijau yang ala kadar. meski tidak secantik dan menawan tempelan anggrek.
Gedung.. alias gudang yang satu ini masih fenomenal. Menurut saya pribadi loh! Selain masih bertahta ejaan lama " Goedang Hookie". Betapa secara tidak langsung menunjukkan semangat akulturasi itu sendiri. Kata-kata serapan asing yan
g di rangkai dalam frase. Sebagaimana perwajahan 'umum' pada jaman-nya.
Gudang keberuntungan ini memang masih dipertahankan. Bukan tanpa sebab, Seperti tabiat umum kekinian, pemilik etnis tionghio lagi terfokus bisnis sarang walet. Prospek keuntungan menggiurkan dari segi hasil. dan jika, gudang ini mampu dihuni warga walet! komplit dah fungshui-nya... mempertebal pundi dompet. Walet selalu identik "wallet". Sekali lagi, gak bisa dipungkiri.. kata maupun frasa, memiliki kekuatan tersendiri.

Satu lagi , tempat ketinggian yang paling saya sukai adalah menara suar milik dinas Perhubungan. Tegak menjulang. Berwarna putih. Tulangan besi... siku dan anak tangga yang mulai keropos. Cuil-gupil digerogoti ulah embun asin. Bisa jadi, struktur mercusuar ini merupakan poin tertinggi dari julangan menara yang ada di penjuru tempat Pelabuhan dan lokasi sekitar. berfungsi kiblat, pencerahan bagi nelayan dan kapal yang bergerak arungi celah selat Lombok. Menghantar benang cahaya...., Kerap menjadi tempat saya bermeditasi. Bilik terbuka, persinggahan sementara. Sekedar renung singkat di ketinggian. Lempar daya visual... menuai semilir angin laut. Bahkan menyaingi level canopi-canopi seng yang menghampar luas. Coklat oleh sebab korosi. Gelombang karatan penutup atap. Stagnan... dominan.



Lalu apa saja yang menarik dari aktivitas manusia-nya? sisi Humaniora dari kacamata pribadi. Khas dan pembeda. Biarkan kamera saja yang bicara...,




tim kesenian rebana kampung Melayu.. ini dokumentasi saat perayaan Maulid lewat. Di tempat kami dijuluki Hadrah.
Sesi lain, tim hadrah biasa melakukan kunjung sesama anggotanya dengan tidak membatasi lokasi. Sesuai keinginan dan kerelaan pihak pengundang. Artinya bisa diluar kawasan kampung Melayu. Rutin sekali seminggu. Selain ajang latih, juga bina silaturahmi .
Kesempatan lain tim Hadrah juga bisa disewa tampil dalam pembukaan acara khusus yang diadakan oleh instansi maupun perusahaan tertentu. Biasanya saat menjelang bulan ramadhan.
Kelompok lain, bahkan pernah diundang sampe Malaysia dan Brunei



saat perairan tenang... beberapa warga "non nelayan" turun laut.
Berbekal jaring apung dan ban sebagai pelampung mencari ikan.
Hasilnya, kadang sebagai lauk santapan di rumah, atau jika agak banyak para istri akan tergerak menjual ikan tangkapan dengan berkeliling menawarkan ke tetangga.
mobiling marketing.... jaminan-nya, ikan lebih fresh!


ini salah satu bentuk kreatifitas remaja masjid Babussalam - Kampung Melayu. "Garap" calon mempelai pria yang hendak ijab kabul sebelum prosesi akad Nikah.
d
Diarak putar kampung dengan iringan bahana tabuh rebana..,

tujuan semata memeriahkan... sekaligus shock terapi untuk seorang figur suami yang gak boleh gengsi.. demi menghidupi rumah tangga-nya kelak. Sekalian perkenalan pada warga lain.. *notabene untuk pendatang baru di kampung Melayu


Senin, 30 Januari 2012

Belajar menulis ala bocah

Bercermin aktivitas bocah...,
Kebetulan saja, saya mendapati buku tulis punya putri pertama kami. Sekedar melihat dan iseng membaca dari materi pelajaran menulis di sekolah.
Masih kelas 1 sekolah dasar. Jadi bisa dimaklumi klo susunan kalimat begitu sederhana. Biodata ala kadar. Ringkas. Termasuk masih tersisip pengulangan suku kata yang sama. Biasanya akibat sinkronisasi daya eja dan baca. Dan rasanya begitu juga yang saya alami saat masih seusia Gingga.
Adalah proses pembelajaran. Rangkai tahap demi tahap untuk kemudian beranjak lebih familiar. Huruf.... Kata ... Kalimat. Kelak akan meruntun menjadi penggalan kias kisah. Bertumpuk paragraf demi paragraf. Hingga menjadi bagian cerita tersendiri.


Gak ada beda-nya! Bahkan kemauan menulis juga mesti diawali dengan sebuah langkah kecil. Rutin. Bergulir. Terlebih bagi yang ogah-ogahan nulis. Bingung mulai dari mana. Harus menulis apa. Terjebak metode dasar 5w+1H. Padahal itu basi. Terlalu berkiblat metodologi. Formil, kaku dan terlalu baku. Hanya memaksa sisi otak kiri untuk lebih mendominasi. Boleh sih, kalo memang demi penulisan macem skripsi, disertasi dan specimen literatur sejenis.
Gilir timbul keinginan menulis bebas, eh! masih saja dikekang peraturan dan rambu basi tadi. Stop!!! kali ini porsi otak kanan bekerja. Biarkan ide-ide datang berhamburan... dan luangkan kesempatan tersendiri untuk panen inspirasi.
Masih buntu... ?? cari pencerahan sendiri.... ramu sendiri...., dan kembangkan dengan kreatifitas seadanya. Salah satu saran sederhana.... "jadi-lah Bocah"... dan temukan lahan bermain sepuasnya. Jika ada salah masih bisa untuk dikoreksi. Write as a kid!!!


Rabu, 25 Januari 2012

my wish list 2012...,

Hmmm, coba pikir-pikir lagi.... sekalian gali beberapa angan terpendam tapi sempat hilang dari daur pemikiran, padahal jelas-jelas menjadi obsesi yang bisa jadi seperti bara-sekam. Dari urutannya...,



Sepeda gunung / MTB
Selain motor, fasilitas untuk sarana olahraga ini bakal saya butuhkan. Sepeda gunung pernah jadi pilihan yang ingin segera dimiliki. Paling gak ini bakal memberi banyak ruang gerak nyusup di pelosok. Saya hampir 5 tahun belakangan ini bisa di bilang menjauh dari olahraga. Artinya, saya ingin sehat, bugar, dan vitalitas diri yang ter up-grade.
TERCAPAI...

Berikutnya,
Pernah ada keinginan nambah lensa kamera DLSR. bisa tele, wide atau juga Macro lens. Pilihan saat ini masih kesengsem berat dengan Sigma 150mm APO Macro DG dengan bukaan rana 2,8. tanpa fitus OS (Optical Stabilizer) juga gak papa! Yang penting akan jadi senjata pelengkap untuk doyan hunting. At least, jadi bekal wajib klo lagi naik sepeda seliweran sana-sini. Sehat dapet... cuci mata sekaligus freezing moment.

NB :TERALIHKAN... ada prioritas lain, masih bertahan dengan lensa KIT.


Keinginan lainnya,
Secara bertahap akan memiliki ruang studio kerja minimalis. Sekaligus memberdayakan lebih efisien sebagai wirausahawan rana virtual. Makin tergerak untuk belajar software praktis seputar design digital. Dan mengembangkan ide dan kreatifitas sejalan waktu. Work at home...Be digit-All.....,

NB : berjalan tertatih... meski konsep dan tatanan sederhana. But Go flow!


Hasrat alias ngidam...,
Sekalipun belum tau kapan bisa terwujud. Tapi harus tetap kudu dicanangkan lebih dini. Pigi Umrah, sekaligus memanfaatkan keinginan mendokumentasikan via kamera DLSR seputar Tanah Suci. Daya magnetis-nya sudah cukup lama... melalui ketertarikan hawa spiritual. Pencarian dari hal yang sederhana dan lumrah. Selebihnya, saya termasuk tipe orang yang selalu meyakini bahwa tetap ada saja jalan yang tidak disangka-sangka. Tau-tau terwujud dengan prosesi-nya yang unik. (porsi ini lebih ngarah jalur vertikal :))

Allahummalabaik..., Segerakan ya Allah.



Mungkin itu, dan pastinya ada ritme dan fluktuasi berkembang bakal mengisi fase-fase tadi.
Aamiiiin...., Bismillah berjalan kedepan!

Evaluasi di tahun 2013.
Ada pencapaian yang meski masih sekian persen terwujud dari target obsesi. Tapi ini masih jadi efek bara-sekam. Terkait keperluan kinerja grafis. Justru saya kepincut miliki gadget lain. Lebih menantang kreativitas dan rasa-nya bakal pas jadi item wajib. Tab grafis... ada beberapa pilihan. Galaxy note... atau sekalian tab grafis keluaran Wacom. draw it directly on the screen.....,
 


 

pesan bocah sulung-ku...,

Trenyuh..kenes!
Rasanya cuma itu yang bisa saya rasakan di peredaran tahun 2011, kemarin yang baru lewat.
Terutama berkaitan dengan efektifitas berbaur dengan anak-anak dirumah. Serasa gak ada senggang. Celah waktu yang terasa makin sempit. Dan kalo-pun ada, terasa gak alamiah terjalani. Selalu terasa ada deadline saban hari. Rutinitas bias...,

Buntutnya, saya jadi lebih tipe sensi. Mudah geram saat menghadapi baur celoteh anak-anak di rumah. Keanehan yang lain lagi. "Perfect Stranger" di habitat sendiri? Sudah gitu saya jadi mudah terbawa melek, gejala imsomnia, entah di level berapa. Bisa stadium rendah.... atau bisa tinggi klo dibiarkan larut tanpa kesudahan. Dan ini bukan perkara biasa...,

Ironisnya, beberapa kesempatan ajar pendidikan lingkungan, saya malah harus bisa redam emosi. Berhadapan dengan karakter bocah yang lebih banyak. Fluktuasi hingar-bingar malah kalahin situasi pasar pagi. Kog, justru disitu saya kudu mawas dan belajar sok bijak. Eh! giliran pulang rumah mendadak saya jadi tipikal beda. Mudah memuntahkan amunisi amarah hanya dari sekedar rongrongan bocah "sendiri" (pake tanda kutip!!). Yah sudah jelas, wong mereka minta jatah perhatian yang selama ini raib! Bener-benar porsi gak adil, sodara-sodara!! Hahaha....,


Ya sudah! anggap saja itu sebuah proses pembelajaran. Pendewasaan liku hidup yang dijalani. Sekarang dan seterusnya kita akan lebih banyak ambil peran. belajar dan belajar...., Buat sulungku, terima kasih atas coretan lembar tadi. Bahasa-mu lebih bersahaja... lebih mengena! Renungan ini akan selalu nancap di dinding hati..., InsyaAllah. "Terima kasih nak... sudah mengingatkan"


dari ayah Kalian (bisik terdalam)

*playgroup... not just blur anymore!!!

Minggu, 15 Januari 2012

Belajar perilaku Binatang

Hmmm, Rasa-nya sudah lama sekali...,
Bahkan di kurun setahun kemarin saya jarang menyempatkan diri baur kegiatan dengan anak di rumah. Ironisnya, padahal justru malah banyak berkutat bersama anak-anak sekolah di program pendidikan lingkungan. Selagi masih aktif jadi staf di lembaga LSM. Tuntutan profesi... wajarlah!

Gilir kini, saya seolah kembali pada format semula. Akan banyak luang dan kesempatan. Belajar dari sesuatu yang ada dengan anak di rumah. Bahkan luar ruang. Seperti yang pernah kami jalani. Di celah senggang.... belajar sambil bermain.

Dan tentu saja, harapan ini akan tetap terjalani dengan beberapa inovasi ke depan. Hidup berkreatifitas... tanpa embel-embel pantangan rambu dan formalitas kaku.
Ayo nak-kanak..., mari berguru penuh pada alam sekitar.... selalu akan lebih banyak 'ruang-kelas' dihabitat terbuka ,sana.... sini....,

Percayalah... percayalah.... ( agak kelebay-lebay-an!!! - nyontek bang Napi)




Feeding Franzy...


pengenalan biota laut
plastik toy! dan





Kamis, 12 Januari 2012

back to skecthing....

Melancarkan sendi pergelangan tangan...,
Sekian lama absen. Nyaris setahun lebih. Berkutat hanya dengan gambar kompilasi homogen, monoton. Tema-nya selalu itu-itu mulu! Sanitasi... kondisi lingkungan... tipe toilet, dan sindroma gambar teknis yang gak kunjung mudah di aplikasi. Dan benarlah ujar seorang rekan. Tanpa tendng aling-aling, saya dikatakan terjebak kubangan, Jeding minded!
Hahahaha........., Kini saya bisa lepas 'gelak' hampir dekati sempurna. Tanpa kode etik dan bahkan ke-patut-an rujuk EYD (Ejaan'tawa' Yang Disempurnakan).

Dan warnai dunia-mu dengan ke-ceria-an tersendiri, yang bisa kamu ciptakan dengan tungku kreatifitas. Berbekal bahan bakar semangat... suburkan api, setidaknya titik bara dan nyala cahaya-nya akan memberi benih terang bagi kegelapan ruang. Tidak jauh dari sekitar. Dan apapun yang gelap... redup... akan pergi dengan sendiri...tanpa permisi. (filosofi ala kadar!!)

Akh, liat! betapa lancar saya umbar kata melalui tarian jari di tuts notebook, semata demi perlihatkan kesenangan menulis. Mengalir saja, demi hasrat apapun yang bisa ditulis. Bermain rangkai kata dari urutan abjad A hingga Z. Kombinasi angka dari 0 - 9. Tentu juga aneka tanda baca dan penyedap sisip kalimat. plus ASCII sesekali di pijakan petak tuts, keyboard.
Gak ada beda-nya dengan sisi aktivasi saya di corat-coret. Berkawan alat tulis dan
gambar, stasioneri. Bermain warna dan rujukan aneka paras dan rupa. Entah itu dari stok jibun foto seorang figur dari berbagai profesi. Hasil rujukan mesin pencari dan sekedar comot wajah rekanan FB-ers. Begitu mengalir. Sisi lain, rasanya seperti belajar memoles alat kosmetik bagi profesi pekerja Salon kecantikan. Memoles obyek dan subyek foto...,
Bahkan seorang teman (cewek) yang secara cepat saya gambar (permak tepatnya!), tid
ak jadi lebih mirip aslinya. Karena bisa saya poles lebih tirus dan bahkan mancung yang aduhai. Selain alasan, mungkin saya lebih familiar dengan wajahnya masa SMA dulu. Dengan PD-nya dia memajang di foto profil FB-nya. "This is mee" menambah tagline...., Beberapa komentar mengalir atas respon gambar. Kog terliat lebih cantik gambarnya?... wow, hidungnya kian mancung....!
Saya cuma geli membaca respon komentar tadi. Sekalipun bisa saja tak imbuhi..., Mending cantik secara gambar... murah meriah tanpa merogok kocek terobsesi operasi plastik.

Hahahahaha........, sekali lagi saya bisa ketawa. Setidaknya itu hanya sebagian kecil dari efek kebahagian yang bisa orang lain rasakan. Bagi rekan dan sejawat maya. Toh, kembali pada pembuka kalimat atas tadi. Semata memperlancar persendian tangan dan jari.........,



NamBah :
klo minat liat2 karya lain silahkan rujuk link http://glxgallery.blogspot.com

Selamat datang kesejatian...,

Transformasi beda..., rotasi dan kungkung kemarin. Plong! bolong...! kelegaan yang merajalela. Ada sedikit situasi dan kondisi yang mesti saya siapkan dan bangun dari keterpurukan filosofi gala-aksi... berbuat lebih banyak... dengan nilai manfaat, tentu saja!


1/3 awal Januari, permulaan yang cukup membawa bekal amunisi. Fakta terlahir... fenomenal geliat alihan cuaca yang tetap membawa berkah basah. Hujan yang mampu eja rekayasa... tanpa takaran prediksi. Dan Alam tetap bersahaja..., sebagai karib sejati bagi siapa-pun yang tergerak mendekat dan pelajari.

Cuaca boleh berubah. Apapun fluktuasi-nya ... tapi, sekali lagi Hati tetap harus bersih... ceria, bahkan ter-akumulasi oleh benih kebaikan sepanjang perjalanan hari ke Depan.


Note ;
dan kali ini saya terlalu sulit untuk melengkapi tulisan singkat di atas dengan bumbu ilustrasi khusus. Bahkan, seperti pepatah bilang... sulit di ungkap/dilukiskan kata (apalagi gambar!)... Pelajaran kali ini tentang memaknai Hati. Menggambar sebuah struktur kebahagian dengan tanpa media nyata. Muktasabihat.......,
* Ternyata gak janji... belakangan saya malah butuh ilustrasi.. :)



Sabtu, 31 Desember 2011

alih waktu

Pagi yang lain,
Kalau saja waktu merupakan bentuk apresiasi berbeda dari biasanya, tepatlah jika dikatakan begitu. Sebagai hadiah as a 'gift'... present time. Bukan cuma selalu berkutat dengan suram kemarin. Demi antusiasme kedepan. Menyambut pergantian alih tahun 2012. Seperti juga pagi ini. Hawa dan nebula berbeda. Kian mencapai titik buncah dari geliat keterbangkitan. Saya punya kesempatan posting blog. Dengan hati lapang... tanpa aral rambu, dan usik aktivitas lain. Semata blogging..... dan sekali lagi akan tetap nge-Blog.

Tanpa persiapan fisik. Kecuali 2 perangkat trompet kertas yang dibeli untuk sekedar penyambutan sederhana malam hari. Itupun hasil rengekan si Fathir yang merongrong ibunda-nya saat ikut seliweran di pasar pagi sebelumnya. Ya, demikianlah bocah, kerap minta di turuti untuk meluapkan courisita dan kegembiraan yang mutlak di kandung badan.

Adapun filosofi pesan, dalam hati saya ber-ujar "
Tiup yang Keras Anak-ku! (seperti ulah Israfil, kelak) Paling tidak demi menyambut Kiamat kecil versi 2012" kamu adalah calon khalifah masa depan sebagai pengingat sekitarmu.. ( ini bisa jadi doa nak!!!)
Terakhir seterusnya, mewakili anggota keluarga, kami ucapkan selamat tahun Baru 2012....,
Semoga lebih antusias... berjuang dan berkarya....


Minggu, 11 Desember 2011

Signage on the wall...


Signage on the tank's wall...
it's not a Graffity!!!


Honestly, terus terang! saya belakangan ini serasa terlalu sulit menyempatkan diri menulis blog. Bukan kehabisan amunisi opini. Tapi, lebih pada porsi bagi waktu. Jarak field trip ke pelosok yang kadang harus saya tempuh dengan naik motor. Ber-efek kolaps... masuk angin.. pegel linu di sekujur tubuh. Selebihnya, tiba rumah sudah terlalu capek untuk bisa tuang kisah perjalanan. In-valid otobiografi....,

Posting kali ini sebenarnya masih merupakan rangkai kegiatan lembaga. Kini baru tahap penyelesaian 5 unit tank penampungan air hujan (PAH) di SDN3, Dusun menjut - desa Kedaro - kecamatan Sekotong.
Jenuh bisa merupakan menu utama. Tapi sebagaimana kewajiban, tuntutan tugas tetaplah harus gulir terjalani. Ada hal sedikit ironis, pembangunan PAH memang akan lebih baik di kerjakan saat musim kering. termasuk kans bagi para tukang untuk meluangkan waktu kerja saat lahan di abaikan selama hujan belum turun. Tiba gilirannya, menunggu hujan turun... selain menyempatkan untuk memeriksa kondisi PAH. Apakah mutu pengerjaannya telah penuhi syarat. Apa ada bocor di beberapa bagian jalur perpipaan.

Semuanya, memerlukan fokus dan alokasi waktu tersendiri. Belum lagi menyisipkan materi pendidikan lingkungan bagi anak murid di sekolah bersangkutan. Hmmmmm...., serasa kegiatan padat karya. Lebih enak dijalani... sambil di nikmati sebagai rangkai proses alamiah... juga ilmiah. What ever.... dan posting ini semoga menjadi pencerahan bagi sesiapa yang sempat mampir. Singgah untuk siap lebih berbenah.

go flow....., and wind blow!

Tujuan asli-nya...,
Hembusin angin pilox ( paint-spray ) untuk mencetak tulisan (ala stensil) pihak sponsor program Penampungan Air Hujan. dan liat sendiri... permukaan dinding lengkung itu sudah terdapat terra 3 lembaga. TORAY.. Japan Water Forum & Live & Learn ~ Environmental Education.


Jumat, 11 November 2011

Program Penampung Air Hujan


Rentang Juli akhir hingga Oktober 2011 ini, sedikit mengalihkan fokus saya pada kegiatan lembaga dimana saya nimbrung. (note :per 30 Desember 2011 resmi saya berhenti)

Yah, Saya konsentrasi pada kunjung pelosok Lombok di bagian cakup wilayah Sekotong. Terutama gili Asahan dan up-land Kedaro. Telusur tanjak aspal persis dibelakang komplek fasilitas hotel Sun Dancer.
Terkait dengan program bantuan untuk wilayah kategori rawan air bersih. disupport oleh Japan Water Forum dan disalurkan via lembaga Live & Learn Environment Education (LLEE-Indonesia). Jelang setahun sejak saya bergabung.
Melalui tahapan proses, dan studi kelayakan aplikasi program terpilih pembangunan Penampungan Air Hujan (PAH). Sekaligus kegiatan ini masih berupa sinergi dari program pemerintah melalui sub dinas kesehatan Lombok Barat, yaitu judul besar Sanitasi dan Kesehatan Masyarakat.

Berkah Hujan
Selama ini bisa jadi hujan menjadi fenomena langka. Terkait tema Perubahan iklim global, nyaris dialami semua negara. Peralihan musim menjadi sulit di deteksi. Pola tanam pangan menjadi semrawut eja peralihan kemarau-penghujan. Berefek pada kondisi rawan pangan, apalagi masa tandus di beberapa kawasan kategori kering-kerontang. Makin sulit untuk mendapatkan mata air dengan limpahan ideal. Level air tanah yang mulai menurun. Belum lagi kasus polusi air tanah di perwakilan dominasi wilayah Sekotong dengan maraknya usaha tambang tradisional di sebaran penjuru. Kandungan kadar merkuri yang entah kapan dinyatakan mencapai ambang batas. Sinyalemen gak pasti.


Sisi lain, sekalipun begitu, ada juga kejadian unik dari peralihan musim gak pasti tadi. Khusus yang dialami wilayah Lombok barat dengan stok kantung air terbilang masih aman. Wilayah notabene masih berdekatan dengan bagian kaki Rinjani(sekalipun belakangan bahkan sirkulasi air PDAM juga mulai enggan deras netes, akibat sharing kebutuhan zonawarga). Katakan zona Narmada, beberapa pedagang durian justru mendulang untung dari perubahan iklim yang terjadi. Bahkan pohon-pohon ikutan latah baca gelagat cuaca. Alhasil, pohon durian tadi produksi buah lebih panjang dari status normalnya.

Kembali kaitan judul di atas,
Langkah yang kami lakukan tentu saja bukan menjamin kategori capai kesejahteraan lebih luas. Sebab, program bantuan ini sifatnya lebih tematik disalurkan di lembaga pendidikan formal. Terutama Sekolah dengan kriteria pelosok, terpencil dan akses jangkau medan memang sulit. Tidak saja bantuan fisik, tapi juga terdapat muatan pendidikan lingkungan pada siswa dan pemberdayaan dan partisipasi daya bimbing para guru terkait sekolah per-masing.
Pendekatan aktual melalui sesi pengenalan bagian PAH dan fungsi. Hanya murid kelas 5 & 6 yang di-ikutan dalam program ini. Kenapa, sebab kegiatan ini diharapkan akan mampu bergulir dan berkelanjutan melalui transfer ilmu dan pengetahuan dari senior-yunior pada strata kelas. Lalu disambung pelatihan pembuatan sabun dari buah Lerak (istilah lokal menyebutnya buah SOWOT). Tentu saja bagian ini adalah relevansi dari sadar akan lingkungan sendiri dan pembiasaan hidup sehat melalui aksi dini 'cuci tangan pakai sabun'. sowot...lerak, atau in-english dijuluki "soap nut" adalah bahan yang murni dari alam non chemical. Tidak punya dampak polutan untuk lingkungan sekitarnya.
Chapter terakhir, aksi penanaman bibit pohon lerak di lingkungan sekolah. Melengkapi purna tugas sederhana, beberapa siswa diberi tanggung jawab sesuai porsi tugas tim masing. Tiga kelompok yang diwakili oleh beberapa siswa. meliputi tim PAH (Penampungan Air Hujan, bertugas mengawasi dan merawat fasilitas penampungan. Tim sabun, bertanggung jawab untuk membuat sabun dari biji lerak untuk keperluan cuci tangan di kelas. Kelompok ke-3 adalah tim Kebun, merawat dan menjaga bibit lerak yang di tanam di halaman sekolah.

last bt not least, semoga gerakan aksi "masih hijau" ini akan bisa lestari. Demi perbaikian maslahat lebih luas...., Aamiin.....,





Note
:
Tulisan ini sekedar wacana sederhana dari rangkai kegiatan konservasi sirkulasi air. Terkait pemanfaatan penampungan air hujan yang dicoba sosialisasikan melalui bantuan di beberapa sekolah dasar di kawasan Sekotong, Lombok barat - NTB. Dengan kriteria daerah rawan air dan pelosok. Spesifik teritorial. Harapannya, semoga memberi dampak meluas untuk aksi konservasi yang lebih luas di wilayah NTB khususnya.


Rabu, 28 September 2011

dari "bandara" ke "Airport"

Tinggal menghitung hari.....,
Sejarah oktober tahun 2011, semoga akan menjadi peluang lebih baik bagi perkembangan geliat segala sektor komoditas di NTB.
"Selamat tinggal Selaparang... selamat datang Bandara Internasional Lombok (BIL)". Semoga kian meningkatkan kinerja dan mutu layanan bagi wisman yang hendak kunjung ke Lombok dan Sumbawa. Beralih konotasi sederhana dari sekedar ala kadar 'bandara' menjadi lebih spesifik tematik "the real Airport".

Keterangan foto :
lokasi tepat di ujung landasan Selaparang sebelah timur pesisir wilayah Ampenan. Senja beranjak... putri saya Gingga menyambut pesawat terakhir yang hendak landing.