Tampilkan postingan dengan label BIOTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BIOTA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 September 2016

Fish 'bourne' Identity....,


Seperti biasa.. lanjutan sesi tatap muka biota. Biar kenal... kali ini empak Jenggotan. Kambingan. Lucunya pedagang KebonRowek suka bilang sebutan lokal-nya Nyanggi. Padahal secara kemiripan ujar agak nyasar Swanggi. Alias mengarah pada sekelompok ikan SquirrelFish/Big eye. Atau faktor sebab karena kemiripan warna. 
#Sensus pisces di keresek belanjaan dapur









Cod...  Grouper, a.k.a Kerapu... di kesempatan identifikasi yang lain




Minggu, 25 Agustus 2013

riset oyster....

Prakata Biota :
at a glance... lokal teritip
populasi dan habitat identik. sejawat kerang mutiara.
    
kuliner khas...
saji mentah, kandungan afrodisiak... pangsa dan resto dominan,

kutat Ekosistem bakau....
wisata marina. pengenalan biota lain.
kans wisata tambahan
Kematian masal....,


PROLINK :
https://cerita-photo.blogspot.co.id/2014/05/riset-di-lawang-sulat.html

https://cerita-photo.blogspot.co.id/2013/10/my-son-as-bolang-in-mangroves-island.html
https://cerita-photo.blogspot.co.id/2014/02/sand-dune-of-gili-lawang.html
https://cerita-photo.blogspot.co.id/2014/02/around-blue.html

Rabu, 21 Agustus 2013

ada Kerang dibalik batu

pembesaran abalone di hatchery - Sekotong
Bla-bla-bla....,ini tentang gauli hewan laut. Terhitung ada setahun ini terjalani. Sebenarnya masih rangkaian dari agenda kunjung awal survey perihal kerang. Tahun lalu 2012 di bulan Juli. Memenuhi hajat rekan mengunjungi balai LoKa Budidaya hasil Perikanan Laut di wilayah Sekotong - Lombok Barat. Biota laut yang dimaksud ternyata Abalone, a.k.a kerang mata tujuh. Disamping juga ada 1 kerang jenis lain, kerang bakau. Ntar, akan saya bahas di artikel terpisah.

Sekilas tentang abalone. Seperti biasa, uraian gak terlalu scientifik :) Masuk dalam kelompok Moluska. Bercangkang cuma sebelah, 1 sisi. Bukan 2 bilah cangkang seperti hal-nya kerang kelompok bivalva. Kontruksi cangkang seperti itu membuat Abalone bersifat dinamis... as slow-mover. Mirip tabiat siput umum-nya. Bisa bergerak... berpindah tempat dibatasan wilayah teritori identik mukim-nya. Jadi, tidak seperti bivalva yang kebanyakan tipe statis. Bivalva kebanyakan tipe diam. Nyusup pasir atau mendompleng di media tumbuh yang dia tempeli. Sejak siklus, pola hidup-nya dimulai periodik masa larva yang terbawa arus. Berkelana terserah arah arus. Hingga menemui substrate, media hinggap . Atau ber-akhir nasib jadi santapan para ikan. Siklus hidup ala zoo-planktonic. Kutip sadur dan inovasi aransemen deskripsi berasal dari kamus Wikipedia.


abalone muda ukuran secuil upil... :) wadah Hatchery
Juvenile (larva muda) abalone juga terpola siklus daur hidup yang sama. Terjadi proses aseksual. Enyak-babe mereka gak coitus sistim kontak langsung. Senggama pisah...manual dewek-dewek! Melepaskan sel telur dan sperma di luar tubuh. Tercampur di kolom air. Terjadi proses pembuahan. Selanjutnya melanjutkan tahapan hidup berikutnya. Di habitat alam, juvenil nempel media apapun sebagai sarang hinggap. Pakan favorit adalah algae. Selain itu secara spesifik abalone punya kemampuan mimikri, alias penyamaran. Hidayah sepadan lah!... karena tipe penggerak pelan. Mirip bekicot gitu. Survive cara hindar gak mungkin nyingkir jauh... tapi mengandalkan rupa cangkang yang terpoles lumut laut atau padani rupa ganggang. Bersimbion mutualism dengan khas teritori. Secara visual saat kita diving, abalone susah dideteksi cepat. Kecuali terlihat dia lagi bergerak. Slow motion, hanya secara kebetulan terpantau. Saat kita tekun observasi biota benthic. Tipe mahluk dasaran.

Juluk lain, orang bule namai ear-shell. Kerang kuping karena serupa bentuk. Bener juga sih.., tapi justru istilah ini bikin saya geli. Saya anggap inilah kerang tipe pesolek akut. Gimana tidak, si "kuping" ini telah ter-modifikasi nyeleneh. Dilengkapi plong 'tindik' sebanyak 7 biji. Hahaha..., janggal banget klo di translate basa indo kog jadi kerang mata tujuh. Mestinya secara english harus di ubah. Biar keren... "the Seven pierced Ear-Shell".. trus di alih bahasa jadi Kerang tindik Tujuh. Kog bisa jadi mata 7/ seven eyes?
Hehehe... padahal abalone punya perangkat dwi-netra sebagai alat penglihatan lazim. Beda dengan kerang tipe bivalva yang hanya mengandalkan sensor gerak. Direspon secara stimulan pencitraan obyek yang di eja dan diterjemahan mandiri.
Inisial yang simpel lagi. Versi indonesia belahan timur... kerap di lontar ucap para nelayan bajo. aka Kerang Balik Batu. Yah sesuai juga! Sebab secara habitat abalone suka nempel di balik gumpalan karang. Tabiat doyan sembunyi. Entah apa karena mereka sensitif terhadap over bias cahaya terang. Sehingga harus ngumpet. Jika gitu alasannya, abalone termasuk kategori nocturnal. Hewani aktif di malam hari. Hidden-stoney Shell.. , liat! betapa ngawur dan berantakan-nya jika ada translate antar bahasa sak enak puser yang bikin. Batu yang dimaksud awam kita adalah karang... bagi bule adalah hewan. Bersimbiosis menghasilkan zat kapur sebagai bahan baku utama pembentuk struktur tubuh, ber-aneka bentuk di ekosistem terumbu. Mana-mana mau dah... yang penting mudeng!
Tapi boleh juga kog. kelak, inovasi peribahasa khas bilang jika memaknai orang punya maksud tertentu atawa niat selubung. boleh ganti... DULU : ada udang dibalik batu. KINI : ada kerang di balik batu.. :) 

Pangsa konsumen 
Penyuka kuliner favorit sapa lagi kalo gak China, Jepang, Taiwan dan Korea. Ada berbagai macam sajian menu. Tapi konon tetap nikmat disantap mentah, ala sashimi jepun dengan colet pasta wasabi. Bahkan cukup di telan setelah di kecrut-in iris jeruk nipis. Penetral sengat bau amis. Ada informasi menu abalon termasuk kuliner eksotis. Menyamai sup sirip hiu dan seduh sup sarang burung walet. Mahal katanya....
Pantauan yang pernah dulu saya liput ala kadar. Bahwa memang ada permintaan dari pihak pengepul. Nelayan mencari demi tambahan sulam rupiah. Per-kilo sekian... sekian. Tapi rasa-nya gak juga menyamai harga sirip hiu. Apalagi harga sarang walet. Relatif mungkin... harga tinggi juga dijual lanjut pada eksportir. Sama halnya ketika kulit abalon pernah di order khusus sebagai bahan kerajinan. Sempat saya melihat rekan yang punya bisnis abalon, terima tanpa cangkang. Alias daging doang...., tapi kondisi kering. Artinya dalam kondisi gak fresh-pun tetap ada penampung. Apa khasiat-nya belum juga saya pernah tau.

Daging laku. Cangkang-pun juga digemari. Para shell kolektor juga menyukai abalon karena pola warna-warni yang ada di balik sisi dalam cangkang. Beberapa kerajinan mozaic yang memakai bahan kulit abalon juga bermunculan. Terutama di kawasan wisata basis pesisir. beda dengan tone warna kerang mutiara. Abalon corak warna lebih dominan hijau-biru dengan efek pantul ber-spektrum. Hanya harga per-kilo cangkang abalon lebih mahal dibanding kulit kerang mutiara. Sekalipun ke-dua biota sudah mampu untuk dibudidaya dengan pola intensif. Dulu kulit mutiara seperti gak digubris. Karena tujuan utama budidaya kerang mutiara adalah menghasilkan perhiasan butir mutiara. Menyisipkan nukleus padat bulat, sehingga sejalan waktu akan menghasilkan mutiara super. Bulat sempurna dan berat 3 gram keatas menjadi stok pangsa ekspor. Daging dan kulit jadi residu gak bernilai. Daging di ganyang karyawan silahkan... Kulit di tumpuk berantakan.

Tengok juga industri horologi, perarlojian dunia. Dikuasai 2 negara besar Swiss dan Jepang. Ada karya arloji pada dial  memanfaatkan kulit cangkang kerang. Istilah yang umum disebut "mother of pearl". Hanya belum ketahuan persis-nya yang dipakai jenis kerang mana. Apakah kerang mutiara tipe bivalva? atau ada jenis lain. Perihal oyster, bahkan nama besar produsen Rolex mengeluarkan seri spesies khusus, Rolex Oyster. Andil apresiasi biota terkait, barangkali.



Balai benih Loka-Budidaya Sekotong, termasuk instansi  sukses mengembangkan riset dan regenerasi abalon. Artinya bagi masyarakat, ada alternatif meniru dan jiplak tehnologi yang sama. Tidak lagi memungut hasil dengan cara menggantungkan pada alam saja. Saling kejar target rekrut berlebihan dengan tanpa di imbangi upaya pelestarian terhadap biota yang berkembang sangat lamban.
Membuka peluang usaha baru. Demi meningkatkan taraf hidup komunal pesisir. Mau sebagai pemilik usaha, joint venture. Atau-pun memberi lahan opsi pekerjaan bagi warga dengan beda konsentrasi usaha. Atau memang mau fokus geluti usaha.
Relevansi dari kunjungan awal ini berlanjut dengan kunjungan khusus pemilik restoran Jepang yang ada di Bali. MoU digadang-gadang sedang disepakati 2 belah pihak. Jadi, bagi instansi tidak saja mampu meriset dan sukses me-reproduksi abalon. Namun membuka peluang kerjasama bisnis efektif. Yang menjadi poin menarik dari si investor Jepang. Balai LoKa Budidaya Sekotong telah mampu melahirkan paritas abalon jenis baru. Hasil persilangan antar 2 spesies. Bravo....  semoga tidak terhenti sampai disitu saja.   



Dokumentasi foto dari beda size abalon yang ada di balai Benih Sekotong.

size 6mm

size 25mm

size 40mm populasi padat

size 50mm

size 70mm... mature abalon

abalon ter-unik...narsis genit, seolah bilang... aku mirip apa hayo???


 

Selasa, 30 Juli 2013

Doctor Fish... dimana kalian???

lokasi kali kecil di dusun Bentaur - Desa Medas, Lombok Barat
Kilas cerita....,
Sekitar 3 bulan lalu, saya punya agenda khusus buat 2 bocah di rumah. Gingga dan adiknya Fathir. Apalagi kalo bukan akibat rongrong mereka kepingin main air di Kura-Kura Water Park Lombok. Sekali-dua mungkin gak papa. Tapi kalo nuntut sering, wah! ini sih bakal menguras isi dompet. Kans arus kas keluar. Laju sirkulasi wajib bendung, Hehe....,
Saya-pun susun strategi. Bikin pengalihan tematik serupa. Opsi poin utama-nya, tetap saja. Di upayakan muatan wawasan lingkungan. Dekat dengan habitat alam terbuka. Outdoor educated. Minimalisasi kadar budget konvensional. Tapi tidak mengurangi keceriaan energi bocah. Anggap ini bimbingan belajar non-formal. Lately, saya lagi tekuni biking, saya jadi punya referensi varian spot lokasi kunjung. Berhubung judul air, maka saya menggiring mereka pada wacana sungai kecil (Creek). Lokasi jenguk kali ini ada di dataran tinggi level sedang dari hamparan lansekap kota. Hanya berdurasi tempuh 4 Km dari rumah. Full arsip foto my Kids on the Creek

size 6-8 cm.. bersungut pendek
Kenapa Dokter Fish?
Bukan tanpa alasan kenapa mau telisik si Ikan Dokter. Sebenarnya masih rangkai rasa penasaran yang belum terpenuhi dari obsesi ingin tau sebelumnya. Sejak lihat outlet khusus terapi ikan dokter, Garra rufa. Spesies pisces air tawar asal Turki. Artinya ikan ini khusus di impor dari negara asalnya. Dan perkembangan terapi ikan ini rasanya begitu menjamur. Hampir di kota-kota besar di Jawa. Paling tidak yang pernah saya liat langsung di Semarang dan Malang. Kisaran antara tahun 2004-2005. Kebanyakan gerai outlet yang ada di Mall pusat perbelanjaan. Bisa jadi saat itu merupakan awal trend si Doctor fish masuk di Indonesia. Karena awal kejutan, jadi wajar kalau harga terapi cost-nya cukup terbilang mahal. Berbeda dengan perkembangan berikutnya. Ketika secara semangat nasionalisme mulai kambuh. Runut beberapa kanal referensi internet, kini telah bertebaran banyak pusat lokasi terapi di tanah air. Tidak lagi di mall dan swalayan besar. Namun digelar di lokasi tertentu. Jauh dari kota yang penat, lebih memilih penempatan lokasi pinggiran, bahkan pegunungan. Sekalian menyisipkan wacana wisata dan relaksasi khas sub-urban. Dan bagusnya lagi, telah dikenalkan pada khalayak perihal doctor fish lokal. Paling sering di sebut ikan Nilem. Sama biota air tawar. Secara fisik, memiliki rupa tubuh dengan formasi sisik serupa dengan Garra rufa. Bibir dilengkapi sungut pendek, Hanya beda signifikan pada bentuk tubuh. Nilem agak lebih oval diperforma perut. Garra rufa langsing memanjang. Pasti-nya tidak memiliki gigi pencabik mangsa. Sebab bukan tipe ikan carnivora. Serupa ikan mas ataupun karper. Tabiat utama suka menghisap makanan yang ada di dasaran (substrate). Ciri nilem dikatakan mulut-nya berkerinyit (seperti bentuk sikat halus). Demikian hal-nya ikan garra rufa. Memudahkan mereka untuk melahap makanan yang menempel pada permukaan benda lain di air. Semisal lumut pada batu.

acara gowes dan baur sungai kecil
Hasil nihil. Gak ada spesimen identik yang mendekati rendaman tubuh kami. Bahkan dalam rentang kunjung berikutnya, sengaja saya berbekal goggles agar mudah celingukan bawah air. Identifikasi spesies. Cuma terlihat dominasi beberapa ekor wader. Bergerak lincah air dalam dekat kucuran air deras. Tubuh transparan dan sisik gemerlap. Ada juga jenis ikan lain. Size lebih kecil 3-5 Cm dual tone abu-hitam. Tabiat nyisip di dasar dan celah batu, menghindari arus. Belum sempat terdeteksi jenis or nama lokal.

Referensi Film dan pengalaman Survey
cover pilem cukup gamblang pilih Ikon Ikan & sepatu
Tingkah polah garra rufa memang unik. Begitu ada pasien terapi yang langsung membenamkan anggota atawa seluruh tubuh, secara kompak mereka langsung kerubuti. Melahap jaringan kulit mati. Disela jari maupun kujur tubuh. Pastinya saat tubuh kita benamkan dalam air kondisi permukaan kulit bakal berangsur rentan lembab. Memudahkan proses sedot santap. Selanjutnya dari aktivitas sucking, para fish dokter ini menghasilkan enzim dithranol (Antralin). Memberi efek micro massage sekaligus micro pelling effect. Alias tukang pijet kenyot. Disinyalir memberi banyak manfaat bagi kesehatan manusia.
Konon begitu. Padahal jauh sebelum trend dokter fish merebak, fenomena ikan menyantap jaringan kulit mati juga pernah saya. Bahkan mungkin semua pada tau. Tonton saja pilem karya sineas asal Iran, Majid Majidi. Judulnya "Children of Heaven" Alurnya cerita sangat ringan dan human being. Menawan..syarat pesan kemanusiaan. Topik utama hanya pada sepatu (point of interest). Pengalaman mengharukan dan sangat menyentuh dari kakak-adik (keluarga miskin), Ali dan Zahra. Kasus sepatu Zahra hilang, lalu di siasati dengan saling tukar pakai diantara ke-2nya untuk keperluan sekolah. Hingga tiba momentum kejuaraan lari, Ali antusias ikut sebagai peserta, lantaran bagi juara ke-3 tersedia hadiah sepatu. Demi menyenangkan si adik. Stamina Ali terbentuk prima. Akibat hampir tiap hari kalang-kabut lari demi bergantian sepatu, shift masuk kelas beda waktu. Sehingga saat test uji calon peserta lomba (wakil sekolah), dan Ali terpilih. Segmen lomba terlihat Ali mampu menyusul peserta lain. Hanya ketika dekati garis finish, dia mulai atur langkah perlahan. Berusaha menempatkan diri di urutan 3. Naas-nya dia tersenggol peserta lain, dan sempat terjerembab. Ali segera bangkit dan berlari sekencang mungkin. Malah pertama masuki garis finih. Berhamburan guru dan teman sekolah menyambut gembira. Eh, si Ali malah menangis sedih akibat gak dapet hadiah yang jadi target awal. Segmen sequel yang kontradiktif. Sangat mengharukan. Puncak-nya, ditutup Ali yang merendam kaki di kolam. Jemari kaki lepuh akibat lari bekal sepatu butut. Secara dramatik disinilah bumbu visual paling menggugah dan menebar pesan moral terdalam. Ikan-ikan di kolam itu berdatangan kerubuti kaki Ali. Perjuangan penuh makna!
Nah, di adegan buntut itu jadi tampak bahwa ikan mas hias (Fancy golden fish) juga memiliki prilaku sama dengan garra rufa. Tingkah pola biota yang sebenarnya lumrah. Tapi jika dikemas-saji secara apik oleh sineas cerdas, bakal menjadi pesan cantik. Nyentuh kalbu.


cuma ilustrasi.. program susur sungai
Next, kisah menarik lain. Justru saya alami saat saya bergabung di kegiatan survey Sungai. Sekitar pertengahan taon 2008. Kebetulan, dari link teman asal semarang ada yang menangkan tender proyek dinas PU propinsi NTB  berjudul "Penyusunan DataBase Sungai". Liput kawasan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dan kabupaten Sumbawa.
Secara hirarki, saya rangkap multi tugas. Pemandu lokal, tukang jepret, sopir. Tentunya ikutan praktek bikin cagak-bungkul  bench-mark (BM). Di cetak secara langsung on the spot. Macem Pal penunjuk Kilometer pinggir jalan. Selanjutnya di geo-tagging via perangkat GPS. Mengukur lebar sungai dan sedikit catatan tambahan point of interest lain. Lebih sebagai catatan pribadi seperti yang acap lakukan dalam ritual anjangsana lokasi.
Meliput banyak alur sungai, embung, bendungan, hingga telusuri pelosok pedalaman selatan pulau Sumbawa. Khazanah jadi tambun dan variatif. Seperti ketika kami menyusup jauh di selatan kecamatan Empang. Gak ada aspal, kecuali pembukaan makadam berlanjut liuk setapak tanah. Menanjak bukit cadas miring 45 derajat! Sempat-sempatnya saya jungkir balik akibat nuntun motor dan tarikan gas yang kelewat penuh. Ketemu pemburu tradisional yang di iringi pasukan anjing pemburu sekaligus pelacak handal. Fenomena ilegang lodging dan tegakan rupa pohon yang selama ini cuma saya kenal nama sekedar tau dari buku.
Lain pula saat datangi wilayah Labangka. Kawasan ini terbagi atas pembagian 5 zona. Cukup luas hampar lansekap-nya. Merupakan pengembangan areal transmigrasi yang didominasi oleh warga asal Lombok. Kami beraksi model padat-karya. Siang-malam bergerak memaksimalkan efisiensi jatah waktu. Cukup melelahkan tenteng sak semen di kegelapan dan menembus rimbun semak tentukan posisi bench-mark ideal. Cuma berandalkan sorot senter. Sesekali diwarnai bunyi.."grak-gruk..grak-gruk" dengus babi hutan. Sedikit was-was. Lantaran memori saya sudah rekam bekal kisah. Konon babi hutan yang galak/buas adalah jenis yang pernah terluka akibat sabetan parang atau tusukan tombak yang tidak terlalu dalam. Alias gak terbunuh. Jika luka beranjak pulih dan mulai kering, kulit si babi hutan menjadi gatal. Membuatnya berubah beringas. Agresif serang manusia. Mungkin saking susah garuk badan sendiri. Or bisa jadi jadi pelampiasan akibat proses perburuan warga yang pernah gagal. Pengalaman mendebarkan sekaligus seru. Aina'... mantap benarr!!!!
Ada kisah sedih, ketika kami tiba di ujung batas pesisir areal Labangka 5. Kami disertai oknum lokal sebagai pemandu. Pantai-nya khas kawasan selatan. Berpasir di gunduk atas, selanjutnya garis pesisir berupa gorong-gorong batu cadas. Khas struktur break-water natural.  Gak bisa diabaikan, serangan agas bikin gatal luar biasa. Serang kujur permukaan kulit terbuka tanpa proteksi suit. Muara disini tidak lebar sama sekali. Bentang lebar 3 meter. Bahkan berupa genangan saat debit air rendah. Tidak terhubung sambung laut. Kecuali saat musim hujan. Kalo-pun menjadi daftar observasi karena alur anak sungai itu menjadi stok ketersedian air minum bagi warga disekitarnya. Belakangan kami baru paham kenapa pak camat sampai perlu membekali kurir pemandu khusus. Ternyata baru seminggu lewat, ada kejadian 1 warga yang tewas diserang buaya. Paska hujan, orang itu menjaring ikan di muara cilik tadi. Sehari semalam gak kunjung pulang, akhirnya keluarga berinisiatif mencari. Ternyata mendapati jasad mengambang dipermukaan air. Pangkal selangkangan terkoyak dengan isi perut rongga-hampa. Sekaligus saya peroleh pengetahuan tabiat serang predator air itu. Metode caplok-nya mengarah titik lemah tubuh. Bergelinjang sensasi liar siksa korban hinggga mati kelelahan dan atau sengaja seret dalam air. Biar kelelep! Dan itu sudah cara lazim tehnik buaya melumpuhkan mangsa. Selanjutnya seruput jeroan perut korban sebagai menu pembuka. Sebab itu bagian empuk untuk langsung diganyang. Adapun sisa tubuh korban (hewan or manusia) akan di selip-rendam diantara akar yang bersinggungan air. Trik alamiah percepat proses pembusukan, dan sajian daging 'empuk' siap koyak sudah tersedia untuk menu lanjutan. Ngeri sih... tapi cukuplah sebagai imbuh catatan saja. Waspadalah...,
Malamnya kami inap di rumah dinas Camat Labangka. Persis bersebelahan kantor. Berada di rata ketinggian dan menghadap langsung arah Samudra Indonesia. Membuat kami gegas terlelap. Diganjar lelah seharian dan terpa hawa dingin hantaran angin samudra. sensasi Air Conditioner yang betul-betul alamiah.
Beda lagi saat menyusur sungai Sepayung yang menjorok liuk hingga tembus muara dan bilangan petak luas tambak. Masih bersentuhan dengan wilayah utara Empang. Air cenderung payau warna pekat. Hal yang unik disini malah kami temui 1 sumber mata air tawar yang disebut orang lokal sebagai "Dewa Botel". Sangat kontras dengan air permukaan yang dominan payau dan bahkan asin. Mata air ini semacam artesis yang nongol luber permukaan. Bahkan sudah dibenahi dengan membenamkan pipa diameter besar sebagai cerobong luapan-nya. Disekitarnya tampak banyak kerbau berkubang. Dan terlepas dari apapun faktor warna mitos. Syahdan, lokasi ini tetap menjadi zona khusus dari keluarga ningrat Sumbawa. Punya tradisi temurun memandikan jabang bayi baru lahir dari garis trah keluarga sebagai ketentuan syarat yang wajib dilakukan. Pantang untuk dilanggar.
Padatnya jadwal survey, akhirnya kudu kesampingkan niat saya meliput kegiatan masyarakat lokal yang tidak kalah menarik. Produksi khas terasi Empang. Udang pesisir disini terkenal lebih gurih. Bisa jadi akibat belum tinggi tingkat cemar limbah akut. Beda jauh dibanding rasa terasi jawa asal olahan rebon jalur Pantura. Yah sudah lah! urungkan hasrat itu demi tabungan obsesi trip berikutnya, kelak.

zoom Google Earth diatas kecamatan Utan - Sumbawa. Alur sungai Brang Utan.
Nama-nya survey sungai, sudah pasti ada selingan basah kuyup. Lengket peluh selama tempuh alur trip dan terpaan terik nanar mentari. Ogah pake lotion tabir surya. Senantiasa kami bilas mandi kali. Suweeger tiada tara....., Semacam  recharging, energi terbarukan paska gerilya di luasan kerontang sabana.
Yang paling berkesan justru saat hinggap disungai besar yang membelah lintas kecamatan Utan. Sungai Sekokok...sebagian menyebut istilah Brang Utan*. Secara koordinat titik geografis tertera di inset. Observasi di alur sungai ini menjadi salah1 prioritas penting yang diharapkan dari Dinas PU. Karena saking seringnya mengalami musibah banjir saat musim hujan tiba. Dari laporan database ini diharapkan muncul rekomendasi bentuk kegiatan apa yang perlu dilakukan disana. Hasil trek info adalah bakal di canangkan upaya proyek normalisasi sungai. Padahal proyek bronjong tahun sebelumnya tanpa meninggalkan jejak sisa. Akibat Tergerus laju banjir terakhir. 
Gambaran fisik brang Utan, memiliki kontur bebatuan besar-kecil. Spot yang kami tancap BM adalah lokasi zona kelokan terparah yang mengalami gerus erosi. Ukur lebar antar tepi bantaran hampir capai 70m. Saat kondisi debit air level rendah, tubuh alur sungai hanya terisi sekitar lebar 15 meter saja. Dari pantauan kondisi real, zona ini menjadi pusat lokasi penambangan batu kali.Tampak jelas jejak seliweran lintas roda dump truk. Bahkan satu sisi daya gerus banjir telah mencapai batas lahan kebun warga. Cuma tampak jajaran pohon pisang. Minim sekali vegetasi penguatan garis bantaran. Jadi wajar klo tiap tahun menuai efek banjir dari subsidi laju air kiriman up-land.
Sudah sikon miris gitu kog malah bisa saya bilang justru berkesan? Saya gak ada bayangan sama sekali bakal muncul rekomendasi dan langkah penanggulangan apa lagi untuk kawasan kondisi kontradiktif macem gitu. Nanar terik..lagi-lagi aura sabana. Gak menyisakan teduh kanopi tajuk alami pepohonan. Berbaur dengan  gelintir papin (**), kami-pun celup tubuh di sirkulasi laju air bening. Bunyi gemericik zig-zag diantara formasi acak tonjolan batu besar. Sambil sandar batu saya berusaha resapi nikmat sensasi hidayah alam. Eh! lagi enak-enak selonjor mendadak saya geliat kegelian. Rasa geli itu berkelibat di antara kaki dan paha. Ternyata ulah ikan-ikan kecil! Entah mereka sedang gerogoti biang panu atau parasit kulit. Langsung saja saya terbahak senang. Pengalihan daya magis kata singkat  "Eureka".
Teringat konter garra rufa di mall Mataram. Si ikan fenomenal itu ternyata saya temukan disini. WOW... jauh-jauh garra rufa di-import dari negri Turki. Trus kenapa gak pernah tergerak menciptakan peluang dan optimalisasi kekayaan biota negri sendiri. 100% saya bergumam... kebangetan klo otorita pemda lokal gak pernah menyadari aset biota endemik-nya. Semacam alternatif memberdayakan terapi ikan nilem yang ada di Jawa sekitarnya.
Perihal spesies saya belum tau persis. Yang jelas "Pisces utanensis" mungil itu bertubuh mirip garra rufa. Condong panjang langsing dan tidak mirip profil si Nilem. Tubuh Transparan... dan terlihat tipikal sukai air deras. Bahkan saking senangnya, julukan lokal-nya saya sampe lupa. Padahal papin mitra rendam kami tadi sudah sebut gamblang. Pikiran saya langsung fresh.. tidak lagi galau digayut kata banjir bandang. Statistik angka kerugian... maupun konsonan petaka. Ada peluang yang terabaikan di sungai ini. Opini penyeimbang....,

Kemiripan spesimen Laut
ikan Kambingan, Mullidae
Sekarang mari telusur baur biota...,
Secara tingkat persistensi spesies dan family jelas beda. Anggap saja secara taksonomi, trah klasifikasi ilmiah di runut tingkat Ordo. Meski berbeda pula tipe habitat air, Tawar dan Asin. Kalo di amati seksama kelangkapan perangkat tubuh, ciri khas pembeda antar 1 jenis ikan dengan lain-nya. Sampe kemiripan prilaku. Paling tidak ada 3 tipe spesies laut terhimpun di figur Garra rufa (tipe lokal utan) disingkat Gr. Saya gak bisa menjadikan acuan Garra rufa asal Turki, soalnya melihat mereka sebatas etalase aquarium. Bukan di habitat alami mereka. Hehehe....., prediksi sementara saya anggep Gr lokal dan Gr Turki mirip.
1. Jika dipadankan tipe kulit transparan, Gr  mirip dengan kelompok ikan cardinal. atau family Apogonidae. Hanya saja apogon tipe statis. Cenderung pemalu. Ngumpet dan berlindung disekitar teritorialnya jika di dekati. Kontras dengan Gr. Tetap mempunyai teritori tersendiri di balik bebatuan. Tapi cukup friendly dekati manusia.
cleaner wrasse membersihkan mulut ikan Sweat lips.
2. Jika melihat bentuk sungut. Gr mirip sekali dengan tampang Goat fish. Kelompok Mullidae. Lokal sasak menyebutnya ikan Jenggotan atau Kambingan. Gr bersungut pendek, sedang goat fish lebih panjang. Artinya ada kemiripan mereka cara cari makan. Memilah dasaran substrate dengan mengandalkan kinerja sungut. Log sucker istilah keren-nya.
3. Ditilik dari kemampuan adaptasi uniknya. Bagi saya prilaku Gr seperti di anugerahi hidayah khusus, seolah rela bersimbiosis "sementara waktu" dengan mahluk lain (manusia). Meski hanya sekedar rela jadi tukang pembersih. Bak staf cleaning service yang ramah! Di kelompok biota laut. Tabiat penuh pengabdian ini dimiliki oleh kelompok Cleaner Fish. inset samping tampak si mungil Cleaner Wrasse, Labroides dimiatus. Ada juga ikan lain semisal Remora yang nebeng di tubuh sekelompok Hiu. Mereka penggganyang parasit yang menempel di biota induk semang.
Poin ke-3 ini menggambarkan betapa unik bila tatanan sebuah ekosistem bisa terjalin dengan dinamis. Toh gambaran pola simbiosis mutualism juga banyak kita lihat di zona darat. Burung jalak hitam atau bangau yang senang mencari 'kutu' di punggung kerbau. Bahkan jenis burung lahan basah yang ambil peran jadi perawat gigi bagi taring di rahang nganga para buaya.

Jadi, betapa komplit dunia fauna. Baik darat dan perairan...,
Adakah nikmat Tuhan yang patut di dustai?
Ada Doctor Fish.... ada pula Dentist Bird. 



Catatan :
* Brang = istilah lokal menyebut sungai
** Papin = istilah penyebutan lokal untuk kakek tua 

Kamis, 08 Maret 2012

FABEL Fabulous....,

Tentang satwa-satwa menakjubkan...,
Membahas dunia fauna seperti tidak bakal kehabisan bahan. Begitu banyak hal yang dapat digali. Eksplorasi mendalam. Dari sekedar tematik animal behaviour, sampai menekuni varian spesies dalam pecahan sub-family, yang tertata rapi di alur taksonomi. alias taxobox.
Wacana binatang juga demikian menggugah. Undang penasaran dan bangkitkan semangat avonturir. Seperti yang dilakukan segelintir manusia bahula, yang berlabel "Naturalist". Katakan, semacam petualangan yang dilakukan oleh Alfred Russel Wallace. Demi obsesi berkelana ke pelosok bumi dengan hasrat kuat mempelajari dunia satwa. Terutama fokus hobi atas serangga dan kupu-kupu.
Salah satu kisah terkenal adalah penjelajahan ke bumi Nusantara. Menghasilkan catatan fenomenal, karya awal abad 19 otobiografi berjudul "The Malay Archipelago". judul lengkapnya The Malay Archipelago: The land of the orang-utan, and the bird of paradise. A narrative of travel, with sketches of man and nature.
Sebagian perca bab buku itu baru saja saya selesai baca minggu terakhir ini. Bukan setebal porsi lengkap karya asli in english. Hanya kitab sadur dan translasi sesi penjelajahan di Kalimantan, Sulawesi dan Kepulauan Aru. Ini-pun sudah cukup memberi saya sedikit elan pencerahan. Keciprat rasa petualangan. Meski ironisnya, buntu pengejahwantahan dalam arti harfiah. Gak bisa ngerasain langsung. Hanya berlatih asah fantasi dari sebuah hakikat sinergi karya tulis. Benarlah metode iqra. Membaca menyisipkan energi taqwa pada segenap ciptaan mahluk-Nya.
Kenes... haru biru... sebiru luasan cacah tanah-air nusantara yang belum bisa komplit terjajaki. Lebai - alai... perasaan hiperbolis.


Kitab Suci hingga program acara TV
Hal-nya pada muatan ayat-ayat Qurani. Berjajar surah dicuplik dari perwalian ayat yang terkandung nama satwa. Paling awal, ada Al
-Baqarah berarti sapi betina. Al-An'am lebih berkonotasi kolektif pada kalangan hewan ternak. Al-Ankabut merujuk pada laba-laba. Kandungan pesannya sederhana. Menggambarkan situasi yang lemah. Filosofi kondisi tatanan yang seolah menganggap kokoh, tapi sejatinya labil. Lemah mudah goyah. Seperti lemahnya kekuatan sarang laba-laba. Kaitkan pada kondisi struktur masyarakat jaringan, fenomena triple W, World wide web. Kait mengait, berujung pada kanal-kanal identik, rana tehnologi informasi (IT). Seolah tatanan gaya baru dari sebuah wadah masyarakat edisi terakhir. Beraksi satu sama lain melalui piranti dan gadget mutakhir. Seolah bumi begitu mudah di lipat. mengakali batasan regional.. menembus batas ruang dan zona waktu. Dan ajang silaturahmi tatap-muka konvensional seperti kehilangan makna harfiah. Sebagian pendapat bilang gitu. Padahal, gak total begitu. Bahkan tehnologi memang seharusnya sejalan peradapan. Tele-conference contoh tehno-terapan sebagian.
Seperti juga munculnya tokoh super hero 'Spiderman' ala Marvel. Inspirasi dari rujuk satwa mungil yang cuma lantaran terkena radiasi, akhirnya melahirkan sosok fenomenal. Pe
ter Parker as Netter, penebar senjata jaring... sang pembasmi kejahatan di amrik. Lalu kenapa bisa dikatakan secara kitab suci bahwa ordo-jejaring ini lemah. Hemm, perlu ada kajian di posting tertentu. Kelak... mungkin malah ntar lagi.
Kisah al-ankabut gak selama-nya bikin persepsi kalang-kabut. Ibrah nabi besar Muhammad SAW juga mencatat kisah unik. Spesies laba-laba bahkan mewarnai blantika sejarah hijrah, Mekkah-Medinah. Sweeping yang dilakukan kaum Quraisy, saat Rasullulah & Abu Bakar bersembunyi di gua tsur.
Dan satu lagi disebutkan sejenis merpati gunung. Besar kemungkinan merujuk pada keluarga kelompok merpati-dederuk-perkutut dan tekukur. Tubuh sedikit langsing. Inisial yang kerap disebut wong jowo, manuk puter. Berasal dari lafal ujar english pouter. Berdasar kisah tadi, tarik simpul mudahnya, tribute to animal itu berlaku. Memang ada!. Pantaslah bila ada sebagian pendapat anggap merpati sebagai lambang cinta. baca link "Mengapa burung Merpati dianggap sebagai simbol cinta". Hanya saja penjelasan di kanal itu masih terlalu singkat. Nurut saya sih!.

Sekelompok merpati digambarkan sebagai pendamping ikon utama, dewi Aprodithe. Hanya obyek penyerta yang disinergikan pada figur si dewi asmara. Bara cinta mengapresiasi hasrat padu cinta, make love! Gak lebih cuma sosialisasi fenomena sex-appeal terselubung. Mestinya akan lebih sesuai bila sang dewi di sinergikan pendamping kerang. Biota laut penghuni kontur dasar perairan. Sebab kerang memang dikenal penghasil Afrodiziac, zat pendongkrak libido lelaki. Begitulah kira-kira analisa mudahnya. Seperti apa yang di ekspresikan dalam dunia horologi, pabrikan merk Rolex. Menelurkan salah satu spesies karya arloji dengan jajaran spesimen oyster. Selain merujuk daya tahan dan ketangguhan, juga cermin aura maskulinitas.
Agak beda, bandingkan sosok merpati jika rujuk lambang kedamaian. Lucuti ke-angkara-murka-an, melerai pihak yang bertikai. Persis seperti gambaran ibrah dalam sejarah hijrah yang terpapar. Jika saja pasukan mekkah mendapati ada 2 musuh sembunyi dalam gua. Tentu akan ada pertumpahan darah. Letak sarang merpati di mulut gua justru meragukan para pemburu 2 insan hijrah perdana. Gak mungkin burung ini mau bertelur di gua yang akan di masuki manusia. Tuhan maha berkehendak atas segala skenario hidup!
Versi penamaan qurani selanjutnya adalah Al-Fiil, surat Gajah.




satwa kelompok


teori bahtera Nuh