Kamis, 12 Maret 2009

kaji ayat pahami SUMBAWA

Ini sekedar temuan catatan usang otobiografi... upaya penuhi hasrat kompilasi sebagaimana tulisan awal Blogging.


17 Desember 2007

Sensasi Samawa


Tema lawatan kali ini masih seputar air. Tidak biasa, seperti aku berkubang di dalamnya. Berkiprah kajian air tanah di permukaan. Geliat aksi pada program ketersediaan air bersih. Proyek PU pusat yang diraih si Slamet Subono, mitra terakhir program terkait.

Dan kisahpun mengalir….sepanjang alur aspal ber-anjang sana yang kami lalui. Sajian bentang alam apa adanya. Tidak tergubris angan yang ingin bermain dalami nuansa. Aku tetap konsentrasi di genggam kemudi. Kijang kapsul punya Rukanda, pemilik Pandawa rent-car.

Namun ada yang beda kali ini. Bertepatan musim hujan yang sedang menampakkan adanya Bima atap utara. Lagi-lagi menitipkan kesan fenomenal.

Sejurus penghujung arah Wera, panorama yang terpetik bagai segmen partitur gaung alam. Tanjakan-tanjakan landai….liuk-liuk aspal pematang rata. Kami susuri bukit dan gumpalan kapas langit. Jadi menu utama visualisasi yang kian sensual tersaji. Gamblang mengisi saku netra.

Perbukitan tandus…., hijau rimbun hanya tertangkap-tatap dengan interval renggang, nanar terdeteksi. Betapa tanah ini gundul!!!.....nyaris mandul tanpa dominasi hijau. Hijau makin langka…hijau yang nyaris musnah! Bukit-bukit yang kian minim ter-eliminasi serabut akar. Hanya terlihat tonjolan bongkah batu dengan varian bobot dan besaran.

Hebatnya lagi, di badan miringnya masih tampak bertengger gubuk-gubuk seadanya. Dihuni segelintir keluarga….manusia ladang. Sebuah potret harapan yang nisbi. Niscaya menanti petaka yang datangnya tinggal menghitung waktu. Bak menghitung detak ukur ke-10 jari, ya…tidak…iya…nggak….lambat laun.

Cengang-ku terhenti, terpetik kesan lain. Aksi kanvas langit….. Terpaut juluk Sumbawa dengan alias lain “Tana Samawa”. Kutipan bait Kitabullah… “fis samawati wa ma fil ardhi” serasa langsung terserap sari paham.. Diantara langit dan di atas bumi…, Akupun bercermin secuil ayat, sekaligus kajian jeli. Makna “Tana Samawa” baru saja “ter-urai” di ketinggian dataran-nya. Awan-kabut menyatu ceruk-lembah, sensasi bestari.

Belum cukup aku tergenapi, angin berhembus menghantar mendung…, giliran hujan tebar pesona dengan ritmik tetes-nya. Pohon-pohon menari dengan sisa lenggang kurus batang.

Ahh!..., lagi-lagi terselip “khawatir” tadi, lahan miring berparas tandus…manusia lugu…, lupa atau bahkan mungkin buta membaca semesta. Manusia yang terpinggirkan oleh limbah situasi. Manusia-manusia sabana....menebar sekaligus menuai amarah, dengan konsep sederhana - ladang berpindah. Iya yah! Aku sadar! ternyata sedang bercengkrama dengan bahasa penghuni bumi. Versi tersendiri.. tanpa jeda waktu…. tanya-jawab edisi tertentu.

Peringatan dini, alam menyapa dengan tangis deras-nya.

Alur mudik menuju kota…,

Masih tampak sebuah truk pengangkut longsoran batu yang melorot-copot dari keropos dinding, sisi jalan sepanjang alur tebing. Tegun-ku menatap nanar, belum juga mereka tergugah?! Nurani penghuni lembah yang bakal terkikis laju air…dan kemana asa berharap mata-air??? Terasiring gundul…Cuma menyisakan air-mata…kenang terlahir.

Entah kemana pula, bakal hengkangnya komunitas Rusa. Satu sisi yang sudah terlanjur menjadi mahkota pilar bangga. Dan demi lingkup hidup yang kian meredup, sepenggal zona pemanfaatan lahan tidur. Binasa setelah bangkit.

Lalu sadarku kambuh lagi…., jengah merona katup rasa. Beberapa tahun mendatang pelosok-pelosok nagari ini akan di penuhi seliweran rusa-rusa besi. Tangguh berpijak…lincah menanjak. Tak terbantahkan beranak-pinak.

Mereka telah dikenal sebagai specimen produk Toyota….dengan debut Inova, Avansa, Krista, atau apapun genre di bawahnya. Seperti yang sedang kami tunggangi saat ini. Menapaki punggung lintas bukit dan mengarungi celah-celah lembah. Tinggalkan kotoran berupa polutan asap…kabut jelaga. Terbang menyatu tengger halimun. Otobiografi ironis!!!!




18 Desember 2007

Lanjutan kisah……..,

Singkat kunjung balik ke Dompu, kami putuskan menginap di hotel lain. Shahab lagi penuh muatan kamarnya. Lengang tidur menjadi santap kantuk yang minta jatah sewajarnya.

Pagi tiba terasa lebih cepat. Hawa letih sudah sedikit terkurangi. Sekadar pembuka menu awal, seruput kopi dan roti bakar sajian hotel. Plus campuran seduh madu, dibeli Slamet dari bapak penjaja yang biasa mangkal pelataran hotel. Tambah satu lagi buat tambahan oleh-oleh buat rekan di Mataram. Segmen luang waktu aku isi dengan kegiatan cuci mobil. Parasnya sudah terlanjur kopros! Mirip Cara Sucia……

Setelah bebenah….,kami lanjutin kunjung instansi terkait program survey. Kimpraswil, PDAM dan Bappeda.

jenguk SEmbalun kawasan Rinjani


sbenarnya ini rangkai survey lanjutan dari ajakan rekan Samanta. namun sekaligus ajang jenguk sahabat. inap dan nikmati dingin kawasan hampar Rinjani. Kebetulan lagi kesempatan pungut kisah perjalanan saya yg tersimpan di laptop-nya. berkisah tentang survei ketersediaan air tanah di kawasan pulau Sumbawa.


catatan PINGGIR... kios pasar

Apa-lah arti sebuah NAMA…. Next version


Dibilangan sisip waktu kemarin-kemarin, saya sempat nimbrung di salah satu stan pasar Cakranegara. Stan ini merupakan ajang nimbrung para pebisnis arloji second. Baik status pedagang maupun pembeli. Upaya ini sekedar refresh minimalisir beban aktifitas monoton hadapi garapan plank. Terlalu suntuk bagi saya bila terpaku hadapi ajang bisu. kepingin balik realita hadapi mahluk hidup, beragam bentuk.

Sejurus kemudian,

Saya-pun terdampar dalam kios mungil milik Sama’an. Bercampur jajaran dan gemelatung aneka onderdil motor. Sempit..minim tembus cahaya. Khas kios pasar. Persis didepan bertebaran kios lain penjaja barang bekas. Beberapa komunitas kami sebut wilayah ini “Gang”.

Kios milik Sama’an memang kini beralih fungsi jual onderdil motor. Namun tidak kehilangan fungsi “tetap” sebagai central purna jual arloji. Usaha yang sudah alih kemudi dua generasi. Sejak sang Bapak awali usaha era tahun 80-an. Berganti si anak yang mulai geluti usaha servis/retail arloji ditahun 91-an. Memang masih ada ampas papan nama kios dengan air-brush logo arloji. Hanya sudah terhalang pandang oleh tegakan rak, berisi tumpuk box varian lampu mika motor. Demikian rangkum pitutur dari pihak bersangkutan.

Gabung di jajaran orang pasar memang punya beda nuansa. Ada geliat ritual ekonomi dan cengkrama sahaja. Kilas jeda saya terbayang seniman bernama Kimpul. Pelukis yang kerap gauli dan menghiasi kanvas dengan tema warna pasar. Dedikasi hidup yang tak kenal redup dirana jual-beli ini.


Kembali muatan judul,

Dari bahasan ngalor-ngidul, selalu ada saja diwarnai arena celoteh gurau. Saat itu sesi sedang berlangsung garap si Sama’an. Satu pengunjung (penggemar arloji) beradu fluktuasi dialog gak nyambung. Lontar tanya “A” dijawab “B” oleh si Sama’an. Mengalir deras tanpa peduli interaktif mahluk lain. Seolah hendak bikin saya terhalau dari bi-alog. Sesi yang sengaja diciptakan untuk bikin pilon bin o’on. Dalam hal ini saya yang di-anggap sebagai oknum pendatang baru.

Tiba bahasan singgung nama….,

Si tamu olah nama Sama’an jadi plesetan “bareng-an”. Kian tercurah kalimat ledek, “Artinya kios ini bakal jadi milik bersama”... “rejeki toko ini hanya bisa jadi milik bersama” dst…dst…dsb….,

Berlagak serius, Sama’an menjawab responsif gaya ceramah. Sama’an ini asal kata SAMI’ atau SAMA’. Bermakna salah satu sifat Allah, Maha Mendengar. Seperti hal-nya rangkaian Asma’ul Husna yang lain. Ceracau-nya kian mengalir bangga.


Tibalah gilir saya buka katup bendahara celetuk lidah….,

wah kalo gitu saya tahu nama lengkap-mu pasti Sami’Allahu liman hamidah”.

Senyum-lah Sama’an. Yang lain tergelak dengan ritmik rendah.

tapi biasa-nya ada ketentuan beri nama anak bila pungut salah satu referensi Asma’ul husna. Biasa-nya harus disertai kata Abdul. Hamba Allah yang mempunyai sifat tertentu, harapan sesuai kriteria opsi. Gak kurang tampang serius saya pasang.

Paras Sama’an kian terpoles cerah… mungkin tersanjung.

bisa repot lho! Klo gak pake kata Abdul didepan kata sifat Allah – ntar kuwalat

Forum seolah terhenti pada koma monolog…

Saya jejali lagi “maksud ortu mungkin baik, berharap kelak si anak mempunyai pendengaran yang baik, mendengar ucapan yang bagus – kalimat-kalimat berhidayah” ini sih seolah nasehat dibalik ceramah.

Wajah Sama’an kian pendar… forum hening.

repotnya gini An, ntar bukan-nya dengar yang baik-baik, malah konotasi jadi mahluk “Tukang NgUPING.

Forum senyap, Sama’an tersenyum kecut… mungkin tersandung!

Melihat gelagat garing suasana… saya-pun meledak tawa, dengan eja-an yang disempurnakan….,

Jreng!!! semua pihak kembali ceria dengan detak melankoli parody.

Hahaha..hehehe..hohoho..hihihi..huhuhu….,

Sabtu, 07 Maret 2009

the EYE....




Horrorable....? mungkin bagi sebagian orang. yang jelas ini santapan paling muanteb kalo di bikin gulai. Masih kebawa kebiasaan melek malam. Gilir lelap siang selalu kepala puyeng. keluyuran diantara para Cooking group sekedar cari obyek tambahan untuk pelengkap materi editing Video nanti-nya. Pelotot si bandot ini ternyata lumayan manis jadi salah satu sisip item gambar.

Ntar lagi santap Gulai..., nyam...nyam..nyam.... Nyaman!!!!!

Jumat, 06 Maret 2009

Busy on beginning of March….





Bukan raib hasrat nulis. Tapi belakangan sedang diganjar sesi fokus lain. Awal Maret akad nikah ipar. Ambil alih peran jadi seksi documenter pihak keluarga pengantin Mempelai pria. Saya-pun seliweran seperti setrika, Membelai handycam.

Tanggal 3 lanjut selametan 7 bulanan salah satu adik, gendut akibat hamil. Peluang esok lebih parah sibuk-nya. Giliran acara undang mantu di Ampenan. Minggu 8 Maret 2009.

Blom cukup, sirkulasi masih nambah jibun aktivitas. Bikin plank PKK punya tante Sri. Salah seorang kerabat yang suami-nya adalah mitra hunting arloji. Tadi-nya pingin saya gotong rumah biar bisa kerjain di sela perca waktu. Gak nyana plank sudah komplit frame dan pancang permanen. Namun demi kemaslahatan sang sobat agar damai minimalisir celoteh bini, saya-pun ngalah garap anjang sana.


Well, plank ini memang berparas putih. Polos seperti media kanvas. Siap di lumuri warna. Gak pake tehnik semprot ala garapan umum. Tapi konvensional tarian tangan. Yo wis-lah, sekaligus “wahana” bagi saya melatih sabar dan fokus. Menghantar pengendalian emosi…, percaya gak percaya media ini juga merupakan lahan Shaum bagi saya. Tertentu saja porsi-nya.

Jangan samakan dengan media kartunikal, umbar aktivitas beda sisi kutub lain. Saya lebih gencar muntah-in rima rasa. Getir berkonotasi satire. Liar mungkin juga rada binal. Terserah pernik ide yang lagi lewat. Blom bisa saya kategori-kan, gerangan ilham atau-kah was-wasil Honnas….,

Begitulah ada-nya. Sengaja pilih jadi gerilyawan seni ter-mudah dan ter-murah. Namun sebagian saja orang bilang “gak bisa dipandang sebelah mata”.

Who knows in the front…., saya toh masih ngidam jadi pelukis. Namun sayang-nya baru bisa terlahir sel-sel jasad renik berupa karya kartun. Sheet by sheet…, monolog imaginer via celoteh gambar.