Jumat, 27 Oktober 2017

Budidaya Lumut ala pak Sudil

Pinter baca peluang, kesan begitu yang pertama saya lihat saat pertama kunjungi tempat ini. Asbab nimbrung kalangan pemancing tegek pemburu Serpik, Bertambahlah kanal informasi. Meski sebagian penggiat pancinger lain lebih banyak yang mendapat 'baren' ini dengan cara mencari sendiri. Khususnya lumut hijau. Bisa di genangan air persawahan, saluran air sampek sungai. Lumut ijo sangat handal untuk target ikan nila/mujair..juga Serpik/Baronang...
Beda kasus lagi lumut merah. Beda pemancing..beda baren. Karena agak sulit mengandalkan dari stok alam. Sebagian ada juga yang pilih 'instan'. Ogah habisin waktu berburu umpan lumut. Klo bisa beli. Tampaknya pak Sudil tanggap cepat kans pangsa potensial ini. 

Tadinya saya bayangkan lokasi budidaya ala kadar. Cukup petakan kecil berbasis bisnis rumahan. Ternyata ndak! Berstatus lahan sewa...pak Sudil mengolah cukup serius. Tempatnya agak nyusup kedalam. Satu alur setapak lokasi pemancingan di Bengkel. Wah, langsung kagum liat inovasi bisnisnya. 

Satu gumpalan lumut dihargai Rp 10.000,- dibungkus rapi daun pisang kering. Itupun masih ada penyerta tambahan.Beberapa tumpukan ampas lumut yang lebih mirip bubur lumpur. Gunanya dipake sbagai media "bom". Tehnik mengundang ikan untuk datang mendekat pada spot titik uncal. Gumpalan itu ntar dikepal tanah sebelum di lemparkan ke air. Hehehe....besar kemungkinan pak Sudil juga pemancing tulen. Sampai urusan detil begini sangat perhatian.

Sebenarnya ingin berkutat lebih lama. Sedikit wawancara...sambil mendengar pengalaman beliau. Ntar bisa dilanjutkan lain kali. Masalahnya saya kudu luncuran ke Telaga Lupi, jajal target bandeng. Terlanjur jalan jelang siang...momentum pasut kadang merubah mood jadwal ikan menyantap umpan. Selain pasti boncos... pasti menderita hingga 'lumut'an di TKP. 

NB : salam lengkung joran...  






NOTE
Catatan diatas adalah comotan posting FB.  Saya agak terburu menyelesaikan narasi singkatnya. Sebenarnya di sebagian pojok kota Mataram ada beberapa info penjual lumut untuk umpan memancing. Hanya saja dalam skala usaha kecil berbasis rumahan. Disiasati dengan memanfaatkan media ember atau bak-bak khusus. Genangan air sengaja dibiarkan tertampung. Sejalan waktu benih" lumut akan tumbuh. Terpamapang pula oleh matahari sebagai rangkaian proses fotosintesis. Ini-pun baru sebatas informasi dari sesama rekan pemancing yang kami temui pada aksi dibeberapa tempat. Terutama pemancing tegek. Baik pemburu mujair di kali/sungai... maupun pemancing serpik/baronang. Belum melihat langsung.
Beda dengan budidaya pak Sudil yang sudah cukup inovatif mandiri.Kolam budidaya lumut-nya berupa 3 jalur demplot kolam air dengan kedalaman hanya sekitar 10-15 centimeter. Membentang dari arah timur ke barat dengan sirkulasi air simultan. Pematang dikondisikan rapi tertata sedemikian rupa.
Saat saya tiba, beliau tampak sibuk berkutat pada pekerjaan unik-nya. Nyemplung di kolam genangan air yang hanya tinggi sebatas mata kaki. Menggenggam ikatan sapu ijuk sambil membersihkan tiap sudut bedeng dengan teliti. Sekilas persis cara membersihkan gelaran karpet dari tempelan gulma debu. Menurutnya, ini sebagian metode rutin untuk menjaga kualitas pertumbuhan lumut. Memantau dan memisahkan gumpalan lumut yang bersih dari tempelan lumpur halus. Ada-ada saja! Sekaligus saya kagum oleh ikhtiar kemandirian yang begitu inspiratif.
Tentu saja ini semoga menjadi info tambahan bagi kalian-kalian para peancing. Baik level amatiran...maupun hobbist akut. Silahkan berkunjung di lokasi. Lengkap pada denah yang saya sertakan.




Ini denah lokasinya berdasarkan intipan google Map. Jadi, klo kalian butuh umpan lumut... silahkan langsung kunjung TKP... balai-balai SUDILah mampir. :)




Tidak ada komentar: