Tampilkan postingan dengan label hobby. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hobby. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2013

paused on writing

Tips lain hapus jenuh....,
Nulis... ngisi wacana postingan blog bisa jadi hal yang sesekali menjemukan. Kerap-kerap ngadat... padahal masih punya beberapa stok kisah. Mestinya bisa di tuang... tapi kog tetap macet yah! mirip kinerja knalpot. Hembus gak lancar... terbatuk-batuk. Ada failure di perangkat internal mesin, mainstream, lebih tepat di istilahkan mind-stream. Antara benak... impuls intuisi... dan perkakas jari gak sinambung kait. Susah diajak kompromi.

Out of Box... kudu berpikir diluar hal rutin. Gak ada lain, pilihan jatuh pada aktivitas sketching. corat-coret dan pembiasaan lagi pendalaman karakter gambar. Tadi-nya, secara dampak juga bawa kans mendulang hasil finansial. Tapi gak total frontal. Alias sekedar penuhi order dari beberapa rekan sejawat yang membutuhkan. Ilustrasi buku.. head-shot figur seseorang.  Artinya secara aksi, ini merupakan langkah pemberdayaan peluang potensi. Maksud sisi humaniora adalah asah kecerdasan finansial. Melek sisi ekonomi....,

Baru lagi saya mulai. 1/1 wajah rekan pesbuk saya jadikan referensi. Memanaskan hasrat berkarya... biar kambuh, dan tumbuh lebih greget. Tentu-nya di poin itu saya lebih mengandalkan mood. Sambil plirak-plirik memandang karakter khas pembeda individu. Swear! berbasis mood jadi saya lebih mengandalkan feel ego. Pilih sendiri rekan mana yang bakal cocok jadi korban sketching. Melatih pembiasaan. Pelajari garis wajah... mana yang bisa di olah secara cepat. Ada juga yang perlu di-olah dikit detil. Hal ini terkait kurikulum yang random... acakadut. 
Begitu jadi, langsung tayang. Tancap di wall rekan FBers bersangkutan. Apa-pun bentuk apresiasi toh itu lumrah. Menyenangkan estetika perkawanan... sekalian gerilya promosi ala dinding ke dinding.



Susahnya nih! ada yang tergerak di buatin. Sekaligus minta pesan. Tapi giliran disebut pampang nominal langsung.. bubar jalan. Bungkam 1000 bahasa. Hehehe....., sental-sentil harga tapi diem. Entah dianggap mahal barangkali. Sekalipun ada juga yang lebih blak-blakan, acap dibumbui guyon afkir. Kalo bisa gratis mayan khan! ditambahi syukur Alkhamdulillah... serasa fasih, dengan cengkok basa Arab yang disempurnakan. Demikian merdu tembus telinga. Tapi-nya miris di hati saya terdalam. Duh gusti... ngurut ati lagi hamba-Mu ini..., Adakah engkau bakal kirimkan tukang urut spesial khusus hati hamba..., hehehe..., pembelajaran menejemen Kalbu.

Tadi-nya tensi semangat saya lagi nanjak. Eh, mendadak di ajak surut. Nah, coba lagi bayangkan. Ada mahluk lain muncul. Ajakan add friend tapi dengan misi tertentu. Minta digambarin. Pake nodong... jangan yang model sket mas, Klo bisa yang persis kayak foto-ku ini ni.. soale paling aku suka. Ntar tinggal aku copy deh! hantam kromo... tanpa tata tertib permakluman dan bumbu rayu. Wkwkwkwkw......, Dalem ati. Ini tipe manusia pingin beres. Gak paham proses garap. Apalagi mau peduli payudara-asma ( alias : tetek-bengek) tingkat tehnik dan kesulitan garap. Saya bikin sketch... dia minta porsi realis plus gratis. Yayaya....,  


Sejati-nya itulah curcol
Nikmati sajian gambarnya... bukan curhat alai-nya :)


rekan demen gowes...

another style.. same character

Iswara Dewa, sobat di FB

tax... driving licence & cowboy senior, 3ple corruptor

Luthfi Hasan Ishaq

Kamis, 25 Juli 2013

kumat Mancing.........,

Lokasi : bilangan tambak tanjung Luar - LoTim
Memancing tentu menjadi semacam hobi menyenangkan bagi sebagian penggemarnya. Konon bukan sekedar kemampuan finansial bagi yang menganggap sebagai penyaluran olahraga, sport fishing. Sekaligus wadah melatih kesabaran, insting dan sensasi strike. Hingga kepuasan mampu menaklukkan ikan buruan. Faktor yang gak bisa dipungkiri, tentu saja faktor nasib. 
Nah, soal pancing memancing buat saya pribadi semacam kegiatan yang susah dijadikan tolak ukur. Dulu, masa SD dan SMP, saya pernah gandrungi aktivitas ini. Tentu diawali akibat gaul dengan teman sepermainan, sekolah dan lingkungan rumah. Mulai dari sekedar bikin kolam kecil dan menangkap ikan sekedar pake cakupan tangan. Itupun sekedar jenis ikan kepala timah (iwak gathul : versi jawa). Yang banyak bertebaran di selokan dan lahan basah (wetland) tengah kota saat era bocah di Sumbawa Besar. Lalu sejak pindah Lombok, aktivitas mancing jadi intens dan kerap tersalur, lantaran kami tinggal di rumah keluarga yang punya banyak petakan kolam air tawar. So, memancing menjadi sirkulasi mutualism tabiat-habitat. 


lokasi : tonggak eks pelabuhan Ampenan
Beranjak mulai kenal joran dan reel perdana, saat SMP di Malang. Memancing menjadi acara pengisi hari libur. Tapi sudah agak mix dengan kegiatan lain. Biking dan berburu burung dengan air rifle. Saya menjadi punya kegiatan jelajah di kanal kecil di zona pinggiran kota. Paling jarang ikutan di kolam berbayar. Masalahnya sangu cekak! Kalopun bawa untuk sekedar beli jajan. Saya dan rekan lebih cari suasana bermain dan doyan kelayapan. Cukup melihat peluang survival ala kadar di habitat alam terbuka. Jenis yang disasar gak ada lain ikan lele, dan paling sering Kotes. Masih satu family dengan gabus atawa Tomman. Jika berhasil dapat tangkapan, paling ujung-ujungnya cemplung di kolam kecil rumah. Perbendaharaan sementara. Yah, paling apes berakhir di wajan penggorengan. Jadi tambahan santap kuliner jatah melek malam minggu dengan para misan yang tandang rumah.

Masa itu akhrnya berlalu ringkas. Paska SMA , waktu bergulir hingga saya balik lagi ke Mataram - Lombok. Bekal pancing sejak saya pake sejak SMP ikut dibawa. Itupun tidak banyak fungsi. Akhirnya beralih hak milik. Alias di pinjam teman, tapi gak pernah kembali, selama-nya! Padahal perangkat 1 set seharga Rp 15.000,- begitu banyak menyimpan kenangan petualangan. Melow yang terlambat. Hahaha....,
 Sejak itu, memancing seperti tidak pernah lagi saya tekuni. Semacam pengalihan alibi abnormal. Ah, ngapain lagi berkutat aktivitas bocah. Ego janggal... ah! toh dulu pernah lakukan itu. Bosan! konsentrasi jenuh. Pengalihan berikutnya memang saya lebih kecantol hobi lain, Drawing. Bukan aktivitas baru sih, justru berdayakan energi curiosita yang terbentuk sejak awal. Hidayah talenta barangkali. Dan kebetulan masih awal kuliah di bidang Komputasi. Sama sekali gak kepingin jajal jagat perpancingan. Padahal di Lombok, gak perlu jauh-jauh mencari spot lokasi. Baik tawar maupun laut. Terjangkau dari segi waktu dan biaya.


Jeda panjang...., 
Masa awal 92'an seolah era kegelapan untuk urusan mancing. Tapi bukan berarti saya sama sekali gak bersinggungan dengan dunia ikan. Justru pindah bermukim, "menjauh" dari ortu dan ikut bude di Lombok, saya kecipratan aktivitas baru. Kebetulan di lokasi saya bernaung, juga berkutat sekretariat Klub Penyelaman. Nama-nya Rinjani Diving Club. Otomatis terbentuk secara dampak lingkungan. Olahraga renang menjadi menu tiap minggu. Pembentukan mental dan kawah candradimuka yang 'beda'. Dari sekedar memperbaiki gaya renang standar, bukan lagi 'asal' gaya kali. Perkenalan alat snorkeling hingga scuba. Menekuni profesi sebagai dive-guide. Sampai melakukan pekerjaan lain bersifat komersial diving meski tetap berbasis perangkat Scuba. Mencari jangkar kapal feri yang hilang, membersihkan bagian lambung feri maupun yacht milik orang bule. Pembersihan as alur propeler kapal feri yang ngadat akibat disusupi jaring nelayan. Pekerjaan salvage ala kadar... pekerjaan inspeksi bawah air. Dokumentasi foto, dan masih sederet item pekerjan lain. Di lingkup aksi sosial paling-paling tergabung dalam tim SAR. Utamanya bila ada kecelakaan laut yang dialami kapal penumpang. Memburu beberapa jasad korban yang tersangkut di kapal karam. Semua-nya memberi warna tersendiri. Komplit suka-duka yang mengiringi-nya.    



that's me, tubir miring terumbu gili Lawang - Lombok Timur.
FACE TO FISH...., Bertatap langsung dengan biota dalam air? tentu saja!!! Justru sejak geluti olahraga selam saya jadi leluasa bercengkrama dengan mahluk air. Tidak lagi sekedar ikan. Tapi beberapa biota khas lain. Tetap menjanjikan wawasan edukasi lingkungan.
Apalagi ketika dapat pembekalan MPTK (Metode Penelitian Terumbu Karang). Semacam pakem standarisasi tehnis sensus karang dan ikan. Betapa pengkayaan materi itu kian menambah khazanah dunia Bahari. Paham... dan sekaligus memupuk rasa peduli. Cara pendekatan yang perlahan terbentuk oleh porsi simbiosis mutualism. Secara gak langsung seolah tertanam solidaritas. Terpatri bak doktrin dengan cara tersendiri. Namun bukan berarti saya antipati makan ikan. Lalu latah jadi mahluk herbivora binti vegetarian. Enggak lah! Masih taraf normal paham nilai gizi dan protein. Betapa lebih gurih ikan segar. Daripada ganyang isi sarden kaleng maupun ikan asin. 

dengan pose gini... serasa saya menjelma profile mbok jamu
Beda-nya gini.., kalo dulu mancing gak peduli jenis apapun yang terangkat kail. Kini lebih mawas dan bisa pilah-pilih. Artinya jenis apa yang enak. Ambil dengan size ideal... jangan sasar indukan dan tipe baby-fish. Tehnik buru juga beda. lebih mengandalkan spear-gun. Alias panah ikan. Sisi efektif-nya, di dukung peralatan scuba kami bisa lebih leluasa cari spot ikan potensial. Sementara jatah Night Dive dilakukan untuk mencari lobster di ceruk dan liang karang identik persembunyiannya. 


di karamba stingray.. pastinya itu bukan Steve Irwin

Memancing, perlahan mulai saya gemari lagi. Terhitung sejak tahun 2000 ke-atas. Tapi tidak dengan kecenderungan drastis. Minat kambuh gara-gara liat para boat-man selalu mengisi luang disaat perahu yang kami gunakan survey kegiatan laut. Selagi beberapa surveyor meneliti parameter kondisi air. Saya nyemplung dasar laut atau sekedar pengamatan via aksi snorkeling. Iseng, para boatman dan kernet-nya mulai memancing. Seloroh umum yang mereka ucapkan, "maeh, poroq-poroq boyak empak kadu kanduk" * 
Sirkulasi ini semacam melahirkan pencerahan pembaharu buat saya. Betapa mereka masih berpikir alternatif membawa "sesuatu" bekal pulang untuk sekedar penuhi asupan gizi keluarga. Hanya bekal metode standar. Pancing dasar tipe hand-line untuk buru ikan dasaran substrate. Dan biasa disambi mancing ikan pelagis. Target kuwe alias jack** dan Tengiri. Tangkapan ikan dasar yang berukuran kecil/medium kerap langsung dijadikan umpan hidup. Menggugah minat jajal. Pematik hal baru. Metode sahaja dan beda cara tangkap acap justru memancing reaktif.


lokasi : embung jalan Airlangga - Mataram
Setidaknya, daya perca mozaik visual tadi semakin akut. Tiap ada kesempatan saya mulai ikut mancing, selagi tidak usik porsi kerja utama. Sekedar pancing dasar ala hand-line. Cukup menyenangkan. Perlahan saya mulai bisa menikmati. Seperti mengulas titian memori, 'benang-merah' masa bocah dulu. Betapa asyik-nya jalani peran si Bolang

Satu sisi saya mulai paham, selama ini kenapa saya jadi ogah tekuni hobi ini. Ternyata selain alasan butuh waktu tersendiri, memancing juga perlu konsentrasi dan kesabaran tingkat tertentu. Kita gak akan pernah bisa merasakan esensi-nya jika masih dibaur dengan kegiatan lain. Apalagi di jatah waktu yang bersamaan. Non sense terlaksana ! Inti-nya, cuma memperkuat tekun dan niat. Tujuan mancing, yah sudah mancing saja. Jangan tergerak belah fokus lakukan aktivitas lain. Sesederhana itu saja, tanpa ada perasaan sesal sekalipun hasil boncos. Hasil hampa tanpa tangkapan sekalipun. Justru malah menimbulkan efek penasaran lagi, seolah terpatri sugesti 'next will be better'.
 

Syukurnya, saya mulai ada teman yang memang benaran demen mancing. Awal saya masih pinjam perangkat. Belakangan mulai tergerak beli sendiri. Alasannya lebih baik mengenal akrab alat pribadi. Kalaupun ada resiko alat rusak, itu sudah menjadi konsekuensi. Perlahan saya mulai doyan keluar-masuk toko pancing. Melengkapi beberapa keperluan aksesoris pendukung. Casting dan popping... dan sedikit mulai lirik jigging. Adapun trolling beberapa minggu terakhir saya sudah mulai coba. Adanya kegiatan penelitian kerang bakau di gili Lawang dan Sulat memberi kesan leluasa. Sebab tinggal pasang joran dan dilakukan aksi tarik-ulur kenur selama perjalanan rute pulang-pergi gili. Yang bikin was-was justru status alat yang bukan peruntukan trolling. Dari 3 bulan berlalu, belum tunjukkan hasil. Strike baru kejadian minggu lalu. Saat lintasan boat kami melewati bilangan terumbu pinggir dekat jetti gili Sulat. Drag reel menjerit nyaring... pasti-nya ikan besar! Baru hendak menghajar, eh! mendadak jadi ringan.
Prediksi minnow terlepas, meski sudah saya kaitkan kabel nickelin di ujung line utama. Gegas gulung reel... ternyata minnow masih utuh, cuma kehilangan treble hook depan. Ring penghubung ternyata terurai... dan juga ada jejak karat. Memang sekedar pakai minnow murah-meriah harga 10 ribuan. Merk Bakau lagi, persis ekosistem yang sedang kami jelajahi. Terbukti daya handal tipe lure memang sebanding harga dan kadar mutu. 


Efek lain. Jadi kerap kunjung toko pancing. Beli asesoris tambahan. stok mata kail sampe stok timah karena sering kasus nyangkut. Istilah pemancing umumnya di anggap gak kunjung strike berarti kudu rela nyajen. Atau justru sekedar kunjung cuci mata. Mengenal berbagai perangkat yang someday bakal jadi prioritas target animo. Tentu-nya yang masih terjangkau. Ada juga sih, penasaran pingin nabung dan jajal beli alat standar advance. Cuma kadang kog malah menghalangi niat. Padahal ada sebagian angler yang punya semboyan sederhana. Ikan gak bakal kenal merk. Ngeributin mata kelilipan brand... trus kapan mau bisa menyalurkan hajat mancing dengan perasaan damai. Bahagia dan penuh nuansa relaksasi. 

ampas VCD rusak cukup bermanfaat sebagai bahan umpan buatan 
Oiya, khusus untuk lure demi support aksi casting, ternyata beri kans untuk kreatif ala mandiri. Tips sekedar siasati low-cost budget. Faktor mahal harga minnow or popper karya pabrik. Mending ber-hasta karya sendiri. Mulai dari tutup botol sampe potongan keping Compact Disc. Enaknya CD miliki kilau spektrum warna jika di terpa cahaya mentari. Serupa dengan warna khas tubuh ikan kecil yang menjadi buruan para ikan pemangsa. Kalo-pun kudu korban entah sebab kasus nyangkut atawa putus mendadak karena sambaran ikan babon, gak bakal jadi penyesalan seumur jagung. Mendingan nyajen ala kadar-nya. Bahkan lure tipe made-in sendiri ini bisa di modifikasi dengan model dan bahan seada-nya. Memanfaatkan limbah rumah tangga. Semboyan reduce...re-use.. re-cycle. Sekali lagi ingat motto simpel "ikan gak melek MERK".
Poin lain,  bermukim di zona dekat pesisir. Jadi bukan halangan untuk mudah mendatangi sajian spot potensial.  Muara... pasiran atau sekedar target ikan permukaan di dekat tumpukan krib penghalang abrasi. 
 

Salam strike !!!



catatan :

* "Iseng Ah, cari ikan sekedar buat lauk"  
** Jackfish dalam istilah sasak menyebut Langoan, Sementara di Sumbawa/etnis sulawesi rantau kerap disebut Mangali atawa Mengali.

Minggu, 24 Juni 2012

Dilemma Photoshop

Nyaris genap sebulan...., 
Jarang menulis demi padati posting gala-Aksi. Pastinya dalam 3 bulan ini saya lagi getol menggambar. Termasuk, akhirnya rela pelajari pewarnaan ala Photoshop. Bukan kuatir gaptek. Bisa dikatakan, entah keEngganan level akut apa yang bikin saya ogah-ogahan memanfaatkan sofware yang jelas-jelas multi guna. Baik untuk retouch gambar manual maupun kerja kreatif bidang grafis.
Hingga selang tahun. Gak juga saya geming. Beneran jadi tipikal kaku. Semata terkontaminasi kubu dunia fotografi yang bakal kehilangan aura keorisinalan, jika sudah diolah dengan software yang berlabel Photoshop. Fanatik yang gak beralasan. 
Sisi lain, saya juga menyukai kegiatan fotografi. Selingan di waktu senggang dan keperluan dokumentatif lainnya. Dan saya sudah berkenalan dgn perangkat Photoshop sejak berbekal laptop 5 taon lalu. Itupun sebatas olah digital biasa. Bright.. Contrass.. Saturasi. Cropping.. dan terpenting water-mark. Sekedar penanda resmi hasil foto sendiri. Cuma itu. Fitur lain paling ogah saya otak-atik. Padahal, klo kembali pada obsesi lama, ilustrasi dan beberapa cuil ilmu grafis begitu minat saya ingin kuasai. Terlebih pada penguasaan design logo dan design kaos. Pokoknya aneh! gak tergerak sama sekali pelajari.

Tapi dipikir lagi, ada juga alasan lain kenapa saya gak gubris apakah itu Photoshop, terlebih CorelDraw. Rewind ke belakang. Memang saat awal beli laptop saya punya kepentingan lain. Mendalami e-commerce berbasis website sederhana ala blog. Niaga ala virtual yang mampu tembus batas teritorial. Dan saya begitu termotivasi kala itu. Browsing dan lacak informasi demi tujuan utama.
Kalo-pun ada beberapa pekerjaan ilustrasi, saya lebih memilih tetap keukeh pada tehnik manual. Dan itu berjalan berangsur. Sebab meluangkan pelajari software digital akan membutuhkan waktu tersendiri. While, konsentrasi saya belum ngarah bidang itu sepenuhnya. Benar-benar saya terpola manusia instan. cari praktisnya saja. Maklum, pondasi niaga beda dengan kegiatan having Fun.
Persis awal tahun 2012. Saya sudah mulai ubah fokus. Mau gak mau saya harus tergerak untuk memanfaatkan fasilitas terbengkalai demi kegiatan yang saya nikmati. Palet warna digitasi kini begitu undang selera. Gak lagi skedar bergantung tehnik manual yang begitu makan waktu.

Harapannya, saya ingin mulai lebih fokus. dan sejak akhir-akhir ini mulai bergerak intim dengan Photoshop. Masih tahap proses. Dan kurang-lebih hasilnya terpapar dibawah ini....,































































































Belakangan, ada lagi terbersit jajal aplikasi lain. Pewarnaan ala Photooshop memang menarik. Tantangannya selagi tekun... ada keinginan nyoba tablet grafis, keluaran Wacom. Terus terang, kalo cuma mengandalkan kinerja mouse terlalu forsir daya kesabaran. Ugh.....,
Dan sebagai perangkat  handal dipikir-pikir lagi Tablet grafis ini layak di masukkan dalam daftar Wish-List. Dan itu artinya mengesampingkan hobi dan minat lain. Lensa kamera ternyata bukan lagi prioritas. Nabung lagi.. demi Wacom. Just think about it.... it's not cheap one :)

Drawing direct on your screen....


Kamis, 12 Januari 2012

back to skecthing....

Melancarkan sendi pergelangan tangan...,
Sekian lama absen. Nyaris setahun lebih. Berkutat hanya dengan gambar kompilasi homogen, monoton. Tema-nya selalu itu-itu mulu! Sanitasi... kondisi lingkungan... tipe toilet, dan sindroma gambar teknis yang gak kunjung mudah di aplikasi. Dan benarlah ujar seorang rekan. Tanpa tendng aling-aling, saya dikatakan terjebak kubangan, Jeding minded!
Hahahaha........., Kini saya bisa lepas 'gelak' hampir dekati sempurna. Tanpa kode etik dan bahkan ke-patut-an rujuk EYD (Ejaan'tawa' Yang Disempurnakan).

Dan warnai dunia-mu dengan ke-ceria-an tersendiri, yang bisa kamu ciptakan dengan tungku kreatifitas. Berbekal bahan bakar semangat... suburkan api, setidaknya titik bara dan nyala cahaya-nya akan memberi benih terang bagi kegelapan ruang. Tidak jauh dari sekitar. Dan apapun yang gelap... redup... akan pergi dengan sendiri...tanpa permisi. (filosofi ala kadar!!)

Akh, liat! betapa lancar saya umbar kata melalui tarian jari di tuts notebook, semata demi perlihatkan kesenangan menulis. Mengalir saja, demi hasrat apapun yang bisa ditulis. Bermain rangkai kata dari urutan abjad A hingga Z. Kombinasi angka dari 0 - 9. Tentu juga aneka tanda baca dan penyedap sisip kalimat. plus ASCII sesekali di pijakan petak tuts, keyboard.
Gak ada beda-nya dengan sisi aktivasi saya di corat-coret. Berkawan alat tulis dan
gambar, stasioneri. Bermain warna dan rujukan aneka paras dan rupa. Entah itu dari stok jibun foto seorang figur dari berbagai profesi. Hasil rujukan mesin pencari dan sekedar comot wajah rekanan FB-ers. Begitu mengalir. Sisi lain, rasanya seperti belajar memoles alat kosmetik bagi profesi pekerja Salon kecantikan. Memoles obyek dan subyek foto...,
Bahkan seorang teman (cewek) yang secara cepat saya gambar (permak tepatnya!), tid
ak jadi lebih mirip aslinya. Karena bisa saya poles lebih tirus dan bahkan mancung yang aduhai. Selain alasan, mungkin saya lebih familiar dengan wajahnya masa SMA dulu. Dengan PD-nya dia memajang di foto profil FB-nya. "This is mee" menambah tagline...., Beberapa komentar mengalir atas respon gambar. Kog terliat lebih cantik gambarnya?... wow, hidungnya kian mancung....!
Saya cuma geli membaca respon komentar tadi. Sekalipun bisa saja tak imbuhi..., Mending cantik secara gambar... murah meriah tanpa merogok kocek terobsesi operasi plastik.

Hahahahaha........, sekali lagi saya bisa ketawa. Setidaknya itu hanya sebagian kecil dari efek kebahagian yang bisa orang lain rasakan. Bagi rekan dan sejawat maya. Toh, kembali pada pembuka kalimat atas tadi. Semata memperlancar persendian tangan dan jari.........,



NamBah :
klo minat liat2 karya lain silahkan rujuk link http://glxgallery.blogspot.com

Minggu, 25 April 2010

fenomena samurai lentur

Bahas pedang unik...,
Bagi khalayak yang kerap berkutat bisnis barang antik rasanya pasti pernah mengenal, paling tidak mendengar istilah samurai lentur. Beberapa kalangan lain menyebutnya samurai sabuk. Lebih konyol, bahkan pernah ada edar kisah non-sens, konotasi lentur/sabuk tadi, serta merta pedang ini di-analogi-kan bisa di gulung bak umumnya ikat pinggang. Tentu saja usik nalar sehat. Sekaligus di bikin penasaran. Apakah demikian ada-nya, atau sekedar cerita runut, mulut demi mulut. Belum lagi ditambahi bumbu muluk. Entah sebagai efek estapet promo niaga sang pencipta, pemilik, beserta kurcaci down-liner.

Hingga tiba waktu, saya berkesempatan bertatap langsung dengan benda "heboh" ini. Melalui jalur rekan peminat barang antik. Saya gak sempat mengabadikan via kamera. Tapi penampilannya lebih kurang mirip dengan foto pada inset. Secara fisik bisa saya deskripsikan dengan spesifik sebagai berikut :


* Sangat tidak mirip wujud samurai khas jepang! Hunus bilah total lurus (gak sedikit lengkung seperti samurai) Berhiaskan gambar naga dari ujung hingga pangkal bilah. Terlebih memiliki format tajam kedua sisi tepi bilah (khas samurai hanya tajam 1 sisi bilah). Tapi sengaja dibikin tumpul. Dengan alur sisi yang terpoles sangat rapi. Seolah secara tegas ungkapkan fakta gamblang, pedang ini adalah status benda suvenir! Sekedar hadir sebagai item pajang. Dan BUKAN lahir sebagai murni fungsi senjata tajam.
* Fleksibilitas bilah terlampau lentur. Penampang bilah serba flat. Tidak terdapat garis tengah gunduk bilah, seperti halnya bagian "ada-ada" istilah pada keris. Mungkin sengaja diciptakan begitu sebab menyesuaikan performa lentur layaknya sabuk. Tadinya saya berhipotesa pedang ini dibikin lentur karena satu alasan. Seperti pedang khas cina yang dipakai oleh para pemain wushu. Tapi tidak demikian. Alasannya kembali pada julukan yang terlanjur meluas. Benda ini tetap di juluki embel-embel samurai. Pertanyaannya sederhana, sebagai samurai.. bahkan klo-pun di sebut pedang, sajam tipe ini gak memiliki nilai pesona tebas mumpuni. Apalagi digunakan fungsi tusuk. Terlalu lemas.. layu bergerak meliuk. Terlebih satu sumber mengatakan material 'samurai' unik ini memang terbuat dari logam cikal bakal gergaji. Wajar mudah melengkung! plus poin ini menghantar saya pada pemikiran lebih lanjut. Apa yang bisa disimpulkan? Tipe jenis senjata apa? prototipe apa yang jadi acuan dari tercipta-nya sajam ini? Ataukah Replika dari senjata jenis tertentu?
* Penampilan luar ; jangkau hunus bilah sekitar 1,5 meter. Agak terlalu panjang untuk ukuran pedang standar. Pada pangkal gagang handel dilengkapi hiasan rumbai. Bila d cermati ternyata ujung handel tersemat pisau kecil, terpasang pada sekrup d selongsong gagang. Saya prediksi sebagai sisip pernik senjata rahasia. Sarung cover bilah terbuat dari kulit. Mendekati bagian pangkal sarung bilah lagi-2 tersemat pisau kecil. (kian aneh, klo di cermati sisipan model gini seperti garapan umum khas pengrajin dalam negri. kreativitas imbuhan pada sarung senjata yang di jiplak dari senjata khas negara lain ). Entah gunanya sebagai apa. Pakem janggal termasuk membingungkan!!...penampilan katana kog demikian ribet?


Sedikit catatan...,
Terlanjur amburadul, simak istilah samurai yang disebutkan tadi. Julukan makin 'keruh' ini bisa jadi karena sekedar untuk permudah unsur sebutan saja. Maklum, kalangan dan peminat disinyalir berasal dari jenis kalangan. Padahal secara harfiah, samurai adalah sebuah status bagi kalangan militer atau anggota strata kelas ksatria. Jadi tidak identik dengan nama senjata tajam. Untuk mempermudah penelusuran, intip via narasi wikipedia berikut : Samurai , Katana, Wakizashi.

Referensi Manga
Yah! akhirnya saya menemukan titik cerah. Cuma sekedar dari bacaan komik Jepang (manga). Katana lentur ataupun yang sering disebut sebagian kalangan sebagai "samurai sabuk". Bisa jadi merupakan proto-tipe jiplakan dari alat pembunuh kuno mematikan, berjuluk istilah disebut "HAKUJINNOTACHI". Bisa ditemukan di serial Samurai X - Petualangan si Jago Pedang, edisi ke-10. Karya Nobuhiro Weatsuki.
Dikisahkan, pedang lentur ini di miliki oleh figur Cho, anggota Juppongatana. Karakter antagonis (si pemburu pedang) salah satu lawan tangguh dari tokoh sentral si samurai X, Kenshin Himura.
Secara eksplisit pedang ini tampak sebagai senjata rahasia. Tidak disandang gamblang. Melainkan tergulung dibalik baju sang pendekar pemakai. Punya fungsi 'rangkap' sebagai perisai tersembunyi. Guna menghindari serangan dititik rawan tubuh dari pihak lawan tarung. Semacam fungsi baju zirah. Terlebih dilengkapi tadah khusus untuk penempatan alur lingkar pedang.
Hakujinnotachi memang tipikal pedang lentur. Bilah dibuat super pipih dan tajam. Namun keuletan bahan tidak kalah dengan pedang biasa. Hanya saja bagian ujung bilah diberi volume lebih berat (tebal) dibanding bagian hunus bilah. Melalui penelitian dan kajian berkali-kali oleh sang empu. Dijabarkan pula, pedang ini mampu meliuk dengan format serangan yang sulit diduga. Hanya dengan tehnik variasi pergerakan tangan pada handel. Panjang hunus bilah mencapai 3-4 kali panjang pedang biasa. Artinya, hanya dengan skill khusus pedang ini mampu ber-atraksi layaknya senjata rahasia. Sehingga wajar klo hanya seorang pendekar/ samurai level tertentu yang memiliki-nya.

Vice-versa :
Hipotesa wacana tadi sedikit membuka wawasan. Bahwa "pedang lentur" bukanlah seperti yang dibayangkan banyak orang selama ini. Pedang lentur yang banyak beredar sengaja dibikin lemas mendekati konotasi lingkar pinggang. Hampir identik dengan pemaknaan lain samurai sabuk. Dan mungkin istilah nyeleneh lainnya.
Hakujinnotachi versi asli adalah murni senjata. Bisa jadi, tidak diproduksi masal seperti katana, pegangan wajib para samurai. Lalu kenapa versi replika yang salahi pakem ini bisa di bandrol dengan harga fantastik. Tembus skala milyar rupiah!!!!
Bisa jadi ulah supporter di usaha terkait. Hal yang "sangat" di harapkan oleh pihak tukang contek dalam negri. Sekaligus menciptakan harga mitos... walaupun menyalahi kodrat sejarah.


By the way,
klo anda pilih mana... bergengsi karena nilai mitos atau lebih "Gaya" karena Harga Sejarah? Kalkulasi sendiri! semoga narasi nyaBlak ini bermanfaat!





Cho, si pemburu pedang







Kamis, 04 Juni 2009

logo OBLONG ... marine taste!!


ini contoh karya logo basis Computerized via olahan paint versi lama. Ada juga "beberapa" yang lain. Ide-nya sederhana saja, mengangkat salah 1 materi pelajaran fisika penyelaman. sesi khusus yang bahas efek visual pada saat penyelaman. semua benda yang tampak didepan kita saat Diving akan tampak lebih BESAR dan Lebih DEKAT 25% dari jarak sebenarnya.

next, garapan penampilannya saya olah realitas-imajiner...., Moorish Idol yg berada lebih dekat toh juga akan tampil Bueeesaaaar dibanding biota ikan lain yang berada lebih jauh dari observasi via masker. Ini sebenarnya garapan yang pingin terlahir jadi karya nyata. Distro... selagi aktif jadi pengurus klub Rinjani Diving Club (RDC).
next, saya masih punya obsesi bikin distro on-line...., see next step.


NB : baru taon 2011 mimpi ini saya wujudkan. Dan desain di atas tadi menjadi desain perdana dari aksi 3T (talk thru T-shirt). sekedar intip link http://talk-thru-tshirt.blogspot.com/

Rabu, 25 Maret 2009

olah logo sederhana....,

3 hari kemarin,
Awalnya silaturahmi teman seangkatan kuliah, sekalian kirim paket tujuan Surabaya. Sobat saya ini sudah hampir 10an tahun geluti bisnis ekspedisi. Track record-nya lumayan panjang. hingga memutuskan bikin usaha mandiri. Ndilalah, saya kbagian "urun" sedikit ide perbaiki design logo CV-nya yang bgitu sahaja. Kata bErEsS singkatan "Berkat Express". sinyalemen gelut prosesi dan ber-profesi selama ini.
trus saya cuma dibekali contoh dan sedikit coretan pendamping.... see below!



Next,
saya sekedar olah pake Paint. blom juga sempat pelajari corel lebih mendalam. jadi masih cari simple-2 saja. Masukan-nya begini...,
  • Jangan tampilin 2 warna kontras. terkesan saling mendominasi. ikuti filosofi keseimbangan unsur yin-yang. buat penampilan saling mendukung berbekal pesan warna.
  • mungkin ini kategori Copy Writing, me-LOGO-kan Huruf/Font. dan pilihan huruf mutlak jadi pertimbangan. agar Eye Catching. biar kelilipan mata konsumen dan mengundang animo, sbg tujuan akhir.
  • minimalist is the best, tapi gak kurangi makna terkandung. Usahakan gak boros warna - ber-efek mahal cetak printing/sablon.
opsi warna & kandungan pesan :
ORANYE : kecerian, binar semangat diselingi kegembiraan.
Dark BLUE : keteguhan, kedalaman berpikir. (Pondasi absolut pada kotak bawah)
Putih : ketulusan
Kuning : warna pelengkap background, alternatif logo ber-bingkai.

pilihan jenis Huruf/Font;
Kata bErkah exprEsS dipilih huruf yg watak tegas, dinamis dan gak neko-2. saya hindari opsi classic, terlebih pilihan standar umum Times New Roman. (Romantika yang terbaharukan?). well, saya memang agak "rewel" tentang opsi huruf. Sebisa mungkin mencari yang ada korelasi dengan muatan disain yang saya susun.
finally, Opsi font "Courier New" untuk kata Handling Delivery saya rasa cukup mewakili. sebab seolah bermakna "KURIR BARU"= pembaharuan Bidang usaha. Narsis banget? yah memang harus gitu!

Dan jadi-nya seperti dibawah ini, dengan varian olah inovative yang juga ala kadar-nya. Patut saya syukuri, ternyata si teman ini menerima dengan hati lapang. At least, saya bisa berbuat sesuatu demi sahabat.







Minggu, 22 Februari 2009

Numpang Juwalan....,

Kali ini coba memanfaatkan blog sebagai showroom pajang niaga. Ada item TISSOT Navigator 3000. Salah satu bisnis sampingan. second hand. tanpa Box. kondisi masih 90% mulus. Menariknya Arloji ini pake metode Touch screen, tehnologi yg dikembangkan TISSOT dalam serial produknya. di klaim sebagai debut atribut yang ngaku TRAVELLER tulen. karena punya set multi time zones 150 kota dunia. jadi cocok bagi pejalan aktif!!!

sempat pula saya numpang promosikan di shout box milik "Naked-Traveller". sapa tau ada yang sempat baca dan tergerak uber lintas link.
silahkan Bid bila berminat. Penawaran Rp 1.700.000,-

NB:
sebenarnya ada blog tersendiri yang muat jejal barang dagangan. cuma memang muat atribut etnik dan antik. jadi sedikit riskan disisipin disana arloji ini. bila sempat liat http://talk-showroom.blogspot.com.


Makasih.





27 February 2009 : SOLD OUT

Sabtu, 07 Februari 2009

Berburu arloji… antara hobi dan profesi

Tadi-nya sekedar kegiatan sisipan penghilang efek fatal jenuh. Bisa juga upaya lain meningkatkan vitalitas hindari dampak ritual rutin. Watch your Watches….., lihat apa arloji-mu. Tema itu yang barangkali sesuai untuk konotasi sajian artikel kali ini. Sekalipun pernah saya tuangkan di tulisan sebelumnya, judul serupa sedikit ber-imbuh pemanis kata “Wal Asri…Time is Money…

Bagi saya bukan kenapa saya harus kepincut dengan karya para produsen arloji, Jepang maupun Swiss terutama. Dengan melihat alur detak jarum detik sebuah arloji saya jadi kian menghargai konsep waktu, begitu berharga-nya waktu. mengalir bersama…dan ikut menikmati buah karya tangan-tangan terampil, pekerja maupun pabrik arloji. Watch maker…


Satu kesempatan nimbrung di komunitas penggemar arloji tanah air. ber-afiliasi di bawah bendera Yahoo groups. Seperti menemukan kubangan baru untuk di selami. Ada sekitar 200an individu yang terdaftar sebagai anggota. Belakangan mulai nambah beberapa gelintir personil. Baguslah!

Sebagai ajang tambah ilmu memang bagus. Sekalian timbun koleksi teman dari berbagai latar belakang. Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua…. Sama-sama hobi arloji. Tapi terus terang belakangan muncul indikasi jenuh. Terutama ketika dialog lebih mengarah pada unsur pemujaan berlebihan terhadap barang, benda mati. Bahasan tentang ila demi ila. Namun pembelajaran terhadap waktu pula beri ganjaran nilai hikmah. Itulah sebagian lintas duniawi…. Gak bakal ada titik temu dengan kodrat samawi. Dan saya-pun tetap juga berpredikat mahluk bumi.




Piece of Time by Galaxy…..