Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Maret 2020

Outingclass TK Barunawati di Repuk Japri Farm (episode#50) || Parenting





Mendampingi krucil,
Liputan kalil ini berupa kegiatan sekolah mengunjungi lahan pertanian di tengah kota Mataram. Repuk Japri farm, "Repuk" dalam bahasa sasak adalah penyebutan untuk dangau (bilik kecil) berada ditengah kebun/persawahan. Tempat lepas penat usai berakivitas cocok tanam. Pemiliknya bernama pak Japri. Bagi kalangan supplier sayur/buah lebih akrab dengan inisial "JEFF" (plesetan Japri jadi Jeffri). Nama yang disematkan oleh rekan pekerja lapangan dinas pertanian, Tenaga Pendamping petani.
Dan tentu saja, kegiatan ini menyenangkan selain lahan edukasi dan tematik argo-wisata yang patut dikembangkan sejak dini. Semoga ada hikmah pembelajaran yang bisa dipetik. Salam generasi hijau.

#outingclass #TKBarunawati #edukasilingkungan



Minggu, 18 September 2016

Melacak jejak BINTARO

TPU Bintaro - Ampenan.
Yah..., sejak kegiatan biking lewat makam Bintaro-Ampenan. Sejak itu juga kami digayut rasa penasaran. Vegetasi yang identik tanaman pesisir khas ini justru 'raib' di spot lokasi yang jelas" sandang julukan nama-nya. Bernama latin Carberra manghas... pohon buah ini memang agak mirip mangga. Helai dan rumpun daun-nya juga sama. Cuma penampakan buahnya beda. berkulit mulus kinclong.. eye catching memerah jelang matang. Tapi gitu kering bentuknya buahnya berserat menyeramkan.  

Khususon Mataram, eksistensi-nya justru banyak ditemui di beberapa lingkup jalur hijau. Green belt pematang aspal.. dan sebagian bidang tanah pemukiman dan Ruko. Rupanya para pengembang lebih melihat kemampuan tumbuhnya yang cepat. Lalu dipilih sebagai vegetasi peneduh handal. Saya belum runut ketahui dimana pusat pembibitan-nya. Namun, besar kemungkinan 'penetrasi' utama melalui stokist penjual bibit tanaman.  
Sebagai vegetasi khas pesisiran. Dia menjadi kelompok minor yg bisa beradaptasi hingga jauh ke darat. Selain itu, bintaro juga memiliki "citra miring". Kandungan zat senyawa cerberin... sangat berpotensi arsenik. Sifat racun kuat.. sangat toksik. Terutama pada bagian daun dan buah-nya. Bahkan runut referensi secara sejarah peradapan dipakai untuk media bunuh diri. Hingga olesan racun pada senjata sumpit untuk melumpuhkan hewan buruan. Dikatakan kuat kadar racun karena bisa mempengaruhi ritme detak jantung. Semacam pola tehnik serangan jantung buatan. Heart Attack artificial... not disease!!! Swear... ragara estapet sidang Jessica Wongso yang sustainable. Sempat kepikir, ah! jangan-jangan Mirna tewas lantaran getah Bintaro. Hihihi....analisa ngawur! 

Bintaro tentu punya manfaat lain. Misal pengendali hama.. sebagai Bio-pestisida. Bahkan menghalau tikus rumah untuk hengkang. Aromatik cerberin itu musababnya. Tapi tentu saja klo gak bijak membekali pengetahuan pendamping bisa bahaya. Terutama anak kecil. Apalagi ditengarai tanaman ini sudah cukup marak ditanam di wilayah kota. Mudah dijangkau anak-anak. Secara naif, bisa jadi babat habis di pekuburan Bintaro Ampenan sebab terkait status sebagai zona pemanfaat lahan makam. Dan dianggap vegetasi merugikan. Bintaro di berangus, tebang ludes. Tapi, lahan-nya dikhususkan untuk "menanam jasad orang mati" (jenazah). Giliran berpeluang sebagai tanaman peneduh malah marak di tumbuhkan oleh para developer. Padahal memiliki kans efek mematikan. Perlakuannya gak seperti pohon penghias jalan lain. katakan semacam Mahoni-Angsana-Flamboyan-Saga. Yang oleh Dinas Pertamanan Kota Mataram dibuatkan khusus berupa plat nama, semacam name tag. Tanpa informasi memadai.
Be CAUTION please!!!!







Selasa, 29 Maret 2016

mengenal Tanaman Obat

Green...green-eration...,
Sebenarnya gak susah kog cari materi buat sekedar cari muatan pendidikan lingkungan yang paling gampang. Gak musti harus jauh-jauh berandai-andai. Kapan yah bisa bareng keluarga kunjungi Kebun Raya Bogor ? atau jenguk kebun Teh dengan hamparan luas, gundukan gunung di Cipasung-LemahSugih - Majalengka. Atau misal kesempatan lain bisa disiasati jika kelak mudik Malang. Ada perkebunan Teh Wonosari Lawang. Sekalipun kumparan dalil ini bisa (kelak) menjadi terapi penyehatan yang lain dengan muatan pengenalan wisata Agro di belahan daerah lain. Bagian dari upaya alternatif wisata hijau dan kegiatan safari keluarga. Paling tidak jadi tabungan agenda kunjung jika mbesok-mbesok ada cadangan dana, atau bahkan talangan ongkos kirim dari philantropist yang tergerak berbaik hati. wkwkwk......, ngarep terselubung !

suweq... lokal sasak menyebutnya Lombos
Okeh, sejenak mengulas sesi investigasi tanaman obat yang sudah lewat. Masih dalam rangkaian kegiatan sepulang dari gabung acara pelatihan tim bekam di Benete-Sumbawa Barat. Awal Desember 2015 lalu. Tadi-nya ada beberapa agenda pengajuan untuk diklat lanjutan yang berkaitan dengan pengembangan tanaman obat. Dari jenis tumbuhan liar yang bisa ditemui disekitar lingkungan terdekat. Tanaman yang mungkin selama ini sering tidak di gubris sama sekali. Namun jika di tilik dari kajian dan manfaatnya ternyata sangat baik demi menunjang stabilitas kesehatan. Ini relevansinya dengan geliat kembali pada tatanan kesehatan mandiri. Dimana suplai bahan bisa diperoleh cukup mudah baik kategori rempah dapur. Atau dulu kita mengenal dengan aneka tanaman 'Apotik hidup'. Sejalan waktu berubah istilah lagi TOGA. Tanaman Obat keluarGA.

kumis kucing
Terkait dengan sesi singkat saat kami dan tim melakukan rapid identifikasi di sekitar pantai Maluk. Beberapa vegetasi yang ditemui kurang-lebih sama dengan beberapa varian umum. Baik yang ditemukan di sekitar ladang dan kerap di anggap gulma. Biasa terlihat di pekarangan dan halaman rumah. Jadi untuk melakukan pembelajaran tingkat dasar sebenarnya menjadi mudah. Anak-anak bisa dilibatkan langsung. Tidak saja silabus pendidikan secara rumahan saja, tapi bisa disiasati dengan sisipan saat melakukan kegiatan luar. Outing class. Bersepeda santai saat menyusuri wilayah pinggiran kota bisa menjadi opsi menarik lainnya. Tanaman yang dominan berkhasiat obat sekarang bukan lagi yang identik sengaja di tanam demit ujuan stok bumbu. Namun yang kategori gulma/liar kini mulai ikut dalam daftar wajib tau. Kenapa perlu? Setidaknya hal ini terkait kajian dan pendalaman sitir ayat Kitabullah. "Allah menciptakan penyakit... sekaligus obatnya". Tentu saja ini merupakan rangkaian ikhtiar. Bukan lalu semata taqlid memandang bahwa sakit adalah hidayah sarana mengikis dosa saja. Dibalik ungkapan ini terdapat sinyal tersembunyi. Bahwa bisa jadi tipe-tipe penyakit yang dialami seorang pasien... ternyata obat-nyapun tidak berada jauh dari lingkup mereka tinggal. Bahkan berjarak hanya sekedar jengkal kaki.

Paling tidak menjadi bekal pengetahuan dan bisa dijadikan racikan obat dalam keadaan kritis/emergensi saat dibutuhkan. Tahap belajar selanjutnya adalah mengenal inisial identik dari jenis tanaman bersangkutan. Beserta manfaat dan serba-serbi penyakit yang bisa ditanggulangi. Toh, Internet sudah cukup mumpuni secara basis informasi data. Lengkap...kumplit..plit! Tinggal kita sendiri tergerak apa tidak. Ini bisa dimulai dari teritorial sendiri... sejak dini.. memberdayakan dan menginisiasi pasukan cilik agar pembekalan itu tumbuh-kembang sesuai fitrahnya. Go and Growth....,


Dan foto dibawah ini beberapa jenis yang ditemui sekitar rumah...,


Remek Daging/Sambang getih (Purple Waffle Plant) Link1 Link2  

 Pohon Pisang & Manfaat pisang 


 Tanaman 8 Dewa
   
Jambu Biji & Khasiat 

Sirih & khasiat Sirih 

Tanaman Akar Kucing/ Kucing-kucingan (Acalypha indica) & khasiat

Jeruk Nipis & khasiat obat 

Tumpangan air/bayam-bayaman/Suruhan (Peperomia pellucida) & khasiat obat

tanaman Katuk (Sauropus androgynus) & khasiat obat
lokal sasak menyebutnya Sager

Pohon Sirsak  (Annona muricata L.) & Manfaat obat

tanaman Putri malu (Mimosa pudica) & Khasiat obat 

Rumput mutiara (Hedyostis Corymvosa) & khasiat obat


Euphorbia....

Sirih Merah (Piper ornatum) & khasiat obat

Meniran (Phyllanthus urinaria) & khasiat obat

Patikan Kebo (Euphorbia hirta) & Khasiat obat
*Masih status pelacakan identifikasi 

*Masih status pelacakan identifikasi


Tambahan cerita....,
Pengenalan jenis tanaman berkhasiat ternyata tidak saja terbatas pada jenis liar yang ada disekitar rumah. Secara gak sengaja, tetangga samping rumah sedang menjemur sesuatu. Lumayan juga sebagai bahan referensi dan pengenalan vegetasi tambahan bagi para bocah.
Sesi tanya-jawab ringkas dan ringan dengan om Gun. Rupanya secara fisik tanaman ini lebih identik kelompok tanaman pendompleng (epifit) pada tanaman induk lain. Sifatnya mirip benalu. Anggrek maupun kelompok pakis pohon. Belum kenal nama latinnya. Klo masyarakat Sumbawa menyebutnya dengan nama tali angin. Keberadaan-nya bisa dianggap sebagai 'gulma'. Menyerap unsur hara hingga bisa membuat mati perlahan tanaman inang. Pohon sebesar apapun akan jadi lapuk. Dan dalam kurun waktu berjalan akan tumbang dengan sendiri-nya. Kebanyakan populasi tumbuh memadati kanopi dan sekujur pepohonan di dataran tinggi sekitar 1000-1500 dpl. 
Bahkan ada inisial unik dari seorang ahli botanist asal Gurkha. Tamu yang pernah saya pandu. Kebetulan saat itu kami baru turun dari wilayah Santong dan Sembalun. Paska melewati gundukan Gunung Pusuk dan liuk aspal berikutnya. Tibalah kami di zona pepohonan yang 'multi bulu' itu. Lokasi paling banyak ditemui tali angin. Saya gak terlalu fokus pada obrolan duo-tamu karena tugas nyetir. Tapi dari celetuk obrolan dia menyebut tanaman itu sebagai witch's hair. Alias rambut penyihir! Mungkin konotasi kesan menyeramkan itu. Sekalipun saat itu saya agak blank dengan istilah latin-nya. Tapi untung ada mbahkung Google. Ternyata strata klasifikasi adalah fungi/fungus alias jamur, spesies Alectoria sarmentosa. Menariknya, ternyata mereka dianggap sebagai vegetasi pemantau kualitas udara.
Rada mirip tapi kudu dibedakan dari kelompok Cuscuta(dodder, indo = tali putri) karena lebih identik tanaman sejati. Justru dodder lebih identik kelompok vegetasi biang hama (parasit).    



Satu sisi, sebagai gulma statusnya mungkin  dianggap merugikan dalam struktur siklus ekosistem. Tapi bagi masyarakat Sumbawa tidak. Si gulma ini justru bermanfaat. Sebab bisa diolah sebagai bahan alami serbuk perawatan wajah. Utama-nya kalangan perempuan. Cara-nya cukup dengan menumbuk hingga halus. Mungkin bisa juga dengan campuran bahan lain.
Selain bisa untuk pemakaian rutinitas harian. Serbuk perawatan wajah ala tradisional ini juga kerap disisipkan sebagai ritual adat perkawinan. Sebutan-nya Barodak. Calon mempelai wanita dilumuri sebagian besar tubuhnya. Terutama wajah dan lengan-tangan. Tujuan-nya agar si perempuan terlihat kinclong dan cantik pada momentum pelaksanaan prosesi pernikahan. Yah, semacam tradisi Malam Widodarenan pada adat Jawa. Bagi warga Kampung Melayu - Ampenan, prosesi macam gini juga ada. Sedikit terpengaruh dengan warna budaya kalangan arab. Disebut Malam Pancaran. Meski beda secara metode dan tata cara, tapi bagian yang wajib ada adalah proses luluran diikuti tahapan tetek-bengek berikutnya.


Poin Pencerah :
Setidak semoga wacana dan referensi diatas bisa menjadi bahan olah pikir dan renungan. Sebagaimana terapan pada ihwal kajian kesehatan mandiri ala thibbun nabawi. Semboyan-nya cukup sederhana "jadikan makanan-mu sebagai obat... dan obat-mu sebagai makanan". Imbauan-nya agar kita lebih mawas diri pada konsep kepedulian dari hal sederhana. Termasuk bagaimana orang dahulu mengatasi penyakit jika mengalami keluhan organ teori lebih simpel. Cukup mencari bentuk buah dan sayur yang memilik bentuk serupa dengan organ yang terganggu tadi. Misal Pegagan di identikkan dengan atasi keluhan otak. Wortel untuk kesehatan mata. Dan lain-lain. Untuk sinergi wacana bisa langsung kunjung laman   http://blog.8share.com/id/ajaib-10-makanan-ini-berbentuk-mirip-dengan-organ-tubuh-yang-memang-membutuhkannya/
Termasuk jika dikaitkan apa korelasi masyarakat Sumbawa mengapa bisa memanfaatkan tali angin sebagai salah satu bahan lulur.  Apa asal muasal cerita sehingga si rambut nenek sihir itu diyakini sangat berkhasiat sebagai bahan kosmetika alami. Adakah catatan lontar semisal takepan sebagai literatur pendukung? Hm..terlalu naif jika tidak mendatangi sendiri kalangan budayawan lokal. Kelak jika ada kesempatan.
Tapi ini sebatas analisa dangkal saja ya. Tips mengenal makanan yang bentuknya mirip organ tubuh manusia. Setidaknya penjelasan wikipedia agak sedikit beri titik terang. Lichen dikenal sebagai tanaman pemantau kualitas udara. Mereka adalah cermin dari penumpukan polutan udara. Fungsinya acapkali dikumpulkan untuk analisa unsur jaringan. Disamping lichen memiliki kandungan serat yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan medis. semisal bahan pembalut, perban dan diapers. Sederhana-nya gini... dengan wajah kita yang mudah terkontaminasi debu dan polutan apapun. Pantaslah jika kita perlu merawatnya. Toh serat serbuk lichen ini secara harfiah fungsi memang mampu menyerap unsur polutan dalam jagat kosmos lebih luas. Jadi konotasikan saja sebagai bahan olahan jadi serbuk  lichen juga pasti punya sifat yang sama. Entah sebagai pengusir flek-flek diwajah. mengangkat jaringan mati semacam efek ampelas. Demi memperbaharui agar paras ibu-ibu.. dan remaja putri di tana Samawa bisa lebih segar. Memancarkan kecantikan alami..bukan atas rekayasa permak sulam alis. sulam bibir... benang wajah. Bahkan ungkin operasi plastik! hihihi...,

Be Nature with Environmental....,  tentu-nya akan lebih manjur jika ditambah bilasan wajib 5X via terapan aplikasi wudhu. Salam lestari....,

Rabu, 23 Maret 2016

dampingi bocah....,


Wacana rumahan biasa...,
Seperti ungkap sebelumnya. Kadang dibikin repot menghadapi perkembangan para krucil. Sejalan perkembangan IT...gadget kini lebih mendominasi setiap sendi kehidupan. Seperti gak bisa berpaling barang sejenak. Gadget gak lagi sekedar alat permainan dimana aplikasi variasi permainan(game) bisa didapat lebih lugas. Tinggal tersedia koneksi internet apapun tersedia. Gak kayak jaman kami generasi di tahun 90-an. Kami mengenalnya gadget konvensional berupa game watch. Beranjak kurun waktu pindah Sega atau Nintendo. Masuk era 2000an beralih PlayStation. Dengan gulir waktu dan percepatan inovasi tehnologi, perangkat elektronik tadi seperti tergilas roda peralihan jaman. Peralihan geliat era digital semakin drastis membuat fenomena serba instan. Dampak yang paling buruk tentu saja jika timbul ketergantungan. Apalagi ketagihan... sampai bikin prilaku anti sosial. Apa sampai segitunya? ya klo dibiarkan kebablasan bisa jadi begitu. Sekalipun ada juga kasus spesifik yang ekstrim. Tewas karena over dosis 'ON' terus ngadepi monitor. Jadi tinggal jenis manusia-nya saja menyikapi. La wong sekarang ini juga unik. Pada tatanan tertentu kasus Gamer maniak.. pemain game malah jadi pilihan profesi. tingkat PRO loh! Nimbrung dalam kompetisi game dengan pemain luar sana. Dan dibayar dengan nominal fantastis. Contoh sosok Monica Carolina. Dan itu jadi gak masalah... hak mereka. Selagi bisa konsekuen dengan pilihan hidupnya. Mau bilang apa klo faktanya, peradapan Tekno juga punya efek negatif-positif. Baik-nya melihatnya dari kacamata timbal-balik. Industri besar yang melahirkan beberapa inovasi permainan itu kan juga telah menciptakan. Butuh pangsa sasaran secara target ekonomis potensial. Jadi wajar klo berperan sebagai sponsorship. Gamer maniak yang kaliber-nya sudah diakui dunia itu jadi semacam estafet promosi. Sistim peradapan yang berdinamika. paling tidak sudah jadi pengamalan sila pancasila "kemanusiaan yang adil dan beradab". Punya adab bayar para jagoan pelotot monitor dan korps pesenam jari tadi. Juncto sebagai sinergi pendapatan alternatif maupun utama para pembuat game. Contoh yang dilakukan si 'buruh' keren Hendry Jhie. Baca liputan kisah inspiratifnya di SINI. Hehehe........, Era keterbukaan sekarang kadang memang binal-binal aduhai. Gurih menggiurkan. Anda berpotensi... ulet.. dan profesional, pihak Google-pun mawas untuk andil timbal-balik. Be Play to Pay !!!   


Lalu, sinergi-nya dengan para bocah apa? Yang gitu kan hanya sekedar contoh kasus. Gak bisa dipaksakan. Karena akan kembali pada bakat ..minat dan kesempatan berkembang sejalan waktu. gadget dan segala tetek bengeknya adalah perangkat tambahan hasil olah-budidaya kemanusiaan. Memecahkan sekat-sekat halangan dan mencari solusi dari rutinitas hidup yang dijalani.
Keberadaan telapak tangan lengkap beserta ruas jari adalah anugrah Tuhan yang patut kita syukuri. Dikenal sebagai salah satu pelengkap unsur dari panca indera. Dari tool yang multi guna ini kita bisa memberdayakan sebaik-baik hakikat manfaat. Tujuan apapun! Dari ber-kreasi... menggunakan... hingga jalin pembauran organ tangan-tangan lain. Semacam cengkrama...jabat tangan dalam arti konotasi silaturahmi. Bersosialisasi melalui wadah sinergi pergaulan. Gak cuma di jagat maya... tapi porsi utama-nya dunia Off-Line. Kira-kira gitu. Bocah-bocah harus tumbuh secara alamiah... mengenal lingkungan dengan perantara perangkat indera. Sebagaimana mana cara awal kita-kita belajar gerak...merangkak... berdiri dan berjalan, sambil meraba sana-sini. Jangan terbalik.... gak kenal alam habitat sekitarnya. Tapi justru dipermak melek gadget sejak masih balita. Tangan mungil mereka lebih piawai bermain tuts...lebih akrab metode touch screen. Alhasil, polemik senam jari sejak dini.....,


Dipikir-pikir lagi... parenting itu memang gak mudah. Tapi juga tidak senantiasa njlimet. Gak mawas.. mudah tergelincir. Terabaikan barang sejenak, bisa tersesat di hutan Amazon. bwehehek! Tapi selalu terbuka kesadaran. Peluang perbaikan dengan tambal-sulam pernik peristiwa. Harapan dan kajian hidayah waktu. Petik hikmah dari pelajaran-pelajaran berharga. Sesuaikan dengan situasi masing-masing! 

Pesan MORAL
"ayo main...tapi jangan mau dipermainkan"
  

Kamis, 17 Maret 2016

Mengatasi si Bungsu....,

Hm.... begini-ni....,
Belakangan, saya memang harus mawas diri. Perihal kenapa hasrat menulis itu jadi merosot drastis. Masalahnya sebenarnya sepele. Kog rasa-nya begitu malas menulis tentang hal remeh-temeh sekitaran wacana harian. Terjadi dan dialami nyaris tiap hari sebagai menu rutinitas membosankan.

Lagi-lagi soal kepentok ego. Dulu, begitu terpikir bahwa saya termotivasi untuk selalu menggali sesuatu yang baru. Menggugah semangat dan mengundang antusias untuk mengulas dalam bingkai wacana khusus. Khas sajian berita ala citizen journalism. 
Tiba giliran-nya situasi bisa begitu mudah membolak-balik tatanan. Yah wajar.., sebab gawean dan tuntutan saya pasti beda pola dengan para tabiat para penulis. Taat, getol dan berkesinambungan pertahankan mood. Reporter.., hingga wartawan yang sudah wajib dituntut secara korelasi profesi. Saya (parah-nya) lebih terpola acakadut. Menulis klo ada mau-nya..agak ternoda pamrih meski bukan total demi tujuan komersil. Sebab upaya blogging saya didasari atas pondasi multi tujuan. Spesifikasi misi niaga ada sendiri. Jadi gak campur-baur. Dan blog utama ini saya anggap sebagai kanal induk. Tempat berbagai wadah umbar cerita. Dan sejauh ini laman masih bertahan 'steril' dari jerawat iklan, adsense google misalnya. Toh, gak menjamin fluktuasi visitor. Apalagi punya follower fanatik. Blogger yang bersahaja.

Jadi, faktor 'resmi' kenapa saya gak bisa aktif nulis lebih pada sinergi dan sirkulasi rumah-tangga. Rumah kecil tanpa loteng. Fasilitas lengkap tangga bambu untuk benahi genteng mlorot.
Klo dulu bocah-bocah masih kecil. Usia balita dan jumlah minim. Sejalan waktu pasukan nambah. Kicauan mereka makin hingar-bingar. Hehehe..., melalap jatah porsi pengalihan minat menulis seperti sediakala. Dulu, alokasi waktu keliaran-nya bisa banyak. Tanggung jawab pendampingan mulai menuntut lebih. Lumrah saja.. memang tugas dan peran  sebagai status ortu. Hal-hil yang lumrah. 
Tertekan kadang iya!... tapi dengan sikap terbuka menerima. Segala-nya bisa welcome to my life.. it's my life. Terlebih.. back to mawas diri lagi. Bahwa penyajian cerita gak perlu (melulu) lagi menghitung
kadar bobot tema adventurir. Pra-tematik silam yang lebih saya gandrungi. Bahwa keindahan kebersamaan keluarga itu juga menarik dijalani. Dan kalau-pun di-share anggap kali ini saya memang dalam koridor parenting. Program kurikulum rumahan yang sangat leluasa untuk dikembangkan. Tanpa menutup kemungkinan, kelak semuanya bisa dilakukan baik secara indoor maupun outdoor. Go flow...saja!

So,kenapa 'Mengatasi si Bungsu'?
Kog judul ini yang dipilih. Fakta-nya, biang paling cerewet dalam rumah itu ada pada si sosok bontot. Serasa jatah energi parenting itu paling nyedot kesana. Sosok yang paling minta perhatian lebih. Mentang-mentang terkecil. Hihihi..., 
Agak paling kompleks ditangani meski bukan berarti di manja. Butuh media pengalihan dan trik khusus selagi cerewet-nya kambuh. belum lagi konflik kemauan dengan para kakak-nya. Makin runyam dah! pentas duniawi. Hahaha..tapi menyenangkan dijalani. Bertabur atribut ujian suka-duka. Next, biar diwakili foto terlampir.