Tampilkan postingan dengan label IPTEK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPTEK. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2012

KENAPA Paul Gurita?... APA Pancing Gurita?




Mungkin ini benar-2 patut di juluki postingan basi. Membongkar Rahasia Paul Gurita. Terbilang wacana flash-back klo berpatokan periodik waktu. Repotnya, hal tertunda tetap saja merongrong dalam diri. Inner aspect, acap minta di ungkap. Sekecil apapun itu. Toh anggap saja seperti jabaran ayat. Sampaikan meski hanya sebaris kalimat. Jiplak versi "walau minnal ayat".
Back in time. Trending topik tentang si Paul gurita. Biota laut penghuni Akuarium Sea Life Centre, Oberhausen, Jerman. Selagi aktif meramal grup yang bakal juara dalam perhelatan akbar sepak Dunia 2010. Fenomena itu sempat merebak. Tidak lepas dari pengaruh blow-up pihak media. Terlebih, kepentingan media lokal Jerman yang berharap ini bisa sebagai senjata psy-war. Memerangi mental lawan tanding. Hanya saja porsi bagian ini tidak pernah terkuak. Nyaris pirsawan menganggap sebagai fenomenal luar-biasa. Di yakini tanpa beri kesempatan nalar ambil alih. Sekalipun gak semua ramalan Paul tepat. Namun prediksi si paul tetap menjadi sensasi tersendiri.


Polemik Wacana & Wikipedia,

Okeh, barengan, kini kita coba bedah dan telusuri. Hal apa yang paling spesifik tentang sosok gurita. Langsung merujuk pada Tempo dgn judul "10 Hal ganjil tentang Paul gurita Ajaib". (dasar, pemberitaan konvensional ala media umum ; masih saja si paul di juluki embel-embel "Ajaib"- alay hiperbolis) Selubung "blow-up" pada faktor ganjil yang seolah sulit terungkap. Saya cukup mengambil 2 dari 10 poin terlampir tadi. yaitu nomer 7 dan 9 :

7. IQ Tinggi
Gurita adalah hewan yang memiliki IQ tinggi dan terbukti memiliki ingatan kuat. "Gurita seperti Paul sangat cerdas. Kami menyamakan kecerdasan mereka dengan anjing dan mereka menyukai masalah dan suka menyelesaikannya," kata Fiona Smith.
9. Tiada Rekayasa
Paul meramal hasil pertandingan dengan membuka tutup salah satu
dari dua wadah makanan di akuariumnya. Staff Oberhausen Sea Life Centre, Tanja Munzig, membantah dugaan bahwa ada sesuatu yang diletakkan di salah satu wadah. "Tak ada tipuan. Makanan sama dan segalanya di kedua wadah itu sama, kecuali benderanya," kata Munzig. Mungkin Paul memilih karena warna bendera.

Dari dua poin diatas cukup jelas, sengaja saya warnai khusus pada alur kalimat. Intisari-nya adalah, Gurita memiliki IQ (kecerdasan) tinggi. Dan proses ramal cuma dengan menyertakan 2 makanan di wadah yang sama. Cuma di bedakan dengan identitas BENDERA! tanpa rekayasa. tipuan atau trik apapun. (ah! yang bener ????)

Nah! Kini gilir kita sinergikan dengan fakta ungkap deskripsi gurita di wikipedia. Adakah titik korelasi dan relevansi-nya? cukup saya copas di bahasan spesifik tentang faktor kecerdasannya.

Kecerdasan

Gurita sangat cerdas dan kemungkinan merupakan hewan paling cerdas di antara semua hewan invertebrata. Kecerdasan gurita sering menjadi bahan perdebatan di kalangan ahli biologi [1] [2] [3]. Hasil percobaan mencari jalan di dalam maze dan memecahkan masalah menunjukkan bahwa gurita mempunyai ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang, walaupun masa hidup gurita yang singkat membuat pengetahuan yang bisa dipelajari gurita menjadi terbatas.
Gurita mempunyai sistem saraf yang sangat kompleks dengan sebagian saja yang terlokalisir di bagian otak. Dua pertiga dari sel saraf terdapat pada tali saraf yang ada di kedelapan lengan gurita. Lengan gurita bisa melakukan berbagai jenis gerakan refleks yang rumit, dipicu oleh 3 tahapan sistem saraf yang berbeda-beda. Beberapa jenis gurita seperti gurita mimic bisa menggerakkan lengan-lengannya untuk meniru gerakan hewan laut yang lain.

Pada percobaan di laboratorium, gurita dapat "mudah diajar" untuk membedakan berbagai bentuk dan pola. Gurita juga bisa membuka tutup toples dengan belajar dari melihat saja[4], walaupun penemuan ini sering dipertentangkan berdasarkan
berbagai alasan[1] [2].

Titik simpulnya, prediksi sementara, bahwa Gurita, pada percobaan di laboratorium mudah diajar untuk membedakan berbagai bentuk dan pola. Walaupun penemuan itu masih jadi pertentangan dengan berbagai alasan.
Selanjutnya...go ahead, yuk bongkar alibi tadi. Karena ini semua bagian terapan ilmu 'pengen'tahuan. Kadang dunia scientific punya beda katarsis. Ilmuwan akan punya berbagai dalil demi kepentingan tertentu. Satu pihak terbuka (open minded)... kubu lain pilih bungkam. Demi misteri yang seolah sukar di bongkar. Tidak sekedar dulang sensasi tapi juga kais nominal rejeki nomplok. Dipoles blow-up... menuai trending topik. Dan hasilnya, contoh mudah. Showroom laut - sea life center, tempat Paul bercokol panen dipadati pengunjung. Biasa! gelagat komersial....


Fenomena Pancing Gurita
Pucuk dicinta.. momentum tiba. Masih di kisaran taon 2010. Sebelum jelang pelaksanaan hari Pangan Sedunia ke-30 di Lombok. Beberapa minggu sebelumnya, saya kedatangan rekan lama. Muasal instansi DKP (Departemen Kelautan & Perikanan) Jakarta, bernaung pada sub direktorat kajian iptek bidang laut. Namanya Agus Cahyadi (akronim nick-name ACAH). Relevansinya, seperti biasa dengan antusias menunjukkan karya terbarunya. Sebuah alat pancing unik yang dirancang khusus sebagai kail khusus gurita. Mungkin terbilang tidak baru, karena alat tersebut sudah diuji-coba dan diperkenalkan pada komunitas nelayan di wilayah Wakatobi. Terinspirasi dari alat sederhana yang oleh nelayan Madura dan perairan Muncar (jatim) dikenal dengan istilah pocong. Secara inovatif kail ini dikembang dengan moda baru. Menyertakan chip elektonik kecil yang dibenamkan pada sebentuk gumpal media. Berupa material serupa padatan gips motif lonjong dengan 2 tonjol mirip tanduk dibelakangnya. Pada ujung moncong menjulur 2 kabel kecil. Berfungsi sebagai saklar utama yang mengaktifkan kinerja chip saat di celupkan dalam air.
Selanjutnya, chip akan bekerja dengan mengirim sinyal suara frekuensi rendah (sub-sonic). Penjelasan scientific sederhana, sinyal suara tadi akan langsung di respon oleh si gurita. Spesies biota bertabiat soliter. Penyendiri yang ogah hidup kelompok. Penghuni di balik karang dan celah-celah lubang di kontur dasar bawah laut (bottom). Sisi lain, gurita memang di kenal sebagai biota nocturnal. Alias aktif saat hari gelap. Intinya, suara sinyal rendah tadi bakal memaksa si hidden-octo keluar persembunyian. Menyerang 'pancing gurita' yang dianggap sebagai rival. Pengusik teritorial-nya! Rancangan unik bukan!?

Oiya! prototipe yang diperlihatkan saat itu juga memiliki motif polkadot, bodi multi totol. Menggunakan cat khusus yang memiliki efek menyala di saat intensitas cahaya mulai redup di kedalaman level air. Semacam radium/luminasi pada index hour arloji tipe diver watch. Sekaligus menyertakan 2 pasang kaki flexible, digantungi material lempeng metal baja. Fungsinya memantulkan bias cahaya. Bagian ini di modif untuk menyerupai lengan pencahar sang gurita. Identik tentakel... yang akan efektif bergerak sesuai gerak tarikan senar atau ikuti pola arus sekitarnya. Pada bagian tepi dan ekor pancing gurita dipasangi mata kail. Memudahkan si gurita target tersangkut saat menyerang.

Kajian bahas yang lain. Patut
di-GARIS-BAWAH-i ini adalah penemuan inovatif melalui kajian penelitian dan percobaan uji laboratorium. Mempelajari tabiat sekaligus siasati sisi lebih dari mahluk yang dianggap cerdas ini. Tepat seperti rujukan penghantar wacana di Wikipedia yang poin-nya saya jabarkan di atas tadi. Gurita juga punya mata yang khas. Berkemampuan tinggi merespon gerakan dan perubahan cahaya. Namun pancing khusus ini lebih menekan pada kapasitas respon frekuensi suara. Yang sebenarnya juga dimiliki oleh Paus dan Lumba-lumba, hanya saja para mamalia laut ini memanfaatkan kelebihan/berkah sebagai sarana komunikasi. Tehnologi Sonar sounding termasuk berkiblat pada hidayah alamiah. Dengan polesan ilmiah, tentu saja.
Adapun motivasi dari tercipta-nya alat ini sebenarnya tidak jauh dari upaya konservasi lingkungan. Menemukan alternatif pangan produk perikanan dengan tidak mengekploitasi kadar/ degradasi lingkungan. Sebelumnya, nelayan khusus penangkap gurita biasanya kudu menyelam ke lokasi dimana ditengarai banyak terdapat spot gurita. Memakai alat tehnik penyelaman hookah. Penyelaman tradisional bernapas via bentang selang kompresor. Cukup riskan akibat resiko terkena penyakit dekompresi. Juga kategori destruktif fishing. Sebab cara tangkap penyelam yang kudu meluluh-lantakkan terumbu yang menjadi liang persembunyian gurita target.
Latar belakang lain masih terkait trending topik, perubahan iklim global. Berakibat kerawanan pangan. Sehingga muncul tema keberlanjutan dan ketahanan pangan. Diperlukan temuan inovatif dan kreatif yang adaptif. Seperti tulisan yang tercantum di kotak kemasan pancing gurita. Tepat alat-nya... tepat ikan-nya.
Pemancing cukup beraksi di permukaan air dengan perahu. Menggantung kail persis di atas jajaran terumbu. Sisi idealis, tangkapan bisa di dapat dalam kondisi hidup. Termasuk bisa pilih-pilah. Misal menentukan target tangkapan dengan maksimal berat 1 Kg ke-atas. Lebih kecil dari kriteria bisa di lepas lagi untuk memperhitungkan daur hidup dan kemungkinan proses regenaeratif. Namun tahap ini sebagai canangan rencana dengan modus tertata dan integral di kemudian hari. Semoga tercapai... sukses buat produk ACAH, yang secara cerdik merujuk singkatan inisial penciptanya dan sinyalir singkat dari Atraktor Chepalod Harian.

Sesingkat sesi rekam dialog dan wawancara ala kadar nimbrung di teduh berugak sore hari (flash back 2 taon lalu).



NOTE :
Berikut beberapa dokumentasi saat persiapan sehari sebelum acara Hari Pangan Sedunia yang berlokasi di Praya- Lombok Tengah. 18 Oktober 2010. Prototipe pancing gurita kali ini beda bahan. Logam campuran baja-alumunium, anti karat. Warna coklat tanpa motif polkadot. Sinyalemen tahap inovasi bergulir dari si pencipta-nya.
Tantangan untuk format display di stan DKP adalah menyiapkan satu specimen gurita hidup. Dan kami segera meluncur ke perairan teluk Ekas diwilayah Awang. Momen kejar tayang! Memanfaatkan sisa waktu berharap dapat tangkapan sebelum hari gelap. Kondisi yang mendebarkan... tapi terbayar saat satu momentum.. hentak tarikan senar relawan pemancing. Menjemput paul ternyata pengalaman mengasikkan.


ACah bin ACAH narsis sejenak sebelum turun laut...,
lokasi : bakal pelabuhan di teluk Awang

Setting Pancing Gurita...

Lokasi spot gurita persis di depan areal surfing pantai Surga...
garis pesisir timur teluk Ekas.. depan properti resort Heaven On The Planet

pemancing in action. Bekal perahu kecil... dan masker untuk pantau lokasi dasar terumbu,observasi demi biota target


Akhirnya... specimen target dapat juga..,


Ups!! try to escape...


Airator... menjaga sirkulasi kadar oksigen
termasuk menyiapkan cadangan air laut untuk bekal penggantian
upaya menjaga si gurita tidak stress.




flash-back lebih silam, Melongok jauh, sebelum pancing gurita ditemukan. Taon 1999, sekelumit aktivitas di gedung BPPT (Badan Pengkajian & Penerapan Tehnologi) Thamrin-Jakarta. Selagi trending topik pemetaan, Peta citra dan penginderaan jauh (Remote Sensing). Perhatikan figur si acah. :)



si tutor guidance - meja digitizer & software Arc-info



nangkring atap.. mo perbaiki antene receiver NOAA
(National Oceanic and Atmospheric Administration)
While, aspal Thamrin bawah, diwarnai banyak aksi demo (jelang setahun menyambut peringatan Reformasi 1998)

Senin, 27 Juli 2009

H1N1 = B4B1...ini Babi

Peduli penyakit,
Sejak semalam saya dibuat miris oleh tag banner salah 1 TV. Bunyinya cukup mengenaskan. "400 orang di Indonesia disinyalir terinfeksi swine flu". Ada beberapa indikator penyebab. Namun yang umum di akibatkan dengan kontak langsung dengan korban yang positif terinfeksi. Pertama, akibat WNI yang mudik dari luar negeri. Ke-dua, kasus yang masih hangat, faktor interaksi dengan wisman. Apapun alasan kunjung mereka. Seperti yang di akui salah seorang pengurus pondok pesantren. Beberapa santri mereka ambruk dengan gelagat indikasi mirip gejala flu babi. Pilek...batuk...disertai demam tinggi. Sekalipun masih tunggu hasil kajian lab. . perihal cek darah. Namun bisa ditengarai format alur tular. Pondok itu baru saja gelar acara Haul. Sempat dihadiri oleh beberapa tamu undangan, berasal Malaysia dan Singapura. Tanpa bermaksud skeptis terhadap upaya pemerintah solusi disinfektan di gerbang cukai bandara. Toh akhirnya bisa juga lolos masuk si virus meresahkan itu. Entah melalui mediasi dan metode penetrasi apa. Semoga saja bisa terungkap....,

Sedikit kilas balik sejarah perang klasik, Sejak dulu kala sudah dikenal teori perang menggunakan penyakit. Ambil contoh kasus penyakit cacar. Era jauh sebelum Louis Pastuer menemukan vaksin anti cacar. Penyakit ini dianggap penyakit kutukan. Maklum belum ada penangkal. Seseorang atau komunal yang digayuti cacar akan dianggap sampah. Dikucilkan...dan di isolasi dalam zona tertentu. Menyedihkan dan tragis. Tapi jangan salah! disisi lain cacar juga dimanfaatin sebagai eksperimen siasat perang. Metodologi yang dikembangkan untuk mengalahkan musuh. Gak tutup kemungkinan saat itu sudah merupakan proyek rahasia. Sesuai dengan tehnologi pendukung pada jamannya. Siapapun pihak sang pelaksana. Cara-nya cukup mudah. seorang utusan salah satu pihak bertikai akan menyusup ke wilayah musuh. Mungkin staf intelegen dan memanfaatin mata-mata bayaran. Mungkin juga kelinci percobaan. Cara-nya begini..., selimut bekas penderita cacar akan disusupkan pada barak tentara musuh. Next step, terjadilah geliat epidermis...masa inkubasi sang virus, menulari para stok personil prajurit. Kesempatan ini digunakan sebagai penekan pihak pemenang untuk lebih mendominasi kancah tempur. Ungguli pihak lawan. Murah biaya... tidak perlu dukungan dana logistik personil tempur. Jadi sulit dipungkiri, eksperimen ini tentunya mengalami gradasi peningkatan kian canggih sejalan dukungan tehnologi dan mega konseptual para pemain-nya. Kita mengenalnya dengan debut bio-tech. Baik peruntukan hal positif, semisal pengembangan paritas benih pertanian pangan. Ternak hibrida dan apapun maslahat lainnya. Dampak negatif, tentu saja up-gradable pengembangan senjata biologis tadi. Ditengarai sebagai ancaman bagi kemanusiaan. Sekalipun negara-2 di dunia sepakat melarang pemakaian senjata (kimia maupun biologis) melalui konvensi Jenewa, perihal traktat perang. Senjata pemusnah massal tetap saja ditakuti. Dikecam vokalitas kolektif...namun diam-diam pihak tertentu masih kelola sebagai andalan pamungkas.

Kembali swine flu,
paritas ini sebelumnya gak berbahaya bagi manusia. Seperti halnya virus flu burung. Namun muatan bekal virus menjadi lebih garang, akibat sentuhan bio-tech. Kemarin resah H5N1...kini H1N1. Gak cuma Indonesia kelabakan! Ujung juntrung, penangkalnya sudah ada. Sinyalemen terakhir H5N1 adalah sebuah konspirasi penjualan obat penangkal. Sekaligus guncangan ekonomi berupa shock teraphy... akibat "penolakan" impor daging ayam dari negri paman Sam. Wajar ibu menkes Fadilla Sapari mencak-2...tahan geram. Kenang kasus si Manusia pohon, diambil sampel darah-nya oleh negara lain tanpa kompensasi medical knowledge. Implementasi akhir timbal balik, bagi Indonesia tentu saja. Kang Dede, penderita penyakit Human Papilloma Virus (HPV).
Saya pribadi gak bisa bayangin klo sampe sampel virus kang Dede ini sampai jatuh ke tangan salah. Dipermak sedemikian rupa jadi bahan baku senjata biologis paritas lain. Hiperbolic....mode-ON.

Referensi bedah buku,

Sekedar mendukung "kuatir" tadi saya jadi tertarik obsesi baca buku dengan judul DEADLY MIST-karya Jerry D. Gray tampak inset. Beberapa hal banyak dikupas tuntas. Gak terbeli. Alias modal baca intip dalam tiap kesempatan kunjung toko buku Karisma-Mataram Mall. Tentunya yang gak bersampul plastik.
Penyebaran penyebaran penyakit buatan (artificial disease) dikupas elegan dan deskriptif, sangat inspiratif dalam satu bab. Di ceritakan tentang Chemical Trails dimaknai "Jejak-Jejak Kimia". Partikel material sejenis debu fiber dijadikan sebagai senjata kimia. Caranya di angkut dalam badan pesawat (bisa komersial), lalu akan dilepas di selasar angkasa suatu negara yang dituju. Fenomena ini akan tampak saat kita memandang lintas terbang pesawat. Akan terbentuk sisa jalur lintas seperti asap. Istilahnya Contrial. Bekal debu kosmis tadi di sebarkan melalui lintas contrial tersebut. Menimbun dan nangkring di gumpal awan. Saat mendung...debu kosmis tadi berbaur dengan bulir uap air. Selanjutnya akan hujam paras bumi melalui tetes rinai. Tergantung kawasan yang disasar. Bayangin klo itu Indonesia. Saya hanya berpikir ala Jerry.

Kamis, 28 Mei 2009

Fenomena alam & Fibonacci

Sekedar comot kajian ayat Qurani…. bahwa alam ini dibikin bukan main-main. Sedemikian rumit struktur alam terbangun oleh sang maha Kreator. Penuh perhitungan mengandung unsur harmoni. Keselarasan dan seimbang. Sebagaimana filosofi Taologism…,

Jujur saja, saya tergelitik buru info terkait, sebab kemarin gauli rekan mailist komunitas arloji antik. Rencana bikin ajang kumpul. GTG…yang aneh-nya saya gak ngeh hingga kini. Ini singkatan apa…hehehe….,

Ada penawaran tiap anggota sumbang karya logo. Untuk atribut merchandise gelaran acara-nya. Seperti biasa saya-pun tergerak olah Font…copywriting…upaya peras ide LOGO-istik.

Beralih curiousita, teringat saya pada sosok Robert Langdon. Tokoh sentral dalam buku Da-Vinci Code, karangan penulis Amerika fenomenal, Dan Brown. Si tokoh digambarkan sebagai ahli bedah symbol kuno, sang symbologist. Penuh intrik kupas teka-teki angka dan anagrams (permainan kata). Termasuk beberapa naratif yang mengantar pada sebuah alur teori konspirasi. Bikin saya terusik.. berkutat minat baca.


Tiba pada pemahaman deret angka Fibonacci : 1,1,2,3,5,8,13,21,….dst. Kajian mendalam ilmuwan pendahulu ternyata berhasil menemukan “gambaran” langsung terkait teori fundamental, deret angka tersebut. Secara tidak langsung terkuaklah pola formula spiral. Seperti kembali pada paragraph awal tadi. ALAM dan seisi-nya ini diciptakan dengan penuh perhitungan-matematis dan jibun pola sistimatika sempurna. Disebut juluk lain sebagai Fibonacci spiralspiral kurva… bahkan GOLDEN SPIRAL.

Tabiat dasar fotografi. Penempatan obyek utama pada jendela bidik di 4 titik utama. Ternyata juga di-ilhami oleh teori dasar kurva Fibonacci. Dikenal dengan istilah Rule of Third.


Sebagai gambaran mudah, berikut saya sertakan beberapa gambar yang saya ambil dari narasumber kamus virtual, WIKIPEDIA.











Catatan kecil :

Tampak dari sekian banyak contoh. Rumus Fibonacci merupakan berkah bagi alam. Sebagaimana tampak pada gejala temperature ekstim rendah di dataran Iceland. Belah tengah cangkang moluska, Nautilus. Yang memiliki formula struktur bangun serupa. Terakhir, fenomena tebaran gugus bintang- Galaksi… ataupun milky way (pinwheel-Galaxy). At least, saya akhirnya menemukan kandungan terselubung dari inisial resmi yang saya sandang. Sebagaimana tabiat kisaran angin puyuhtyphooncycloneTornado... Twister ataupun hurricane. Sisi indahnya memang terletak pada mahligai amarah-NYA. Sujud semesta pelampiasan hembus….


Bercermin geliat alam,

konon menurut literature para ilmuwan. Perubahan suhu ekstrim antara lapis udara adalah peluang tiba-nya angin besar. Menghimbun gumpal bak tajuk cendawan…. Bertiang tirai putaran hembus. Hingga menyentuh paras tanah… tegar dalam sensasi gerak, bergemuruh. Dahsyat meradang…. Membelai permukaan bumi. Dan pada alur jejak yang dilalui, jauh dibawah permukaan tanah, terdapat lorong lintasan air tanah. Teringat lagi bait pitutur tanah jawa “bayu paraning Banyu…”

Akhiru kalam, semoga nanti bila saya marah… adalah fenomena terlampir dari setetes gambaran dari tabiat murka-MU. Amin ya Rabbal-alamin….,


Jumat, 06 Februari 2009

Partisipasi Global… bukan Gombal

Ulasan kali ini berhubungan dengan eksistensi Kampung Digital, Pagutan-Mataram. Belum ada luang kunjung. Tapi sesi waktu kadang terlintas dalam kelumit bungkul otak. Seketika itu pula saya kian terpuruk oleh sensasi pribadi. Cetus ide keinginan bergelut dalam kebersamaan aksi Human Resource building. Tahap kebangkitan bagi komunitas lingkup kecil, pemberdayaan suatu generasi. Anggap saja selubung kepedulian seada-nya. Terlanjur “lontar” depan pak Sugeng-Speedy sih!


Honestly, bias “bara-sekam” ini kerap rongrong internal batin. Motherhood… Mother board…for mother land. Teringat masa 2000-2002, selagi jabat Community Organizers (CO) di gili Meno. Kerjasama mitra antar lembaga ORNOP/LSM. Yaitu lembaga kami JARI (Juang laut Lestari) dengan Samudra, konsorsium beberapa lembaga LSM dengan berbagai background fokus isu. Berwujud kongkrit afiliasi wadah berjuluk Aliansi 3 Gili, disingkat SIGI. Boyong program “Ecotourisme di gili Matra” (Meno-Trawangan-Air). Saya dapat tetes peran CO. Tugas utama sebagai penghubung antara masyarakat dampingan dengan program lembaga. Bisa dikatakan kami (personil JARI) unggul dalam penerapan sisipan program SIGI. Tentu dengan kriteria range indicator keberhasilan.

Terlepas dari itu semua. Saya pribadi masih belum cukup puas. Sekalipun memang dapat banyak enyam pengalaman berharga. Kog merasa jadi komunitas copy-paste! Sekedar menjalankan pesan sponsor. Tidak berperan banyak idealisme. Antusiasme yang gamang! Penerapan pola tertatih.

Kembali pada bahasan Kampung Digital. Terserah sejauh apa keberhasilan yang telah diraih. Berikut adalah sekedar sumbangsih pemikiran. Sebab, tehnologi informasi bagi saya adalah satu peluang berperan di arena Ghizwazul fikri, era perang pemikiran. Ada satu program yang digagas Yayasan luar negeri inisial OLPC, One laptop Per Child. Penyediaan laptop murah meriah bagi anak-anak di Negara berkembang. Harga US$ 199 per-biji. Program terbuka bagi lembaga donor maupun individual yang ingin menyalurkan bantuan. Bagi siapapun yang terjangkit sindrom Philantrophy. Langsung pesan, proses administrasi dan terkirim ke pihak tujuan. Sayangnya program itu berakhir Desember 2008 lalu.


Foto-foto dibawah ini adalah album cuplikan dari nara sumber terkait. Demikian menggugah… begitu bakar semangat partisipasi Global. Ayo Mataram!!!! Masih ada peluang bagi kita untuk berbenah, bangkit...bangun fasilitas infrastruktur digital.


Note :
all these image take direct from OLPC Foundation website database.



India


Mongolia


Thailand


Iraq


Mongolia


Nigeria