Tampilkan postingan dengan label laut pesisir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label laut pesisir. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Januari 2018

catatan pesisiran...27 November 2017

Ampanam VS.the (r)AJUNGAN SATU HATI 
kongkow pagi disini bukan soal peluang bisa amati "kepulan brokoli" kepundan Agung. Enggak! Tidak hanya itu. Mendung langit tetap saja mengundang rasa ingin tau. Sebagaimana upaya menguak jejak bias mendung peradapan lalu.
Kisah mampirnya A.R. Wallace itu lebih menggugah. Kabilah laut si 'Kembang Djepoon' yang gak sengaja singgah demi destinasi Makasar. Jika sebelumnya beliau di Bileling-Bali utara, pastinya kepincut Gili Manuk. Dan di Lombock berteriak eureka! Seandainya saja dia punya niat lanjut rute Sambaha...besar kemungkinan akan kegirangan di Labuan Burung. Laboratorium aves di komplek pulau sebelah, masa itu. Sebuah otobiografi alegoris. Dasar, napak tilas bumbu hiperbolik.
Sayangnya, Opa Wallace, tidak mencatat tongkrongan camar di pucuk korosi tiang bertahta noktah guano. Atawa si legam albatros dengan lengkung sayap serupa dual boomerang. Dia lebih giat mencatat koak-kaok...kepodang dan Maleo si pembuat sarang gunduk. Spesies Aves yang mendekati ciri khas benua Australia sebagai cikal-bakal hipotesa garis khayal tabir geografis.

Tentu tidak seperti imbuh khayalan itu. Dia mencatat pula kenangan indah tak terbantahkan. View eksotik fajar dan senja diapit 2 deskripsi visual Rinjani & Agung. Pemandangan alam khas tropika. Dan Agung, tentu tanpa cendawan erupsi.
Kapalnya tiba di Ampenan. tanpa ada dermaga. Gak ada tiang-tiang pancang pelabuhan peninggalan kolonial. Butuh sedikit perjuangan menciutkan nyali. Menunggang Sekoci bak papan surfing sebagai konsekuensi swell megahnya ombak. Masih ditambah cermin 'kajuman' khas Kamlay...eh! maksudnya sikap segelintir orang lokal yang seperti bangga terhadap prilaku ombak di wilayahnya. Cetus oknum kelasi begini : "Laut mereka kerap lapar...dan siap mengganyang apapun yang bisa diraihnya". Tentu Ini-pun gaya hiberbolis....meski tidak seperti awiq-awiq pulau sebelah yang masa-masa itu kalap menerapkan aturan. Hak Tawan Karang.

NOTE ; mengendus sejarah...betapa penting mengeja hirarki waktu. Biar gak terjebak Sirkulasi jaman now... tabiat kelabuhi time signal. past not continous tense. 

Kamis, 26 Oktober 2017

si Xylocarpus...

Identifikasi vegetasi khas pesisir...,
Tumben nemu 1 tegakan pohon ini di gili Asahan. Pohon ini klo dalam satuan ekosistem mangrove..masuk hirarki takson marga Meliaceae. Kategori minor komponen. Artinya, eksistensinya gak sebanyak kelompok mayor. Jadi agak langka bisa nemuin ini pohon. Pantesan di MIC-JICA bali (2002) dikatakan tipe ini yang rada sulit dibiakkan. Butuh perhatian khusus, gak semudah marga Rhizophoraceae.
Dari telusur data handbook. Ketauan klo jenisnya adalah Xylocarpus moluccensis. Buah agak sedikit lebih kecil dibanding Xylocarpus granatum. Jenis terakhir buahnya lebih gede... mirip buah maja, atau seukuran jeruk Bali. Trus payahnya, kenal awal di sekitaran pulau Pisang, (1995) gugus pulau kecil diperairan Banda sana. Bagi rekan asal Ambon/Maluku..buah X.granatum ini kerap dijadikan permainan khas, khususnya anak pantai. Jika kulit buah terbuka..terdapat biji dengan susunan unik. Bentuknya mirip format benjolan rupa casing luar senjata granat. Besar kemungkinan julukan ini ada korelasi penyamaan rupa bentuk tadi.Susunan biji X.granatum bisa urai-lepas. Selanjutnya jadi bahan media permainan untuk disusun ulang kembali ke performa bungkul semula. Semacam game 'puzzle' dari bahan natural..gitu deh!. Lumayan jadi hiburan kami saat rehat jeda Surface Interval Time. Menunggu jatah dive ke-2 di sisi belakang pulau. So, bisa dibilang ini kecamuk nostalgia yang mencerahkan batin. Interval tahun justru dengan rentang panjang. That's a vegeta of on my own.







Senin, 03 Oktober 2016

seiko Diver & under-water Inspection

Isnin 26 Sept 2016 : Alhamdulillah langit cerah..., sekalipun gitu..tetep gak jamin kelegaan. Murky water!!! Kategori "poor visibility". Jarak pandang terbatas...apalagi tiba dasar dengan mud-layer. Berlapis ketebalan aduhai distribusi asal muara Bakong (pantai Induk). Bintik-bintik partikel terlarut.. dikala arus lemah. Batal rencana u/w mapping. Tiba dasar cumak granyang" substrate...hingga sulit membedakan ini laksana tugas Sediment/benthic grab sampler..Atau kayak nyari belut di sawah  Gak bisa hand signal. Tereak-tereak antar buddy. Bahkan natap depth gauge syusyah minta ampun. Padahal berupaya minimalis kick-cycle. Biar lumpur gak makin blehek...eh, tetep saja capek pelototin depth gauge. Ternyata faktor lain.. mata-mu plus bro!! Yowis... tuntasin tugas kalian (*liputan FB)


** lokasi kegiatan penyelaman tematik "Under Water inspection" yang kami lakukan. zona peta intipan google Map. Tanda lingkar kuning adalah muara sungai besar dengan distribusi laju sedimentasi. Warna coklat indikasi bahwa perairan di lokasi ini cenderung pekat dan gelap. Poor visibility...hubungannya pada jarak pandang terbatas.


Yah, ini cuma secuil kisah. Sejauh porsi pekerjaan yang terkait dengan atribut pendukung penyelaman. Dan kebetulan saja, kali ini si Seiko Mid size menjadi item pendamping. Dive log today..., Berbagi cerita dengan segmentasi foto yang ada dibawah ini.



Seiko mid size diantara tools atribut penyelaman lain.  Dive Computer Suntoo ZOOP.
Mask Technisub Ventura... Dive sausage ScubaPro.










kondisi kecerahan rendah...tampak partikel terlarut dalam air.

bukan selfie avenue yang tepat!!! 
Testimoni-nya : terbukti masih handal pake nyemplung!




Minggu, 18 September 2016

Fish 'bourne' Identity....,


Seperti biasa.. lanjutan sesi tatap muka biota. Biar kenal... kali ini empak Jenggotan. Kambingan. Lucunya pedagang KebonRowek suka bilang sebutan lokal-nya Nyanggi. Padahal secara kemiripan ujar agak nyasar Swanggi. Alias mengarah pada sekelompok ikan SquirrelFish/Big eye. Atau faktor sebab karena kemiripan warna. 
#Sensus pisces di keresek belanjaan dapur









Cod...  Grouper, a.k.a Kerapu... di kesempatan identifikasi yang lain




Bisnis Sirip Hiu.. komunal Bajo & sejarah Maritim.

Menyoal Tanjung Luar yang kadang terlalu acap diliput sebagai berbagai media tanah air. Bisa di maklumi ujung-nya kawasan ini seolah di munculkan sebagai "spot" ekploitasi paling terwakili jadi profil suram jagat maritim Indonesia. Padahal persoalan-nya gak sesederhana itu. Bisnis ini sudah mengakar kuat sejak lintas peradaban. Terjalin erat..antara korporasi kuliner eksotis..sindikat dagang..pialang..dan nelayan. 

Bahkan, sejak lawatan Alfred Russel Wallace ke gumi Nusantara. hingga melahirkan karya "The Malay Archipelago" (1869). Bab catatan kunjungan ke Lombok dan Sulawesi juga termaktub. Hingga kelak lahir istilah garis wallace (klasifikasi pembagian teritori fauna). Saat itu dia juga mencatat tentang aktivitas perburuan hiu yang dilakukan oleh komunitas Bajo. Hingga merayap teritorial laut barat Australia. Bayangkan sendiri.. betapa lestari-nya kegiatan ini pada lintas peradapan yang bergulir.
Nah, yang lebih menarik lagi. Pernah ni sekali waktu seorang peneliti Hobbit (manusia kerdil purba-Liang Bua) sekaligus konsultan Sanitasi asal aussie. Dimana kami pernah berinteraksi pada kegiatan sama. Dalam dialog intens dia memaparkan tentang alur sejarah panjang tentang masyarakat Bajo yang sudah kerap 'mampir' disana. Besar kemungkinan telah bercengkrama lebih akrab dengan penghuni asli Aborigin. Meski dikurun warsa-warsa itu Australia memang sdh diakui sebagai lahan resmi Britania Raya. Sejak berstatus tempat pembuangan para kriminal. hingga mengalami laju hijrah arus migran asal Eropa. Sejak tambang emas menjadi faktor magnet utama-nya. (wiki/Australia).


Mau tau apa peninggalan komunal nelayan Bajo disana? gak lain..gak bukan, adalah tegakan dan sebaran pohon Asem** (kurma India). Si Tamarindus indica itu. Para "Gipsy Laut" mereka ini yang nanem. Karena asem sudah merupakan bahan menu masak yang wajib dibawa di perhelatan lintas samudra. Artinya vegetasi ini ditengarai bukan tanaman asli. Mereka tumbuh atas campur tangan manusia pembawa-nya. Berbeda dengan tanaman khas ekosistem Mangrove yang memiliki tipikal sama di belahan dunia manapun. Karena mangrove adalah tanaman khas pesisir. dianugrahi kemampuan trans-lokasi ala mandiri. Katakan semacam buah jenis Rhizophora dengan putik buah panjang itu. Pada etape masak.. nyemplung air..lalu bergerak mengikuti tabiat arus laut. Kemana-pun pergi. Sesuai titah fitrah dan emban misi sang pencipta-Nya. "Tuh... berkutatlah disana...hijau-kan green belt pesisih-pesisih inyo!"
Kembali pada masyarakat Tanjung Luar. yang berdasarkan pengakuan mereka-pun rana kunjung juga hampir ke perbatasaan Australia. Toh, beberapa warga LabuhanBajo (NTT) mengakui mereka kerap kunjung lokasi sama. Yang berarti secara turun-temurun spot disana secara 'de facto' dikenal sebagai "spot wilayah tangkap". Hihihi....di poin ini saya mendadak cengar-cengir. Padu-padankan dengan kasus perairan Natuna di Laut China Selatan yang marak konflik RI-RRC itu. RRC ngeyel mengklaim klo itu adalah "Tradisional Fishing Ground". yang sudah mereka keruk dari jaman" bahula. Meskipun itu sudah jadi wilayah kedaulatan RI. Bayangkan saja..., klo modal alasan "tradisional fishing ground" apa susahnya juga kita ngeklaim wilayah perairan Australia utara berdasarkan fakta sejarah suku Bajo tadi. :) Dengan mengabaikan kedaulatan Aussie..toh warga asli-nya adalah trah dinasti Aborigin. Yah. Tanjung Luar itu baru sepotong zona yang dikenal. Kebetulan ber-akses prasarana mudah dicapai. Transportasi gampang. Liputan reportase langsung jadi..ujug" blar! semacam trending topik yang paling riskan untuk di ulas. Jika sewaktu-waktu diperlukan..layak sebagai pengalihan isu dari tema ekploitasi sumber daya perairan. Tanjung Luar itu cuma alibi andalan :) Bisa kalian bayangkan.. Indonesia seluas ini. Penduduk/pemukim dengan status pulau-pulau terluar dan tersentuh modernisasi. Tapi warga-nya telah hidup dari kesinambungan hasil laut. Apakah tidak ter-ekploitasi? Katakan saja kita berfokus di wilayah timur..sebelah kanan garis Wallacea yang lebih marak gugus nusa kecil dan imut-imut. Tidak adakah bisnis sirip?.. ah! naif juga klo kita menutup mata perihal fakta para Gypsy-Laut. Tidak adakah pengusaha sektor kelautan yang melihat dan menangkap peluang maha kaya dari peta potensi sumber daya di kutub Indonesia timur. Oh iya.. ibu mentri kita itu. pemilik Susy Air. Begitu hebat... tidak saja menguasai lintas udara sejarah harfiah. Air in-english itu udara..air ya air. Perairan. Tapi saya yakin beliau gak mungkin jadi penampung ilegal fishing macem empak-empak kliyu tiye! Beliau pembasmi kapal-kapal iilegal fishing asal china yang handal. diNatuna-dinatuni..., 
Don't be negatif thingking... Rumangsa-mu... Prasamu...syak-syak wasongko... wingko taburan roso iwak pindang!


Note : soal pohon asem. yang kerap ditanam oleh para pelaut Bugis maupun para nelayan suku Bajo sebagai gypsi laut. cuplikan dari kanal wikipedia. Pelaut-pelaut Bugis pada masa lalu diketahui menanam pohon asam jawa di pantai utara Australia, di Northern Territory di saat mereka beristirahat menunggu datangnya angin untuk kembali ke daerah asal. Pohon-pohon asam jawa ini menjadi petunjuk kontak orang Aborigin setempat terhadap orang luar sebelum kedatangan orang Eropa. Catet ya...sebelum orang Eropa datang!!

Minggu, 09 Agustus 2015

Dive me One...dive me more....annually,

Telling story ... below the water...,
Ada beberapa unek-unek yang sempat terlintas dikurun taon ini. Berkaitan dengan dunia bawah air. Hanya saja, seperti yang sudah-sudah. Meluangkan waktu untuk mencurahkan segera menjadi kendala tersendiri. Ada perihal batu asal sejenis karang yang kemudian sempat menjadi incaran di kalangan penggemar akik. Hingga etape terakhir ini sepertinya sudah mulai surut trend. Artinya, ada probabilitas untuk di-ulas tersendiri. Meski, tentu saja, gak perlu momentum ketika ikon bersangkutan menjadi booming sesuai periodik waktu. Yah, itu lagi penyakit kambuh. Kadang, saya punya kebiasaan aneh, mungkin buruk. Ogah ulas saat itu juga akibat faktor 'must share now'. No...no.., kadang kala saya berpikir gak ada sesuatu hal yang menarik untuk di-ulas ketika khalayak pada fokus di tema sama. Segala-nya terasa hambar. Efek dari homogenitas. 

Belum lagi, aktivitas bertindak dalam rangkaian divisi supplyer juga cukup menyita waktu. Belanja... nyusup pasar. Hunting tempat strategis harga miring. Tapi secara fisik kegiatan ini bisa saya lakukan bersama anak-bini. Bersyukur tetap adad momen kebersamaan yang dihadirkan. Lebih-kurang sudah sita 3 tahun berjalan saya geluti. Juga ada perihal tematik hasil laut. Ikan eksotis... serta wacana pendamping yang menjadi kontradiksi. Bakal ada satu ulasan khusus nanti-nya.


Di bidang rana penyelaman..., Bisa disebut sangat minim aktivasi. Masalahnya mungkin kembali pada niat. Klo sudah terpatri di-hati... rasa-nya pondasi keukeh itu bakal bertahan seperti fenomena akar tunjang. Gak geming oleh tawaran tematik dive rekreasi yang ber-tubi ajakan-nya datang. Masalahnya bukan berarti saya pingin melepas total kegiatan ini. Hanya sudah kadung meluruskan niat tadi. Saya hanya bakal minat pada ajakan rekan di tema Komersial Diving. Tidak lagi berwawasan wisata dan handling tamu. Kalo-pun berwisata... justru saya ingin-nya menjadi kategori tamu. Berstatus penyelam yang merasakan konsep penyehatan jasmani & rohani bagi kepentingan mandiri. Lebih meresapi hakikat kejadian dan keindahan alam. Bekal memupuk kantung religi.


Bermimpilah...  makes your dream comes true
Alhasil kans itu-pun terjalani dengan tidak ada rutinitas jadwal. Terhitung ada 2 jeda tahunan saya mendapat tawaran kegiatan penyelaman. Pertama, ditahun 2014. Paska nimbrung jadi panitia KPS pemilu legislatif, Sehari kemudian saya bertolak ke Belitung. Kali ini ajakan rekan diver kubu Semarang. Bukan main sumringah-lah! lha wong, secara wish-list niat bertandang 'negri laskar Pelangi' sudah ada sejak lamaaaa. Hanya gak bisa memastikan. benang merah apa yang bakal menghantar saya kesana, kelak. Dan sekali lagi, saya selalu mensyukuri tentang hikmah-hikmah kemudian. Betapa hidayah itu kerap tiba setelah kita bayangkan.. lalu di proyeksi, dilumuri berliter-liter doa. Membingkai cerah harapan dengan rela membiarkan untuk Tuhan sendiri yang mengatur waktu-Nya.  Dan segmen-segmen yang sebenarnya 'tidak kebetulan' itu akhirnya saya temui saat berkunjung ke Museum Kata milik Andrea Hirata. Penulis fenomenal tentang negri Laskar Pelangi. Betapa dahsyat mimpi itu. Saya akhirnya ketiban realisasi mimpi basah. Berbasah kuyup di kedalaman sebagian samudra sudut Belitong. Alias nimbrung di kegiatan pelatihan kursus penyelaman bagi staf DKP Manggar BelTim. Memang sih, gak total menikmati paras lansekap-nya. Butuh in-depth di kesempatan lain (kelak, semoga lagi). Akibat keterbatasan waktu dan konsentrasi jatah ajar. Hanya jelang momen pulang, saya singkat termenung. Mendadak saya di-ingatkan lagi dengan kata-kata mutiara sang tokoh dunia, disebut Bapak Penyelam Dunia, Jacques Yves Cousteau. "Leave the Bubble... Take only Memories". Setengah berdecak saya memaknai kata-kata itu. Bukan memaknai secara harfiah perihal arti 'bubble'. Ternyata secara lafal ujar.. Bubble disebut secara ejaan mudah sebagai BaBel. Akronim dari Bangka-Belitong. "Gelembung-gelembung" yang saya dapati memang nyeleneh... mereka muncul permukaan, persis tabiat balon kata di panel cerita bergambar. Terjemahkan dengan sendiri-nya.. Bingo!!!

Kans ke-dua, kegiatan diving komersil ini justru terlaksana jelang momentum menyambut Ramadhan 2015. Sebenarnya gaung penyusunan tahap perencanaan proyek pengaliran air bersih untuk konsumsi 3 gili (MATra) sudah ancang-ancang digeber sekitar 3 tahun lalu. Entah karena sesuatu dan lain hal, pada akhirnya perencanaan matang-nya dilakukan kembali tahun ini. Secara spesifik keterlibatan kami (saya & rekan buddy) adalah memantau kondisi substrat dasar perairan yang kelak akan dilalaui alur pipa PDAM. Terutama pada kawasan gugus terumbu lingkar pinggir gili/pulau (Fringing reef). Juga gundukan terumbu tengah, lebih identik dengan penyebutan taket. Berbekal peralatan scuba dasar. Pencatatan detil spot-spot karang yang dilalui sesuai tembakan arah u/w kompas. Mengikuti bentangan meteran gulung yang oleh 2 partner diver lain telah di patok lurus mengikuti bearing kompas. Setelah memasang beberapa patok pancang besi. Persis seperti melakukan tehnik permanen transek. Hanya lebih ideal klo saya sebut sebagai metode transek yang di modifikasi. Menyesuaikan faktor kebutuhan dan rupa lansekap di habitat nyata.
Sementara tim permukaan yang ada di-boat, sebelumnya berdasarkan titik kendali awal transek (berupa tanda floating sosis dan bentang vertikal tali) langsung mencatat titik geografis dengan handy GPS. Artinya, secara seksama berupaya mendekati perhitungan akurasi maksimal. Tindakan ini wajar dilakukan mengingat secara habitat perairan sangat identik dengan pengaruh angin dan arus. Pergeseran titik itu akan sangat mudah terjadi. Sisi mudahnya, untuk spot awal yang ditentukan dari pesisir pantai Sire menuju ke point gili Aer sudah ditandai sebelumnya. Karena koordinat dan penentuan zonasi telah jauh hari diberlakukan oleh pihak berwenang. Otorita pengelola status kawasan gili dibawah BKKPN (Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional), Unit Pelaksana Tehnis dibawah naungan lembaga besar-nya DKP. Missing link... setelah saya 'paused' lama di kegiatan tema perairan, ternyata UPT ini-lah pengganti peran KSDA sebelumnya. Setelah proses panjang serah-terima status pengelolaan kawasan Taman Wisata Alam Laut, gili MATRA dari kubu DepHut ke DKP. Dikurun lebih dasawarsa lalu, lebih-kurang.
Selanjutnya, pesan koordinator pelaksana kegiatan, sensei Eko Pradjoko". pokok-nya kalian harus lurus...ikuti "KIBLAT" yang sudah digariskan. Yayaya.. ini adalah sinergi menyesuaikan amanah jagat pernyemplungan "Plan your Dive... Dive Your Plan"


** catatan khusus : menulis sesuatu yang sudah pernah kita alami kadang bikin males"an. Karena secara segmentasi, perca-perca artikel ini sudah pernah saya tuang dalam aktivitas mikro blogging di FB. Alhasil betapa banyak makan energi pungut mozaik artikel ini. Semacam gak tertantang untuk menuangkan esensi artikel dengan penyajian up-to date. Tapi sekalipun gitu semoga tampilan wacana basi ini tetap ada nilai manfaatnya. Setidaknya bisa jadi pembelajaran rekan-rekan yang menggauli bidang sama. Selanjutnya biar penyajian visual saja yang ambil alih. Keep on eyes...., 

diskusi soal tehnis & metode penyelaman di sekretariat BKKPN Bangsal-KLU
pak Eko Pradjoko (baju putih-biru) adalah dosen fakultas Tehnik- Unram

Kondisi peta kontur... penyesuaian bearing compass



pengukuran elevasi air laut, di ukur saat air pasang tertinggi, Lokasi : pantai Sire - Lombok Utara
2 mahasiswa kru dari pak Eko, sekalian praktek kerja lapangan


Pak Eko dan asisten penyiapkan perangkat GPS dan tranduser fish Finder

membaca sea-bed...tampilan 2 dimesi & koordinat

boat yang lega...memudahkan penempatan peralatan, tapi menyulitkan gerak saat kordinasi
kinerja penyelam dan kru permukaan.

perbekalan sensus bawah air... sabak teflon.


go down.... let start working buddy! 

2 rekan diver ..mematok tiang besi dan membentang meteran gulung

mengukur jarak antara 2 alur pipa.

ini saya,tugasnya nyatat.. mendeskripsikan varian kedalaman dan spot-spot karang

ini merupakan pelindung sekaligus fungsi pemberat dari pipa yang terpasang sebelumnya
Lokasi : sebelah timur Gili Aer

starting point : di titik timur gili Aer

Kondisi bottom di taket tengah, antara gili Aer dan pantai Sire
dominasi pecahan karang (Rubble)