Selasa, 12 Februari 2013

Rebo Bontong 2013

suasana Rebo Buntung di muara kali Jangkuk - Ampenan
9 Januari 2013...,
Mengulas catatan lalu. Selang 2 hari dari nota terakhir di liputan kebakaran dan tsunami kecil di pesisir Pondok Prasi - Ampenan. Ternyata masih ada kelanjutan agenda lain. Pampang baliho besar di jembatan Jangkuk cukup tegas merapal informasi. Akan digelar ritual adat " Rebo Buntung dan Tetulaq Tamperan.
Hanya saja lokasi perhelatan akbar ini agak jauh dari Mataram. Tepatnya di Pantai Tanjung Menangis, Ketapang. Kecamatan Pringgabaya masuki wilayah Kabupaten Lombok Timur. Ada banyak hal yang melatar belakangi kenapa momen ini menjadi sangat istimewa. Pertama, dikatakan warisan leluhur sebagai ritual adat yang layak dipertahankan eksistensinya. Dinas pariwisata setampat bahkan mendukung penuh, mengingat kans sangat potensial sebagai event wisata. Sehingga telah dinyatakan sebagai agenda wajib dilaksanakan tiap tahun. Sekaligus sarana hiburan bagi rakyat.

Apakah acara ini hanya dilakukan di wilayah Lombok Timur saja? Gak juga! satu referensi kanal maya menyebutkan ritual rebo Bontong hanya dilaksanakan di 3 tempat saja. Yaitu sungai Jangkuk, tepatnya dibagian alur sungai yang membelah kota, tepat di perkampungan Dasan Agung. Pantai Tanjung Menangis - Lotim, dan pantai Kurandji, masuk wilayah Lombok Barat. Pesisir persis arah zona Ampenan selatan.  (tampak pada inset diatas).
Tapi dari hasil mesin pencari, saya mendapati bahwa ritual ini-pun dilakukan oleh para warga gili MatRa (Meno-Terawaangan- Aer : red). Dan jika mengulas kali Jangkuk. Bahkan di spot muara, warga Kampung Melayu masih melakukan ritual ini. Sekalipun hanya cuma mandi.. sekedar berbasah ria. Bersenang-senang... senda gurau, sambil balut niat setengah hati dengan bekal keyakinan ala kadar, mandi safar. Demi menyambut momen babak berikutnya, Maulid Nabi Muhammad SAW. 
Jika di Lombok dikenal Rebo Buntung, masyarakat Jawa, Sunda, kalimantan Selatan dan Bangka Belitung menyebut istilah Rebo Wekasan. Baik rebo Bontong dan Rebo Wekasan meyakini hal yang sama. Yaitu membersihkan dan mensucikan diri sebelum memasuki perayaan maulid Nabi. Kedua tradisi yang cuma beda istilah ini merupakan sebuah nilai muatan lokal yang terwujud dalam bentuk semangat akulturasi antar agama dengan kearifan budaya setempat. Yang kembali lagi, demi tujuan perkayaan promo wisata akan sangat berpeluang dikembangkan dan mengundang pundi PAD. Itu alasan paling mudah ditengarai. Digaris bawahi... layak bertanda centang-perenang. Hehehe....., 

Dilema 2 kubu...,
Agak riskan, bahkan cenderung miris. Ketika sebagian pihak mengaitkan seolah momen ritual adat rebo buntung dikatakan syarat nilai agama. Tuntunan mana? agama mana?. Terlebih bakal menyesatkan jika ungkapan macam ini dilontarkan oleh pemuka agama. Tokoh agama dengan plat resmi islam. Saya akan maklum klo sekedar diucapkan oleh petinggi instansi pemerintah. Toh sekedar jadi rekayasa demi obsesi mendongkrak pamor wisata. Dan yang makin parah beberapa artikel yang mengulas wacana yang sama, pun pula, ada yang dengan santai menulis, ber-kalimat penutup...Adat bersendi syara'... syara' bersendi Kitabullah.

menolak bala, larung sesaji (ngalamak lauk) ungkapan sembah syukur pada pencipta. Syarat nilai agamis?
Ritual Adat....
menterbalikkan tapak tangan ketika membaca doa misalnya ” Allahummad fa’ anna minl bala…”

mandi safar... sungai gangga. hiburan masyarakat. 

"Adat bersendi syara', syara' bersendi kitabullah." papar Sukiman. mandi safar

Minggu, 10 Februari 2013

Green-Belt khas kota Mataram

Aktivitas pagi di lorong Jangkuk
Tentu kita semua pernah mengenal apa yang disebut Green Belt. Atau biasa disebut sabuk hijau yang menghiasi jalur perkotaan umumnya. Berupa deretan tegakan pohon/ terumbuhan baik itu yang berdiri sepanjang kiri kanan jalan aspal, Maupun yang sengaja tumbuh di "pematang" pembelah 2 jalur aspal. Definisi singkatnya yang saya kutip di kamus maya disebutkan "a belt of parks or rural land surrounding a town or city". Jalur taman atau zona pedesaan yang mengelilingi kota. Bahkan bisa dikaitkan sebagai bagian dari program peduli hijau. Entah itu berupa aktivitas pertamanan, gerakan reboisasi, maupun konsep pengelolaan lingkungan lainnya. 
Jika kunjung Jawa. Pemandangan paling eye-catching bagi saya adalah view perbukitan teh. Hamparan meluas batas hingga penuhi kantung visual. Hijau yang menawan. Jejumput ujung dedaun sedikit menambah varian kuning. Dibilas terpa cahaya surya, idealnya saat condong pagi dan jelang senja. Pemandangan tadi akan semakin klop ketika baur aktivitas para ibu pemetik daun teh. Kegiatan Human interest yang selalu undang tekun, ogah berpaling. Maka tidak mengherankan bagi kalangan kaum Jawa-dwipa mengenal istilah pewarnaan tersendiri. Ijo royo-royo.... Seperti terdapat pada bait lirik karya sunan Kalijaga. tembang Lir-Ilir.. tandure wus sumilir (Sayup-sayup bangun dari tidur, tanaman sudah mulai bersemi). Jika mengaitkan teori irisan spektrum warna... entah di posisi mana. Barangkali Hijau Pupus.

Floating Green belt
Bermukim di Lombok. Bukan berarti tidak bakal menemui sajian seperti kajian prakata diatas. Ada banyak kegiatan dan ciri bercocok tanam yang memiliki taste khas kearifan lokal. Mengunjungi atap Bayan (nun sana mendekati up-land Rinjani) kita akan disuguhi konsep Bangket Bayan. Sistem cocok  tanam sawah dan pengaturan irigasi yang dibangun turun-temurun di kalangan komunal Desa Bayan. Sangat khas sistimatik tradisional, high-lander. Artikel ini sebenarnya pernah saya coba ulas. Cuma sayang kehilangan stok dokumentasi pribadi. Sekitar 4 tahun lalu. 
Menurun level pertengahan. Sajian eksotik adalah perkebunan kopi. baik milik perorangan, maupun perusahaan. Brand terkenal yang dikelola oleh satu korporasi adalah merk Kopi555. Cuman belakangan ini sepertinya meredup, tersaingi oleh beberapa brand instan asupan distribusi dari daerah lain. Kopi sachet ala pabrikan. Di ketinggian dataran sedang, lebih identik dengan lokasi penanaman lahan tembakau. Gak berkala. Tapi selingan paska musim tanam padi. Saat jelang musim panen suasana juga menarik. Aktivitas pekerja pemetik daun tembakau juga bernuansa karakter tersendiri. Terutama kegiatan sejak petik daun hingga proses di oven tembakau.  Saya beberapa kali kesempatan sekedar aksi pengamatan. Belum tergerak mendokumentasikan lebih jauh.


 ibu pemetik Kangkung dibawah bayangan jembatan
Next, karakter unik dan beda panen pucuk daun justru ada di bilangan level down-land. Sungai dan aliran kali yang membelah kota Mataram. Merupakan pecahan sungai besar, Sub-Sungai Dodokan. Meliputi kali Meninting, Jangkuk dan Ancar. Bagi saya inilah floating green belt yang memberikan banyak fenomena khas bagi kehidupan warga disekitarnya.
Floating Green-Belt ini berupa tanaman kangkung khas Lombok. Karena tumbuh di lahan basah speiesnya jenis kangkung rambat. Menjulur ambang dipermukaan air. Selain itu vegetasi hidrofit ini merupakan komoditas unggulan bagi sebagian warga yang tinggal di sepanjang sempadan sungai. Mata rantai penunjang finansial. Mudah perawatan. Cukup memanfaatkan ketersediaan lahan basah, atawa Wet-lands. Dan tidak memerlukan pupuk khusus. Segalanya berjalan alamiah. Pasang tonggak khusus dan bentang tali, selanjutnya semua pemilik bersinergi olah dan mengawasi proses tumbuh. Musim tanam kangkung kali dilakukan sepanjang waktu. 

panen harian untuk dijual di pasar terdekat
Hanya stok bisa bervariasi. Melimpah saat diluar musim penghujan. Sebab debit dampak curah hujan tinggi memberi peluang regulasi arus kali lebih kencang. Bahkan riskan banjir. Hanya sebagian warga saja yang bertahan menanam kangkung. Artinya sajian pelecing kangkung masih bisa didapat di rumah makan manapun. Terlebih di menu hidangan rumah tangga.
Seperti juga aktivitas para ibu pemetik daun teh. Kebanyakan hanya kaum ibu saja yang panen di 'taman' apung itu. Cukup berbekal pisau dan ban bekas, atribut wajib untuk penunjang kerja. Mengapung.. potong ujung putik, sambil sesekali membersihkan 'gulma' berupa subsidi sampah. Mereka riang satu sama lain. Berceloteh... senda gurau dinamika sosialita khas warga urban-sempadan. Kerap geli tiap mengamati prilaku-nya. Mereka terlihat seperti bocah di kolam renang, bermain air. Kecipak tangan-kaki bekal 'dunkin-dunat' warna hitam, ngepas di lingkar pinggang.

memilih sampah diantara kangkung
Selain petani kangkung, ada sebagian warga juga berprofesi pencari pasir. Mereka bersinergi meski dengan beda kepentingan usaha. Bahkan diluar jadwal kerja, ada beberapa gelintir orang yang memanfaatkan luang mengais rejeki lain. Memunguti aneka limbah sampah yang terbawa arus hingga mulut muara. Kebanyakan sortir sampah plastik. Artinya secara langsung mereka melakukan pola simbiosis mutualism. Keberadaan usahawan penampung barang bekas telah menciptakan sebuah peluang mata pencaharian. Menurut data statistik mulai marak sejak lima tahun terakhir. Dus, secara gak langsung ampas sampah mulai dilirik sebagai kans nilai tambah, raup sejumlah nominal rupiah.
Khusus aksi kaum pemulung, mereka biasa pinjam pakai beberapa rakit persegi milik para pencari pasir. Bahkan ada juga kerabat penggali pasir yang kerja rangkap. Istilah sasak-nya poroq-poroq begawean timbang momot meco. Iseng bekerja daripada diam sama sekali. Rupanya kegiatan ini memberi pencerahan pembaharu. Kali menjadi bersih. Kangkung secara tidak langsung menjadi semacam filter alamiah. Sekalipun bukan berarti sudah bebas 100% dari sampah. Gulir semboyan inspiratif, reduce.. reuse..recycle.
Semoga kelak kesinambungan ini berdampak positif. Bahkan saya masih terbayang kisah para tetua Kampung Melayu mengenang nostalgia kisah. Jangkuk dulu jernih.... sedalam dasar lubuk...  sebening lubuk hati, dan demi sejengkal niat. Berbenah... bersih-bersih.

*inset foto diambil di lokasi kali Jangkuk - muara. 

Jumat, 08 Februari 2013

kabar awal Januari 2013

Sungguh, sudah lewat waktu. Sebulan ini hampir terjalani dengan berbagai variasi kegiatan. Sepeninggal catatan akhir blog. Atau lebih tepatnya log-book (brangkali).... Terlalu jenuh disiksa koneksi yang lemot. Alhasil kini saya membekali dengan 2 opsi modem. Gak ada yang utama. Cukup berfungsi back-up. Penunjang 1 sama lain...,

Selayang pandang Januari 2013...,
Seingat saya masih berkutat dengan sepoi badai Tropis, yang disebut-sebut dengan inisial Narelle. Itupun bercampur dengan dominasi langit mendung. Pekat atau sekedar kelabu tipis. Subsidi hujan sudah tentu menambah intesitas curah dari biasanya.  Kian menambah daftar iklim yang tidak bersahabat. Tumben mendekati Februari, yang biasa lebih identik kecamuk angin barat di peralihan tahun baru China, Gong Xi Fat Cai.
Bagi kami yang bertempat tidak jauh dari pantai. Tentu terlampau mudah mengidentifikasi datangnya gempur angin. Pesisir Ampenan yang berjarak kisar 400meter cukup mampu menghantarkan debur gema hantaman ombak. Terlebih jika malam beranjak lebih larut. Lengang semakin beri kans hiruk-pikuknya. Keras angin juga membawa dampak lain. Listrik kerap padam. Bahkan bisa sampe 5-6 X byar-pet! Bisa dimaklumi efek yang terlanjur mudah diterima nalar. Musim banyak pohon tumbang. Tentu, menjadi tugas berat Dinas Pertamanan Kota Mataram dan institusi PLN. Setiap keluyuran lintas aspal pemandangan itu akrab ditemui. Pangkas rimbun tajuk daun. Herannya kog baru beraksi ketika geliat angin sedang getol kuat hembus. Selalu bukan tindak preventif. Antisipasi yang mubazir. Mau bilang apa lagi klo sudah begitu citra kinerja. 

Aktivitas foto saya sedikit berkurang. Lembab... kuyup basah bukan kondisi yang ideal untuk daya tahan kamera tipe low-end yang saya miliki. Nikon D3100... bukan jenis item yang tahan banting dan tangguh di medan ekstrim. Toh, mesti tetap disyukuri eksistensi-nya memberi saya keleluasaan saat diperlukan. Still life, foto produk untuk asupan dokumentasi blog dan isi toko maya, juga tematik outdoor. Jadi minim kudu punya atensi extra demi asas manfaat selagi kondisi dan peruntukan sesuai dengan tujuan pemilikan. Semoga tetap bandel sampe Shutter-Counter tercapai limit akhir. Lumayan kuras kocek. Tapi semoga kelak bisa up-grade level semi-pro... atau sekalian tipe full-frame. gak usah nanggung punya obsesi. Hehehe.....,

7 Januari 2013 :
Sirkulasi pagi gulir seperti biasa, namun ada momen yang tidak biasa. Sisa 1/4 daya kantuk saya mendadak hengkang. Ada sedikit gema onar di depan rumah. What's news??... begitu buka pintu depan, mendadak saya disuguhi pemandangan kepul asap hitam. Membumbung tinggi diarah utara rumah berjarak 2 blok. Beberapa ekspresi panik mulai terlihat di wajah tetangga sekitar. Yah termasuk saya! Hanya sedikit lega, karena posisi asap tadi letaknya agak jauh dari zona kawasan Pertamina di pinggir pantai. Cuma dijajaran gudang tua nurut saksi mata yang melintas.
Antusias kambuh. Segera ambil kamera dan ambil sepeda kayuh dekati spot lokasi. Ternyata yang terbakar kios rokok non permanen, persis nempel tembok gudang tua berhalaman luas. Resiko-nya cukup besar. Dibelakang spot kobar api adalah lahan parkir beberapa truk besar pengangkut minyak. Persis berlajur deret ruko tua khas graha lama. Miniatur nuansa pecinan, China Town.
Bahkan, jarak 300 meter arah barat adalah zona kilang Pertamina. Tampak gurat cemas para staf Pertamina.  Ini termasuk dalam lingkar range utama... zona bahaya.

Bejibun manusia nonton. Anehnya wajah mereka hanya dipenuhi keingin-tahuan tanpa menyadari resiko. Saya tiba saat raung mobil PMK sedang masuki ujung gapura simpang lima. Segera aksi jepret berlangsung. Cuma masih jaga jarak 50-an meter. Dan satu momentum, mendadak semua orang berlarian menjauh titik zona api. Api menyembur julang atas.... hampir capai ketinggian 25-an meter. Momentum lari ini cukup menarik untuk di abadikan. Cuma tersadar, kuatir sepeda yang saya parkir, bakal jauh pengawasan. Sama saja konyol klo kecolongan. Ogah! cukup saya jepret dari jauh. Selanjutnya saya gegas pulang... dan balik lagi. Ngos-ngosan berlarian gak mau kehilangan segmen peristiwa.
Gitu balik suasana sudah lebih rame dari sebelumnya. Dinas PMK sudah mulai semprot air. Sementara beberapa rekan wartawan terlihat nyusup di antara kerumun manusia dan petugas pemadam. Yah, akhirnya terkuak dari mana sumber api. Ternyata kios rokok selain menjual bensin eceran juga menampung sejumlah drum berisi solar. Bumbung api tadi penyebab utama ada 1 drum yang tersulut, dan meletup karena tertutup. Panas kobar api telah memaksa permukaan atas drum menjadi cembung! Dan pastinya efek panggang api telah menyebabkan golak kian meningkat. Syukur gak meledak! Padahal gak terbayangkan klo saja drum tadi dalam posisi tergeletak...entah kemana arah sembur-nya.

Tim PMK dinas kota Mataram bergegas umbar aksi. Sudah hampir 4 tanki air yang datang. Diantara hiruk-pikuk toh akhirnya muncul Janggal. Kenapa pihak Pertamina yang memiliki satuan pemadam (internal) gak bersegera tanggap lebih awal turun tangan? Analisa sederhana saja. Mestinya pihak mereka terlebih dahulu yang sigap mengamankan aset teritorial mereka dari ancaman rembet api. Kenapa mesti tunggu PMK dinas kota yang kedatangan bakal lebih lama karena jarak tempuh dan durasi penanganan selisih jauh?
Kumpulan logika ini semakin merangkai analisa berikutnya. Bisa jadi bagi pihak Internal Depo Pertamina Ampenan situasi ini menjadi bak buah simalakama. Secara gamblang mudah diirunut, bahwa muasal "pangkalan" distrik BBM eceran itu jelas ilegal. Bukan resmi mendapat "jatah" subsidi minyak... tapi merupakan hasil penimbunan ber-kala. Umumnya dari hasil oknum warga yang geluti usaha sampingan. Tangkap peluang bisnis "Truk Kencing". Dan pemandangan itu tampak nanar. Gak ada upaya penertiban. Gamblang di setiap pintu masuk & keluar depo Pertamina. Pasti ada saja warga belarian. Bekal ember atau wadah plastik cat bekas size 20 liter. Menghentikan truk tangki... beberapa detik saja. Cukup sekedar buka katup keran sekedar menuai "tetes" yang bernilai. Analogi mudah. Truk datang sore... artinya ambil sisa tetes. Stop truk pergi, keluar pagi berarti memanfaatkan sisa tetes, sekaligus yang lebih menggiurkan, adalah selisih kadar minyak yang dibawa tangki. Ada porsi lebih yang sebenarnya secara standar operasional kudu melebihkan sedikit jatah tampung. Untuk antisipasi susut, selama BBM di distribusikan ke wilayah tujuan. Ini sih fenomena umum bin lumrah yang bisa ditemui dimanapun. Bukan hanya Depo Ampenan!

1 jam berlalu, upaya takluk api mulai tampak gejala mengecil. tapi gak total padam. Bahkan aliran tumpahan solar yang terbawa air masih menyala. Dan secara perlahan tim Fire Fighter Pertamina mulai unjuk peran. Truk khusus mereka mundur perlahan dekati zona api. Tampak selang yang dijulur ukuran lebih kecil. Memang bukan keluar semprotan air. Tapi seperti bahan kimia tertentu. Gak sempat saya interview tentang bahan khusus apa yang dipakai. Hasilnya sangat efektif. Api mati seketika. Hanya setelah itu meninggalkan jejak bau yang pekat. Plus menciptakan efek semacam kabut tebal di sekitarnya. Serasa terkungkung dalam belantara halimun. Nebula putih.. ditambah langit mendung. Bahkan gak ada celah matahari. Suasana yang unik. Beberapa wartawan malah menyempatkan saling jepret ajang narsis. Memanfaatkan situasi. Kelegaan tampak disemua wajah. Sumringah. Hingga terlontar celetuk.. "Kenapa gak dari tadi?..Huh!!! "

Sejurus kemudian, alih tugas polisi memasang yellow band - Police line. Menandai poligon TKP. Aktivitas berangsur normal. Truk pemadam hengkang satu persatu. Berganti seliweran kendaraan lain. Halimun buatan tadi juga mulai menipis bersama terpa angin. Sudah cukup panen berita hari ini? ternyata tidak! Dari obrolan wartawan saya mendengar kisah lain. Dilalah tadi malam juga ada sedikit bencana dialami nelayan Pondok Prasi.
Selenting berita yang terlewatkan. Padahal semalam saya baru tidur jauh malam. Angin memang tetap gempita hantam pesisir. Bercampur gema house musik, hingar bingar kejauhan dipusat warga penampunngan titik Pelabuhan. Tabiat biasa... di kutat habitat.
Sempat pula mangkel. Heran sama orang-orang disitu. Angin kondisi mirip prahara, toh mereka tetap saja suka-cita... easy going.
Belakangan ketahuan, sekitar jam 11 malam ( 6 Januari 2013)  kondisi ombak juga bergelora hebat. Secepat kilat saya anjang sana observasi situasi. Bahkan kondisi lebih unik. Jajaran jukung jumlah ratusan yang biasa tata rapi di sepanjang pesisir Pondok Prasi berubah posisi parkir.
Hampir semua dihempas ombak hingga menutupi lintas aspal kampung nelayan disana. Kebanyakan rumah di garda depan semua dihujam moncong jukung. Sedimen pasir juga turut terangkat hingga menutup aspal. Terlihat lonjoran katir terserak sana-sini. Baik kondisi utuh dan patah. Pastinya jika dikalkulasi total alami kerugian besar. Terlebih situasi gelombang belakangan tidak baik untuk melaut. Seorang nelayan bertutur perihal situasi malam itu. Bukan angin penyebab ombak bergelora, tapi akibat dampak ombak sorong. Istilah tabiat arus yang menyebabkan pola pergerakan arus. Sampai-sampai mereka menyangka ada gejala tsunami.
Logika tepat, bahwa pergerakan dorongan arus kian meningkat tensi terjang. Bagaimana tidak. Posisi kontur pantai landai cuma tersisa dari garis Pondok Prasi ke arah utara. While, dari ujung Jangkuk - Melayu Bangsal daya terjang ombak diantispasi deretan krib dan tembok penghalang. Sehingga akumulasi daya tuang meluber kearah tepi pantai yang lebih landai. Tanpa atribut penghalang apapun. Alami maupun buatan.


Senin, 31 Desember 2012

Kaleidoskop 2012

Akhirnya tiba di gerbang peralihan tahun Masehi.....2012-2013,
Terhitung ada jeda hampir 6 bulan blog ini saya jarang update. Bukannya pasif, tetapi lebih konsentrasi di asupan konten blog lainnya.Dan perjalanan waktu sepanjang tengah tahun lebih member banyak warna. Masuki awal ramadhan.... hingga alih syawal. Begitu banyak lewati pergantian episode dari sajian porsi waktu. Lengkap suka-duka sesuai gilir hadir.
Ada beberapa poin yang menjadi acuan tonggak momen kenang. Ada orientasi diri yang pernah saya canangkan sebelumnya, Alhamdulillah menunjukkan titik terang pencapaian. Obsesi dari wish-list yang saya coba susun dan upayakan mewujud eksistensi.


pit-stop di jembatan gantung Marong, ini merupakan
peninggalan jaman Belanda yang kini diperbaharui oleh
Pemkot Mataram
Pertama, satu kesempatan saya berencana bisa olahraga teratur. Dan itu bisa tercapai sejak menyisihkan dana demi sepeda MTB. Tepatnya jelang masuk Ramadhan. Saya mulai membiasakan diri gowes. Tentu-nya nyambi kegiatan fotografi. 
Gowes menyisir pinggir Jangkuk - Muara
Keluyuran baru sebatas lintas lingkar kota. Dan beberapa trek jalur pinggiran (suburban). Avonturir di kawasan sempit. Sesekali mengajak para bocah. Meski harus menyiapkan goncengan khusus demi terlaksana hajat menyenangkan hati si bungsu. Kesempatan wadah keakraban yang lain. Itupun kudu membagi porsi tendem dengan abangnya yang gak mau ketinggalan. Gowes... yowis! lebih marak... lebih menikmati alur hidup dan kehidupan. Menyatu di habitat alam terbuka selalu memberi kami warna keceriaan akhir kisah. Meski menyisakan gatal belukar... lengket peluh, dan pegal kayuhan kinerja paha-betis.



merah-putih di balai posyandu


Kesempatan lain. Saya mendapat sedikit project foto kecil tema Kesehatan ibu dan Anak. Ini memberi khazanah luang tersendiri. Berburu momentum perayaan hari kemerdekaan hingga sudut selatan. Menyisir beberapa desa pinggiran kota. Atau sekedar nongkrong di Posyandu dekat rumah. Mepet di garis bantaran sungai Jangkuk.
suguhan dawet di prosesi nikah adat Jawa 
Ada indikasi pesan khusus, seolah saya diberikan kesempatan lebih banyak berbaur dengan khazanah anak. Sekalipun sebagai pemerhati melalui wahana fotografi.
Sekalipun di pelataran jeda lain saya juga kais pengalaman di foto wedding. Baur jenak dengan salah satu usaha terkait milik seseorang. Lebih banyak fungsi back-up. Sedikit gamang dari keterbiasaan pola rutin. Jika selama ini saya lebih suka suasana natural.. baik secara pose obyek dan pencahayaan alami. Gilir wedding, formatnya jauh  berbeda. Ada sedikit porsi formalitas. Pose-pose yang serba di atur. Tabiat flash dan pencahayaan buatan. Selama masih akrab dengan foto tema in-door.  Menjadi menarik ketika saya dapat kesempatan foto liputan nikah. terlebih dengan muatan upacara budaya dan warna adat. Gugah curiosita lagi. Setidaknya saya jadi mengenal tata cara dan tata krama prosesi nikah dari nuansa adat berlainan suku nusantara. Jadi alasan tepat, kenapa saya lebih menyukai peran candid. Ada kebebasan merekam pose dan ekspresi lepas diantara momen formil. 


orderan ilustrasi profil keluarga gaya kartunik
Kedua, kegiatan aktivitas ilustrasi bahkan menjadi lebih getol dari sebelumnya. Efek samping nimbrung komunitas seni dan budaya. Warjack Taman Budaya - Mataram selama ini cukup banyak memberi saya energi dan inspriasi untuk sesekali berkiprah dirana seni. Menjajal lagi obsesi hobi yang terlantar dalam kurun waktu. Mending di aktivasi daripada suntuk dengan sisa labil pertemanan semu. Oknum aneh dan bias pemikiran basi mereka. Kog anehnya gak sadari klo saya sudah entas lama dari bilik polemik. Beranjak hijrah untuk transfer esensi diri pada pola dan ajang yang jauh lebih cerah. Menjanjikan lebih banyak prestasi dan pengembangan potensi. Kancah lain dan karakter dan pribadi beda. Membongkar panggung lama... mendirikan pentas baru. Program rehab-rehab mandiri... begitu kurang lebih.
media pinsil warna
Hasilnya, kegiatan berkesenian saya jadi lebih intens. Bahkan kadar meningkat daripada tahun-tahun sebelumnya. Sisi lain, juga mendatangkan hikmah melek segi finansial. Sekalipun dalam kadar lumrah standar wajar. Apresiasi yang bergulir... kritik membangun. Pesanan dari pihak yang membutuhkan. Pajangan gambar keluarga atau ilustrasi buku. Semua terbangun dari inti jalin silaturahmi. Hal yang patut saya syukuri. Sumringah lega.... merujuk redaksi repetitif ayat di surah Ar-Rahman. "Lantas, Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?"

2012 juga memberi warna duka bagi kami sekeluarga.
ziarah kubur saat Idul Adha
Ibu mertua akhirnya berpulang ke Rahmatullah, Minggu, 21 Oktober 2012. Tepat menjelang sholat Dzuhur, dengan poin waktu mirip hari, pukul 12 : 21 wita. Akibat menderita diabetes basah. Sejak sebulan sebelumnya sempat dirawat inap di RSI Mataram. Berjalan seminggu. Dan demi faktor psikologis, akhirnya rawat jalan kami pilih sebagai opsi terbaik.Toh Allah menghendaki jalan lain. Selamat jalan ibunda Hj, Aminah Abdat. Doa kami anak-cucu akan selalu menyertai. Semoga amal ibadah kebaikan di terima Allah SWT. 

momen cincang daging hewan Qurban
Menjadi ujian tentu saja bagi kami, segenap keluarga. Persis tanggal 26 September, 5 hari kemudian jatuh pada momen hari Idul Qurban. Pelaksanaan yang beda dari tahun sebelumnya. Ada anggota yang berkurang. Seperti layaknya turut belasungkawa dari warga Kampung Melayu, umumnya. Tahlil diadakan selama 7 hari. Dan sisi uniknya, paska ibunda kami wafat, ada sekitar 3 warga lain yang juga meninggal. Bahkan sebelum ibunda kami juga ada yang lain. Fenomena begini oleh warga di-istilahkan Berentet. Alias bersinambung... bahkan komentar lain lebih nyeleneh "ajak-ajak"... seolah almarhum/ah satu mengajak yang lain. Tanpa dasar sih! Toh, di Jawa-pun mengenal efek konotasi wafat sistem berantai tadi.
Alhasil dari sekian jama'ah yang turun masjid ba'da isya, mereka saling membagi porsi kunjungan tahlil. Ini belum lagi ditambah acara selakaran (bacaan pujian bagi Rasul). Warga pengundang pemilik hajat yang dirumahnya ada anggota keluarga tunai pergi rukun Haji. Sebab berbarengan jadwal. Ini sih kadang bikin was-was. Masalahnya para toga (tokoh agama) jika tidak dikonfirmasi sebelumnya akan nimbrung di satu tempat. Bingung-lah empu-nya gawe kalo tidak ada pemimpin prosesi doa. Namun bukan kendala kritis. Biasa-nya ada personil lain yang ber-inisiatif ambil alih jika memiliki kemampuan  pimpin prosesi tahli. Paling apes, jeda waktu tunggu... seseorang kudu menjemput toga yang nyangkut di-hajatan lain tempat. Tapi begitulah warna bersinergi. Saling mawas... berkah nuansa ber-empati.

November hingga Desember....,
2 bulan menutup jelang tutup tahun. Berjalan dengan laju rutinitas harian. Musim hujan kian menunjukkan limpah curah di rentang bulan ini. Saya agak jarang aktivitas keluar jauh. Lebih membenamkan diri aktivitas rumah. Optimalisasi konsep niaga on-line. Berbenah sarana penunjang yang diperlukan. Menjajaki pembaharuan ala kadar. Tetap rutin bersepeda tanpa menentukan jadwal tetap. Range lingkaran sedikit lebih menlampaui lingkar kampung... 
lokasi di komplek persawahan ujung landasan eks bandara Selaparang
gowes di lintas jalur pematang
sekedar melatih Gingga untuk lebih jauh kadar gowes-nya.sekaligus menyisipkan bekal pelajaran di habitat alam terbuka. Tentang sawah... sirkulasi pengairan... pekerja sistim tanam di musim hujan. Ikan-ikan kecil yang sekedar akrab dijumpai di saluran pematang. Dulu, masa kecil di Malang saya mengenalnya dengan sebutan iwak gathul, gilir lokal sasak menamai empak Pepait. Nah, klo di Sumbawa Besar lain lagi, ikan Kepala Timah. Julukan sederhana karena identik dengan noktah warna putih di jidat si ikan-ikan mungil tadi. (Ini akan menjadi kisah lain di posting tersendiri, nanti -InsyaAllah). Lalu sajian visual yang paling diminati adalah pengamatan telur sisok (siput sawah). Banyak menghias ditepian pinggir belukar sawah. Dan Semoga kelak menjadi khazanah ilmu yang bermanfaat bagi para bocah-ku.

Tengah 15 November, tiba tahun Baru Islam. 1 Muharram 1414 Hijriah. Terus terang. Ini kans awal saya berkenan nimbrung di Masjid Babussalam. Semata khusus demi acara ini. Panggilan suar corong masjid sudah sejak tadi berkumandang undang warga kumpul. Lumayan ramai yang hadir. Berbaur dari tua hingga kawula muda dan anak kecil. Diawali doa akhir tahun, lalu awal tahun. Khidmat melantun doa. Bait harap dan barokah sholawat. Asa bergema dibawah tudung kubah besar... 
30 November. giliran pelaksanaan acara 40 hari almarhum ibunda. Cukup melegakan. Terlihat dari sanggup dan sigapnya tetangga dekat berbaur. Membantu sekedar penyiapan sajian bagi undangan jama'ah tahlil. Alhamdulillah lancar.
Adakah kesan Desember? Selain tabiat cuaca yang mulai bergolak. Hujan memancar lebih deras. Angin sedikit meningkatkan tensi hembus. Kami menandai lebih mudah, dengan resonansi suara debur ombak peisisr yang bisa mencapai rongga dengar. Sebagian mengkaitkan dengan prediksi perubahan cuaca ekstrem badai Matahari. Eh! hampir alpa. Tahun ini juga menjadi momentum penentuan prediksi kiamat versi perhitungan almanak suku Maya. Konon jatuhnya di angka keramat 12 Desember 2012. Toh ini gak terbukti sama sekali. Hatta, belakangan ada yang melansir ulang, bahwa puncaknya akan mencapai tanggal 21- Desember. Kiamat segitu kog mudah di ralat !?

Tutup tahun versi masehi....,
Gak ada pesta kemeriahan. Hanya menyempatkan sekedar keliling kota yang ujungnya bawa gerah. Macet ditambah bingar letupan petasan. Terompet parau.... dan hawa kantuk yang mulai menyertai perjalanan singkat. Toh akhirnya membawa kami pulang kandang. Tepat 12 teng! langit Mataram di hiasi pecahan cahaya... letup gema. Terlebih di garis pantai Ampenan. Zona menjadi zona tongkrongan sejak sore tadi. Ada yang hilang....., gak seperti biasanya. Sirine kapal gak berkumandang malam itu. Usut-usut ternyata gak ada jadwal kapal pengangkut minyak yang berlabuh di pantai Anpenan. Bisa jadi sebab kondisi angin.... golak ombak kian meninggi belakangan ini.  
Merangkum 2 katarsis perayaan tahun Baru. Meriah gempita seperti lahirnya..... tapi gak penuhi bobot kepuasan batin. Terhalau seperti pesan gejolak angin.... diterbangkan begitu saja tanpa jejak spiritual. Subuh seninggal kantuk... dan alih pagi sesingkat putaran lintas kota. Hanya ampas kemeriahan itu yang tersisa... sampah plastik.. selongsong dan perca petasan. Pasukan dinas kebersihan membentuk shaf-shaf trotoar.

Selamat mengalami 2 tahun Baru.......,





Rabu, 22 Agustus 2012

Selamat Idul Fitri 1433 hijriah

Akhirnya tiba.
Paska sebulan penuh berkutat ibadah shaum. Sekalipun jauh dari kategori sempurna dalam pelaksanaan ibadah. Saya masih wajib bersyukur. Punya kans menyisip kegiatan diantara waktu dhuha hingga asar di masjid Raya Mataram. Cicil juz demi juz hingga khatam. Tambal-sulam di rajut 30 hari...,
Gak seperti rutinitas silam. Kadar yang tereliminir, sudah gak terbersit lagi hasrat hinggap dari berbeda masjid, musholla dan surau. Yang jumlahnya memang bertebaran di penjuru Mataram. Sesuai relevansi sebagai bagian Lombok berjuluk pulau Seribu Masjid.
Suasana juga beda. Cuaca lebih banyak kering. Berhawa sejuk.. bahkan mendadak dingin dari level biasa-nya. Malam demi malam berlantun gaung partitur Kitabullah. Varian beda generasi... merajut malam dengan tonasi tajwid. Lancar dan patah-patah... Semua rujuk di muara harap, ketiban hidayah Lailatul Qadar.
Starting poin yang beda porsi. Metode rukyat, Hilal dan sidang isbat. Senantiasa berkutat dalil akhir, Perbedaan adalah hidayah yang wajib disyukuri. Apapun konsekuensi dari pihak yang beda pendapat. Polemik gak berkesudahan. se-Amsal beda 2 kutub utara-selatan. Namun semoga tetap bersinergi.
Bahkan jelang 10 hari pelaksanaan Ramadhan akhir. Terselip agenda Dirgahayu Indonesia ke-67. Sebagai tipikal manusia non formal ala PNS. Saya gak sebegitu paham seperti apa aura kemerdekaan versi kini. Hanya tetap masih menduga. Formula rutin itu agak membentuk pola apa adanya. Entah kategori cinta tanah air apa yang kini dialami pada alih generasi. Kebanggaan semu... atau berujung juntrung Nasionalis kambuhan. Semua berpulang di pemahaman tiap individu.
Shaum di jelang 17 Agustus. Menghantarkan saya di temu-kumpul rekan Warung jack, Taman Budaya Mataram. Paska asar digelar acara sederhana bertajuk "Musik Kemerdekaan". Penggagas-nya masih tetap kang Ary Juliant. Prakata simpel.. bahwa lewat jalur berkesenian, apresiasi makna kemerdekaan ini bisa di jalani. Sebentuk kepedulian termudah sebagai oknum warga negara yg lahir dan besar di Bumi pertiwi... atawa Gumi Pertiwi.Terserah dengan kebobrokan realita tatanan orde yang berlangsung. Sebagai lumrah pembuka, karya maestro WR. Supratman melantun di kebersamaan keluarga Warjack. Haru yang lain..........,

Itupun selang sekian hari. Muncul juga anekdot di komunitas jejaring warga maya. Karikata dilematis lengkapi daya satire berparodi. Singkat kalimat... "Akhirnya, tanpa melalui sidang isbat... NU dan Muhammadiyah sepakat memutuskan hari kemerdekaan Indonesia jatuh pada tanggal 17 Agustus 2012". Masih di-embeli runtun celetuk lain oknum warjack. Wajar saja.. sebab sudah menjadi akad pihak MUI. Majelis Ulama Indonesia... bukan porsi Majelis Ulama Islam.


Kembali fitur Ramadhan...,
Semakin dekati hari akhir, kian dibikin saya gerah. Gelisah dalam batas manusiawi lahiriah, tentunya. Sebanyak opini lintas berkecamuk. Bisa jadi rupa obsesi diri yang melanglang jagad benak. Mukadimah kemarin bergaung Marhaban ya Ramadhan..., sebentar lagi Farewell of Ramadhan. Happy Ied Mubarak.....,

Semalam suntuk saya sulit tidur. Gema takbir gemuruh bagai gelombang gak putus. Malam takbiran sudah berjalan ramai sejak lepas isya. Menghimpun umat rela kumpul. Memadati simpang 5 Ampenan. Beriring semut sepanjang lingkar lintas rute aspal, seperti tahun sebelumnya. Hingar petasan jejali ke tinggian. Semarak yang kali ini saya hindari. Bahkan mematahkan antusiasme hasrat bocah di rumah. Maaf, ayah kalian lagi melow..barang jenak. Lagi kumat tensi-sensi... 
Lepas alih PM-AM, saya masih berkubang aktivitas internet. Lalu menguap disergap kantuk. Melepas penat tidur singkat. 2 jam perjalanan... serasa pause sejengkal. Henyak lagi di altar dini hari. Sepasukan bocah asal Melayu Bangsal gilir kitari kampung berbekal tetabuh ala kadar. Sambil teriak parau... takbir sengau. Seperti paduan suara tanpa ritme sensasi rapi. Cukup usik gendang kuping! Ah! jelang injury time... terbayang lagi keluarga Malang. Biang sensi tadi!!!!

Subuh-pun terlewati. Berkemas kunjung Masjid Babussalam. Remang merah fajar shodiq... mulai tipis dibasuh lidah pagi. Kini saya tergugah lebih antusias. Bergegas ajak Thoriq... sambil menenteng bekal kamera. Yah! Sholat Ied selalu ajak saya menikmati nuansa baur... sidang jama'ah yang menyambut makna fitrah. Selalu ada nilai memenangkan kebahagian di jeda akhir. Haru.. sedih, gembira campur tangis. Persis di momen fluktuasi dengung sholawat.... berjabat salam gaya Babussalam.  Saya-pun lega..., terasa lapang mengeruk saku hati. 


Salam Lebaran menyambut Syawal....,

Senin, 23 Juli 2012

MARHABAN YA RAMADHAN...,


Seperti biasa.... penentuan awal syawal lagi-lagi tiban polemik. rukyah.. Hilal.... bla..bla..bla....,
Apapun alasan dan landasan dalil, semoga tetap membawa keMaslahatan bagi semua panutan umat muslim.

sekalian mengucapkan, Selamat menunaikan ibadah shaum Ramadhan...,
Mohon maaf lahir dan batin, meski telat.
semoga berkah dan hidayah selalu dilimpahkan bagi hamba-hamba terpilih.
menyambut Lailatul Qadar..., sang bulan 1000 bulan...,

Amiiin.

Minggu, 15 Juli 2012

Pembantaian Dolphin di Lombok (???)

The street market, traders buy the dolphin meat

dolphins were being caught and used to bait longline hooks to catch sharks. Those not used as bait were supplied to the dolphin meat trade with a good-sized dolphin fetching around one million rupiah or US$116.00
— with Taufan Galaxy at Tanjung Luar, Lombok Timur.