Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Januari 2018

catatan pesisiran...27 November 2017

Ampanam VS.the (r)AJUNGAN SATU HATI 
kongkow pagi disini bukan soal peluang bisa amati "kepulan brokoli" kepundan Agung. Enggak! Tidak hanya itu. Mendung langit tetap saja mengundang rasa ingin tau. Sebagaimana upaya menguak jejak bias mendung peradapan lalu.
Kisah mampirnya A.R. Wallace itu lebih menggugah. Kabilah laut si 'Kembang Djepoon' yang gak sengaja singgah demi destinasi Makasar. Jika sebelumnya beliau di Bileling-Bali utara, pastinya kepincut Gili Manuk. Dan di Lombock berteriak eureka! Seandainya saja dia punya niat lanjut rute Sambaha...besar kemungkinan akan kegirangan di Labuan Burung. Laboratorium aves di komplek pulau sebelah, masa itu. Sebuah otobiografi alegoris. Dasar, napak tilas bumbu hiperbolik.
Sayangnya, Opa Wallace, tidak mencatat tongkrongan camar di pucuk korosi tiang bertahta noktah guano. Atawa si legam albatros dengan lengkung sayap serupa dual boomerang. Dia lebih giat mencatat koak-kaok...kepodang dan Maleo si pembuat sarang gunduk. Spesies Aves yang mendekati ciri khas benua Australia sebagai cikal-bakal hipotesa garis khayal tabir geografis.

Tentu tidak seperti imbuh khayalan itu. Dia mencatat pula kenangan indah tak terbantahkan. View eksotik fajar dan senja diapit 2 deskripsi visual Rinjani & Agung. Pemandangan alam khas tropika. Dan Agung, tentu tanpa cendawan erupsi.
Kapalnya tiba di Ampenan. tanpa ada dermaga. Gak ada tiang-tiang pancang pelabuhan peninggalan kolonial. Butuh sedikit perjuangan menciutkan nyali. Menunggang Sekoci bak papan surfing sebagai konsekuensi swell megahnya ombak. Masih ditambah cermin 'kajuman' khas Kamlay...eh! maksudnya sikap segelintir orang lokal yang seperti bangga terhadap prilaku ombak di wilayahnya. Cetus oknum kelasi begini : "Laut mereka kerap lapar...dan siap mengganyang apapun yang bisa diraihnya". Tentu Ini-pun gaya hiberbolis....meski tidak seperti awiq-awiq pulau sebelah yang masa-masa itu kalap menerapkan aturan. Hak Tawan Karang.

NOTE ; mengendus sejarah...betapa penting mengeja hirarki waktu. Biar gak terjebak Sirkulasi jaman now... tabiat kelabuhi time signal. past not continous tense. 

topik ganyang "Keong sawah"

Tulisan FB per-11 Desember 2017
singgung viral bahasan keong sawah....,
tentu beda lagi Bekicot..., menu khas orang perancis yang nyebutnya Escargot. Sampek ada ungkapan, blom dikatakan bonafide sebuah resto disana...jika pada list menu gak ada tercantum kuliner ini. Entah kapan booming disana. Mbuh!!!
Nah, sekitar awal taon lalu. Namanya berkecimpung sektor nyuplai bahan pangan. Sales Wong mCoco...mengenalkan escargot kemasan kaleng. Gak sempat terolah. Entah upaya sbg produk ujicoba. Kami saja susah, dus, mati gaya menawarkan pada konsumen langganan.
Bisa jadi ada banyak alasan. Terkait hukum haram jika jijay untuk kasus individu. Untuk penyelenggara usaha catering....apakah bisa didongkrak jd makanan esklusif? Jangankan mau dilabel keren escargot (snail meat) bagi warga Malangan bisa" kita dipisui wong sak dayak! Wong jelas" semua tau sebagai bagian kawula jaman past, Bekicot era 80-an sdh akrab bagi para bolang masa itu. Bekicot buruan strata akhir yg dilirik. Mendingan buru belut..urut berikut baru Qol. Siput sawah item yang klo di Lombok disebut Sisok.
Jelang awal 90'an di Malang, beberapa home industri mulai inovatif mengolah kripik bekicot. Kemasan plastik kecil harga 100 rupiah. Berlabel simpel...brand stamp pad tinta (ada jg tulisan tangan biasah  di kertas apa-adanya. Plastik kemasan boro-boro dilindas mesin impulse sealer. Paling keren andalin jilatan api lilin.. paling apes lampu minyak yang sudah dilepas batang semprong-nya! jadi bisa bayangin model press yang njlembret...njekitut..kayak kerutan wajah nenek Lampir. Jadi jangan ngarep nemu registrasi resmi berkompeten ala BPOM...apalagi stamp Halalal thoyiban.

Namun, dengan segala performa minor tadi. KripCOT adalah camilan keren bagi kawula kongkow mulut gang.. gaple'an pertelon atawa begadang simpang prapatan. Setiap rombong rokok bisa di pastikan available stok. Mekanisme distrusi-nya masif...semasif sebaran populasi esKicot. Betapa geliat ekonomi kreatif berbasis elan kerakyatan itu terjalin dengan lincah sekaligus indah (pada waktunya). Indeed!
Meski bisa jadi, di kekinian nasib kripCOT gak seheboh masa lalu-nya. Sama halnya dengan kerabatnya Sisok(keong sawah). Di lombok kerap hadir sebagai sate swuedap...legit pedas, mitra wajib pelecing. Sekarang jadi langka nemu inak-inak mobiling di kampung perkotaan, kecuali menu sate usus dan daging. Lenyap beserta sisa asap kenangan terlampir.

Lalu tiba segmentasi jaman NOW. imbau-imbau...suar-suar otorita pemerintah. Daging mahal... mari beralih alternatif pakan sikeong sawah. Dan saya-pun berandai jika nanti hadir wujud kaleng. Akankah diterima pangsa konsumen lokal dimari? hatta terpatri nama pabrikan Wong Coco. Disambut antusias...kagum keheranan,,,seolah dihadirkan kans memorabilia kulinari khas lokal. Atau malah ditanggap dingin...ekspresi momot-meco. 
Bisa juga reaktif gaya Malangan...ditawari suruh beli escargot wongCoco. Malah undang ekspresi Wong Mecoco. syukur-syukur sales-e gak di jumrah klompen by menungso perapatan, Refleksi-nya mau kemana kawulo bani instan sak niki-iki. Nostalgia bahan pakan dibubuh kemas kalengan. Atau ntar malah terjebak jargon-jargon kontradiktif...kerawanan pangan... kemandirian pangan. ke-mana-tahan-an pangan...pomeo-beo, tahan jangan makan, sitir dan setir dalil aqli puasa. Segitu mbulet-nya.. padahal tajuk kita hari ini ternyata cuma ilusi pangan. Ayo ndang...keburu expired!

Senin, 31 Desember 2012

Kaleidoskop 2012

Akhirnya tiba di gerbang peralihan tahun Masehi.....2012-2013,
Terhitung ada jeda hampir 6 bulan blog ini saya jarang update. Bukannya pasif, tetapi lebih konsentrasi di asupan konten blog lainnya.Dan perjalanan waktu sepanjang tengah tahun lebih member banyak warna. Masuki awal ramadhan.... hingga alih syawal. Begitu banyak lewati pergantian episode dari sajian porsi waktu. Lengkap suka-duka sesuai gilir hadir.
Ada beberapa poin yang menjadi acuan tonggak momen kenang. Ada orientasi diri yang pernah saya canangkan sebelumnya, Alhamdulillah menunjukkan titik terang pencapaian. Obsesi dari wish-list yang saya coba susun dan upayakan mewujud eksistensi.


pit-stop di jembatan gantung Marong, ini merupakan
peninggalan jaman Belanda yang kini diperbaharui oleh
Pemkot Mataram
Pertama, satu kesempatan saya berencana bisa olahraga teratur. Dan itu bisa tercapai sejak menyisihkan dana demi sepeda MTB. Tepatnya jelang masuk Ramadhan. Saya mulai membiasakan diri gowes. Tentu-nya nyambi kegiatan fotografi. 
Gowes menyisir pinggir Jangkuk - Muara
Keluyuran baru sebatas lintas lingkar kota. Dan beberapa trek jalur pinggiran (suburban). Avonturir di kawasan sempit. Sesekali mengajak para bocah. Meski harus menyiapkan goncengan khusus demi terlaksana hajat menyenangkan hati si bungsu. Kesempatan wadah keakraban yang lain. Itupun kudu membagi porsi tendem dengan abangnya yang gak mau ketinggalan. Gowes... yowis! lebih marak... lebih menikmati alur hidup dan kehidupan. Menyatu di habitat alam terbuka selalu memberi kami warna keceriaan akhir kisah. Meski menyisakan gatal belukar... lengket peluh, dan pegal kayuhan kinerja paha-betis.



merah-putih di balai posyandu


Kesempatan lain. Saya mendapat sedikit project foto kecil tema Kesehatan ibu dan Anak. Ini memberi khazanah luang tersendiri. Berburu momentum perayaan hari kemerdekaan hingga sudut selatan. Menyisir beberapa desa pinggiran kota. Atau sekedar nongkrong di Posyandu dekat rumah. Mepet di garis bantaran sungai Jangkuk.
suguhan dawet di prosesi nikah adat Jawa 
Ada indikasi pesan khusus, seolah saya diberikan kesempatan lebih banyak berbaur dengan khazanah anak. Sekalipun sebagai pemerhati melalui wahana fotografi.
Sekalipun di pelataran jeda lain saya juga kais pengalaman di foto wedding. Baur jenak dengan salah satu usaha terkait milik seseorang. Lebih banyak fungsi back-up. Sedikit gamang dari keterbiasaan pola rutin. Jika selama ini saya lebih suka suasana natural.. baik secara pose obyek dan pencahayaan alami. Gilir wedding, formatnya jauh  berbeda. Ada sedikit porsi formalitas. Pose-pose yang serba di atur. Tabiat flash dan pencahayaan buatan. Selama masih akrab dengan foto tema in-door.  Menjadi menarik ketika saya dapat kesempatan foto liputan nikah. terlebih dengan muatan upacara budaya dan warna adat. Gugah curiosita lagi. Setidaknya saya jadi mengenal tata cara dan tata krama prosesi nikah dari nuansa adat berlainan suku nusantara. Jadi alasan tepat, kenapa saya lebih menyukai peran candid. Ada kebebasan merekam pose dan ekspresi lepas diantara momen formil. 


orderan ilustrasi profil keluarga gaya kartunik
Kedua, kegiatan aktivitas ilustrasi bahkan menjadi lebih getol dari sebelumnya. Efek samping nimbrung komunitas seni dan budaya. Warjack Taman Budaya - Mataram selama ini cukup banyak memberi saya energi dan inspriasi untuk sesekali berkiprah dirana seni. Menjajal lagi obsesi hobi yang terlantar dalam kurun waktu. Mending di aktivasi daripada suntuk dengan sisa labil pertemanan semu. Oknum aneh dan bias pemikiran basi mereka. Kog anehnya gak sadari klo saya sudah entas lama dari bilik polemik. Beranjak hijrah untuk transfer esensi diri pada pola dan ajang yang jauh lebih cerah. Menjanjikan lebih banyak prestasi dan pengembangan potensi. Kancah lain dan karakter dan pribadi beda. Membongkar panggung lama... mendirikan pentas baru. Program rehab-rehab mandiri... begitu kurang lebih.
media pinsil warna
Hasilnya, kegiatan berkesenian saya jadi lebih intens. Bahkan kadar meningkat daripada tahun-tahun sebelumnya. Sisi lain, juga mendatangkan hikmah melek segi finansial. Sekalipun dalam kadar lumrah standar wajar. Apresiasi yang bergulir... kritik membangun. Pesanan dari pihak yang membutuhkan. Pajangan gambar keluarga atau ilustrasi buku. Semua terbangun dari inti jalin silaturahmi. Hal yang patut saya syukuri. Sumringah lega.... merujuk redaksi repetitif ayat di surah Ar-Rahman. "Lantas, Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?"

2012 juga memberi warna duka bagi kami sekeluarga.
ziarah kubur saat Idul Adha
Ibu mertua akhirnya berpulang ke Rahmatullah, Minggu, 21 Oktober 2012. Tepat menjelang sholat Dzuhur, dengan poin waktu mirip hari, pukul 12 : 21 wita. Akibat menderita diabetes basah. Sejak sebulan sebelumnya sempat dirawat inap di RSI Mataram. Berjalan seminggu. Dan demi faktor psikologis, akhirnya rawat jalan kami pilih sebagai opsi terbaik.Toh Allah menghendaki jalan lain. Selamat jalan ibunda Hj, Aminah Abdat. Doa kami anak-cucu akan selalu menyertai. Semoga amal ibadah kebaikan di terima Allah SWT. 

momen cincang daging hewan Qurban
Menjadi ujian tentu saja bagi kami, segenap keluarga. Persis tanggal 26 September, 5 hari kemudian jatuh pada momen hari Idul Qurban. Pelaksanaan yang beda dari tahun sebelumnya. Ada anggota yang berkurang. Seperti layaknya turut belasungkawa dari warga Kampung Melayu, umumnya. Tahlil diadakan selama 7 hari. Dan sisi uniknya, paska ibunda kami wafat, ada sekitar 3 warga lain yang juga meninggal. Bahkan sebelum ibunda kami juga ada yang lain. Fenomena begini oleh warga di-istilahkan Berentet. Alias bersinambung... bahkan komentar lain lebih nyeleneh "ajak-ajak"... seolah almarhum/ah satu mengajak yang lain. Tanpa dasar sih! Toh, di Jawa-pun mengenal efek konotasi wafat sistem berantai tadi.
Alhasil dari sekian jama'ah yang turun masjid ba'da isya, mereka saling membagi porsi kunjungan tahlil. Ini belum lagi ditambah acara selakaran (bacaan pujian bagi Rasul). Warga pengundang pemilik hajat yang dirumahnya ada anggota keluarga tunai pergi rukun Haji. Sebab berbarengan jadwal. Ini sih kadang bikin was-was. Masalahnya para toga (tokoh agama) jika tidak dikonfirmasi sebelumnya akan nimbrung di satu tempat. Bingung-lah empu-nya gawe kalo tidak ada pemimpin prosesi doa. Namun bukan kendala kritis. Biasa-nya ada personil lain yang ber-inisiatif ambil alih jika memiliki kemampuan  pimpin prosesi tahli. Paling apes, jeda waktu tunggu... seseorang kudu menjemput toga yang nyangkut di-hajatan lain tempat. Tapi begitulah warna bersinergi. Saling mawas... berkah nuansa ber-empati.

November hingga Desember....,
2 bulan menutup jelang tutup tahun. Berjalan dengan laju rutinitas harian. Musim hujan kian menunjukkan limpah curah di rentang bulan ini. Saya agak jarang aktivitas keluar jauh. Lebih membenamkan diri aktivitas rumah. Optimalisasi konsep niaga on-line. Berbenah sarana penunjang yang diperlukan. Menjajaki pembaharuan ala kadar. Tetap rutin bersepeda tanpa menentukan jadwal tetap. Range lingkaran sedikit lebih menlampaui lingkar kampung... 
lokasi di komplek persawahan ujung landasan eks bandara Selaparang
gowes di lintas jalur pematang
sekedar melatih Gingga untuk lebih jauh kadar gowes-nya.sekaligus menyisipkan bekal pelajaran di habitat alam terbuka. Tentang sawah... sirkulasi pengairan... pekerja sistim tanam di musim hujan. Ikan-ikan kecil yang sekedar akrab dijumpai di saluran pematang. Dulu, masa kecil di Malang saya mengenalnya dengan sebutan iwak gathul, gilir lokal sasak menamai empak Pepait. Nah, klo di Sumbawa Besar lain lagi, ikan Kepala Timah. Julukan sederhana karena identik dengan noktah warna putih di jidat si ikan-ikan mungil tadi. (Ini akan menjadi kisah lain di posting tersendiri, nanti -InsyaAllah). Lalu sajian visual yang paling diminati adalah pengamatan telur sisok (siput sawah). Banyak menghias ditepian pinggir belukar sawah. Dan Semoga kelak menjadi khazanah ilmu yang bermanfaat bagi para bocah-ku.


Tengah 15 November, tiba tahun Baru Islam. 1 Muharram 1414 Hijriah. Terus terang. Ini kans awal saya berkenan nimbrung di Masjid Babussalam. Semata khusus demi acara ini. Panggilan suar corong masjid sudah sejak tadi berkumandang undang warga kumpul. Lumayan ramai yang hadir. Berbaur dari tua hingga kawula muda dan anak kecil. Diawali doa akhir tahun, lalu awal tahun. Khidmat melantun doa. Bait harap dan barokah sholawat. Asa bergema dibawah tudung kubah menganga...,
30 November. giliran pelaksanaan acara 40 hari almarhum ibunda. Cukup melegakan. Terlihat dari sanggup dan sigapnya tetangga dekat berbaur. Membantu sekedar penyiapan sajian bagi undangan jama'ah tahlil. Alhamdulillah lancar.
Adakah kesan Desember? Selain tabiat cuaca yang mulai bergolak. Hujan memancar lebih deras. Angin sedikit meningkatkan tensi hembus. Kami menandai lebih mudah, dengan resonansi suara debur ombak peisisr yang bisa mencapai rongga dengar. Sebagian mengkaitkan dengan prediksi perubahan cuaca ekstrem badai Matahari. Eh! hampir alpa. Tahun ini juga menjadi momentum penentuan prediksi kiamat versi perhitungan almanak suku Maya. Konon jatuhnya di angka keramat 12 Desember 2012. Toh ini gak terbukti sama sekali. Hatta, belakangan ada yang melansir ulang, bahwa puncaknya akan mencapai tanggal 21- Desember. Kiamat segitu kog mudah di ralat !?

Tutup tahun versi masehi....,
Gak ada pesta kemeriahan. Hanya menyempatkan sekedar keliling kota yang ujungnya bawa gerah. Macet ditambah bingar letupan petasan. Terompet parau.... dan hawa kantuk yang mulai menyertai perjalanan singkat. Toh akhirnya membawa kami pulang kandang. Tepat 12 teng! langit Mataram di hiasi pecahan cahaya... letup gema. Terlebih di garis pantai Ampenan. Jadi zona tongkrongan sejak sore tadi. Ada yang hilang....., gak seperti biasanya. Sirine kapal gak berkumandang malam itu. Usut-usut ternyata gak ada jadwal kapal pengangkut minyak yang berlabuh di pantai Anpenan. Bisa jadi sebab kondisi angin.... golak ombak kian meninggi belakangan ini.  
Merangkum 2 katarsis perayaan tahun Baru. Meriah gempita seperti lahirnya..... tapi gak penuhi bobot kepuasan batin. Terhalau seperti pesan gejolak angin.... diterbangkan begitu saja tanpa jejak spiritual. Subuh sepeninggal kantuk... dan alih pagi sesingkat putaran lintas kota. Hanya ampas kemeriahan itu yang tersisa... sampah plastik.. selongsong dan perca petasan. Pasukan dinas kebersihan ramai membentuk shaf-shaf trotoar.

Selamat mengalami 2 tahun Baru.......,

Rabu, 22 Agustus 2012

Selamat Idul Fitri 1433 hijriah

Akhirnya tiba.
Paska sebulan penuh berkutat ibadah shaum. Sekalipun jauh dari kategori sempurna dalam pelaksanaan ibadah. Saya masih wajib bersyukur. Punya kans menyisip kegiatan diantara waktu dhuha hingga asar di masjid Raya Mataram. Cicil juz demi juz hingga khatam. Tambal-sulam di rajut 30 hari...,
Gak seperti rutinitas silam. Kadar yang tereliminir, sudah gak terbersit lagi hasrat hinggap dari berbeda masjid, musholla dan surau. Yang jumlahnya memang bertebaran di penjuru Mataram. Sesuai relevansi sebagai bagian Lombok berjuluk pulau Seribu Masjid.
Suasana juga beda. Cuaca lebih banyak kering. Berhawa sejuk.. bahkan mendadak dingin dari level biasa-nya. Malam demi malam berlantun gaung partitur Kitabullah. Varian beda generasi... merajut malam dengan tonasi tajwid. Lancar dan patah-patah... Semua rujuk di muara harap, ketiban hidayah Lailatul Qadar.
Starting poin yang beda porsi. Metode rukyat, Hilal dan sidang isbat. Senantiasa berkutat dalil akhir, Perbedaan adalah hidayah yang wajib disyukuri. Apapun konsekuensi dari pihak yang beda pendapat. Polemik gak berkesudahan. se-Amsal beda 2 kutub utara-selatan. Namun semoga tetap bersinergi.
Bahkan jelang 10 hari pelaksanaan Ramadhan akhir. Terselip agenda Dirgahayu Indonesia ke-67. Sebagai tipikal manusia non formal ala PNS. Saya gak sebegitu paham seperti apa aura kemerdekaan versi kini. Hanya tetap masih menduga. Formula rutin itu agak membentuk pola apa adanya. Entah kategori cinta tanah air apa yang kini dialami pada alih generasi. Kebanggaan semu... atau berujung juntrung Nasionalis kambuhan. Semua berpulang di pemahaman tiap individu.
Shaum di jelang 17 Agustus. Menghantarkan saya di temu-kumpul rekan Warung jack, Taman Budaya Mataram. Paska asar digelar acara sederhana bertajuk "Musik Kemerdekaan". Penggagas-nya masih tetap kang Ary Juliant. Prakata simpel.. bahwa lewat jalur berkesenian, apresiasi makna kemerdekaan ini bisa di jalani. Sebentuk kepedulian termudah sebagai oknum warga negara yg lahir dan besar di Bumi pertiwi... atawa Gumi Pertiwi.Terserah dengan kebobrokan realita tatanan orde yang berlangsung. Sebagai lumrah pembuka, karya maestro WR. Supratman melantun di kebersamaan keluarga Warjack. Haru yang lain..........,

Itupun selang sekian hari. Muncul juga anekdot di komunitas jejaring warga maya. Karikata dilematis lengkapi daya satire berparodi. Singkat kalimat... "Akhirnya, tanpa melalui sidang isbat... NU dan Muhammadiyah sepakat memutuskan hari kemerdekaan Indonesia jatuh pada tanggal 17 Agustus 2012". Masih di-embeli runtun celetuk lain oknum warjack. Wajar saja.. sebab sudah menjadi akad pihak MUI. Majelis Ulama Indonesia... bukan porsi Majelis Ulama Islam.


Kembali fitur Ramadhan...,
Semakin dekati hari akhir, kian dibikin saya gerah. Gelisah dalam batas manusiawi lahiriah, tentunya. Sebanyak opini lintas berkecamuk. Bisa jadi rupa obsesi diri yang melanglang jagad benak. Mukadimah kemarin bergaung Marhaban ya Ramadhan..., sebentar lagi Farewell of Ramadhan. Happy Ied Mubarak.....,

Semalam suntuk saya sulit tidur. Gema takbir gemuruh bagai gelombang gak putus. Malam takbiran sudah berjalan ramai sejak lepas isya. Menghimpun umat rela kumpul. Memadati simpang 5 Ampenan. Beriring semut sepanjang lingkar lintas rute aspal, seperti tahun sebelumnya. Hingar petasan jejali ke tinggian. Semarak yang kali ini saya hindari. Bahkan mematahkan antusiasme hasrat bocah di rumah. Maaf, ayah kalian lagi melow..barang jenak. Lagi kumat tensi-sensi... 
Lepas alih PM-AM, saya masih berkubang aktivitas internet. Lalu menguap disergap kantuk. Melepas penat tidur singkat. 2 jam perjalanan... serasa pause sejengkal. Henyak lagi di altar dini hari. Sepasukan bocah asal Melayu Bangsal gilir kitari kampung berbekal tetabuh ala kadar. Sambil teriak parau... takbir sengau. Seperti paduan suara tanpa ritme sensasi rapi. Cukup usik gendang kuping! Ah! jelang injury time... terbayang lagi keluarga Malang. Biang sensi tadi!!!!

Subuh-pun terlewati. Berkemas kunjung Masjid Babussalam. Remang merah fajar shodiq... mulai tipis dibasuh lidah pagi. Kini saya tergugah lebih antusias. Bergegas ajak Thoriq... sambil menenteng bekal kamera. Yah! Sholat Ied selalu ajak saya menikmati nuansa baur... sidang jama'ah yang menyambut makna fitrah. Selalu ada nilai memenangkan kebahagian di jeda akhir. Haru.. sedih, gembira campur tangis. Persis di momen fluktuasi dengung sholawat.... berjabat salam gaya Babussalam.  Saya-pun lega..., terasa lapang mengeruk kantung hati. 


Salam Lebaran menyambut Syawal....,

Jumat, 23 Oktober 2009

Fenomena Bintang Jatuh

Info menarik saya dapat dari beberapa kunjung wall rekan sesama FB mania. Dua hari kemarin (21 & 22 Oktober) bakal ada peluang sajian fenomena alam, di kanvas langit. Taburan hujan meteor, atau kerap dijuluki bintang berekor. Gejala langka ini menurut pada ilmuwan adalah aksi rutinitas skala jangka waktu. Komet yang punya ulah itu bernama “ORIONID”. Bisa dinikmati pada saat jelang pukul 12 malam hingga tiba jam 4 dini hari. Terutama saat di terpa cahaya tiba fajar di ufuk timur. Saya begitu semangat ingin jadi pirsawan. Sayangnya moment berharga itu terlewat, akibat fokus jeda kantuk.

sekedar referensi coba intip LINK


Singgung bahasan tema terkait,

Secara impulsif redaksional ayat Qurani, saya sering dibikin penasaran dengan fenomena lontaran batu-2 angkasa. Konon, adalah aksi "jumrah" para malaikat ditujukan pada kelompok Jin. Para pencuri dengar.. berita-berita Gaib di singgasana langit. Terutama jin para utusan para ahli Ramal...sebagai rekan pendamping. Profesi pengais wangsit perantara sekutu, manusia-demit. Komunitas Jawa bilangnya konsep "Perewangan".


"Make a wish..." saran seseorang. Cetuskan harapan saat melihat bintang jatuh. Terlepas dari berbagai jenis keyakinan, semua berpulang pribadi masing-masing. Toh, semua itu kadang hanya sekedar sajian pelengkap alur kisah di film dan sinematografi. Gak bisa dipungkiri, kerap mengundang sisi latah kita. Berharap pada sesuatu yang bukan "sanad"-nya.

Adakah ko-relasi dari fenomena aksi lempar "jumrah" para malaikat. Entah ber-entah..., nalar saya berusaha menyatu titik-temu. Bahwa bukan "kita" saja sebagai manusia, yang kerap ingin intai sesuatu yg "sirr" di tabir misteri langit gelap. Malam memang punya sensasi tersendiri. Apakah cuma ada lengang di beranda negeri bintang? Galaksi yang bungkam... lalu kenapa harus ada ekspedisi luar angkasa? Semata ber-pondasi rasa penasaran, ingin menguak hijab dengan berbagai latar belakang ilmu. Astronomi... Astrologi....


kembali pada celetuk FB...,

Bagi sebagian orang, taburan hujan meteor adalah kewajaran gejala alam. Lalu saya coba giring pada momentum korelasi kini. Apakah terdapat konotasi pesan terlampir? Pelantikan Orde terpilih di Indonesia. Jabatan tahap ke-2, pak SBY dan jajaran-nya.

Semata merangkai benang merah jalin sejarah pendahulu. Kurun Orde Baru - masa enyam presiden Soeharto. Konon di selimuti misteri serba klenak-klenik. Koleksi tosan aji dan mustika.Memiliki komunitas orang "pintar" pilihan dari pelbagai pelosok nusantara. Mereka inilah sang andalan, staf oknum pembaca "pesan" dibalik fenomena kejadian alam semesta. Semata demi kelanggengan tahta tergenggam.


Gak jauh dari komunitas para empu pencipta benda pusaka. Sirkulasi kisah yang tidak jauh dari tematik bintang jatuh. Dibutuhkan "material" logam terpilih. Ilmu kini disebut Metalurgi. Prosesi mengharap hidayah Maha Pencipta, melalui ajang bersih diri, tirakatan. Sembah-Tareqah. Hingga tiba material yang dinanti, watu-tiban. Bongkah meteorit...yang tidak aus tergesek atmosfir. Bahan yang di tunggu sang empu. Kajian tehnologi sekarang, batu meteor mengandung logam unggul, berupa Nikel dan Titanium. Lebih punya strata dibanding sekedar biji besi (al-hadid). inti-nya, pusaka muasal "watu-tiban" di anggap punya martabat dan kasta yahud. Gak sembarangan prosesi kejadian.

Lalu bagaimana dengan oknum "pagar"... new ordo ala SuraBaYa dan para bonek-nya (plesetan inisial), menyikapi fenomena hujan meteor? Adakah sisip pesan membaca gelagat?


berikut ungkap celetuk....,

era ORDE Baru, tampuk pimpinan jaman pak Harto yg kerap dwarnai tema klenak-klenik... sebuah gejala alam selalu dikait-2kan dengan sebuah konotasi pesan Dumateng paraning Gusti. well, Ordo SuraBaYa...dengan para bonek-nya....memaknai apa thd berita pesan-2 langit???? semata gejala alam biasa....atau sdh sibuk menghubungi para ahli Falaq. Ramalan hujan meteorit.....,

Celetuk ringkas (saya) ala wall FB itu ternyata mengundang rekomen rekan jejaring. Lha menurut mas Taufan sendiri gimana? O-oooo...., mengharap reaksi komentar... waiting wishing's-list on under column, malah ktiban pertanyaan bailk. Awalnya sekedar saya jawab "Waduh! saya bukan peramal mas!" Jeda selang sehari ngendap... muncul was-wasil honnas! Saya timbun jawaban sekena-nya. Berbunyi gini-nih......,


@HA : bisa bnyak konotasi... ini bisikan wangsit yg br sy terima. Akan banyak muncul para Bintang yg ahli d bidang-nya utk sgera menyelesaikan tugas-2 tertunda negri ini.....,
tp ibarat hukum SISI KOIN : bakal banyak warga RI yg kepala-nya di lingkari rotasi bintang-2....alias pusing 7 keliling. tambah puyeng liat kondisi yg kian semrawut. gak jg kunjung sembuh skalipun telan puyer bintang 7. hatta atas resmi petunjuk resep dokter.
hehehehe.... itu td berita ANGIN di serambi Gugus Bintang. Bukan forward dari emak si Mamah Lauren.