Jumat, 05 Januari 2018
catatan pesisiran...27 November 2017
topik ganyang "Keong sawah"
singgung viral bahasan keong sawah....,
Senin, 31 Desember 2012
Kaleidoskop 2012
![]() |
| pit-stop di jembatan gantung Marong, ini merupakan peninggalan jaman Belanda yang kini diperbaharui oleh Pemkot Mataram |
![]() |
| Gowes menyisir pinggir Jangkuk - Muara |
![]() |
| merah-putih di balai posyandu |
Kesempatan lain. Saya mendapat sedikit project foto kecil tema Kesehatan ibu dan Anak. Ini memberi khazanah luang tersendiri. Berburu momentum perayaan hari kemerdekaan hingga sudut selatan. Menyisir beberapa desa pinggiran kota. Atau sekedar nongkrong di Posyandu dekat rumah. Mepet di garis bantaran sungai Jangkuk.
![]() |
| suguhan dawet di prosesi nikah adat Jawa |
Sekalipun di pelataran jeda lain saya juga kais pengalaman di foto wedding. Baur jenak dengan salah satu usaha terkait milik seseorang. Lebih banyak fungsi back-up. Sedikit gamang dari keterbiasaan pola rutin. Jika selama ini saya lebih suka suasana natural.. baik secara pose obyek dan pencahayaan alami. Gilir wedding, formatnya jauh berbeda. Ada sedikit porsi formalitas. Pose-pose yang serba di atur. Tabiat flash dan pencahayaan buatan. Selama masih akrab dengan foto tema in-door. Menjadi menarik ketika saya dapat kesempatan foto liputan nikah. terlebih dengan muatan upacara budaya dan warna adat. Gugah curiosita lagi. Setidaknya saya jadi mengenal tata cara dan tata krama prosesi nikah dari nuansa adat berlainan suku nusantara. Jadi alasan tepat, kenapa saya lebih menyukai peran candid. Ada kebebasan merekam pose dan ekspresi lepas diantara momen formil.
![]() |
| orderan ilustrasi profil keluarga gaya kartunik |
![]() |
| media pinsil warna |
2012 juga memberi warna duka bagi kami sekeluarga.
![]() |
| ziarah kubur saat Idul Adha |
![]() |
| momen cincang daging hewan Qurban |
Alhasil dari sekian jama'ah yang turun masjid ba'da isya, mereka saling membagi porsi kunjungan tahlil. Ini belum lagi ditambah acara selakaran (bacaan pujian bagi Rasul). Warga pengundang pemilik hajat yang dirumahnya ada anggota keluarga tunai pergi rukun Haji. Sebab berbarengan jadwal. Ini sih kadang bikin was-was. Masalahnya para toga (tokoh agama) jika tidak dikonfirmasi sebelumnya akan nimbrung di satu tempat. Bingung-lah empu-nya gawe kalo tidak ada pemimpin prosesi doa. Namun bukan kendala kritis. Biasa-nya ada personil lain yang ber-inisiatif ambil alih jika memiliki kemampuan pimpin prosesi tahli. Paling apes, jeda waktu tunggu... seseorang kudu menjemput toga yang nyangkut di-hajatan lain tempat. Tapi begitulah warna bersinergi. Saling mawas... berkah nuansa ber-empati.
November hingga Desember....,
2 bulan menutup jelang tutup tahun. Berjalan dengan laju rutinitas harian. Musim hujan kian menunjukkan limpah curah di rentang bulan ini. Saya agak jarang aktivitas keluar jauh. Lebih membenamkan diri aktivitas rumah. Optimalisasi konsep niaga on-line. Berbenah sarana penunjang yang diperlukan. Menjajaki pembaharuan ala kadar. Tetap rutin bersepeda tanpa menentukan jadwal tetap. Range lingkaran sedikit lebih menlampaui lingkar kampung...
![]() |
| gowes di lintas jalur pematang |
Tengah 15 November, tiba tahun Baru Islam. 1 Muharram 1414 Hijriah. Terus terang. Ini kans awal saya berkenan nimbrung di Masjid Babussalam. Semata khusus demi acara ini. Panggilan suar corong masjid sudah sejak tadi berkumandang undang warga kumpul. Lumayan ramai yang hadir. Berbaur dari tua hingga kawula muda dan anak kecil. Diawali doa akhir tahun, lalu awal tahun. Khidmat melantun doa. Bait harap dan barokah sholawat. Asa bergema dibawah tudung kubah menganga...,
30 November. giliran pelaksanaan acara 40 hari almarhum ibunda. Cukup melegakan. Terlihat dari sanggup dan sigapnya tetangga dekat berbaur. Membantu sekedar penyiapan sajian bagi undangan jama'ah tahlil. Alhamdulillah lancar.
Adakah kesan Desember? Selain tabiat cuaca yang mulai bergolak. Hujan memancar lebih deras. Angin sedikit meningkatkan tensi hembus. Kami menandai lebih mudah, dengan resonansi suara debur ombak peisisr yang bisa mencapai rongga dengar. Sebagian mengkaitkan dengan prediksi perubahan cuaca ekstrem badai Matahari. Eh! hampir alpa. Tahun ini juga menjadi momentum penentuan prediksi kiamat versi perhitungan almanak suku Maya. Konon jatuhnya di angka keramat 12 Desember 2012. Toh ini gak terbukti sama sekali. Hatta, belakangan ada yang melansir ulang, bahwa puncaknya akan mencapai tanggal 21- Desember. Kiamat segitu kog mudah di ralat !?
Tutup tahun versi masehi....,
Gak ada pesta kemeriahan. Hanya menyempatkan sekedar keliling kota yang ujungnya bawa gerah. Macet ditambah bingar letupan petasan. Terompet parau.... dan hawa kantuk yang mulai menyertai perjalanan singkat. Toh akhirnya membawa kami pulang kandang. Tepat 12 teng! langit Mataram di hiasi pecahan cahaya... letup gema. Terlebih di garis pantai Ampenan. Jadi zona tongkrongan sejak sore tadi. Ada yang hilang....., gak seperti biasanya. Sirine kapal gak berkumandang malam itu. Usut-usut ternyata gak ada jadwal kapal pengangkut minyak yang berlabuh di pantai Anpenan. Bisa jadi sebab kondisi angin.... golak ombak kian meninggi belakangan ini.
Merangkum 2 katarsis perayaan tahun Baru. Meriah gempita seperti lahirnya..... tapi gak penuhi bobot kepuasan batin. Terhalau seperti pesan gejolak angin.... diterbangkan begitu saja tanpa jejak spiritual. Subuh sepeninggal kantuk... dan alih pagi sesingkat putaran lintas kota. Hanya ampas kemeriahan itu yang tersisa... sampah plastik.. selongsong dan perca petasan. Pasukan dinas kebersihan ramai membentuk shaf-shaf trotoar.
Selamat mengalami 2 tahun Baru.......,
Rabu, 22 Agustus 2012
Selamat Idul Fitri 1433 hijriah
Paska sebulan penuh berkutat ibadah shaum. Sekalipun jauh dari kategori sempurna dalam pelaksanaan ibadah. Saya masih wajib bersyukur. Punya kans menyisip kegiatan diantara waktu dhuha hingga asar di masjid Raya Mataram. Cicil juz demi juz hingga khatam. Tambal-sulam di rajut 30 hari...,
Gak seperti rutinitas silam. Kadar yang tereliminir, sudah gak terbersit lagi hasrat hinggap dari berbeda masjid, musholla dan surau. Yang jumlahnya memang bertebaran di penjuru Mataram. Sesuai relevansi sebagai bagian Lombok berjuluk pulau Seribu Masjid.
Bahkan jelang 10 hari pelaksanaan Ramadhan akhir. Terselip agenda Dirgahayu Indonesia ke-67. Sebagai tipikal manusia non formal ala PNS. Saya gak sebegitu paham seperti apa aura kemerdekaan versi kini. Hanya tetap masih menduga. Formula rutin itu agak membentuk pola apa adanya. Entah kategori cinta tanah air apa yang kini dialami pada alih generasi. Kebanggaan semu... atau berujung juntrung Nasionalis kambuhan. Semua berpulang di pemahaman tiap individu.
Jumat, 23 Oktober 2009
Fenomena Bintang Jatuh

Info menarik saya dapat dari beberapa kunjung wall rekan sesama FB mania. Dua hari kemarin (21 & 22 Oktober) bakal ada peluang sajian fenomena alam, di kanvas langit. Taburan hujan meteor, atau kerap dijuluki bintang berekor. Gejala langka ini menurut pada ilmuwan adalah aksi rutinitas skala jangka waktu. Komet yang punya ulah itu bernama “ORIONID”. Bisa dinikmati pada saat jelang pukul 12 malam hingga tiba jam 4 dini hari. Terutama saat di terpa cahaya tiba fajar di ufuk timur. Saya begitu semangat ingin jadi pirsawan. Sayangnya moment berharga itu terlewat, akibat fokus jeda kantuk.
sekedar referensi coba intip LINK
Singgung bahasan tema terkait,
Secara impulsif redaksional ayat Qurani, saya sering dibikin penasaran dengan fenomena lontaran batu-2 angkasa. Konon, adalah aksi "jumrah" para malaikat ditujukan pada kelompok Jin. Para pencuri dengar.. berita-berita Gaib di singgasana langit. Terutama jin para utusan para ahli Ramal...sebagai rekan pendamping. Profesi pengais wangsit perantara sekutu, manusia-demit. Komunitas Jawa bilangnya konsep "Perewangan".
"Make a wish..." saran seseorang. Cetuskan harapan saat melihat bintang jatuh. Terlepas dari berbagai jenis keyakinan, semua berpulang pribadi masing-masing. Toh, semua itu kadang hanya sekedar sajian pelengkap alur kisah di film dan sinematografi. Gak bisa dipungkiri, kerap mengundang sisi latah kita. Berharap pada sesuatu yang bukan "sanad"-nya.
Adakah ko-relasi dari fenomena aksi lempar "jumrah" para malaikat. Entah ber-entah..., nalar saya berusaha menyatu titik-temu. Bahwa bukan "kita" saja sebagai manusia, yang kerap ingin intai sesuatu yg "sirr" di tabir misteri langit gelap. Malam memang punya sensasi tersendiri. Apakah cuma ada lengang di beranda negeri bintang? Galaksi yang bungkam... lalu kenapa harus ada ekspedisi luar angkasa? Semata ber-pondasi rasa penasaran, ingin menguak hijab dengan berbagai latar belakang ilmu. Astronomi... Astrologi....
kembali pada celetuk FB...,
Bagi sebagian orang, taburan hujan meteor adalah kewajaran gejala alam. Lalu saya coba giring pada momentum korelasi kini. Apakah terdapat konotasi pesan terlampir? Pelantikan Orde terpilih di Indonesia. Jabatan tahap ke-2, pak SBY dan jajaran-nya.
Semata merangkai benang merah jalin sejarah pendahulu. Kurun Orde Baru - masa enyam presiden Soeharto. Konon di selimuti misteri serba klenak-klenik. Koleksi tosan aji dan mustika.Memiliki komunitas orang "pintar" pilihan dari pelbagai pelosok nusantara. Mereka inilah sang andalan, staf oknum pembaca "pesan" dibalik fenomena kejadian alam semesta. Semata demi kelanggengan tahta tergenggam.
Gak jauh dari komunitas para empu pencipta benda pusaka. Sirkulasi kisah yang tidak jauh dari tematik bintang jatuh. Dibutuhkan "material" logam terpilih. Ilmu kini disebut Metalurgi. Prosesi mengharap hidayah Maha Pencipta, melalui ajang bersih diri, tirakatan. Sembah-Tareqah. Hingga tiba material yang dinanti, watu-tiban. Bongkah meteorit...yang tidak aus tergesek atmosfir. Bahan yang di tunggu sang empu. Kajian tehnologi sekarang, batu meteor mengandung logam unggul, berupa Nikel dan Titanium. Lebih punya strata dibanding sekedar biji besi (al-hadid). inti-nya, pusaka muasal "watu-tiban" di anggap punya martabat dan kasta yahud. Gak sembarangan prosesi kejadian.
Lalu bagaimana dengan oknum "pagar"... new ordo ala SuraBaYa dan para bonek-nya (plesetan inisial), menyikapi fenomena hujan meteor? Adakah sisip pesan membaca gelagat?
berikut ungkap celetuk....,
era ORDE Baru, tampuk pimpinan jaman pak Harto yg kerap dwarnai tema klenak-klenik... sebuah gejala alam selalu dikait-2kan dengan sebuah konotasi pesan Dumateng paraning Gusti. well, Ordo SuraBaYa...dengan para bonek-nya....memaknai apa thd berita pesan-2 langit???? semata gejala alam biasa....atau sdh sibuk menghubungi para ahli Falaq. Ramalan hujan meteorit.....,
Celetuk ringkas (saya) ala wall FB itu ternyata mengundang rekomen rekan jejaring. Lha menurut mas Taufan sendiri gimana? O-oooo...., mengharap reaksi komentar... waiting wishing's-list on under column, malah ktiban pertanyaan bailk. Awalnya sekedar saya jawab "Waduh! saya bukan peramal mas!" Jeda selang sehari ngendap... muncul was-wasil honnas! Saya timbun jawaban sekena-nya. Berbunyi gini-nih......,
tp ibarat hukum SISI KOIN : bakal banyak warga RI yg kepala-nya di lingkari rotasi bintang-2....alias pusing 7 keliling. tambah puyeng liat kondisi yg kian semrawut. gak jg kunjung sembuh skalipun telan puyer bintang 7. hatta atas resmi petunjuk resep dokter.
hehehehe.... itu td berita ANGIN di serambi Gugus Bintang. Bukan forward dari emak si Mamah Lauren.



















