Minggu, 09 Agustus 2015

Dive me One...dive me more....annually,

Telling story ... below the water...,
Ada beberapa unek-unek yang sempat terlintas dikurun taon ini. Berkaitan dengan dunia bawah air. Hanya saja, seperti yang sudah-sudah. Meluangkan waktu untuk mencurahkan segera menjadi kendala tersendiri. Ada perihal batu asal sejenis karang yang kemudian sempat menjadi incaran di kalangan penggemar akik. Hingga etape terakhir ini sepertinya sudah mulai surut trend. Artinya, ada probabilitas untuk di-ulas tersendiri. Meski, tentu saja, gak perlu momentum ketika ikon bersangkutan menjadi booming sesuai periodik waktu. Yah, itu lagi penyakit kambuh. Kadang, saya punya kebiasaan aneh, mungkin buruk. Ogah ulas saat itu juga akibat faktor 'must share now'. No...no.., kadang kala saya berpikir gak ada sesuatu hal yang menarik untuk di-ulas ketika khalayak pada fokus di tema sama. Segala-nya terasa hambar. Efek dari homogenitas. 

Belum lagi, aktivitas bertindak dalam rangkaian divisi supplyer juga cukup menyita waktu. Belanja... nyusup pasar. Hunting tempat strategis harga miring. Tapi secara fisik kegiatan ini bisa saya lakukan bersama anak-bini. Bersyukur tetap adad momen kebersamaan yang dihadirkan. Lebih-kurang sudah sita 3 tahun berjalan saya geluti. Juga ada perihal tematik hasil laut. Ikan eksotis... serta wacana pendamping yang menjadi kontradiksi. Bakal ada satu ulasan khusus nanti-nya.


Di bidang rana penyelaman..., Bisa disebut sangat minim aktivasi. Masalahnya mungkin kembali pada niat. Klo sudah terpatri di-hati... rasa-nya pondasi keukeh itu bakal bertahan seperti fenomena akar tunjang. Gak geming oleh tawaran tematik dive rekreasi yang ber-tubi ajakan-nya datang. Masalahnya bukan berarti saya pingin melepas total kegiatan ini. Hanya sudah kadung meluruskan niat tadi. Saya hanya bakal minat pada ajakan rekan di tema Komersial Diving. Tidak lagi berwawasan wisata dan handling tamu. Kalo-pun berwisata... justru saya ingin-nya menjadi kategori tamu. Berstatus penyelam yang merasakan konsep penyehatan jasmani & rohani bagi kepentingan mandiri. Lebih meresapi hakikat kejadian dan keindahan alam. Bekal memupuk kantung religi.


Bermimpilah...  makes your dream comes true
Alhasil kans itu-pun terjalani dengan tidak ada rutinitas jadwal. Terhitung ada 2 jeda tahunan saya mendapat tawaran kegiatan penyelaman. Pertama, ditahun 2014. Paska nimbrung jadi panitia KPS pemilu legislatif, Sehari kemudian saya bertolak ke Belitung. Kali ini ajakan rekan diver kubu Semarang. Bukan main sumringah-lah! lha wong, secara wish-list niat bertandang 'negri laskar Pelangi' sudah ada sejak lamaaaa. Hanya gak bisa memastikan. benang merah apa yang bakal menghantar saya kesana, kelak. Dan sekali lagi, saya selalu mensyukuri tentang hikmah-hikmah kemudian. Betapa hidayah itu kerap tiba setelah kita bayangkan.. lalu di proyeksi, dilumuri berliter-liter doa. Membingkai cerah harapan dengan rela membiarkan untuk Tuhan sendiri yang mengatur waktu-Nya.  Dan segmen-segmen yang sebenarnya 'tidak kebetulan' itu akhirnya saya temui saat berkunjung ke Museum Kata milik Andrea Hirata. Penulis fenomenal tentang negri Laskar Pelangi. Betapa dahsyat mimpi itu. Saya akhirnya ketiban realisasi mimpi basah. Berbasah kuyup di kedalaman sebagian samudra sudut Belitong. Alias nimbrung di kegiatan pelatihan kursus penyelaman bagi staf DKP Manggar BelTim. Memang sih, gak total menikmati paras lansekap-nya. Butuh in-depth di kesempatan lain (kelak, semoga lagi). Akibat keterbatasan waktu dan konsentrasi jatah ajar. Hanya jelang momen pulang, saya singkat termenung. Mendadak saya di-ingatkan lagi dengan kata-kata mutiara sang tokoh dunia, disebut Bapak Penyelam Dunia, Jacques Yves Cousteau. "Leave the Bubble... Take only Memories". Setengah berdecak saya memaknai kata-kata itu. Bukan memaknai secara harfiah perihal arti 'bubble'. Ternyata secara lafal ujar.. Bubble disebut secara ejaan mudah sebagai BaBel. Akronim dari Bangka-Belitong. "Gelembung-gelembung" yang saya dapati memang nyeleneh... mereka muncul permukaan, persis tabiat balon kata di panel cerita bergambar. Terjemahkan dengan sendiri-nya.. Bingo!!!

Kans ke-dua, kegiatan diving komersil ini justru terlaksana jelang momentum menyambut Ramadhan 2015. Sebenarnya gaung penyusunan tahap perencanaan proyek pengaliran air bersih untuk konsumsi 3 gili (MATra) sudah ancang-ancang digeber sekitar 3 tahun lalu. Entah karena sesuatu dan lain hal, pada akhirnya perencanaan matang-nya dilakukan kembali tahun ini. Secara spesifik keterlibatan kami (saya & rekan buddy) adalah memantau kondisi substrat dasar perairan yang kelak akan dilalaui alur pipa PDAM. Terutama pada kawasan gugus terumbu lingkar pinggir gili/pulau (Fringing reef). Juga gundukan terumbu tengah, lebih identik dengan penyebutan taket. Berbekal peralatan scuba dasar. Pencatatan detil spot-spot karang yang dilalui sesuai tembakan arah u/w kompas. Mengikuti bentangan meteran gulung yang oleh 2 partner diver lain telah di patok lurus mengikuti bearing kompas. Setelah memasang beberapa patok pancang besi. Persis seperti melakukan tehnik permanen transek. Hanya lebih ideal klo saya sebut sebagai metode transek yang di modifikasi. Menyesuaikan faktor kebutuhan dan rupa lansekap di habitat nyata.
Sementara tim permukaan yang ada di-boat, sebelumnya berdasarkan titik kendali awal transek (berupa tanda floating sosis dan bentang vertikal tali) langsung mencatat titik geografis dengan handy GPS. Artinya, secara seksama berupaya mendekati perhitungan akurasi maksimal. Tindakan ini wajar dilakukan mengingat secara habitat perairan sangat identik dengan pengaruh angin dan arus. Pergeseran titik itu akan sangat mudah terjadi. Sisi mudahnya, untuk spot awal yang ditentukan dari pesisir pantai Sire menuju ke point gili Aer sudah ditandai sebelumnya. Karena koordinat dan penentuan zonasi telah jauh hari diberlakukan oleh pihak berwenang. Otorita pengelola status kawasan gili dibawah BKKPN (Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional), Unit Pelaksana Tehnis dibawah naungan lembaga besar-nya DKP. Missing link... setelah saya 'paused' lama di kegiatan tema perairan, ternyata UPT ini-lah pengganti peran KSDA sebelumnya. Setelah proses panjang serah-terima status pengelolaan kawasan Taman Wisata Alam Laut, gili MATRA dari kubu DepHut ke DKP. Dikurun lebih dasawarsa lalu, lebih-kurang.
Selanjutnya, pesan koordinator pelaksana kegiatan, sensei Eko Pradjoko". pokok-nya kalian harus lurus...ikuti "KIBLAT" yang sudah digariskan. Yayaya.. ini adalah sinergi menyesuaikan amanah jagat pernyemplungan "Plan your Dive... Dive Your Plan"


** catatan khusus : menulis sesuatu yang sudah pernah kita alami kadang bikin males"an. Karena secara segmentasi, perca-perca artikel ini sudah pernah saya tuang dalam aktivitas mikro blogging di FB. Alhasil betapa banyak makan energi pungut mozaik artikel ini. Semacam gak tertantang untuk menuangkan esensi artikel dengan penyajian up-to date. Tapi sekalipun gitu semoga tampilan wacana basi ini tetap ada nilai manfaatnya. Setidaknya bisa jadi pembelajaran rekan-rekan yang menggauli bidang sama. Selanjutnya biar penyajian visual saja yang ambil alih. Keep on eyes...., 

diskusi soal tehnis & metode penyelaman di sekretariat BKKPN Bangsal-KLU
pak Eko Pradjoko (baju putih-biru) adalah dosen fakultas Tehnik- Unram

Kondisi peta kontur... penyesuaian bearing compass



pengukuran elevasi air laut, di ukur saat air pasang tertinggi, Lokasi : pantai Sire - Lombok Utara
2 mahasiswa kru dari pak Eko, sekalian praktek kerja lapangan


Pak Eko dan asisten penyiapkan perangkat GPS dan tranduser fish Finder

membaca sea-bed...tampilan 2 dimesi & koordinat

boat yang lega...memudahkan penempatan peralatan, tapi menyulitkan gerak saat kordinasi
kinerja penyelam dan kru permukaan.

perbekalan sensus bawah air... sabak teflon.


go down.... let start working buddy! 

2 rekan diver ..mematok tiang besi dan membentang meteran gulung

mengukur jarak antara 2 alur pipa.

ini saya,tugasnya nyatat.. mendeskripsikan varian kedalaman dan spot-spot karang

ini merupakan pelindung sekaligus fungsi pemberat dari pipa yang terpasang sebelumnya
Lokasi : sebelah timur Gili Aer

starting point : di titik timur gili Aer

Kondisi bottom di taket tengah, antara gili Aer dan pantai Sire
dominasi pecahan karang (Rubble)

Selasa, 04 Agustus 2015

after a year......,

Ugh! Bisa dibayangkan betapa lewat setahun persis. Betapa keinginan ngeblog dengan niat jejali kisah keseharian itu  juga sangat membosankan. Jengah... hingga lahirkan enggan akut. Cukup dengan menandai pada postingan akhir blog. Kurun setahun ditandai oleh interval 2 kartu digital versi ucapan idul Fitri. Ayo-lah! bangun lagi...., kita dan kita telah terlahir sebagaimana kertas putih, kembali pada fitrah kemanusiaan. Reborn after a year...., Tapi yang jelas, bukan dimaknai seperti orok lagi. Tanpa bekal apapun...gak bisa ngapa-ngapain.
Ungkapan singkat "power of Now" mestinya bisa jadi motivasi berulang-ulang. Paska terpuruk... setelah mangkir dari kesenjangan rasa yang berlarut. Energi pembiaran lebih pas disebut.

Pada titik nadir tertentu. Kadang saya merasakan dari kabut kebosanan. Akibat seringkali kontradiksi konsep 'ogah' ketergantungan total terapan tehnologi rana digital. Sekalipun tetap saja, untuk hal-hal tertentu tidak bisa lepas begitu saja.  Lha wong, secara spesifik, aklamasi dulu telah memproklamirkan untuk menjalankan sebagian geliat usaha/niaga dengan basis aplikasi tehnologi informasi. Jadi sangat tidak mungkin bersitegang. Harus ada porsi kompromi. Jadi, ini hanya upaya me-minimize aktivasi di dunia nyata tidak semakin terabaikan dengan kungkungan dunia maya. 

Kalian tau knapa? sebab ketiban peran jadi orang tua itu miliki beban secara psikologis. Kog bisa? ya iya..., Betapa susah melihat para bocah seperti tidak bisa lepas dari keypad... tuts-tuts di aplikasi moda gadget. Jemari mereka semakin hari semakin menuntut lebih. Sedikit-sedikit, setelah berkegiatan apapun langsung nanar menatap gadget. Dikit-dikit, berharap ada tunjangan dana pulsa untuk sekedar download game versi baru dari tawaran aplikasi android. Sebentar-bentar, sembunyi dibilik lain... mengecilkan volume demi melahap dengan keseriusan tingkat lanjut. Bermain game..., giliran cetus suara.. akibat antar 1 dengan sodara lain minta jatah bermain di gadget sama. Hehehe...., amat bikin pusing kadang. Satu sisi, mereka lambat laun mengembangkan sikap tidak terbuka. Susah dan enggan berbagi... sekalipun secara terapan terbaru ada game yang bisa bersosialisasi dengan mitra maya dibelahan bumi manapun. Tapi ini juga sangat meresahkan. Faktor demam... ketergantungan. Dan yang paling memprihatinkan, gejala makin menjaga jarak dengan lingkungan sosial sekitarnya. Sekalipun belum sampai tahap itu... tapi sebagai filter antasipasi kesenjangan akibat ulah terbui dilingkungan baru, tanpa realitas nyata... tapi kerap menghadirkan penasaran bertubi-tubi. Ah, sudah semestinya peran serta dan tanggung jawab kita sebagai oarang tua lebih mawas dan awas terhadap gelagat di masa transisi. Perubahan itu memang sunatullah... namun tetap ada koridor yang perlu dipertahankan. Semata letakkan sesuatu sesuai fitrah... tapi bukan demi pangkas ide dan kreatifitas penunjang yang kita miliki secara lahiriah. Mengendarai aplikasi yahud di rana digital sana.


Kembali pada situasi..., Setiap menatap lembaran putih 'compose' blog, lagi-lagi saya dihantarkan pada fenomena kontradiktif tadi. Antara enggan... bosan... sekaligus tertantang mengisi tentang hal-hal baru terbaharukan. Dan demi menyatukan hal-hal yang bertentangan dan satu sisi lagi sebenarnya bisa mengembangkan manfaat lain. Tentu ada hal-hal lain yang bisa diterapkan. Dengan pola sederhana...  memicu kreatifitas. Apa ya? Daripada susah mencari tema baru. Kebetulan stok kotak-kotak kecil yang biasa saya pakai untuk kirim aneka barang untuk penunjang atribut niaga online sudah ludes. Yah, dengan konsep bersama... kami nimbrung sekeluarga. Saat hendak beli bungkus cover ternyata kertas kado ber-serat yang  biasa saya pake mulai naik harga? Ini sih bertentangan dengan prinsip ekonomi. Akhirnya setelah menimbang dan mencari bahan alternatif murah-meriah, pilihan jatuh pada pemanfaatan limbah. Recycle... reduce... reuse..., 
Kotak karton made in our house kini berpenampilan semarak berkat cover kertas tabloid Lombok Guide. (dibagikan gratis) Menampilkan kaya warna dan informasi seputar info pariwisata wilayah kami. Yah! itung-itung ini juga bagian langkah sebagai duta wisata dengan cara paling mudah. Ikut berpartisipatif dan andil serta dalam penyebaran virus.. silahkan datangi pulau kami. Promo aksi... kliping ikonik. So, it's about propaganda, Pieces of Lombok... Read your news-paper 
  




Selasa, 14 April 2015

jeda BLOGGING...... Lagi dan lagi.

Wah, terlalu lama yah!
Lagi-lagi blog ini terbengkalai dalam kurun yang begitu lama. Semakin gak runut jika saya ingin lebih teratur tuang unek-unek di blog sendiri. Kadang geli sendiri, sekalipun wadah ini adalah media bebas yang memang bisa diperlakukan semena-mena. Niat nulis terserah.... gak tergerak sama sekali juga bukan masalah apa-apa. Wong semua tergantung dari sisi nurani kita sendiri dalam mengatur intensitas kemauan menulis. Berupa manuskrip lingkup kehidupan sekitar, yang akan indah untuk disebar. Nyalakan hidup... berinteraksi dengan kata dan huruf. Gak ada target kurikulum.... Semua adalah nafas kemandirian ditunjang apapun bekal kita. Berusaha lebih fokus dalam jurnalistik pribadi. Yah, kadang saya justru terpacu dari hal kecil. Semisal pesan sinematik pilem animasi si Barbie, beberapa konten judul ada dimiliki putri sulung saya. Prakata si Barbie kerap mengawali pesan pembuka... " dear diary.." 

Perjalanan waktu hingga tembus kini di selasar April 2015. Cukup banyak momen terlewati. Ada beberapa yang memang sengaja tidak ingin saya balas dan ulas. Bisa jadi 2014 adalah saat dimana saya, dan kami secara  keluarga dihadapkan pada kurun waktu yang kudu mawas dalam sikap dan kedewasaan menghadapi memaknai ujian dan musibah. Tapi sekedar sebagai acuan semoga ini menjadi pelajaran yang berharga bagi kami. Lebih antusias menghadapi segmen episode kehidupan, kelak!

Jalan-jalan di seputaran kota... ikon utama zona kota Malang. Setelah
melakukan kunjung ke Pasar Kembang Splendid, pasar burung.. berburu
ikan dan mampir di warung idola menu Pangsit, jadi rujukan wajib bagi istri.
Bermuara di Januari 2014....,
Ada seputar cerita singkat dalam kesempatan mudik Malang. Untuk pertama kali-nya 'komplit'-nya kami saya bisa boyong tim keluarga. Demi momen perdana 'setor' profil lengkap nyata pada ortu di sana. Terutama ibunda yang saat itu sedang dalam kondisi sakit. Hehehe... ngenes bukan? Semoga menjadi obat kangen yang tertunda sekian lama. Sedih banget mengenang 'etape' ini.

Bagi anak-anak ini jelas momen berharga. Terutama jatah tumben bagi ke-3 adik si sulung Gingga. Kabar ibunda yang sakit dan terhantar di ruang rawat-inap RS juga melengkapi bahan pertimbangan kenapa kami harus gegas anjangsana. Yah, ada riwayat sakit ibunda yang selama ini diderita ternyata berat dan akut. Memang janggal... dalam kurun sekian lama ternyata penyakit yang sebenarnya telah disamarkan. Dan dirahasiakan untuk diungkap detil pada anak-nya yang berada di rantau. Yah, alasan klasik sih! Mana ada ortu yang mau bebani pikiran berat buat anak-nya. Apalagi sudah menjalani sebentuk porsi tanggung-jawab berbentuk koridor rumah-tangga. Sedih yang mendalam.
Secara misi kunjung kali ini bisa terealisasi berkat dukungan ipar. Perjalanan usaha jasa pengadaan barang (Supplyer) sedang dalam awal rintis, dimana saya termasuk crew pendukung. Ada beberapa kisah tersendiri yang semoga bisa saya bagi dalam topik tersendiri
Support ini berupa kelegaan waktu dan dana cukup untuk melakukan survey lapangan perihal sentra budidaya jamur kancing, atau basa keren menyebutnya champignon. Konon pusatnya ada di kota Batu yang memang sudah jadi ikon produk pertanian. Mengingat alur permintaan dari mitra usahawan sejenis kerap kesulitan mendapatkan stok dengan sirkulasi tetap. Sementara respon pasar sangat antusias. Tapi faktor distribusi menjadi kendala utama. Jadi poin cerita-nya, ini adalah upaya membedah mata rantai terkait bidang usaha yang kami tekuni. Bahkan jauh sebelum realisasi kunjung, sudah detil saya mendelik... pantengi sumber informasi di kanal maya. Cuma ada 2 lokasi ideal. Klo gak Batu... opsi lain adalah kelompok petani pengembang yang ada di serambi gunung Bromo. Menariknya, dikawasan kelompok petani di kawasan Bromo merupakan kelompok petani binaan yang di support suntikan dana langsung oleh bank daerah. Kinerja dan geliat usaha yang begitu signifikan bergerak. Ini menjadi angan tersendiri untuk datang. Paling tidak jika ada luang waktu bisa saya sempatkan sejenak untuk mampir kesana. Toh, gak jauh rentang tempuhnya dari Malang. Yah, begitu itu ancang-ancang...,
Tapi bisa ditebak. Efektifitas waktu kudu saya perhitungkan lagi. Mendapati kondisi ibunda yang saat kami datang di rumah Kotalama, sedang berada di RS, memaksa saya lebih intens untuk fokus. Istri-anak konsentrasi jeda rehat paska lelah perjalanan bis malam Malang-Mataram. Saya langsung melesat menuju RS Aisyiah, menjemput ibu yang saat itu sudah jatah pulang paska rawat-inap pemulihan kondisi. Gak usah dibayangkan, betapa cair rasa rindu dan hawa ikatan silaturahmi yang terputus kurun jarak, tempat & waktu sekian lama. Adakah yang bisa mengalahkan itu? ikatan ibu-anak adalah tahta mahligai yang indah sepanjang ritme perjalanan kehidupan. Tepatlah bait lagu... Kasih Ibu...Bagai sang surya menyinari dunia.
3 hari kutat awal, saya belum bisa keluyuran sesuai emban misi. Apa yang bisa kita berikan disaat ironi seperti itu? selain usaya beri cuil perhatian terbaik demi orang tua . Berbagi kisah dan tumpah kerinduan dengan hadirnya cucu yang sangat diharap hadir bertatap muka. Sekalipun rentang kami jauh... komunikasi tetap terjalin. Baik telpon... terlebih, menulis surat menjadi media perantara wajib bertutur tukar kisah. Apa lagi sebentuk nilai yang bisa kami beri? Tidak ada... selain kedekatan dan perhatian. Bahkan saking demi itu, tools bekam sampai harus saya pesan kirim ke Malang. Setidaknya, hasil pembelajaran materi Thibbun Nabawi bisa diterapkan langsung pada 'range' orang terdekat. Ini hasil ajakan teman 'alur' lain di Mataram, melalui wadah rumah sehat Ar-Rayyan ber-afiliasi di kubah besar organisasi ABI (Asosiasi Bekam Indonesia). Praktikum kesehatan mandiri dengan pelaksanaan berbasis fardhu Kifayah. 

Payung - Batu, ekplorasi sentra budidaya jamur.... ayok, Kids! kini giliran
kita santroni arah Cangar dan sekitarnya.
Misi utama....,
Agenda survey lokasi sentra budidaya jamur baru saya lakukan di hari ke-4. Cukuplah bekal motor. Seperti biasa, rawan macet. Lintas kendaraan terlalu padat... dan sarat polusi. Beuh! selalu terkenang kilas balik masa SMA dulu. Betapa sangat kontras beda pesat perkembangan jalur tempuh. 
Saya ajak Gingga dan Ahnaf. Toh, peluang ini juga sebagai ajang selip mengisi libur nyambi belajar tentanga banyak hal. Menanjak alur liku aspal selasar tebing Payung, hingga gerbang arah Pujon. Dari info beberapa warga disekitar sana ternyata terbilang jarang ada petani yang konsen pelihara jamur. Dominan di wilayah utara, arah menuju Cangar. Sebenarnya ada niat kami alihkan jenguk sejenak arah simpang tuju Coban Rondo. Tapi, bisa-bisa waktu keburu ludes jika kami turuti niat blusukan. Hehehe......, Efektifkan waktu!  


Minggu, 03 Agustus 2014

Jumat, 21 Maret 2014

selang 7 bulan lewat.........,

Ah, rasa-nya baru kemarin....! 
Demikian basi ucapan ini saban terlontar menyikapi lompatan waktu. Pasti-nya bakal kepentok sendiri. Betapa berharga waktu itu jika dilalui tanpa aktivitas yang bermanfaat. Terlebih kebuang percuma... sia-sia tanpa ada hakikat makna tersendiri. Bukan saya gak sempat. Ternyata dengan mematri judul di posting terakhir... "paused on writing". Secara naluri bikin saya jadi beneran ogah"an. Semacam keciprat dogma-pramatis. Lakukan saja yang lain! Prioritaskan hal-hil penting.
Padahal setiap sempat lirik barang jenak di blog ini, kog jadi semacam trenyuh sendiri. Ada missing link dari sesuatu yang pernah kita canangkan sendiri. Pernah digeluti penuh hati. Pondasi angan dari pembentukan karakter perihal apapun. Yang awal bahula dulu pernah jadi simbion pergerakan citra nimbrung dunia maya. Jadi kenapa harus hengkang? Tak pikir lagi, sama saja dengan mereduksi diri sendiri. Kikis pencitraan.
Bleh! nulis apa... ngomong apa? Begini akibatnya kalo terlalu jarang nulis. Kaku... bingung mulai dari mana. Trus kebanyakan bubuh frase-frase berbelit. Bikin jidat berlipat.....alis nungging 75 derajat... bentuk ekspresi wajah asing. Mengalir kemana opini ini? ... bersusun kata apa... merangkai kalimat gimana nanti. Tapi berkat paparan tuts keyboard... jemari tetap ajak menari. 

1/2 tahun berlalu. Membelah 2 kutub periodik tahun. 2013 ke 2014. Memang tetap ada agenda terjalani. Peran penghantar barang orderan lantaran geluti usaha supplier. Sisi lain, tiap jeda minggu anjangsana Sambelia. Penelitian oyster.... si kerang Bakau. Begitu banyak pencerahan dan dapati ilmu baru tentang spesies bercangkang alot dan resiko luka jari. Mendammpingi si professor spesialis kerang asal Nihon-jin... orang jepang loh! bukan jin made in Japan :(
 Pertemuan singkat 3 hari kami habiskan dengan sesi padat karya. Materi kelas... paparan rekaman kegiatan dan tentu-nya field trip. Gak ada waktu leha-leha. Apalagi kesempatan jenguk Marlena, si janda muda di dusun sebelah. Geblek....!
Bermukim di cottage baru Siola - Labupandan milik rekan lawas yang juga menjadi rekan mitra lokal. 
Giliran gak enak-nya. Apalagi klo bukan nge-tik laporan. Hwehehehe......, Semacam ketiban PR saat duduk di sekolah. Tapi seperti biasa, hal-hal yang menyenangkan selalu berdampingan dengan sesuatu yang menjemukan. Itu lumrah. Sudah jadi hukum timbal-balik. Taoism, terapan teori yin-yang.
Geluti lahan basah, sepertinya memang tetap jadi bagian hidup, siklus yang menyenangkan. Sembari belajar... mengenal biota yang sebelumnya, bahkan, gak saya hiraukan dalam tiap kesempatan kunjung hutan bakau. Selama ini hanya fokus di ikan. aves dan aneka jenis mangrove.
Jadi gak bisa di bayangkan. Setiap perjalanan selalu membawa hawa semangat lain. Menepis jenuh-jenuh lawas. Tergantikan dengan tema terbaharukan.
 

Jumat, 30 Agustus 2013

paused on writing

Tips lain hapus jenuh....,
Nulis... ngisi wacana postingan blog bisa jadi hal yang sesekali menjemukan. Kerap-kerap ngadat... padahal masih punya beberapa stok kisah. Mestinya bisa di tuang... tapi kog tetap macet yah! mirip kinerja knalpot. Hembus gak lancar... terbatuk-batuk. Ada failure di perangkat internal mesin, mainstream, lebih tepat di istilahkan mind-stream. Antara benak... impuls intuisi... dan perkakas jari gak sinambung kait. Susah diajak kompromi.

Out of Box... kudu berpikir diluar hal rutin. Gak ada lain, pilihan jatuh pada aktivitas sketching. corat-coret dan pembiasaan lagi pendalaman karakter gambar. Tadi-nya, secara dampak juga bawa kans mendulang hasil finansial. Tapi gak total frontal. Alias sekedar penuhi order dari beberapa rekan sejawat yang membutuhkan. Ilustrasi buku.. head-shot figur seseorang.  Artinya secara aksi, ini merupakan langkah pemberdayaan peluang potensi. Maksud sisi humaniora adalah asah kecerdasan finansial. Melek sisi ekonomi....,

Baru lagi saya mulai. 1/1 wajah rekan pesbuk saya jadikan referensi. Memanaskan hasrat berkarya... biar kambuh, dan tumbuh lebih greget. Tentu-nya di poin itu saya lebih mengandalkan mood. Sambil plirak-plirik memandang karakter khas pembeda individu. Swear! berbasis mood jadi saya lebih mengandalkan feel ego. Pilih sendiri rekan mana yang bakal cocok jadi korban sketching. Melatih pembiasaan. Pelajari garis wajah... mana yang bisa di olah secara cepat. Ada juga yang perlu di-olah dikit detil. Hal ini terkait kurikulum yang random... acakadut. 
Begitu jadi, langsung tayang. Tancap di wall rekan FBers bersangkutan. Apa-pun bentuk apresiasi toh itu lumrah. Menyenangkan estetika perkawanan... sekalian gerilya promosi ala dinding ke dinding.



Susahnya nih! ada yang tergerak di buatin. Sekaligus minta pesan. Tapi giliran disebut pampang nominal langsung.. bubar jalan. Bungkam 1000 bahasa. Hehehe....., sental-sentil harga tapi diem. Entah dianggap mahal barangkali. Sekalipun ada juga yang lebih blak-blakan, acap dibumbui guyon afkir. Kalo bisa gratis mayan khan! ditambahi syukur Alkhamdulillah... serasa fasih, dengan cengkok basa Arab yang disempurnakan. Demikian merdu tembus telinga. Tapi-nya miris di hati saya terdalam. Duh gusti... ngurut ati lagi hamba-Mu ini..., Adakah engkau bakal kirimkan tukang urut spesial khusus hati hamba..., hehehe..., pembelajaran menejemen Kalbu.

Tadi-nya tensi semangat saya lagi nanjak. Eh, mendadak di ajak surut. Nah, coba lagi bayangkan. Ada mahluk lain muncul. Ajakan add friend tapi dengan misi tertentu. Minta digambarin. Pake nodong... jangan yang model sket mas, Klo bisa yang persis kayak foto-ku ini ni.. soale paling aku suka. Ntar tinggal aku copy deh! hantam kromo... tanpa tata tertib permakluman dan bumbu rayu. Wkwkwkwkw......, Dalem ati. Ini tipe manusia pingin beres. Gak paham proses garap. Apalagi mau peduli payudara-asma ( alias : tetek-bengek) tingkat tehnik dan kesulitan garap. Saya bikin sketch... dia minta porsi realis plus gratis. Yayaya....,  


Sejati-nya itulah curcol
Nikmati sajian gambarnya... bukan curhat alai-nya :)


rekan demen gowes...

another style.. same character

Iswara Dewa, sobat di FB

tax... driving licence & cowboy senior, 3ple corruptor

Luthfi Hasan Ishaq