Minggu, 03 April 2016

Batik LokCan

dokumentasi pribadi
Tuntut-lah ilmu sampai ke negri China....,
Terlepas dari kekuatan sanad hadist yang masih jadi wacana perdebatan. Bahwa gak bisa di pungkiri peradaban negeri Tiongkok itu sudah mahsyur sejak lama. Melewati perkembangan lalu-lintas budaya dan peradapan yang sudah diakui eksistensi-nya oleh berbagai ragam bangsa di belahan dunia.
Saking mahsyur-nya, nyaris semua rana aspek humaniora berdampak nyata pada bidang kehidupan. Semisal bidang ilmu pengetahuan, dunia maritim, sastra, seni, kesehatan. dan lain-lain. Geliat warna sejarah itu sedemikian rupa berkulindan. Baik sebab proses pembauran budaya. akulturasi. Penyebaran dalam sisip alur duta perdagangan, darat-laut. Proses kunjung-singgah hingga menetap pada sirkulasi pola demografi suatu wilayah teritorial.
Lalu apa hubungan-nya sejarah dengan selembar textiel? dalam hal ini relevansi budaya dari produksi secarik kain sebagai perangkat busana. Dalam kurun waktu lalu telah memberi kontribusi corak dan motif khas. Selanjutnya dipadupadankan dengan kesenian batik tulis. Dan kenapa juga disebut sebagai Batik LokCan?



kehebatan armada laksamana ChengHo
Benang merah runut sejarah....,
Ucapan syukur dan terima kasih tak terhingga kepada para pendahulu yang telah membudi-dayakan kebiasaan menulis. Setidaknya makin mudah merangkai kisah sejak epos perjalanan sang penjelajah asal Tiongkok, Laksamana ChengHo
Disebut dalam kurun abad 1400-an telah melakukan perlawatan ke Nusantara. Terutama zona kawasan utara Jawa Tengah. Salah satu kru/anak buahnya dianggap sebagai tokoh sentral pengembang gaya corak batik LokCan. Dengan wilayah sentral pengembangan batik Lasem (Lao Sam). Yaitu Bi Nang Un dan istrinya Na Li Ni.  Apalagi Lasem sangat identik dengan julukan Tiongkok kecil. Kedua pasangan itu yang kemudian banyak melakukan inovasi pengembangan corak batik khas. Selain tentu saja membuka bengkel batik demi tujuan perniagaan. Paling tidak terjadi proses pengenalan tehnik dan motif itu kepada para karyawan-nya. Kelak secara turun-temurun akan berkembang secara signifikan dalam skala home industri bagi kalangan pribumi. workshop-workshop berdikari.
Menariknya lagi kawasan pesisir utara (dikenal sebagai garis Pantura) merupakan peta global penghubung sentra batik khas tema Pesisiran. Motif dan corak lebih berani karena membawa nuansa egalitarian. Sekalipun begitu bukan dianggap sebagai pioner dalam pengembang batik jawa. Sebab jauh sebelum para moyang dan rentet tionghoa peranakan ini mengembangkan mata rantai bisnis tekstil batik. Kebiasaan batik sudah banyak dikembangkan khusus oleh kerajaan non pesisir sebagai kepentingan internal mereka. Motif berkesan klasik. Punya kesan filosofi dalam. Dan tentu saja hanya digunakan kalangan istana saja. Menjadi tugas desainer, atawa ahli tata busana istana untuk lebih piawai mengatur urusan itu semua. Batik bermotif yang memiliki hirarki kasta. Sebab dibedakan untuk kalangan keluarga istana/penguasa... tingkat punggawa hingga abdi dalem. Kalau-pun ada berkembang sentra pengembang batik diluaran tembok istana. itu semata gaya kemudian. Secara tehnik pengerjaan masih juga dipengaruhi oleh kalangan unsur istana. Namun inovasi corak kudu beda. Sehingga kemudian lahir istilah pembeda, kenapa ada batik saudagaran hingga batik petani. Dus, pengkhususan batik sandang untuk kalangan jelata. Arus bawah. Semacam korelasi kenapa ada penyertaan isen-isen motif Rumput. Ya itu tadi, semacam pesan kesadaran diri...wong cilik, komunal akar rumput. 


burung Hong
Memang akan sangat kontra jika dibanding motif batik gaya 'pesisiran' yang menghalau total kesan monarkhi tadi. Motif bervariasi.. berani secara corak. Gak tergantung pakem tradisi. Namun gak berarti tanpa muatan filosofi sama sekali. Dan banyak mengadopsi ikon-ikon khas dari negeri induk, China. Dari sekian ikon binatang, singa, naga, burung merak hingga adaptasi multi-rupa burung phoenix. Aves Phoenix paling banyak menjadi atribut utama. Dikenal sebagai debut burung Hong. Perlambang pembawa keberuntungan. Kelahiran kembali hingga dipercayai kemunculan pada masa damai dan makmur. Sebagai burung mitologi sebenarnya phoenix tidak saja disanjung di negeri Tiongkok sana saja. Phoenix telah menjadi milik silih bergantinya  multi peradaban silam yang sarat tafsir pemaknaan juga di apresiasi dengan porsi lebih. Fabelous animal. 


Eksistensi-nya begitu sangat fenomenal. Legenda Fenghuang. Padahal kalaupun di runut kadar kenal ciri bisa jadi keindahannya adalah refleksi dari fisik Golden Pheasant. Ayam hias asal Tibet. yang tentu saja secara kompleks wilayah masih merupakan kerabat dekat negeri Tiongkok. Negeri dataran tinggi (up land) yang di identikkan negeri para Dewa. Semacam energi keabadian berada di titik dataran puncak sana. Well, bisa jadi ini baru sekedar sekelumit singgungan yang hanya porsi upil di ujung jari. Bertebaran informasi menarik bisa ditemui di kanal-kanal maya sana. Semisal demi menikmati eksotisme si burung Golden Pheasant bisa melacak di rujukan KLIK. Phoenix... as Hong. Pantas saja negeri tirai bambu itu dikenal dengan sebutan lain HongKong.

Apa sih batik motif LokCan ?
Kembali topik utama bahasan batik Lokcan. Titik awalnya, saya kesulitan runut nama khas paling identik pada ke-4 koleksi batik tua yang kami miliki. Hanya ada embel-embel ringkas 'batik Rembang' dari pemilik pendahulu. Melalui serangkaian browsing akhirnya ketahuan juga nama batik ini adalah Batik Lokcan. Ciri paling khas dari penampilan ornamen sangat sederhana. Warna tunggal. Untuk tipe lokcan asli garapan tempo bahula bahan dasar kain dari sutera alam. Merupakan bahan impor langsung dari negri tiongkok. Sinergi-nya tidak lepas dari alur legendaris supply jalur sutra (silk road). Bahan akan lebih lembut dan serat kain lebih halus dari sekedar batik bahan mori katun. Meski juga dibandingkan dengan kain katun import pada generasi batik-batik tempo dulu.


dokumentasi pribadi
Motif lokcan memang unik. Selain menampilkan burung Hong sebagai menu wajib juga dibubuhi pernik ragam hias isian motif kembang. Tapi yang paling mudah di tandai adalah penyertaan tambahan helai-helai menjulur pada daun & buah/bunga. Bagi saya pribadi seolah rupa sisir. Sehingga cocok disebut langgam Comb looks-like. Entah ada maksud tertentu dari penampilan rupa itu dari buah pola pikir atau sebatas inovasi dan hasil kreativitas abstrak para pembuat desain-nya. Yah! ada beberapa probabilitas.
Satu kanal menyebut bahwa Lokcan (eja : luk cuan) secara etimologis berasal dari Lo bermakna BIRU dan Can artinya sutera. Inisial sutera biru merujuk asal bahan. Konon bahan asli sutra sebelum diwarnai agak warna kesan kebiru-biruan. Sekalipun pada salah 1 dari ke-4 sampel batik lokcan ada beberapa sudut bagian kain yang menyiratkan warna biru. Riskan juga jika dikaitkan dengan konotasi asal warna dasar tadi. BIsa jadi benar tapi bisa salah jika ternyata biru ini akibat tertular lunturan dari kain lain saat pencucian. Masih perlu penelitian kasus lebih jauh.


format dasar desain padi-kapas 
Kanal lain agak sedikit menguak hakikat lokcan. Koleksi salah satu butik textiel yang pemilik orang luar negeri menyebut serangkaian motif bunga pada lokcan adalah gambaran cotton(katun) itu sendiri. Cotton..katun.. ya identik tanaman kapas. Kapas merupakan material dari pembuatan dasar kain. Analisa ini wajar jika secara mudah dikaitkan dengan falsafah pemenuhan kebutuhan dasar manusia, yaitu Sandang. Pakaian pembalut kulit sebagai tameng adaptif lingkungan. Toh, secara nilai-nilai dan filosofi khas bangsa indonesia memang tidak jauh dari sana. Bahkan secara kajian kasualistik simbol negara maupun organisasi juga menyertakan ikon wajib berupa lingkar bentang Padi dan Kapas. Setidaknya ini jadi penalaran gampang bahwa sang kolektor berusaha menggali runut logika dari identitas khas tadi. Tapi..., saya belum cukup puas hasil analisa itu. Kenapa? Sebab jika kembali pada pusaran sejarah awal. Motif ini tentu merupakan pakem murni dari negara asalnya Tiongkok sana. Murni..orisinil, dalam arti belum mengalami sentuhan indo-modif. Belum ada nuansa kesan akulturasi apalagi modifikasi dari perancang lokal. Tidak mengadopsi ikon-ikon khas lokal seperti hal-nya contoh motif Tiga Negeri. Watu pecah dan Latohan. Ke-3 pakem motif ini sudah cukup banyak penjelasan tentang latar belakang julukan motif itu hadir. 
gambar bulir padi 'kuning' pada motif lokcan
identifikasi awal saya duga daun pakis (fern)
(dok. pribadi)

NOTE : Pada salah satu isian motif lokcan yang patut ditandai dan dicermati. Terdapat juga motif flora yang secara rupa fisik-nya sangat mirip menggambarkan performa untaian bulir butiran Padi. Liat pada inset samping. 
Jadi pertanyaan berikutnya... vegetasi lokcan itu apa? Sekalipun dalam lintas kultur budaya dan bisa saja tanaman khas penghias motif kain ini besar kemungkinan terdapat di wilayah Nusantara. Hanya mungkin beda kiat apresiasi terhadap lingkungan dari jenis tumbuhan yang dapat memberi sumbangsih penting/vital bagi kehidupan manusia.
Yuk! penelitian dilanjutkan....,    

Lokcan... Lok Cuan... Latohan,
Jika pada awal identifikasi saya kebingungan nama motif ini. Belakangan baru tercerahkan berkat nama LokCan. Belakang-belakangan lagi, sempat curiga jangan-jangan terkaitan dengan nama Latohan? Faktanya Rembang memang memiliki satu motif batik dengan nama Latohan. Ada 2 versi yang beda. Satu kanal menyebutkan Latohan adalah nama buah dari tanaman khas pantai. Itu saja! tanpa penjelas gambar identik. 
batik motif Latohan khas Rembang
Kanal web lain menyebut Latoh adalah sejenis rumput laut yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat pesisir disana. Biasanya diramu sebagai urap (lalapan) maupun tambahan menu rujak cingur. Sebatas pengalaman pribadi memang saya pernah liat sendiri. Bahwa ada jenis rumput laut dengan rupa bulatan kecil mirip rangkaian anggur. Berhubung bidang pekerjaan saya terkait bidang laut dan pesisir. Rumput laut yang saya temui itu memang sangat beda jauh dengan jenis seaweed catoni. Jika catoni adalah jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan di wilayah Bali dan NTB. Rupa rumput laut yang mungkin 'latoh' ini sangat beda bentuk. Bukan hasil budidaya tapi merupakan hasil kembang biak alamiah. Tepatnya di Jepara menu rumput laut itu pernah saya temui. Dus, bagi sebagian masyarakat Demak bahkan Semarang konon juga akrab mengenal sayuran 'laut' itu. Rujukan wikipedia tentang kabupaten Jepara. Lato memang resmi disebut dalam deretan sajian menu khas, sub kategori salad, "Sejenis rumput laut, enak dimakan dalam keadaan segar, dan konon bisa menyembuhkan radang tenggorok, amandel".

Caulerpa lentillera 
Lebih jauh. Latoh/lato merupakan jenis rumput laut hijau dari genus Caulerpa, masuk dalam kelompok Chlorophyceae (alga hijau). Dua spesies yang paling umum di konsumsi adalah Caulerpa lentillifera dan Caulerpa racemosa. Sebagai bahan makanan mereka sudah cukup dikenal dipelbagai sajian menu aneka bangsa. Sehingga mendapat inisial khas. Seperti julukan "Green Kaviar" bagi masyarakat eropa. Sebab bentuknya menyerupai 'butiran' telur ikan. Sementara secara indonesia disebut anggur laut translasi sea grapes.
Orang philipina menyebut-nya dengan nama ar-rosep, lato atau arosip. Sementara khalayak Malaysia cukup akrab dengan sebutan latoh. Lain pula jepang, warga Okinawa menamai C. lentillifera dengan lafal lokal 
umi-budō (海ぶどう) yang berarti juga anggur laut. Pada masyarakat pesisiran Jawa Tengah dikenal nama latoh. while, bagi komunal masyarakat Sulawesi lebih dikenal nama lawi-lawi
Oiya, tanaman eksotis ini disebut sebagai tanaman tingkat rendah dan hidup pada media substrat pasir. Layaknya beberapa jenis rumput laut (seaweed) lainnya. Bedanya klo secara morfologi fisik dibandingkan spesimen lamun (seagrass) memiliki profil lengkap akar-batang-daun dan bunga. Pada struktur seaweed  Terdapat rumpun yang sederhana hingga kompleks pada susunan tanaman rumput laut sebagai representatif batang, daun dan akar. Lawi – lawi/latoh berkembang melalui perkawinan gamet atau spora. Ditengarai kandungan nutrisi sangat bermanfaat untuk kesehatan. Dapat berfungsi sebagai pencegah jamur, penyakit rematik, bahan pembuatan kosmetik bahkan pencegah tumbuhnya tumor didalam tubuh. Dari sini ada titik terang, paling tidak mengungkap mengapa latoh layak di apresiasi secara dinamika lintas peradapan global. Seperti 'nasib'-nya menjadi ikon motif batik latohan khas Rembang/Lasem. 

Pertanyaan berikutnya. Batik Latohan versi lokal secara paparan gambar dominasi terbanyak adalah ikon isen-isen rupa liuk vegetasi latoh. Menu ikon utama justru bouquet (buket) serangkai bunga tanpa penyertaan burung Hong. Ataupun tidak tutup kemungkinan, kasus tertentu, mungkin ada juga motif pakem latohan juga menyertakan Hong.
Sedangkan pada ke-4 sampel batik yang kami miliki, dikatakan Lok-Can namun secara sajian menu gambar utama adalah Hong. Ada ornamen bunga yang masih dicari identitas riel-nya. Sementara jika dicermati seksama juga 'tampak' ikon
latoh. Hanya porsi-nya sedikit saja sebagai imbuhan ornamental. "Latoh" ini loh yang sedari awal pencarian sidik motif selalu saya dibingungkan. Apakah ini sejenis daun paku-pakuan (pakis/fern)? Atau malah si bulir padi (tematik padi-kapas) yang diterjemahkan oleh kolektor asing tadi?. Analisa lanjutan bisa mengerucut begini. Sangat tidak mungkin jika itu tanaman paku/pakis a.k.a fern (terutama jenis yang bisa dikonsumsi). Karena pakis lebih identik tipe tanaman zona lembab. Bukan kategori tumbuhan pesisir. Juga kecil probabilitas merujuk Padi. Jika kembali mengaitkan penyidikan topik utama adalah kajian rana Batik Pesisiran. Mestinya sejauh tematik khasanah dan nilai maupun kadar motif akan ada korelasi nuansa marina. The circumstance of the sea..., 



So what is LokCan? 
Baik-lah..., analisa selanjutnya semoga kian mengarah pada identitas lok-can yang sejati. Metode-nya cukup sederhana saja. Mengapa nama resmi motif batik Latohan justru diambil dari serangkaian motif atribut gambar pengisi. Artinya pesan tersirat penyertaan burung Hong ataupun buket bunga BUKAN merujuk gelagat sebagai panduan mengenal nama motif si batik bersangkutan.
Sekaligus cara ini saya anggap sebagai kiat taktis mem'
baca' LokCan. Burung Hong... buket bunga, adalah motif penguat identitas saja. Jadi LokCan bisa jadi adalah sejumlah rupa tumbuhan yang terdapat jelas pada kain batik itu. Perhatikan pada gambar inset pendamping. Apakah motif tumbuhan itu juga tanaman khas pesisir seperti hal-nya Latoh? Sekali lagi, sebagai asumsi nuansa batik pesisir mesti-nya begitu. Esensi pesan dan korelasi pasti saling terkait. Motif apapun pasti memiliki karakter. Pada tahap pemikiran kali ini artinya saya mulai membuang jauh konotasi lokcan berasal dari etimologi frase 2 kata bahasa cina yang bermakna Sutera Biru. LokCan mestinya merujuk nama vegetasi tertentu. Fakta-nya buruan buka kamus bahasa Cina. Tentang warna memaparkan bahwa 蓝色 Lán sè : Biru (umum) dan 浅蓝色 Qiǎn lán sè : Biru muda. Sementara untuk kata sutera bahasa pinyin menyebut Sixian. Bahasa china 丝线.  

Melalui serangkaian tahap blusuk-blusuk informasi. Bingo! akhirnya terkuak inisial LokCan. Salah satu kanal website www.bharian.com. Juga rujukan salah seorang blogger asal Malaysia. Hanya ada satu poin yang menjadi saya masih sangsi. LokCan ini secara gamblang disebut sebagai alias Berembang. Sebagai buah tanaman khas asal Aceh (Indonesia). "..sejarah mengenai pokok lokcan di Kedah bermula ketika angkatan armada dari Aceh diketuai Iskandar Muda Mahkota Alam pada tahun 1619 ke Kota Siputeh bagi menyerang pusat pemerintahan negeri ketika itu. 
Sonneratia caesolaris

Pada wacana itu disebutkan bahwa LOKCAN adalah buah yang memiliki latar kisah sejarah. Sebab  awal eksistensinya dikaitkan dengan momentum penyerangan kerajaan Pasai Aceh menuju Kedah Malaysia. Buah LokCan/Berembang adalah bekal para prajurit Pasai yang biji-nya banyak dibuang disekitaran sana.Sehingga kelak bertumbuh-kembang. Entahlah. Apapun yang menjadi dalil dari latar belakang kisah  warna sejarah, sudah selayaknya saya patut hargai.  
Namun jika merujuk alibi ilmu pengetahuan mungkin bisa bertolak belakang. Kenapa? Jika dirunut lebih jauh ternyata buah lokcan, atau secara istilah masyarakat Aceh menyebutnya Berembang. Tak lain..tak bukan, adalah buah dari pohon Pidada atau Prapat. Merupakan bagian utama vegetasi Mangrove. Tipe tanaman khas pesisir! Bahkan secara klasifikasi kelompok  dalam himpun ekosistem dikatakan sebagai mayor komponen. Mayor komponen adalah tipikal sekelompok Mangrove yang zona hidupnya berada pada wilayah rendaman pasang-surut air laut (mampu bertoleransi pada zona salinitas tinggi). Seperti halnya kelompok Avicienna, Brugeira dan RhizophoraBeda lagi kelompok minor adalah sejumlah vegetasi sekelompok mangrove yang zona tumbuh pada juga lingkungan pasang-surut tapi yang agak dekat atau cenderung mengarah ke daratan. Zona yang ditengarai sebagai wilayah salinitas rendah. Namun kategori mayor-minor ini terdapat juga pengecualian untuk beberapa varian individu.


akar napas Sonneratia sp.
Prapat.. Pidada.. also known as Sonneratia dibedakan atas 2 jenis. Yaitu Sonneratia alba dan Sonneratia caseolaris. Secara ciri fisik kedua-nya sama. Dari model akar napas yang khas tegak (pencil like). Akar ini dikatakan khas karena berfungsi sebagai alat napas sebagai pendukung pola respirasi struktur kesatuan pohon. Seperti layaknya fungsi snorkel bagi diver. Ciri batang besar. Bentuk daun..hingga buah sama. Karena buah berbentuk 'gumpal' maka sebagian masyarakat pesisir menyebut Apel laut.
Cara paling mudah membedakan antara S. alba dan S. caseolaris adalah dengan mengamati saat momen pembungaan. Perbedaan itu terlihat dari warna petal (mahkota bunga). S. alba berwarna putih..dan S. caseolaris berwarna merah. Cukup unik kan!?
Selain ciri-ciri tadi secara rumpun bagian dari asosiasi mangrove hanya pidada/berembang yang dapat dimakan. Sebagian daerah di Indonesia malah sudah mengolahnya sebagai bahan penganan kecil, Dodol bakau. Juga sebagai menu hidang minuman sirup.

Sehingga dapat ditarik kesimpulan mengapa buah ini sangat layak mendapat apresiasi khusus bagi komunal pesisiran. Sebab secara manfaat hanya pidada (lokcan) yang dianggap menyokong kehidupan manusia. Sebagai opsi bahan pangan. Selain aneka biota asal lautan tentunya. Meliputi ikan, krustasea, moluska dan lain-lain.
Agar lebih mudah perhatikan lagi motif batik LokCan (inset). Biar gampang sengaja saya sertakan beberapa poligon dengan warna-warni pembeda. Terlihat dengan gamblang, perhatikan poligon segi6 biru - lingkaran hijau - dan persegi 4 biru.  Terlihat jelas beda tahapan bentuk motif. Dari pemaknaan proses geliat tumbuh sejak bunga..mahkota putik/petal hingga Buah (bongkahan dengan cuat untaian satu helai). Lingkaran oranye ditengarai sebagai 4 kuntum bunga/bakal buah. Sementara pada lingkaran putih sejauh prediksi adalah bentuk buah dalam kondisi terbelah. Menandakan bisa dimakan. Demikian sejauh penalaran ringkas dan upaya translasi dari maksud gambar. Bisa jadi begitulah sekelumit tips dari para seniman ataupun perancang motif bahula terhadap refleksi diri terhadap penghargaan lingkungan. 
Pertanyaan berikutnya, sebenarnya buah berdasar eja kata LokCan ini berasal dari kosakata bahasa mana? Apakah sebenarnya kata  lok-can merujuk nama buah atau hanya kiasan asal bahan si sutra biru?. Masih kontradiktif... sekalipun sangat mudah ditelaah berdasarkan runut dalil dan analisa di atas.


seorang rekan  berlatar belakang pohon Sonneratia sp.
Tampak  terlihat model khas bentuk tegakan disebut tipe akar nafas.
kegiatan : penelitian kerang Bakau di gili Lawang-Sulat 2013 (Dok. pribadi) 
Mendekati akhir bahasan. Tentu saja sebagai ekosistem mangrove tidak hanya ada di sekitar Nusantara saja. Bahwa dalil berembang asal Aceh-pun sangat mudah terbantahkan. Apalagi jika dikaitkan dengan konsep kajian ilmu geografi. Perihal teori landasan benua. Sama-sama zonasi Paparan Sunda . Selat Malaka. Semenanjung Malaya dan Sumatera dulu-nya adalah satu cakupan wilayah namun terpisah melalui rangkaian perubahan dinamika waktu. Sangat besar secara peluang memiliki varian vegetasi darat dan laut-nya sama. Begitu juga dengan aneka biota penghuni. Sebagaimana ungkapan demikianlah hakikat tentang citra bangsa serumpun. Faktor genetika lingkungan bahkan tautan ras adalah selaziman fakta yang tak bisa dipungkiri.  
Sejauh cerita berkembang soal tanaman yang pernah 'hijrah' atas campur tangan manusia. Saya pernah menyimak dari seorang antropolog asal Australia. Asam (Tamarindus indica) adalah salah satunya. Menurut kajian ilmu botani setempat. Asem yang ditemui disepanjang wilayah pesisir disana bukanlah tanaman khas Australia. Melainkan vegetasi pendatang asal Nusantara. Asem bisa tumbuh disana karena 'ulah' para pelaut/nelayan asal Sulawesi(Bajou). Mereka biasa membawa asem sebagai bahan bumbu masak dalam trip pelayaran. Diperkiraan ada dari mereka yang sengaja menanamnya sebagai tanaman stok jika kelak datang lagi ke daratan. Benarkah begitu?
Yah, kembali lagi pada lembaran sejarah lama. Jauh sebelum bangsa Eropa melakukan perlawatan laut. Entah itu masa kejayaan portugis hingga trending topik jalur rempah oleh Belanda. Ataupun ekspedisi ChengHo di abad 15. Nenek moyang Nusantara sudah terkenal sebagai penjelajah samudra. Perairan sisi utara-barat benua Australia sudah jadi menu wajib kunjung. Karena disana merupakan mata rantai historical fishing's ground. Paling ngetop sebagai lokasi perburuan ikan hiu. Jauuuuuuh sebelum wilayah itu dikuasai para pendatang. Sangat besar kemungkinan para pelaut/nelayan bajou sudah berinteraksi lebih dulu dengan para penghuni asli. Suku Aboriigin. 

Last but not least...,
Sekelumit kisah tadi semoga bisa menjadi pembuka jalan semata upaya identifikasi batik LokCan. Dan sebagai tipe tanaman pesisir..secara penyebaran benih mereka tidak seperti sifat tanaman khas darat. Bisa berpindah secara alamiah (trans-lokasi) akibat peran burung tipe pemakan biji-bijian. Boleh juga peran serta lebah dalam aksi polinasi. Ataupun campur tangan manusia pembawa-nya. Sekalipun mangrove memang sangat mudah dibudidayakan. Benih Mangrove 'sanggup' berkelana sesuai amanat garis takdir-nya. Semenjak dari puncak kematangan buah. Terjatuh, lepas dari pohon indukan. Lalu kelayapan bebas merdeka...beradaptasi dengan arah tabiat arus. Nah, kalau sudah gini tepatlah sebaris cuplikan ayat Ilahiyah. 

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; 
tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, 
dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan

dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), 

dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, 

dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)".
Al-An-am:59    


Wassalam...,
    


Koleksi batik LokCan
**ke-4 koleksi batik tulis lokcan tempo dulu berbahan sutera. Perhatikan seksama ragam hias memiliki variasi berbeda. Klik pada masing-masing keterangan gambar jika hendak merunut tentang detil gambar dan kondisi-nya. Termasuk penjelasan singkat dan upaya identifikasi lebih lanjut.

Batik tulis (sutera) rembang kuno motif LokCan 1

Batik tulis (sutera) Rembang Kuno - motif LokCan 2

Batik tulis (sutera) Rembang Kuno - motif LokCan 3

Batik tulis (sutera) Rembang kuno - motif LokCan 4

Selasa, 29 Maret 2016

mengenal Tanaman Obat

Green...green-eration...,
Sebenarnya gak susah kog cari materi buat sekedar cari muatan pendidikan lingkungan yang paling gampang. Gak musti harus jauh-jauh berandai-andai. Kapan yah bisa bareng keluarga kunjungi Kebun Raya Bogor ? atau jenguk kebun Teh dengan hamparan luas, gundukan gunung di Cipasung-LemahSugih - Majalengka. Atau misal kesempatan lain bisa disiasati jika kelak mudik Malang. Ada perkebunan Teh Wonosari Lawang. Sekalipun kumparan dalil ini bisa (kelak) menjadi terapi penyehatan yang lain dengan muatan pengenalan wisata Agro di belahan daerah lain. Bagian dari upaya alternatif wisata hijau dan kegiatan safari keluarga. Paling tidak jadi tabungan agenda kunjung jika mbesok-mbesok ada cadangan dana, atau bahkan talangan ongkos kirim dari philantropist yang tergerak berbaik hati. wkwkwk......, ngarep terselubung !

suweq... lokal sasak menyebutnya Lombos
Okeh, sejenak mengulas sesi investigasi tanaman obat yang sudah lewat. Masih dalam rangkaian kegiatan sepulang saya dari gabung acara pelatihan tim bekam di Benete-Sumbawa Barat. Awal Desember 2015 lalu. Tadi-nya ada beberapa agenda pengajuan untuk diklat lanjutan yang berkaitan dengan pengembangan tanaman obat. Dari jenis tumbuhan liar yang bisa ditemui disekitar lingkungan terdekat. Tanaman yang mungkin selama ini sering tidak di gubris sama sekali. Namun jika di tilik dari kajian dan manfaatnya ternyata sangat baik demi menunjang stabilitas kesehatan. Ini relevansinya dengan geliat kembali pada tatanan kesehatan mandiri. Dimana suplai bahan bisa diperoleh cukup mudah baik kategori rempah dapur. Atau dulu kita mengenal dengan aneka tanaman 'Apotik hidup'. Sejalan waktu berubah istilah lagi TOGA. Tanaman Obat keluarGA.

kumis kucing
Terkait dengan sesi singkat saat kami dan tim melakukan rapid identifikasi di sekitar pantai Maluk. Beberapa vegetasi yang ditemui kurang-lebih sama dengan beberapa varian umum. Baik yang ditemukan di sekitar ladang dan kerap di sikapi sebagai gulma. Biasa terlihat di pekarangan dan halaman rumah. Jadi untuk melakukan pembelajaran tingkat dasar sebenarnya menjadi mudah. Anak-anak bisa dilibatkan langsung. Tidak saja silabus pendidikan secara rumahan saja, tapi bisa disiasati dengan sisipan saat melakukan kegiatan luar. Outing class. Bersepeda santai saat menyusuri wilayah pinggiran kota bisa menjadi opsi menarik lainnya. Tanaman yang dominan berkhasiat obat sekarang bukan lagi yang identik sengaja di tanam demit ujuan stok bumbu. Namun yang kategori gulma/liar kini mulai ikut dalam daftar wajib tau. Kenapa perlu? Setidaknya hal ini terkait kajian dan pendalaman sitir ayat Kitabullah. "Allah menciptakan penyakit... sekaligus obatnya". Tentu saja ini merupakan rangkaian ikhtiar. Bukan lalu semata taqlid memandang bahwa sakit adalah hidayah sarana mengikis dosa saja. Dibalik ungkapan ini terdapat sinyal tersembunyi. Bahwa bisa jadi tipe-tipe penyakit yang dialami seorang pasien... ternyata obat-nyapun tidak berada jauh dari lingkup mereka tinggal. Bahkan berjarak hanya sekedar jengkal kaki.

Paling tidak menjadi bekal pengetahuan dan bisa dijadikan racikan obat dalam keadaan kritis/emergensi saat dibutuhkan. Tahap belajar selanjutnya adalah mengenal inisial identik dari jenis tanaman bersangkutan. Beserta manfaat dan serba-serbi penyakit yang bisa ditanggulangi. Toh, Internet sudah cukup mumpuni secara basis informasi data. Lengkap...kumplit..plit! Tinggal kita sendiri tergerak apa tidak. Ini bisa dimulai dari teritorial sendiri... sejak dini.. memberdayakan dan menginisiasi pasukan cilik agar pembekalan itu tumbuh-kembang sesuai fitrahnya. Go and Growth....,


Dan foto dibawah ini beberapa jenis yang ditemui sekitar rumah...,


Remek Daging/Sambang getih (Purple Waffle Plant) Link1 Link2  

 Pohon Pisang & Manfaat pisang 


 Tanaman 8 Dewa
   
Jambu Biji & Khasiat 

Sirih & khasiat Sirih 

Tanaman Akar Kucing/ Kucing-kucingan (Acalypha indica) & khasiat

Jeruk Nipis & khasiat obat 

Tumpangan air/bayam-bayaman/Suruhan (Peperomia pellucida) & khasiat obat

tanaman Katuk (Sauropus androgynus) & khasiat obat
lokal sasak menyebutnya Sager

Pohon Sirsak  (Annona muricata L.) & Manfaat obat

tanaman Putri malu (Mimosa pudica) & Khasiat obat 

Rumput mutiara (Hedyostis Corymvosa) & khasiat obat


Euphorbia....

Sirih Merah (Piper ornatum) & khasiat obat

Meniran (Phyllanthus urinaria) & khasiat obat

Patikan Kebo (Euphorbia hirta) & Khasiat obat
*Masih status pelacakan identifikasi 

*Masih status pelacakan identifikasi


Tambahan cerita....,
Pengenalan jenis tanaman berkhasiat ternyata tidak saja terbatas pada jenis liar yang ada disekitar rumah. Secara gak sengaja, tetangga samping rumah sedang menjemur sesuatu. Lumayan juga sebagai bahan referensi dan pengenalan vegetasi tambahan bagi para bocah.
Sesi tanya-jawab ringkas dan ringan dengan om Gun. Rupanya secara fisik tanaman ini lebih identik kelompok tanaman pendompleng (epifit) pada tanaman induk lain. Sifatnya mirip benalu. Anggrek maupun kelompok pakis pohon. Belum kenal nama latinnya. Klo masyarakat Sumbawa menyebutnya dengan nama tali angin. Keberadaan-nya bisa dianggap sebagai 'gulma'. Menyerap unsur hara hingga bisa membuat mati perlahan tanaman inang. Pohon sebesar apapun akan jadi lapuk. Dan dalam kurun waktu berjalan akan tumbang dengan sendiri-nya. Kebanyakan populasi tumbuh memadati kanopi dan sekujur pepohonan di dataran tinggi sekitar 1000-1500 dpl. 
Bahkan ada inisial unik dari seorang ahli botanist asal Gurkha. Tamu yang pernah saya pandu. Kebetulan saat itu kami baru turun dari wilayah Santong dan Sembalun. Paska melewati gundukan Gunung Pusuk dan liuk aspal berikutnya. Tibalah kami di zona pepohonan yang 'multi bulu' itu. Lokasi paling banyak ditemui tali angin. Saya gak terlalu fokus pada obrolan duo-tamu karena tugas nyetir. Tapi dari celetuk obrolan dia menyebut tanaman itu sebagai witch's hair. Alias rambut penyihir! Mungkin konotasi kesan menyeramkan itu. Sekalipun saat itu saya agak blank dengan istilah latin-nya. Tapi untung ada mbahkung Google. Ternyata strata klasifikasi adalah fungi/fungus alias jamur, spesies Alectoria sarmentosa. Menariknya, ternyata mereka dianggap sebagai vegetasi pemantau kualitas udara.
Rada mirip tapi kudu dibedakan dari kelompok Cuscuta(dodder, indo = tali putri) karena lebih identik tanaman sejati. Justru dodder lebih identik kelompok vegetasi biang hama (parasit).    



Satu sisi, sebagai gulma statusnya mungkin  dianggap merugikan dalam struktur siklus ekosistem. Tapi bagi masyarakat Sumbawa tidak. Si gulma ini justru bermanfaat. Sebab bisa diolah sebagai bahan alami serbuk perawatan wajah. Utama-nya kalangan perempuan. Cara-nya cukup dengan menumbuk hingga halus. Mungkin bisa juga dengan campuran bahan lain.
Selain bisa untuk pemakaian rutinitas harian. Serbuk perawatan wajah ala tradisional ini juga kerap disisipkan sebagai ritual adat perkawinan. Sebutan-nya Barodak. Calon mempelai wanita dilumuri sebagian besar tubuhnya. Terutama wajah dan lengan-tangan. Tujuan-nya agar si perempuan terlihat kinclong dan cantik pada momentum pelaksanaan prosesi pernikahan. Yah, semacam tradisi Malam Widodarenan pada adat Jawa. Bagi warga Kampung Melayu - Ampenan, prosesi macam gini juga ada. Sedikit terpengaruh dengan warna budaya kalangan arab. Disebut Malam Pancaran. Meski beda secara metode dan tata cara, tapi bagian yang wajib ada adalah proses luluran diikuti tahapan tetek-bengek berikutnya.


Poin Pencerah :
Setidak semoga wacana dan referensi diatas bisa menjadi bahan olah pikir dan renungan. Sebagaimana terapan pada ihwal kajian kesehatan mandiri ala thibbun nabawi. Semboyan-nya cukup sederhana "jadikan makanan-mu sebagai obat... dan obat-mu sebagai makanan". Imbauan-nya agar kita lebih mawas diri pada konsep kepedulian dari hal sederhana. Termasuk bagaimana orang dahulu mengatasi penyakit jika mengalami keluhan organ teori lebih simpel. Cukup mencari bentuk buah dan sayur yang memilik bentuk serupa dengan organ yang terganggu tadi. Misal Pegagan di identikkan dengan atasi keluhan otak. Wortel untuk kesehatan mata. Dan lain-lain. Untuk sinergi wacana bisa langsung kunjung laman   http://blog.8share.com/id/ajaib-10-makanan-ini-berbentuk-mirip-dengan-organ-tubuh-yang-memang-membutuhkannya/
Termasuk jika dikaitkan apa korelasi masyarakat Sumbawa mengapa bisa memanfaatkan tali angin sebagai salah satu bahan lulur.  Apa asal muasal cerita sehingga si rambut nenek sihir itu diyakini sangat berkhasiat sebagai bahan kosmetika alami. Adakah catatan lontar semisal takepan sebagai literatur pendukung? Hm..terlalu naif jika tidak mendatangi sendiri kalangan budayawan lokal. Kelak jika ada kesempatan.
Tapi ini sebatas analisa dangkal saja ya. Tips mengenal makanan yang bentuknya mirip organ tubuh manusia. Setidaknya penjelasan wikipedia agak sedikit beri titik terang. Lichen dikenal sebagai tanaman pemantau kualitas udara. Mereka adalah cermin dari penumpukan polutan udara. Fungsinya acapkali dikumpulkan untuk analisa unsur jaringan. Disamping lichen memiliki kandungan serat yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan medis. semisal bahan pembalut, perban dan diapers. Sederhana-nya gini... dengan wajah kita yang mudah terkontaminasi debu dan polutan apapun. Pantaslah jika kita perlu merawatnya. Toh serat serbuk lichen ini secara harfiah fungsi memang mampu menyerap unsur polutan dalam jagat kosmos lebih luas. Jadi konotasikan saja sebagai bahan olahan jadi serbuk  lichen juga pasti punya sifat yang sama. Entah sebagai pengusir flek-flek diwajah. mengangkat jaringan mati semacam efek ampelas. Demi memperbaharui agak paras ibu-ibu.. dan remaja putri di tana Samawa bisa lebih segar. Memancarkan kecantikan alami..bukan atas rekayasa permak sulam alis. sulam bibir... benang wajah. Bahkan operasi plastik! 

Be Nature with Environmental....,  tentu-nya akan lebih manjur jika ditambah bilasan wajib 5X via aplikasi wudhu. Salam lestari....,

Rabu, 23 Maret 2016

dampingi bocah....,


Wacana rumahan biasa...,
Seperti ungkap sebelumnya. Kadang dibikin repot menghadapi perkembangan para krucil. Sejalan perkembangan IT...gadget kini lebih mendominasi setiap sendi kehidupan. Seperti gak bisa berpaling barang sejenak. Gadget gak lagi sekedar alat permainan dimana aplikasi variasi permainan(game) bisa didapat lebih lugas. Tinggal tersedia koneksi internet apapun tersedia. Gak kayak jaman kami generasi di tahun 90-an. Kami mengenalnya gadget konvensional berupa game watch. Beranjak kurun waktu pindah Sega atau Nintendo. Masuk era 2000an beralih PlayStation. Dengan gulir waktu dan percepatan inovasi tehnologi, perangkat elektronik tadi seperti tergilas roda peralihan jaman. Peralihan geliat era digital semakin drastis membuat fenomena serba instan. Dampak yang paling buruk tentu saja jika timbul ketergantungan. Apalagi ketagihan... sampai bikin prilaku anti sosial. Apa sampai segitunya? ya klo dibiarkan kebablasan bisa jadi begitu. Sekalipun ada juga kasus spesifik yang ekstrim. Tewas karena over dosis 'ON' terus ngadepi monitor. Jadi tinggal jenis manusia-nya saja menyikapi. La wong sekarang ini juga unik. Pada tatanan tertentu kasus Gamer maniak.. pemain game malah jadi pilihan profesi. tingkat PRO loh! Nimbrung dalam kompetisi game dengan pemain luar sana. Dan dibayar dengan nominal fantastis. Contoh sosok Monica Carolina. Dan itu jadi gak masalah... hak mereka. Selagi bisa konsekuen dengan pilihan hidupnya. Mau bilang apa klo faktanya, peradapan Tekno juga punya efek negatif-positif. Baik-nya melihatnya dari kacamata timbal-balik. Industri besar yang melahirkan beberapa inovasi permainan itu kan juga telah menciptakan. Butuh pangsa sasaran secara target ekonomis potensial. Jadi wajar klo berperan sebagai sponsorship. Gamer maniak yang kaliber-nya sudah diakui dunia itu jadi semacam estafet promosi. Sistim peradapan yang berdinamika. paling tidak sudah jadi pengamalan sila pancasila "kemanusiaan yang adil dan beradab". Punya adab bayar para jagoan pelotot monitor dan korps pesenam jari tadi. Juncto sebagai sinergi pendapatan alternatif maupun utama para pembuat game. Contoh yang dilakukan si 'buruh' keren Hendry Jhie. Baca liputan kisah inspiratifnya di SINI. Hehehe........, Era keterbukaan sekarang kadang memang binal-binal aduhai. Gurih menggiurkan. Anda berpotensi... ulet.. dan profesional, pihak Google-pun mawas untuk andil timbal-balik. Be Play to Pay !!!   


Lalu, sinergi-nya dengan para bocah apa? Yang gitu kan hanya sekedar contoh kasus. Gak bisa dipaksakan. Karena akan kembali pada bakat ..minat dan kesempatan berkembang sejalan waktu. gadget dan segala tetek bengeknya adalah perangkat tambahan hasil olah-budidaya kemanusiaan. Memecahkan sekat-sekat halangan dan mencari solusi dari rutinitas hidup yang dijalani.
Keberadaan telapak tangan lengkap beserta ruas jari adalah anugrah Tuhan yang patut kita syukuri. Dikenal sebagai salah satu pelengkap unsur dari panca indera. Dari tool yang multi guna ini kita bisa memberdayakan sebaik-baik hakikat manfaat. Tujuan apapun! Dari ber-kreasi... menggunakan... hingga jalin pembauran organ tangan-tangan lain. Semacam cengkrama...jabat tangan dalam arti konotasi silaturahmi. Bersosialisasi melalui wadah sinergi pergaulan. Gak cuma di jagat maya... tapi porsi utama-nya dunia Off-Line. Kira-kira gitu. Bocah-bocah harus tumbuh secara alamiah... mengenal lingkungan dengan perantara perangkat indera. Sebagaimana mana cara awal kita-kita belajar gerak...merangkak... berdiri dan berjalan, sambil meraba sana-sini. Jangan terbalik.... gak kenal alam habitat sekitarnya. Tapi justru dipermak melek gadget sejak masih balita. Tangan mungil mereka lebih piawai bermain tuts...lebih akrab metode touch screen. Alhasil, polemik senam jari sejak dini.....,


Dipikir-pikir lagi... parenting itu memang gak mudah. Tapi juga tidak senantiasa njlimet. Gak mawas.. mudah tergelincir. Terabaikan barang sejenak, bisa tersesat di hutan Amazon. bwehehek! Tapi selalu terbuka kesadaran. Peluang perbaikan dengan tambal-sulam pernik peristiwa. Harapan dan kajian hidayah waktu. Petik hikmah dari pelajaran-pelajaran berharga. Sesuaikan dengan situasi masing-masing! 

Pesan MORAL
"ayo main...tapi jangan mau dipermainkan"