Tampilkan postingan dengan label sejarah budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 April 2016

Batik LokCan

dokumentasi pribadi
Tuntut-lah ilmu sampai ke negri China....,
Terlepas dari kekuatan sanad hadist yang masih jadi wacana perdebatan. Bahwa gak bisa di pungkiri peradaban negeri Tiongkok itu sudah mahsyur sejak lama. Melewati perkembangan lalu-lintas budaya dan peradapan yang sudah diakui eksistensi-nya oleh berbagai ragam bangsa di belahan dunia.
Saking mahsyur-nya, nyaris semua rana aspek humaniora berdampak nyata pada bidang kehidupan. Semisal bidang ilmu pengetahuan, dunia maritim, sastra, seni, kesehatan. dan lain-lain. Geliat warna sejarah itu sedemikian rupa berkulindan. Baik sebab proses pembauran budaya. akulturasi. Penyebaran dalam sisip alur duta perdagangan, darat-laut. Proses kunjung-singgah hingga menetap pada sirkulasi pola demografi suatu wilayah teritorial.
Lalu apa hubungan-nya sejarah dengan selembar textiel? dalam hal ini relevansi budaya dari produksi secarik kain sebagai perangkat busana. Dalam kurun waktu lalu telah memberi kontribusi corak dan motif khas. Selanjutnya dipadupadankan dengan kesenian batik tulis. Dan kenapa juga disebut sebagai Batik LokCan?



kehebatan armada laksamana ChengHo
Benang merah runut sejarah....,
Ucapan syukur dan terima kasih tak terhingga kepada para pendahulu yang telah membudi-dayakan kebiasaan menulis. Setidaknya makin mudah merangkai kisah sejak epos perjalanan sang penjelajah asal Tiongkok, Laksamana ChengHo
Disebut dalam kurun abad 1400-an telah melakukan perlawatan ke Nusantara. Terutama zona kawasan utara Jawa Tengah. Salah satu kru/anak buahnya dianggap sebagai tokoh sentral pengembang gaya corak batik LokCan. Dengan wilayah sentral pengembangan batik Lasem (Lao Sam). Yaitu Bi Nang Un dan istrinya Na Li Ni.  Apalagi Lasem sangat identik dengan julukan Tiongkok kecil. Kedua pasangan itu yang kemudian banyak melakukan inovasi pengembangan corak batik khas. Selain tentu saja membuka bengkel batik demi tujuan perniagaan. Paling tidak terjadi proses pengenalan tehnik dan motif itu kepada para karyawan-nya. Kelak secara turun-temurun akan berkembang secara signifikan dalam skala home industri bagi kalangan pribumi. workshop-workshop berdikari.
Menariknya lagi kawasan pesisir utara (dikenal sebagai garis Pantura) merupakan peta global penghubung sentra batik khas tema Pesisiran. Motif dan corak lebih berani karena membawa nuansa egalitarian. Sekalipun begitu bukan dianggap sebagai pioner dalam pengembang batik jawa. Sebab jauh sebelum para moyang dan rentet tionghoa peranakan ini mengembangkan mata rantai bisnis tekstil batik. Kebiasaan batik sudah banyak dikembangkan khusus oleh kerajaan non pesisir sebagai kepentingan internal mereka. Motif berkesan klasik. Punya kesan filosofi dalam. Dan tentu saja hanya digunakan kalangan istana saja. Menjadi tugas desainer, atawa ahli tata busana istana untuk lebih piawai mengatur urusan itu semua. Batik bermotif yang memiliki hirarki kasta. Sebab dibedakan untuk kalangan keluarga istana/penguasa... tingkat punggawa hingga abdi dalem. Kalau-pun ada berkembang sentra pengembang batik diluaran tembok istana. itu semata gaya kemudian. Secara tehnik pengerjaan masih juga dipengaruhi oleh kalangan unsur istana. Namun inovasi corak kudu beda. Sehingga kemudian lahir istilah pembeda, kenapa ada batik saudagaran hingga batik petani. Dus, pengkhususan batik sandang untuk kalangan jelata. Arus bawah. Semacam korelasi kenapa ada penyertaan isen-isen motif Rumput. Ya itu tadi, semacam pesan kesadaran diri...wong cilik, komunal akar rumput. 


burung Hong
Memang akan sangat kontra jika dibanding motif batik gaya 'pesisiran' yang menghalau total kesan monarkhi tadi. Motif bervariasi.. berani secara corak. Gak tergantung pakem tradisi. Namun gak berarti tanpa muatan filosofi sama sekali. Dan banyak mengadopsi ikon-ikon khas dari negeri induk, China. Dari sekian ikon binatang, singa, naga, burung merak hingga adaptasi multi-rupa burung phoenix. Aves Phoenix paling banyak menjadi atribut utama. Dikenal sebagai debut burung Hong. Perlambang pembawa keberuntungan. Kelahiran kembali hingga dipercayai kemunculan pada masa damai dan makmur. Sebagai burung mitologi sebenarnya phoenix tidak saja disanjung di negeri Tiongkok sana saja. Phoenix telah menjadi milik silih bergantinya  multi peradaban silam yang sarat tafsir pemaknaan juga di apresiasi dengan porsi lebih. Fabelous animal. 


Eksistensi-nya begitu sangat fenomenal. Legenda Fenghuang. Padahal kalaupun di runut kadar kenal ciri bisa jadi keindahannya adalah refleksi dari fisik Golden Pheasant. Ayam hias asal Tibet. yang tentu saja secara kompleks wilayah masih merupakan kerabat dekat negeri Tiongkok. Negeri dataran tinggi (up land) yang di identikkan negeri para Dewa. Semacam energi keabadian berada di titik dataran puncak sana. Well, bisa jadi ini baru sekedar sekelumit singgungan yang hanya porsi upil di ujung jari. Bertebaran informasi menarik bisa ditemui di kanal-kanal maya sana. Semisal demi menikmati eksotisme si burung Golden Pheasant bisa melacak di rujukan KLIK. Phoenix... as Hong. Pantas saja negeri tirai bambu itu dikenal dengan sebutan lain HongKong.

Apa sih batik motif LokCan ?
Kembali topik utama bahasan batik Lokcan. Titik awalnya, saya kesulitan runut nama khas paling identik pada ke-4 koleksi batik tua yang kami miliki. Hanya ada embel-embel ringkas 'batik Rembang' dari pemilik pendahulu. Melalui serangkaian browsing akhirnya ketahuan juga nama batik ini adalah Batik Lokcan. Ciri paling khas dari penampilan ornamen sangat sederhana. Warna tunggal. Untuk tipe lokcan asli garapan tempo bahula bahan dasar kain dari sutera alam. Merupakan bahan impor langsung dari negri tiongkok. Sinergi-nya tidak lepas dari alur legendaris supply jalur sutra (silk road). Bahan akan lebih lembut dan serat kain lebih halus dari sekedar batik bahan mori katun. Meski juga dibandingkan dengan kain katun import pada generasi batik-batik tempo dulu.


dokumentasi pribadi
Motif lokcan memang unik. Selain menampilkan burung Hong sebagai menu wajib juga dibubuhi pernik ragam hias isian motif kembang. Tapi yang paling mudah di tandai adalah penyertaan tambahan helai-helai menjulur pada daun & buah/bunga. Bagi saya pribadi seolah rupa sisir. Sehingga cocok disebut langgam Comb looks-like. Entah ada maksud tertentu dari penampilan rupa itu dari buah pola pikir atau sebatas inovasi dan hasil kreativitas abstrak para pembuat desain-nya. Yah! ada beberapa probabilitas.
Satu kanal menyebut bahwa Lokcan (eja : luk cuan) secara etimologis berasal dari Lo bermakna BIRU dan Can artinya sutera. Inisial sutera biru merujuk asal bahan. Konon bahan asli sutra sebelum diwarnai agak warna kesan kebiru-biruan. Sekalipun pada salah 1 dari ke-4 sampel batik lokcan ada beberapa sudut bagian kain yang menyiratkan warna biru. Riskan juga jika dikaitkan dengan konotasi asal warna dasar tadi. BIsa jadi benar tapi bisa salah jika ternyata biru ini akibat tertular lunturan dari kain lain saat pencucian. Masih perlu penelitian kasus lebih jauh.


format dasar desain padi-kapas 
Kanal lain agak sedikit menguak hakikat lokcan. Koleksi salah satu butik textiel yang pemilik orang luar negeri menyebut serangkaian motif bunga pada lokcan adalah gambaran cotton(katun) itu sendiri. Cotton..katun.. ya identik tanaman kapas. Kapas merupakan material dari pembuatan dasar kain. Analisa ini wajar jika secara mudah dikaitkan dengan falsafah pemenuhan kebutuhan dasar manusia, yaitu Sandang. Pakaian pembalut kulit sebagai tameng adaptif lingkungan. Toh, secara nilai-nilai dan filosofi khas bangsa indonesia memang tidak jauh dari sana. Bahkan secara kajian kasualistik simbol negara maupun organisasi juga menyertakan ikon wajib berupa lingkar bentang Padi dan Kapas. Setidaknya ini jadi penalaran gampang bahwa sang kolektor berusaha menggali runut logika dari identitas khas tadi. Tapi..., saya belum cukup puas hasil analisa itu. Kenapa? Sebab jika kembali pada pusaran sejarah awal. Motif ini tentu merupakan pakem murni dari negara asalnya Tiongkok sana. Murni..orisinil, dalam arti belum mengalami sentuhan indo-modif. Belum ada nuansa kesan akulturasi apalagi modifikasi dari perancang lokal. Tidak mengadopsi ikon-ikon khas lokal seperti hal-nya contoh motif Tiga Negeri. Watu pecah dan Latohan. Ke-3 pakem motif ini sudah cukup banyak penjelasan tentang latar belakang julukan motif itu hadir. 
gambar bulir padi 'kuning' pada motif lokcan
identifikasi awal saya duga daun pakis (fern)
(dok. pribadi)

NOTE : Pada salah satu isian motif lokcan yang patut ditandai dan dicermati. Terdapat juga motif flora yang secara rupa fisik-nya sangat mirip menggambarkan performa untaian bulir butiran Padi. Liat pada inset samping. 
Jadi pertanyaan berikutnya... vegetasi lokcan itu apa? Sekalipun dalam lintas kultur budaya dan bisa saja tanaman khas penghias motif kain ini besar kemungkinan terdapat di wilayah Nusantara. Hanya mungkin beda kiat apresiasi terhadap lingkungan dari jenis tumbuhan yang dapat memberi sumbangsih penting/vital bagi kehidupan manusia.
Yuk! penelitian dilanjutkan....,    

Lokcan... Lok Cuan... Latohan,
Jika pada awal identifikasi saya kebingungan nama motif ini. Belakangan baru tercerahkan berkat nama LokCan. Belakang-belakangan lagi, sempat curiga jangan-jangan terkaitan dengan nama Latohan? Faktanya Rembang memang memiliki satu motif batik dengan nama Latohan. Ada 2 versi yang beda. Satu kanal menyebutkan Latohan adalah nama buah dari tanaman khas pantai. Itu saja! tanpa penjelas gambar identik. 
batik motif Latohan khas Rembang
Kanal web lain menyebut Latoh adalah sejenis rumput laut yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat pesisir disana. Biasanya diramu sebagai urap (lalapan) maupun tambahan menu rujak cingur. Sebatas pengalaman pribadi memang saya pernah liat sendiri. Bahwa ada jenis rumput laut dengan rupa bulatan kecil mirip rangkaian anggur. Berhubung bidang pekerjaan saya terkait bidang laut dan pesisir. Rumput laut yang saya temui itu memang sangat beda jauh dengan jenis seaweed catoni. Jika catoni adalah jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan di wilayah Bali dan NTB. Rupa rumput laut yang mungkin 'latoh' ini sangat beda bentuk. Bukan hasil budidaya tapi merupakan hasil kembang biak alamiah. Tepatnya di Jepara menu rumput laut itu pernah saya temui. Dus, bagi sebagian masyarakat Demak bahkan Semarang konon juga akrab mengenal sayuran 'laut' itu. Rujukan wikipedia tentang kabupaten Jepara. Lato memang resmi disebut dalam deretan sajian menu khas, sub kategori salad, "Sejenis rumput laut, enak dimakan dalam keadaan segar, dan konon bisa menyembuhkan radang tenggorok, amandel".

Caulerpa lentillera 
Lebih jauh. Latoh/lato merupakan jenis rumput laut hijau dari genus Caulerpa, masuk dalam kelompok Chlorophyceae (alga hijau). Dua spesies yang paling umum di konsumsi adalah Caulerpa lentillifera dan Caulerpa racemosa. Sebagai bahan makanan mereka sudah cukup dikenal dipelbagai sajian menu aneka bangsa. Sehingga mendapat inisial khas. Seperti julukan "Green Kaviar" bagi masyarakat eropa. Sebab bentuknya menyerupai 'butiran' telur ikan. Sementara secara indonesia disebut anggur laut translasi sea grapes.
Orang philipina menyebut-nya dengan nama ar-rosep, lato atau arosip. Sementara khalayak Malaysia cukup akrab dengan sebutan latoh. Lain pula jepang, warga Okinawa menamai C. lentillifera dengan lafal lokal 
umi-budō (海ぶどう) yang berarti juga anggur laut. Pada masyarakat pesisiran Jawa Tengah dikenal nama latoh. while, bagi komunal masyarakat Sulawesi lebih dikenal nama lawi-lawi
Oiya, tanaman eksotis ini disebut sebagai tanaman tingkat rendah dan hidup pada media substrat pasir. Layaknya beberapa jenis rumput laut (seaweed) lainnya. Bedanya klo secara morfologi fisik dibandingkan spesimen lamun (seagrass) memiliki profil lengkap akar-batang-daun dan bunga. Pada struktur seaweed  Terdapat rumpun yang sederhana hingga kompleks pada susunan tanaman rumput laut sebagai representatif batang, daun dan akar. Lawi – lawi/latoh berkembang melalui perkawinan gamet atau spora. Ditengarai kandungan nutrisi sangat bermanfaat untuk kesehatan. Dapat berfungsi sebagai pencegah jamur, penyakit rematik, bahan pembuatan kosmetik bahkan pencegah tumbuhnya tumor didalam tubuh. Dari sini ada titik terang, paling tidak mengungkap mengapa latoh layak di apresiasi secara dinamika lintas peradapan global. Seperti 'nasib'-nya menjadi ikon motif batik latohan khas Rembang/Lasem. 

Pertanyaan berikutnya. Batik Latohan versi lokal secara paparan gambar dominasi terbanyak adalah ikon isen-isen rupa liuk vegetasi latoh. Menu ikon utama justru bouquet (buket) serangkai bunga tanpa penyertaan burung Hong. Ataupun tidak tutup kemungkinan, kasus tertentu, mungkin ada juga motif pakem latohan juga menyertakan Hong.
Sedangkan pada ke-4 sampel batik yang kami miliki, dikatakan Lok-Can namun secara sajian menu gambar utama adalah Hong. Ada ornamen bunga yang masih dicari identitas riel-nya. Sementara jika dicermati seksama juga 'tampak' ikon
latoh. Hanya porsi-nya sedikit saja sebagai imbuhan ornamental. "Latoh" ini loh yang sedari awal pencarian sidik motif selalu saya dibingungkan. Apakah ini sejenis daun paku-pakuan (pakis/fern)? Atau malah si bulir padi (tematik padi-kapas) yang diterjemahkan oleh kolektor asing tadi?. Analisa lanjutan bisa mengerucut begini. Sangat tidak mungkin jika itu tanaman paku/pakis a.k.a fern (terutama jenis yang bisa dikonsumsi). Karena pakis lebih identik tipe tanaman zona lembab. Bukan kategori tumbuhan pesisir. Juga kecil probabilitas merujuk Padi. Jika kembali mengaitkan penyidikan topik utama adalah kajian rana Batik Pesisiran. Mestinya sejauh tematik khasanah dan nilai maupun kadar motif akan ada korelasi nuansa marina. The circumstance of the sea..., 



So what is LokCan? 
Baik-lah..., analisa selanjutnya semoga kian mengarah pada identitas lok-can yang sejati. Metode-nya cukup sederhana saja. Mengapa nama resmi motif batik Latohan justru diambil dari serangkaian motif atribut gambar pengisi. Artinya pesan tersirat penyertaan burung Hong ataupun buket bunga BUKAN merujuk gelagat sebagai panduan mengenal nama motif si batik bersangkutan.
Sekaligus cara ini saya anggap sebagai kiat taktis mem'
baca' LokCan. Burung Hong... buket bunga, adalah motif penguat identitas saja. Jadi LokCan bisa jadi adalah sejumlah rupa tumbuhan yang terdapat jelas pada kain batik itu. Perhatikan pada gambar inset pendamping. Apakah motif tumbuhan itu juga tanaman khas pesisir seperti hal-nya Latoh? Sekali lagi, sebagai asumsi nuansa batik pesisir mesti-nya begitu. Esensi pesan dan korelasi pasti saling terkait. Motif apapun pasti memiliki karakter. Pada tahap pemikiran kali ini artinya saya mulai membuang jauh konotasi lokcan berasal dari etimologi frase 2 kata bahasa cina yang bermakna Sutera Biru. LokCan mestinya merujuk nama vegetasi tertentu. Fakta-nya buruan buka kamus bahasa Cina. Tentang warna memaparkan bahwa 蓝色 Lán sè : Biru (umum) dan 浅蓝色 Qiǎn lán sè : Biru muda. Sementara untuk kata sutera bahasa pinyin menyebut Sixian. Bahasa china 丝线.  

Melalui serangkaian tahap blusuk-blusuk informasi. Bingo! akhirnya terkuak inisial LokCan. Salah satu kanal website www.bharian.com. Juga rujukan salah seorang blogger asal Malaysia. Hanya ada satu poin yang menjadi saya masih sangsi. LokCan ini secara gamblang disebut sebagai alias Berembang. Sebagai buah tanaman khas asal Aceh (Indonesia). "..sejarah mengenai pokok lokcan di Kedah bermula ketika angkatan armada dari Aceh diketuai Iskandar Muda Mahkota Alam pada tahun 1619 ke Kota Siputeh bagi menyerang pusat pemerintahan negeri ketika itu. 
Sonneratia caesolaris

Pada wacana itu disebutkan bahwa LOKCAN adalah buah yang memiliki latar kisah sejarah. Sebab  awal eksistensinya dikaitkan dengan momentum penyerangan kerajaan Pasai Aceh menuju Kedah Malaysia. Buah LokCan/Berembang adalah bekal para prajurit Pasai yang biji-nya banyak dibuang disekitaran sana.Sehingga kelak bertumbuh-kembang. Entahlah. Apapun yang menjadi dalil dari latar belakang kisah  warna sejarah, sudah selayaknya patut dihargai.
Sejauh praduga, secara etimologi bahasa, asal kata Lok agak mendekati kata Lhok . Dalam bahasa Aceh, Lhok dapat berarti dalam, teluk, palung laut . Jadi, secara kaji literasi masih terkait dengan tematik laut dan pesisir. Bahwa memang di wilayah aceh pesisir terdapat nama khas dengan awalan Lhok. Lhokseumawe, Lhoknga, Lhok Mata ie dan masih banyak lagi. 
Namun jika merujuk alibi ilmu pengetahuan mungkin bisa bertolak belakang. Kenapa? Jika dirunut lebih jauh ternyata buah lokcan, atau secara istilah masyarakat Aceh menyebutnya Berembang. Tak lain..tak bukan, adalah buah dari pohon Pidada (pidada merah) atau Prapat. Merupakan bagian utama vegetasi Mangrove. Tipe tanaman khas pesisir! Bahkan secara klasifikasi kelompok  dalam himpun ekosistem dikatakan sebagai mayor komponen. Mayor komponen adalah tipikal sekelompok Mangrove yang zona hidupnya berada pada wilayah rendaman pasang-surut air laut (mampu bertoleransi pada zona salinitas tinggi). Seperti halnya kelompok Avicienna, Brugeira dan RhizophoraBeda lagi kelompok minor adalah sejumlah vegetasi sekelompok mangrove yang zona tumbuh pada juga lingkungan pasang-surut tapi yang agak dekat atau cenderung mengarah ke daratan. Zona yang ditengarai sebagai wilayah salinitas rendah. Namun kategori mayor-minor ini terdapat juga pengecualian untuk beberapa varian individu.


akar napas Sonneratia sp.
Prapat.. Pidada.. also known as Sonneratia dibedakan atas 2 jenis. Yaitu Sonneratia alba dan Sonneratia caseolaris. Secara ciri fisik kedua-nya sama. Dari model akar napas yang khas tegak (pencil like). Akar ini dikatakan khas karena berfungsi sebagai alat napas sebagai pendukung pola respirasi struktur kesatuan pohon. Seperti layaknya fungsi snorkel bagi diver. Ciri batang besar. Bentuk daun..hingga buah sama. Karena buah berbentuk 'gumpal' maka sebagian masyarakat pesisir menyebut Apel laut.
Cara paling mudah membedakan antara S. alba dan S. caseolaris adalah dengan mengamati saat momen pembungaan. Perbedaan itu terlihat dari warna petal (mahkota bunga). S. alba berwarna putih..dan S. caseolaris berwarna merah. Cukup unik kan!?
Selain ciri-ciri tadi secara rumpun bagian dari asosiasi mangrove hanya pidada/berembang yang dapat dimakan. Sebagian daerah di Indonesia malah sudah mengolahnya sebagai bahan penganan kecil, Dodol bakau. Juga sebagai menu hidang minuman sirup.

Sehingga dapat ditarik kesimpulan mengapa buah ini sangat layak mendapat apresiasi khusus bagi komunal pesisiran. Sebab secara manfaat hanya pidada (lokcan) yang dianggap menyokong kehidupan manusia. Sebagai opsi bahan pangan. Selain aneka biota asal lautan tentunya. Meliputi ikan, krustasea, moluska dan lain-lain.
Agar lebih mudah perhatikan lagi motif batik LokCan (inset). Biar gampang sengaja saya sertakan beberapa poligon dengan warna-warni pembeda. Terlihat dengan gamblang, perhatikan poligon segi6 biru - lingkaran hijau - dan persegi 4 biru.  Terlihat jelas beda tahapan bentuk motif. Dari pemaknaan proses geliat tumbuh sejak bunga..mahkota putik/petal hingga Buah (bongkahan dengan cuat untaian satu helai). Lingkaran oranye ditengarai sebagai 4 kuntum bunga/bakal buah. Sementara pada lingkaran putih sejauh prediksi adalah bentuk buah dalam kondisi terbelah. Menandakan bisa dimakan. Demikian sejauh penalaran ringkas dan upaya translasi dari maksud gambar. Bisa jadi begitulah sekelumit tips dari para seniman ataupun perancang motif bahula terhadap refleksi diri terhadap penghargaan lingkungan. 
Pertanyaan berikutnya, sebenarnya buah berdasar eja kata LokCan ini berasal dari kosakata bahasa mana? Apakah sebenarnya kata  lok-can merujuk nama buah atau hanya kiasan asal bahan si sutra biru?. Masih kontradiktif... sekalipun sangat mudah ditelaah berdasarkan runut dalil dan analisa di atas.


seorang rekan  berlatar belakang pohon Sonneratia sp.
Tampak  terlihat model khas bentuk tegakan disebut tipe akar nafas.
kegiatan : penelitian kerang Bakau di gili Lawang-Sulat 2013 (Dok. pribadi) 
Mendekati akhir bahas. Tentu saja sebagai himpunan struktur ekosistem, mangrove tidak hanya ada di sekitar Nusantara saja. Bahwa dalil berembang asal Aceh-pun sangat mudah terbantahkan. Apalagi jika dikaitkan dengan konsep kajian ilmu geografi. Perihal teori landasan benua. Sama-sama zonasi Paparan Sunda. Selat Malaka. Semenanjung Malaya dan Sumatera dulu-nya adalah satu cakupan wilayah namun terpisah melalui rangkaian perubahan dinamika waktu. Sangat besar secara peluang memiliki varian vegetasi darat dan laut-nya sama. Begitu juga dengan aneka biota penghuni. Sebagaimana ungkapan , demikianlah hakikat tentang citra bangsa serumpun. Faktor genetika lingkungan bahkan tautan ras adalah selaziman fakta tak terbantahkan.  
Sejauh cerita berkembang soal tanaman yang pernah 'hijrah' atas campur tangan manusia. Saya pernah menyimak dari seorang antropolog asal Australia. Asam (Tamarindus indica) adalah salah satunya. Menurut kajian ilmu botani setempat. Asem yang ditemui disepanjang wilayah pesisir disana bukanlah tanaman khas Australia. Melainkan vegetasi pendatang asal Nusantara. Asem bisa tumbuh disana karena 'ulah' para pelaut/nelayan asal Sulawesi(Bajou). Mereka biasa membawa asem sebagai bahan bumbu masak dalam trip pelayaran. Diperkiraan ada dari mereka yang sengaja menanamnya sebagai tanaman stok jika kelak datang lagi ke daratan. Benarkah begitu?
Yah, kembali lagi pada lembaran sejarah lama. Jauh sebelum bangsa Eropa melakukan perlawatan laut. Entah itu masa kejayaan portugis hingga trending topik jalur rempah oleh Belanda. Ataupun ekspedisi ChengHo di abad 15. Nenek moyang Nusantara sudah terkenal sebagai penjelajah samudra. Perairan sisi utara-barat benua Australia sudah jadi menu wajib kunjung. Karena disana merupakan mata rantai historical fishing's ground. Paling ngetop sebagai lokasi perburuan ikan hiu. Jauuuuuuh sebelum wilayah itu dikuasai para pendatang. Sangat besar kemungkinan para pelaut/nelayan bajou sudah berinteraksi lebih dulu dengan para penghuni asli. Suku Aboriigin. 

Last but not least...,
Sekelumit kisah tadi semoga bisa menjadi pembuka jalan semata upaya identifikasi batik LokCan. Dan sebagai tipe tanaman pesisir..secara penyebaran benih mereka tidak seperti sifat tanaman khas darat. Bisa berpindah secara alamiah (trans-lokasi) akibat peran burung tipe pemakan biji-bijian. Boleh juga peran serta lebah dalam aksi polinasi. Ataupun campur tangan manusia pembawa-nya. Sekalipun mangrove memang sangat mudah dibudidayakan. Benih Mangrove 'sanggup' berkelana sesuai amanat garis takdir-nya. Semenjak dari puncak kematangan buah. Terjatuh, lepas dari pohon indukan. Lalu kelayapan bebas merdeka...beradaptasi dengan arah tabiat arus. Nah, kalau sudah gini tepatlah sebaris cuplikan ayat Ilahiyah. 

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; 
tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, 
dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan

dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), 

dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, 

dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)".
Al-An-am:59    


Wassalam...,
    
KEYWORD :
Lokcan alias Berembang (Brembang) ataupun buah pidada merah. Secara harfiah memang merujuk nama tanaman khas pesisir. Sebagaimana diketahui pidada/prapat seperti halnya mangrove berjenis Rhizopohra stylosa (eng: Red Mangrove). Menghasilkan tanin..getah berwarna merah yang sangat bermanfaat untuk pewarna alami jaring ikan. Dipercayai memiliki aroma khas yang mengundang ikan untuk berasosiasi. Dalam industri tekstil juga dipakai sebagai bahan pewarna non chemical.
REMBANG secara leksikal besar faktor kemungkinan adalah penyebutan lain muasal Berembang/Brembang. Korelasi sinergis dari asal mula berkembangnya batik motif lokcan di wilayah Rembang-Jawa Tengah. Sebagaimana paparan penghantar sebelumnya.
Identifikasi nama daerah di hampir seluruh pelosok Nusantara, hampir mengenal sistim  korelasi identik dengan tanaman/vegetasi khas dominan di lokasi bersangkutan. Banyak contoh. Misal : pelabuhan Teluk Bayur (Bajur) - Sumatra Barat.  Tanjung Bira - Sulawesi Selatan. SundaKelapa-pantai Indah Kapuk di Jakarta. Pelabuhan Ketapang - Banyuwangi. Pelabuhan Benoa (Benuang) - Bali.  Pulau Bungin (Bongin) - Sumbawa.  Dll.

Khusus pulau *Lombok sejauh yang saya kenali sesuai lingkar pulau. Starting poin dari ujung barat. Bangko-Bangko (bakau),  LabuhanPoh, Pandanan(sekotong), Pantai Cemare-Lembar, Pantai Kurandji, Makam Bintaro, pantai Senggigi (ujar lain Sentigi/Pemphis acidula), pantai Kerandangan (kerenda, renda, ilm : Carissa carandas), Pantai Klui (Kluwih), pantai Nipah (Nypa frutican), Pantai Pandanan-Malaka, pantai Mentigi, teluk Nara (kemungkinan mengarah Angsana). Tanjung, Dadap, Menanga Baris & LabuPandan (wilayah Sambelia), Lian, Gili Bidara, Pantai Ketapang-Pringgabaya. Pohgading, Pantai Rambang wilayah LabuanHaji.  


Koleksi batik LokCan
**ke-4 koleksi batik tulis lokcan tempo dulu berbahan sutera. Perhatikan seksama ragam hias memiliki variasi berbeda. Klik pada masing-masing keterangan gambar jika hendak merunut tentang detil gambar dan kondisi-nya. Termasuk penjelasan singkat dan upaya identifikasi lebih lanjut.

Batik tulis (sutera) rembang kuno motif LokCan 1

Batik tulis (sutera) Rembang Kuno - motif LokCan 2

Batik tulis (sutera) Rembang Kuno - motif LokCan 3

Batik tulis (sutera) Rembang kuno - motif LokCan 4

Jumat, 18 Maret 2016

mempelajari Batik......,

Sudah gak bisa dipungkiri lagi bahwa khazanah budaya Bangsa Indonesia sangat beragam. Terutama jika mengaitkan pada pengaruh semboyan Bhineka Tunggal Ika. Berkembang pesat melalui lintas kultur dan pelangi peradapan dari sekian rentang waktu. Peralihan generasi dan warna akar unsur budaya lainnya.
Sejalan waktu, perkembangan tehnologi semakin cepat. Beberapa tatanan dikemas menjadi serba praktis dan instan. Semakin kedepan, kian dituntut kita menjadi lebih adaptif terhadap laju perubahan signifikan. Pengaruhi gaya hidup. Dari segala sesuatu yang remeh hingga sangat vital. Bahkan persooalan cara kita berbusana. Dulu, kta mengenal pada tatanan kebutuhan mendasar itu pada 3 hal. Sandang-Pangan-Papan. Sandang adalah pengertian dari apa yang kita kenakan. Casing yang dari tadi hanya sekedar sebagai fungsi pembalut tubuh. Hingga berkembang menjadi kebutuhan identitas citra diri. Fashion... apparel... apapun istilah yang kemudian mengiringi kurun peradapan yang berlanjut.

Nah, singgung rana budaya ber-pakaian. Kayaknya bakal kagok kalau tidak mengerti tentang kekayaan negeri sendiri. Dalam hal ini terkait Batik. Apalagi jika dikaitkan pada fakta, bahwa batik telah diakui oleh lembaga internasional PBB-Unesco sebagai salah satu budaya khas asli Indonesia. Resmi-nya oktober 2009. 
batik tulis tangan.. khas motif Rembang tipe vintage. Bahan sutera
Berangkat dari isu tekstil khas negri sendiri saya mulai tergerak mempelajari. paling tidak bisa menjadi bekal pengetahuan untuk para bocah di rumah. Toh sebagai generasi penerus kelak mereka juga kudu paham. Melek sejarah sendiri meski dengan satu segmen pengantar yang sederhana. Belajar dari 'sisa-sisa' batik peninggalan dari mbah-buyut mereka. Secara pribadi, gak bisa menampik bahwa sebagai generasi genre 80-90an saya pun mengalami putus mata rantai ketertarikan tentang batik. Sekalipun mungkin sisi postif-nya karena masa SMP dulu masih pernah enyam pendidikan kesenian yang menyertakan batik sebagai wacana pengetahuan. Minimal tau lah dasarnya. Toh, sejak tahun 80an pelajaran muatan lokal di Jawa sudah ditanamkan sejak SD melalui pengetahuan bahasa Jawi. Jujur belepotan saya ikuti karena proses pindah ke Malang masuk kelas 5. Mengalami gegar budaya. Maklum tipikal keluarga nomad. Sekalipun kelahiran asli Malang. 
Semasa SMP, sesi pelajaran kesenian akhirnya ada juga tugas menggambar pola batik. Sekalipun cukup pada corak sederhana, Kawung & Parang rusak. Nah, di mapel ini justru jadi pelajaran favorit saya. Barangkali memang secara fitrah saya berjenis dominan otak kanan. Tapi masa itu belum ada pendalaman spesifik psikologi macem begituan. Kami adalah bagian format generasi yang dicetak sesuai arah kurikulum harus kuasai semua. Hm.. blehek juga!    
Oiya. Batik, jaman itu-pun dianggap hanya sebagai menu sandang utama kaum sepuh. mbah-buyut. Tidak ada tempat spesifik, semacam museum khusus ideal mendulang pengen-tau. Masa itu, di Malang, dimana bukan kategori sebagai sentra batik sebagaimana wilayah lain. Madura...dan menyasar wilayah pantura dan hingga dominasi sentra batik di Jawa Tengah. Terlebih lagi saat itu belum ada pemicu dari pihak manapun bagaimana cara mengangkat tema harkat tekstil khas ini menjadi lebih dipahami. Mungkin ada beberapa pihak yang berjuang mengangkat tema terkait. Entah itu lembaga kebudayaan swasta maupun sektor instansi pemerintah. Hanya sirkulasi serap informasi jaman itu dikategorikan "harap maklum". Penyebaran-nya gak seperti geliat perkembangan tehnologi Informasi sekarang ini. Setidaknya pesatnya penetrasi internet menjadi nilai positif bagi kajian dan proses pembelajaran bagi siapapun. Baik kolektif maupun personal. sejalan lipatan jaman.

Kembali pada batik yang pada saat itu dipandang sebelah mata oleh penghuni negri sendiri. Naif kan! hehe..., Ikon sandang para 'tetua' itu akhirnya cuma jadi estafet hibah jika ada para kaum sepuh meninggal. Biasanya yang ketiban hibah adalah para tetangga dekat. Umum-nya kategori sepuh juga. (Kelak) masa kini saya tinggal di Lombok, stok batik keluarga yang ada akan menjadi kain panjang pelengkap sarana mandi jenazah. Dan setelah dibersihkan lalu dibagi pada para wanita pengurus jenazah yang berkecimpung pada anggota rukun kematian. Sekalipun mungkin kategori-nya adalah batik tipe low-entry dengan harga terjangkau. Namun dalam strata ekonomi sosial yang beda bisa jadi batik jenis high-end yang dipakai. Sebagaimana umumnya perlakuan para anumerta. Apa yang dipakai selama hidupnya akan disertakan secara fungsi pada saat wafat. Dan jika kasusnya di limpahkan pada penerima hibah, diharapkan semoga memiliki nilai manfaat berkelanjutan. Attitude yang sangat ngendonesia, menurut saya.

Masih perihal kilas balik. rongrongan gaya busana dari trend luar juga turut menekan laju perkembang-biakan batik. Bayangkan, versi menurut kami (jaman SMP-SMA) istilah trending topik klo liat ada rekan sebaya pake batik bakal di-panggil "si Pakde". Tebar aura tampil kebapakan. Agak melenceng gaya. Metuwek... istilah jawa-nya. Alias mendadak sok Tua. Pokoknya serba jadi predikat minus! Wajar, karena mind-set yang tertanam dan berkembang sudah sedemikian rupa. Bahkan koplak-nya lagi ada lelucon konyol, mau nyambung apa tidak.. ada istilah kata "simpatik" hasil ceplosan pelawak tanah air. kepanjangan dari 'SIMpanze PAkai baTIK".

Sisi lain, kondisi tadi juga gak bisa anggap miris sepenuhnya. Karena secara historis pakem batik juga bukan-lah kain sembarangan. Penting ini..catat!! Batik juga mengenal kasta. Sarat nilai filosofis bagi kalangan spesifik user. Motif tertentu hanya boleh diproduksi terbatas untuk keluarga kerajaan..hingga ada motif/pola tertentu yang dirancang khusus dari level patih..punggawa hingga abdi dalem. Entah itu penjahit istana...atau pengurus khusus desainer busana keraton. Bisa merujuk cuplikan berikut "Dilihat dari jenisnya, batik di Indonesia terbagi menjadi enam macam, yakni batik kraton, batik sudagaran, batik petani, batik belanda, batik cina, dan batik jawa hokokai". ( lengkapnya bisa rujuk Link). 

Ruwet bin runyam... maka gak heran kalau target sebagai ikon nasional belum total tercapai. Sebab jika dikait-kaitkan sebagai identitas rupa Indonesia yang pluralis, tentu gak bisa di gebyah-uyah. Batik gak bisa dipungkiri selalu identic of Java. Sementara, daerah lain di Indonesia pasti akrab kain tenun atawa songket. Dan secara hirarki adat juga mengenal tatanan pranata sosial. Sekalipun mungkin tidak sempurna dijalani. Tapi secara kontekstual masih terjaga. Bahwa pada gelaran momentum upacara adat tertentu diwajibkan menyandang apparel adat. Berdasrkan hukum adat/awiq-awiq. Kain songket yang diproduksi dari wilayah Pringgasela lebih punya bobot dalam kajian nilai filosofi. Jujur ni ya! Daripada jika dibandingkan sekedar songket abal-abal yang berkeliaran di kawasan wisata sebagai penunjang sektor bisnis pariwisata. 
Hm..., mesti-nya di poin bahasan ini ada kaitan dengan wacana saya yang belum tuntas pada tulisan lain tentang batik SaSamBo. Silahkan jenguk jika berkenan.

Dilematik batik. yang hidup segan...mati ogah. Sebenarnya lebih terbentur pada alasan klasik geo-politik tadi. Bahwa slogan kebersamaan "Bhinekka Tunggal Ika" akan cukup terwakili oleh salah satu ciri  khas budaya satu daerah yang di"sepakati". Agak secara paksa dikondisikan. Bahkan mungkin dogma berkulindan. Padahal di-akui atau tidak, akan menimbulkan kontra akibat konflik kepentingan citra komunal. Secara geliat produksi masal pabrikan batik yang ada akan berusaha bertahan. Dan bukan tidak mungkin banyak yang gulung tikar, bangkrut. Akibat gak bisa menyesuaikan kondisi jaman juga peradapan yang mengiringi. Itu baru dampak sebagian saja yang mudah terbaca.
FOTO: SIPA PRESS, AFP
Lucunya lagi, ada masa tertentu seolah kita dibangkitkan lagi kepada nostalgia budaya. Momentum yang saya ingat adalah sosok Presiden Afrika Selatan, lantaran dulu ditahun 1990 Nelson Mandela (sebelum jadi presiden) sempat kunjung Indonesia. Mendapat suvenir khas batik. Dan pada kesempatan berikutnya selalu tampil pede pakai batik. Kemanapun berkunjung dalam lawatan kenegaraan. Sekalipun bukan tanpa alasan. Nelson Mandela melakukan itu sebagai ungkapan apresiasi terhadap dukungan pihak Indonesia yang dulu getol memperjuangkan semangat anti apartheid. Semasa pernah beliau ditahan hingga bebas menghirup udara segar. 


Sejauh pantauan dangkal saya berkiblat pada perkembangan kurun waktu-waktu tadi. Batik tradisional dengan muatan nilai sakral dan filosofi budaya memang ajak sulit berkembang di masyarakat luas. Wong secara lahiriah-nya bermuatan gradasi kasta tadi. Namun pengecualian, motif-motif bebas yang diperuntukkan oleh kalangan umum bisa dipakai oleh siapapun. Tanpa bias strata sosial.
Maka untuk menyiasati kecintaan pada produk tekstil budaya dan tanpa melupakan taste fashion yang mudah diterima masyarakat, lahir gerakan inovasi pembaharu. Ditengarai oleh geliat brand Batik Keris, menyusul Batik Semar. Batik tanpa pakem tradisional ini berhasil mengembangkan motif keren. Minimalis tapi elegan. Cukup sukses dengan desain unik dan kreatif. Tapi mutu bahan juga pilihan. Mungkin jadi kendala hanya soal harga lumayan mahal. Karena menyasar minat pangsa menengah atas. Juga wisatawan asing. Jadi lagi-lagi kesan exklusivitas lebih dominan. Tengok saja website-nya, bahkan pajangan model kebanyakan stok wajah asing. Strategi dagang aja kog!

tik-tak-tik-tak...,
sejalan waktu ada lagi gerakan inovasi batik. Masih ditahun 90-an... ketika geliat fashion berbahan dasar batik muncul ke permukaan. Kali ini hadir busana Batik Gaul berparas multi perca dalam tampilan komplit busana jadi. Termasuk  pernik dan atribut fashion lainnya. Kurang lebih gerakan ini lebih pas ditandai sebagai tindakan ekonomi kreatif gebrakan waktu itu. Entah pihak mana atau prakarsa siapa. Yang sangat mungkin kiblat batik gaul itu lahir dari Jogya.
http://www.jogja-batik.com/
Motif khas tambal-sulam aneka kain batik dengan multi perca batik beda motif itu justru lebih disambut dengan antusias bagi kalangan remaja. Bahkan dipakai kaum lebih dewasa juga masih sah-sah saja. Alasan yang paling masuk akal mungkin esensi kandungan pesan moral-nya. Selain faktor harga terjangkau loh! perca-perca kain multi motif non pakem tradisi itu tanpa embel-embel apapun. Tidak mengikat  strata dan warna kasta manapun. Non blok...menyimpan aura equality... sangat relevan dengan semangat pluralisme.
Sekalipun gak sampai kurun dasa-warsa berikutnya batik gaul mozaik ini-pun alami penurunan. Wajar... gak ada yang abadi. Namun batik-perca telah banyak memberi sumbangsih warna perkembangan khazanah dan sejarah batik di tanah air. Tapi fakta bisa bicara beda. Terbukti dari catatan jurnalistik. Ditengarai semakin pesat beberapa pelaku UKM disektor industri kreatif batik perca yang meraih sukses di usaha-nya. Kunci-nya lagi-lagi polesan modifikasi dan inovasi karya. Dewasa secara simultan. Berdaya saing dengan penuh energi terbaharukan. Sumpah..salut palapa!!!
Sebagaimana yang pernah dialami batik pakem tradisi pada masa jaya-nya. Tapi-nya tapi... tentu ada nuansa perbedaan. Batik tradisi...yang dicetak terbatas.. apalagi garapan tangan (hand-made) menjadi inceran kalangan tertentu. Di lirik tidak saja kolektor dalam negri tapi juga mancanegara. Dan nilai historis juga bakal mendongkrak harga. Pengecualian kasus.. misal begini, wafat-nya Pakde Nelson Mandela tentu meninggalkan warisan stok baju batik. Meski secara corak bisa jadi pakem batik Indonesia-nya adalah motif biasa. Non pakem kalangan ningrat. Tapi, sekalipun begitu terdapat paparan lain menyebut pakde Nelson juga mendapat modifikasi batik (made by order) dari percetakan tekstil dinegara-nya. Ada yang bermotif baru menyesuaikan ikon/item khas Afrika Selatan. Dan sebagian merupakan motif akulturasi. Keren pasti-nya! sampai-sampai aksen sandang batik-nya dijuluki Madiba Shirt. Baju itu sekalipun stok bekas.. jika kelak dilelang dibursa khusus komunitas pencinta batik bisa jadi harga-nya fantastis. Masio pakem motif wong ndeso...tapi sing gawe tokoh, yo regone iso mundak kasto. Hehe.. peace pakde Madiba! yo'nopo-nopo jenengan niku sampun dadi duta mlampah sak puterane dunyo. Matur sembah nuwun saking kulo. 

Oke.. jabaran-nya pengantar-nya utama cukup segitu. Kini balik pada courisita belajar tingkat dasar lagi. Mempelajari tipe batik jadul peninggalan moyang yang ada. Mengamati kandungan motifnya. kecenderungan apa.. tehnis garap dan lain-lain. Ber-modal sisa peninggalan para pendahulu. Memanfaatkan panduan ragam bumbu referensi.
Have fun... as usual,

Siap bahan... proses belajar dan identifikasi dimulai....

jejak robek dan jahitan 


Batik cap khas Madura. Jejak proses canting dan lelehan lilin terlihat jelas (istilah jawa mblobor/njembret). Kemudahan identifikasi adalah kemiripan antara corak 1 dengan yang lain-nya. Jika lebih teliti perhatikan pada pertemuan garis antara cetakan alat Cap.. biasa ada bagian yang tidak linier. Tidak singkron.
Motif dominasi bunga gaya ikonik.ornamen khas...Bentuk graha dengan wuwung dengan rumbai dedaunan. Secara spesifik inspirasi bentuk seperti mengadopsi ikon atribut dunia wayang. Simbolis tersurat, bintang sudut 5 melambangkan Ketuhanan. Keresidenan/istana dengan ikon bentang sayap kiri-kanan menyiratkan kejayaan . tumpukan crown..mahkota raja dan ratu melambangkan kekuasaan, Sedang ornamen daun-bunga merujuk pada simbol eksistensi lingkungan. Sebagaimana warna hijau pada paparan latar. Filosofi tatanan kehidupan.  


Membentangkan kain adalah cara mudah untuk mengamati kandungan pola & motif. Klo yang ini lebih identik dengan sebutan batik pagi-sore. Gaya Pekalongan... berlatar dominan corak Kawung dan dibaliknya Parang. Motif pernik pengisi dipenuhi bunga dengan rupa detil. Corak warna terang.  

warna-warna pengisi dominan terang.

batik tulis... pada salah satu sudut terdapat stempel khusus. Cuma tidak terbaca jelas.

batik tulis hijau toska dengan paduan kuning & hijau muda. Ornamen perrnik multi sekar. Agak mirip dengan batik pagi sore... hanya back  ground utama kosong. Hampa. Dari rujuk data kemungkinan mengarah pada pada varian batik tulis Jawa Hokkokai. Namun pakem masih standar khas Cina... belum terdapat motif unsur akulturasi Jawa. Tidak seperti motif pagi-sore (contoh diatasnya) yang background dipenuhi serat kawung dan parang. Pernik ornamen yang penuh tampil totalitas adalah bunga. Sangat detil pada isian kelompak. (isen-isen) sangat atraktif dan warna rancak. Garis dan titik (politelism) menunjukkan aksen detil dan kuat. Tidak saja pada bunga tapi juga pada alur tangkai bunga. Lis pinggir pembatas pinggir ditandai dengan format miniatur segitiga.


Selasa, 24 Maret 2009

Senjata Tradisional khas Lombok

Wacana LOKAL

........,

Keterlibatan saya di kancah ini sebenarnya tidak jauh dari unsur kaji sejarah. Berawal dari minat terhadap keris. Apapun jenis dan asal-nya. Terpasung risih silam pengalaman bawa tamu mancanegara. Selagi aktif jadi guide pariwisata. Satu senja kongkow bareng tamu asal Belanda di pondok Siola – Sambelia. Terjebak bahasan tema keris. Akibat kurang “ngeh” saya jadi blingsatan asal jawab. Padahal benar-benar blank lini pengetahuan sejarah terkait. Sekedar upaya tutup diri, buta sejarah budaya sendiri. Gak kurang akal. Alur dialog saya giring pada koleksi museum Leiden. Se-olah sisip protes “halus”. Stok sejarah bangsa kami banyak raib. Diangkut secara simultan dimasa era kolonialis. Jadi sebuah nilai wajar kalo mayoritas generasi kami gagap sejarah sendiri. Namun dialog tetap junjung kadar etika. Interaktif dan mengalir alun kompromis. Demi jaga mutu jasa layanan… dan kondite citra ke-pariwisata-an, khas oknum daerah. Ach! Terlalu muluk!!! Yang jelas demi citra personalita.

Apakah cukup? Jelas enggak!!! Diganjar “sesi” tadi bikin saya gerah. Terpacu diri sekedar penuhi hasrat kais ilmu. Gak rela dibilang buta budaya, awali aksi gerilya. Dari sekedar referensi wacana maupun nimbrung pedagang barang antik, khusus keris. Kadang berbekal koleksi pribadi seada-nya untuk modal ajang dialogis. Sekedar varian Badik hibah pihak keluarga - jalur Selayar-Sulawesi.


Minim referensi

Penulusuran ini sedikit tersendat. Setiap kali kpingin menulis tentang keris Lombok, saking terbatasnya narasumber dan kajian pustaka. Cuma ada 2 kitab pendukung, keluaran pihak Museum NTB dan buku berjudul “Keris Lombok” karya Lalu Djelenga.

Tetap saja ada satu missing Link, yang patut dipertanyakan. Terutama perihal kejelasan silsilah keris Lombok. Terkait kriteria “Tangguh” (relevansi tahun pembuatan-gaya & campuran bahan baku). Tidak salah kalo Riyanto Rabbah (wartawan) dengan tanpa ragu menulis artikel berjudul “Keris Lombok, Pusaka tanpa Mpu”. Hasil acuan browsing - penelusuran jejak via internet. Alibi dan prediksi-nya tidak jauh dari muatan referensi buku Keris pihak Museum.

Kenyataan, bahwa keris Lombok lebih mirip gaya keris Bali dan keris Sumbawa lebih mengacu gaya keris Sulwesi Selatan (Bugis Makasar). Bukti otentik yang ditengarai adanya 2 lintasan budaya Keris yang masuk mewarnai NTB. Lintas utara (Bugis-Makasar) masuk NTB bagian timur (p.Sumbawa). Lintas barat melalui Bali masuk ke NTB bagian barat (p.Lombok). Kemungkinan berlangsung era keruntuhan Majapahit (abad 15), sehingga Lombok menjadi perebutan kekuasaan antara kerajaan Klungkung-Bali dan kerajaan Goa-Makasar. Berakhir dengan perjanjian Sagening tahun 1624. Yaitu antara Raja Dalem Sagening (Klungkung-Bali) dengan Raja Alaudin (Goa Makasar), yang menentukan pembagian wilayah pengaruh keduanya. (buku KERIS – NTB, halaman 14)


Apakah cukup? Bila “jeli” ada sebuah sebuah prediksi yang cukup menarik untuk ditelaah. Kajian unsur pamor antara keris Lombok dengan Sumbawa. Di buku yang sama, KERIS – NTB, halaman 19.

Disebutkan.., Unsur pamor keris Lombok lebih jelas dan bervariasi. Berbeda dengan keris Sumbawa yang kurang gemerlap dan cenderung monoton. Keris Sumbawa diperkirakan memakai bahan pamor dari Luwu-Sulsel. Diperoleh dari pengolahan biji besi. Berbeda dengan pamor Prambanan yang diperole dari batu Meteor. Bongkah meteorit yang relatif besar pernah jatuh di sekitar candi Prambanan pada abad 18. Keris Lombok diprediksi memakai pamor Prambanan karena penamnpilan pamor yang tampak cemerlang. Bernuansa warna putih kebiru-biruan.


Analisa pribadi

Secara perlahan tapi pasti, saya-pun kian memendam penasaran. Tertarik akibat tema pertemuan 2 lintas budaya perkerisan di NTB. Gali kajian ini tentu saja berupa opini terselubung minim pengetahuan, starting poin dialog dengan si bule Belanda. Agar sedikit terkuak nilai sejarah silam yang membatasi bak “tabir misteri” yang ingin segera saya pecahkan. Sehingga tidak terjebak antara realita dan mitos. Sekalipun gak bisa di pungkiri, pada sejarah kadang termuat konten legenda, mitos dan sejenisnya. Yuk mulai….,

Ajang rebutan “pamor” kekuasaan,

Bertemu-nya 2 lintas budaya tadi setidaknya sudah cukup jadi indikator, bahwa memang telah terjadi “hasrat” ekspansi dari 2 kutub otorita kekuasaan. Selalu diwarnai nuansa politis, teori kekuasaan. Masing-masing kubu berkehendak raih kredit poin dari sebuah obsesi.

Tidak jauh dari apa yang terkandung pada filosofi pamor (motif) keris itu sendiri. Motif adalah pola, kian sisip daya setelah membentuk “motivasi”. Terlebih bila pamor/motif kian dipercaya memberikan pengaruh magis bagi pemilik keris. Contoh-nya, pamor Beras Wutah dipercaya mampu memberikan efek daya magis berupa kesuburan dan ketentraman bagi pemiliknya. Next, pamor Susun Gunung berimbas pada peningkatan yang kian menanjak(karir maupun pangkat). Diciptakan hanya bagi pegangan kaum bangsawan. Sekaligus dibumbui dogma kasta… strata pamer-pamor.

kian ter-motivasi berarti semakin mengIMANi. Kadang mitos berhasil membutakan nurani. Trust me!!!

Terkait fungsi, keris juga dianggap sebagai Tanda atau Lambang Kekuasaan (Keris NTB-hal.28). Raja selaku pemegang kekuasaan tertinggi memiliki wilayah territorial kerajaan. Keris adalah salah satu maskot kekuasaan. Ketika terjadi pergantian takhta generasi juga dilakukan prosesi simbolis alih kekuasaan berupa penyerahan keris.

Saya-pun dulu (tahun 90an) kerap heran, ketika pernah terdengar isu bahwa ada ditemukan makam GajahMada di tanah mbojo (Bima-Sumbawa). Padahal menurut sejarah beliau itu moksa. Gaya wafat me-raib diri. Yang sejak itu bermunculan isu by isu, makam beliau nongol di beberapa tempat di wilayah Indonesia timur. Benarkah sakti mandraguna??? Atau memang sengaja diGUNAkan demi kepentingan rana politik yang bercokol saat itu. Demi sesuatu creaTIPs - alibi mitos……,


Waiting something boring…., tapi ada juga hikmah yang muncul belakangan. Terbui penasaran, kini kian terkuak dengan munculnya berita di Koran lokal, Lombok Post. Disekitar tahun 2008, selagi Gubernur Lalu Srinata masih aktif menjabat. Mendapat sebuah anugrah kehormatan KERIS dari dinasti keraton Solo. Inti materi, dianggap sebagai figure yang berhasil melestarikan budaya lokal setempat. Sebulan kemudian, muncul feature Koran, bahwa, lagi-lagi pak Srinata mendapat hibah sejenis. KERIS dari pemerintah daerah – otorita Sulawesi Selatan. Juga dianggap sebagai figure konservasi budaya lokal.

Sirkulasi fluktuatif sebagai gerbang afiliasi sebuah otorita? Entahlah… ini sekedar opini, bagi daerah yang dulu pernah bergelar Sunda Kecil. Kecil-Kecil Lombok Rawit!!!!


Keris dan kenapa selalu harus Keris? Etimologi dari varian bahasa, Curiga…kadutan…keris…sampari. Terlebih comot English singular - Creese (serapan asli bahasa IndONEsia), plural - jamak berarti Creeses. Semoga tidak terpleset silap lidah, sebut “KRISIS”... Krisis kepercayaan diri… krisis karakter. Silak tampil luwih ber-budaya… punyai BUDI miliki DAYA.

Akhiru kalam, secara halus saya ingin hanya ingin berujar. Mada (saya=bahasa Bima) bukanlah Gajah, laksana hewan “mitologi” kendaraan politik. Berbelalai panjang, kuping lebar-tipis, tubuh bengkak, bjibun tenaga. Sejak era Mammot (gajah rumbai) bernasib tunggangan manusia.


NOte :

untuk lebih spesifik wacana mengenai senjata tradisional khas Lombok dan Sumbawa, silahkan kunjungi blog saya yang lain di http://butik-etnik.blogspot.com/



Pesan moral…pesan Normal,

Jaga-lah (jangan JAGAL) aset budaya..biar gak diserobot bangsa lain. Di-aku2.. diklaim milik mereka hanya alasan blom sempat di-patenkan.