Selasa, 14 April 2015

jeda BLOGGING...... Lagi dan lagi.

Wah, terlalu lama yah!
Lagi-lagi blog ini terbengkalai dalam kurun yang begitu lama. Semakin gak runut jika saya ingin lebih teratur tuang unek-unek di blog sendiri. Kadang geli sendiri, sekalipun wadah ini adalah media bebas yang memang bisa diperlakukan semena-mena. Niat nulis terserah.... gak tergerak sama sekali juga bukan masalah apa-apa. Wong semua tergantung dari sisi nurani kita sendiri dalam mengatur intensitas kemauan menulis. Berupa manuskrip lingkup kehidupan sekitar, yang akan indah untuk disebar. Nyalakan hidup... berinteraksi dengan kata dan huruf. Gak ada target kurikulum.... Semua adalah nafas kemandirian ditunjang apapun bekal kita. Berusaha lebih fokus dalam jurnalistik pribadi. Yah, kadang saya justru terpacu dari hal kecil. Semisal pesan sinematik pilem animasi si Barbie, beberapa konten judul ada dimiliki putri sulung saya. Prakata si Barbie kerap mengawali pesan pembuka... " dear diary.." 

Perjalanan waktu hingga tembus kini di selasar April 2015. Cukup banyak momen terlewati. Ada beberapa yang memang sengaja tidak ingin saya balas dan ulas. Bisa jadi 2014 adalah saat dimana saya, dan kami secara  keluarga dihadapkan pada kurun waktu yang kudu mawas dalam sikap dan kedewasaan menghadapi memaknai ujian dan musibah. Tapi sekedar sebagai acuan semoga ini menjadi pelajaran yang berharga bagi kami. Lebih antusias menghadapi segmen episode kehidupan, kelak!

Jalan-jalan di seputaran kota... ikon utama zona kota Malang. Setelah
melakukan kunjung ke Pasar Kembang Splendid, pasar burung.. berburu
ikan dan mampir di warung idola menu Pangsit, jadi rujukan wajib bagi istri.
Bermuara di Januari 2014....,
Ada seputar cerita singkat dalam kesempatan mudik Malang. Untuk pertama kali-nya 'komplit'-nya kami saya bisa boyong tim keluarga. Demi momen perdana 'setor' profil lengkap nyata pada ortu di sana. Terutama ibunda yang saat itu sedang dalam kondisi sakit. Hehehe... ngenes bukan? Semoga menjadi obat kangen yang tertunda sekian lama. Sedih banget mengenang 'etape' ini.

Bagi anak-anak ini jelas momen berharga. Terutama jatah tumben bagi ke-3 adik si sulung Gingga. Kabar ibunda yang sakit dan terhantar di ruang rawat-inap RS juga melengkapi bahan pertimbangan kenapa kami harus gegas anjangsana. Yah, ada riwayat sakit ibunda yang selama ini diderita ternyata berat dan akut. Memang janggal... dalam kurun sekian lama ternyata penyakit yang sebenarnya telah disamarkan. Dan dirahasiakan untuk diungkap detil pada anak-nya yang berada di rantau. Yah, alasan klasik sih! Mana ada ortu yang mau bebani pikiran berat buat anak-nya. Apalagi sudah menjalani sebentuk porsi tanggung-jawab berbentuk koridor rumah-tangga. Sedih yang mendalam.
Secara misi kunjung kali ini bisa terealisasi berkat dukungan ipar. Perjalanan usaha jasa pengadaan barang (Supplyer) sedang dalam awal rintis, dimana saya termasuk crew pendukung. Ada beberapa kisah tersendiri yang semoga bisa saya bagi dalam topik tersendiri
Support ini berupa kelegaan waktu dan dana cukup untuk melakukan survey lapangan perihal sentra budidaya jamur kancing, atau basa keren menyebutnya champignon. Konon pusatnya ada di kota Batu yang memang sudah jadi ikon produk pertanian. Mengingat alur permintaan dari mitra usahawan sejenis kerap kesulitan mendapatkan stok dengan sirkulasi tetap. Sementara respon pasar sangat antusias. Tapi faktor distribusi menjadi kendala utama. Jadi poin cerita-nya, ini adalah upaya membedah mata rantai terkait bidang usaha yang kami tekuni. Bahkan jauh sebelum realisasi kunjung, sudah detil saya mendelik... pantengi sumber informasi di kanal maya. Cuma ada 2 lokasi ideal. Klo gak Batu... opsi lain adalah kelompok petani pengembang yang ada di serambi gunung Bromo. Menariknya, dikawasan kelompok petani di kawasan Bromo merupakan kelompok petani binaan yang di support suntikan dana langsung oleh bank daerah. Kinerja dan geliat usaha yang begitu signifikan bergerak. Ini menjadi angan tersendiri untuk datang. Paling tidak jika ada luang waktu bisa saya sempatkan sejenak untuk mampir kesana. Toh, gak jauh rentang tempuhnya dari Malang. Yah, begitu itu ancang-ancang...,
Tapi bisa ditebak. Efektifitas waktu kudu saya perhitungkan lagi. Mendapati kondisi ibunda yang saat kami datang di rumah Kotalama, sedang berada di RS, memaksa saya lebih intens untuk fokus. Istri-anak konsentrasi jeda rehat paska lelah perjalanan bis malam Malang-Mataram. Saya langsung melesat menuju RS Aisyiah, menjemput ibu yang saat itu sudah jatah pulang paska rawat-inap pemulihan kondisi. Gak usah dibayangkan, betapa cair rasa rindu dan hawa ikatan silaturahmi yang terputus kurun jarak, tempat & waktu sekian lama. Adakah yang bisa mengalahkan itu? ikatan ibu-anak adalah tahta mahligai yang indah sepanjang ritme perjalanan kehidupan. Tepatlah bait lagu... Kasih Ibu...Bagai sang surya menyinari dunia.
3 hari kutat awal, saya belum bisa keluyuran sesuai emban misi. Apa yang bisa kita berikan disaat ironi seperti itu? selain usaya beri cuil perhatian terbaik demi orang tua . Berbagi kisah dan tumpah kerinduan dengan hadirnya cucu yang sangat diharap hadir bertatap muka. Sekalipun rentang kami jauh... komunikasi tetap terjalin. Baik telpon... terlebih, menulis surat menjadi media perantara wajib bertutur tukar kisah. Apa lagi sebentuk nilai yang bisa kami beri? Tidak ada... selain kedekatan dan perhatian. Bahkan saking demi itu, tools bekam sampai harus saya pesan kirim ke Malang. Setidaknya, hasil pembelajaran materi Thibbun Nabawi bisa diterapkan langsung pada 'range' orang terdekat. Ini hasil ajakan teman 'alur' lain di Mataram, melalui wadah rumah sehat Ar-Rayyan ber-afiliasi di kubah besar organisasi ABI (Asosiasi Bekam Indonesia). Praktikum kesehatan mandiri dengan pelaksanaan berbasis fardhu Kifayah. 

Payung - Batu, ekplorasi sentra budidaya jamur.... ayok, Kids! kini giliran
kita santroni arah Cangar dan sekitarnya.
Misi utama....,
Agenda survey lokasi sentra budidaya jamur baru saya lakukan di hari ke-4. Cukuplah bekal motor. Seperti biasa, rawan macet. Lintas kendaraan terlalu padat... dan sarat polusi. Beuh! selalu terkenang kilas balik masa SMA dulu. Betapa sangat kontras beda pesat perkembangan jalur tempuh. 
Saya ajak Gingga dan Ahnaf. Toh, peluang ini juga sebagai ajang selip mengisi libur nyambi belajar tentanga banyak hal. Menanjak alur liku aspal selasar tebing Payung, hingga gerbang arah Pujon. Dari info beberapa warga disekitar sana ternyata terbilang jarang ada petani yang konsen pelihara jamur. Dominan di wilayah utara, arah menuju Cangar. Sebenarnya ada niat kami alihkan jenguk sejenak arah simpang tuju Coban Rondo. Tapi, bisa-bisa waktu keburu ludes jika kami turuti niat blusukan. Hehehe......, Efektifkan waktu!  


Minggu, 03 Agustus 2014

Jumat, 21 Maret 2014

selang 7 bulan lewat.........,

Ah, rasa-nya baru kemarin....! 
Demikian basi ucapan ini saban terlontar menyikapi lompatan waktu. Pasti-nya bakal kepentok sendiri. Betapa berharga waktu itu jika dilalui tanpa aktivitas yang bermanfaat. Terlebih kebuang percuma... sia-sia tanpa ada hakikat makna tersendiri. Bukan saya gak sempat. Ternyata dengan mematri judul di posting terakhir... "paused on writing". Secara naluri bikin saya jadi beneran ogah"an. Semacam keciprat dogma-pramatis. Lakukan saja yang lain! Prioritaskan hal-hil penting.
Padahal setiap sempat lirik barang jenak di blog ini, kog jadi semacam trenyuh sendiri. Ada missing link dari sesuatu yang pernah kita canangkan sendiri. Pernah digeluti penuh hati. Pondasi angan dari pembentukan karakter perihal apapun. Yang awal bahula dulu pernah jadi simbion pergerakan citra nimbrung dunia maya. Jadi kenapa harus hengkang? Tak pikir lagi, sama saja dengan mereduksi diri sendiri. Kikis pencitraan.
Bleh! nulis apa... ngomong apa? Begini akibatnya kalo terlalu jarang nulis. Kaku... bingung mulai dari mana. Trus kebanyakan bubuh frase-frase berbelit. Bikin jidat berlipat.....alis nungging 75 derajat... bentuk ekspresi wajah asing. Mengalir kemana opini ini? ... bersusun kata apa... merangkai kalimat gimana nanti. Tapi berkat paparan tuts keyboard... jemari tetap ajak menari. 

1/2 tahun berlalu. Membelah 2 kutub periodik tahun. 2013 ke 2014. Memang tetap ada agenda terjalani. Peran penghantar barang orderan lantaran geluti usaha supplier. Sisi lain, tiap jeda minggu anjangsana Sambelia. Penelitian oyster.... si kerang Bakau. Begitu banyak pencerahan dan dapati ilmu baru tentang spesies bercangkang alot dan resiko luka jari. Mendammpingi si professor spesialis kerang asal Nihon-jin... orang jepang loh! bukan jin made in Japan :(
 Pertemuan singkat 3 hari kami habiskan dengan sesi padat karya. Materi kelas... paparan rekaman kegiatan dan tentu-nya field trip. Gak ada waktu leha-leha. Apalagi kesempatan jenguk Marlena, si janda muda di dusun sebelah. Geblek....!
Bermukim di cottage baru Siola - Labupandan milik rekan lawas yang juga menjadi rekan mitra lokal. 
Giliran gak enak-nya. Apalagi klo bukan nge-tik laporan. Hwehehehe......, Semacam ketiban PR saat duduk di sekolah. Tapi seperti biasa, hal-hal yang menyenangkan selalu berdampingan dengan sesuatu yang menjemukan. Itu lumrah. Sudah jadi hukum timbal-balik. Taoism, terapan teori yin-yang.
Geluti lahan basah, sepertinya memang tetap jadi bagian hidup, siklus yang menyenangkan. Sembari belajar... mengenal biota yang sebelumnya, bahkan, gak saya hiraukan dalam tiap kesempatan kunjung hutan bakau. Selama ini hanya fokus di ikan. aves dan aneka jenis mangrove.
Jadi gak bisa di bayangkan. Setiap perjalanan selalu membawa hawa semangat lain. Menepis jenuh-jenuh lawas. Tergantikan dengan tema terbaharukan.
 

Jumat, 30 Agustus 2013

paused on writing

Tips lain hapus jenuh....,
Nulis... ngisi wacana postingan blog bisa jadi hal yang sesekali menjemukan. Kerap-kerap ngadat... padahal masih punya beberapa stok kisah. Mestinya bisa di tuang... tapi kog tetap macet yah! mirip kinerja knalpot. Hembus gak lancar... terbatuk-batuk. Ada failure di perangkat internal mesin, mainstream, lebih tepat di istilahkan mind-stream. Antara benak... impuls intuisi... dan perkakas jari gak sinambung kait. Susah diajak kompromi.

Out of Box... kudu berpikir diluar hal rutin. Gak ada lain, pilihan jatuh pada aktivitas sketching. corat-coret dan pembiasaan lagi pendalaman karakter gambar. Tadi-nya, secara dampak juga bawa kans mendulang hasil finansial. Tapi gak total frontal. Alias sekedar penuhi order dari beberapa rekan sejawat yang membutuhkan. Ilustrasi buku.. head-shot figur seseorang.  Artinya secara aksi, ini merupakan langkah pemberdayaan peluang potensi. Maksud sisi humaniora adalah asah kecerdasan finansial. Melek sisi ekonomi....,

Baru lagi saya mulai. 1/1 wajah rekan pesbuk saya jadikan referensi. Memanaskan hasrat berkarya... biar kambuh, dan tumbuh lebih greget. Tentu-nya di poin itu saya lebih mengandalkan mood. Sambil plirak-plirik memandang karakter khas pembeda individu. Swear! berbasis mood jadi saya lebih mengandalkan feel ego. Pilih sendiri rekan mana yang bakal cocok jadi korban sketching. Melatih pembiasaan. Pelajari garis wajah... mana yang bisa di olah secara cepat. Ada juga yang perlu di-olah dikit detil. Hal ini terkait kurikulum yang random... acakadut. 
Begitu jadi, langsung tayang. Tancap di wall rekan FBers bersangkutan. Apa-pun bentuk apresiasi toh itu lumrah. Menyenangkan estetika perkawanan... sekalian gerilya promosi ala dinding ke dinding.



Susahnya nih! ada yang tergerak di buatin. Sekaligus minta pesan. Tapi giliran disebut pampang nominal langsung.. bubar jalan. Bungkam 1000 bahasa. Hehehe....., sental-sentil harga tapi diem. Entah dianggap mahal barangkali. Sekalipun ada juga yang lebih blak-blakan, acap dibumbui guyon afkir. Kalo bisa gratis mayan khan! ditambahi syukur Alkhamdulillah... serasa fasih, dengan cengkok basa Arab yang disempurnakan. Demikian merdu tembus telinga. Tapi-nya miris di hati saya terdalam. Duh gusti... ngurut ati lagi hamba-Mu ini..., Adakah engkau bakal kirimkan tukang urut spesial khusus hati hamba..., hehehe..., pembelajaran menejemen Kalbu.

Tadi-nya tensi semangat saya lagi nanjak. Eh, mendadak di ajak surut. Nah, coba lagi bayangkan. Ada mahluk lain muncul. Ajakan add friend tapi dengan misi tertentu. Minta digambarin. Pake nodong... jangan yang model sket mas, Klo bisa yang persis kayak foto-ku ini ni.. soale paling aku suka. Ntar tinggal aku copy deh! hantam kromo... tanpa tata tertib permakluman dan bumbu rayu. Wkwkwkwkw......, Dalem ati. Ini tipe manusia pingin beres. Gak paham proses garap. Apalagi mau peduli payudara-asma ( alias : tetek-bengek) tingkat tehnik dan kesulitan garap. Saya bikin sketch... dia minta porsi realis plus gratis. Yayaya....,  


Sejati-nya itulah curcol
Nikmati sajian gambarnya... bukan curhat alai-nya :)


rekan demen gowes...

another style.. same character

Iswara Dewa, sobat di FB

tax... driving licence & cowboy senior, 3ple corruptor

Luthfi Hasan Ishaq

Minggu, 25 Agustus 2013

riset oyster....

Prakata Biota :
at a glance... lokal teritip
populasi dan habitat identik. sejawat kerang mutiara.
    
kuliner khas...
saji mentah, kandungan afrodisiak... pangsa dan resto dominan,

kutat Ekosistem bakau....
wisata marina. pengenalan biota lain.
kans wisata tambahan

Rabu, 21 Agustus 2013

ada Kerang dibalik batu

pembesaran abalone di hatchery - Sekotong
Bla-bla-bla....,ini tentang gauli hewan laut. Terhitung ada setahun ini terjalani. Sebenarnya masih rangkaian dari agenda kunjung awal survey perihal kerang. Tahun lalu 2012 di bulan Juli. Memenuhi hajat rekan mengunjungi balai LoKa Budidaya hasil Perikanan Laut di wilayah Sekotong - Lombok Barat. Biota laut yang dimaksud ternyata Abalone, a.k.a kerang mata tujuh. Disamping juga ada 1 kerang jenis lain, kerang bakau. Ntar, akan saya bahas di artikel terpisah.

Sekilas tentang abalone. Seperti biasa, uraian gak terlalu scientifik :) Masuk dalam kelompok Moluska. Bercangkang cuma sebelah, 1 sisi. Bukan 2 bilah cangkang seperti hal-nya kerang kelompok bivalva. Kontruksi cangkang seperti itu membuat Abalone bersifat dinamis... as slow-mover. Mirip tabiat siput umum-nya. Bisa bergerak... berpindah tempat dibatasan wilayah teritori identik mukim-nya. Jadi, tidak seperti bivalva yang kebanyakan tipe statis. Bivalva kebanyakan tipe diam. Nyusup pasir atau mendompleng di media tumbuh yang dia tempeli. Sejak siklus, pola hidup-nya dimulai periodik masa larva yang terbawa arus. Berkelana terserah arah arus. Hingga menemui substrate, media hinggap . Atau ber-akhir nasib jadi santapan para ikan. Siklus hidup ala zoo-planktonic. Kutip sadur dan inovasi aransemen deskripsi berasal dari kamus Wikipedia.


abalone muda ukuran secuil upil... :) wadah Hatchery
Juvenile (larva muda) abalone juga terpola siklus daur hidup yang sama. Terjadi proses aseksual. Enyak-babe mereka gak coitus sistim kontak langsung. Senggama pisah...manual dewek-dewek! Melepaskan sel telur dan sperma di luar tubuh. Tercampur di kolom air. Terjadi proses pembuahan. Selanjutnya melanjutkan tahapan hidup berikutnya. Di habitat alam, juvenil nempel media apapun sebagai sarang hinggap. Pakan favorit adalah algae. Selain itu secara spesifik abalone punya kemampuan mimikri, alias penyamaran. Hidayah sepadan lah!... karena tipe penggerak pelan. Mirip bekicot gitu. Survive cara hindar gak mungkin nyingkir jauh... tapi mengandalkan rupa cangkang yang terpoles lumut laut atau padani rupa ganggang. Bersimbion mutualism dengan khas teritori. Secara visual saat kita diving, abalone susah dideteksi cepat. Kecuali terlihat dia lagi bergerak. Slow motion, hanya secara kebetulan terpantau. Saat kita tekun observasi biota benthic. Tipe mahluk dasaran.

Juluk lain, orang bule namai ear-shell. Kerang kuping karena serupa bentuk. Bener juga sih.., tapi justru istilah ini bikin saya geli. Saya anggap inilah kerang tipe pesolek akut. Gimana tidak, si "kuping" ini telah ter-modifikasi nyeleneh. Dilengkapi plong 'tindik' sebanyak 7 biji. Hahaha..., janggal banget klo di translate basa indo kog jadi kerang mata tujuh. Mestinya secara english harus di ubah. Biar keren... "the Seven pierced Ear-Shell".. trus di alih bahasa jadi Kerang tindik Tujuh. Kog bisa jadi mata 7/ seven eyes?
Hehehe... padahal abalone punya perangkat dwi-netra sebagai alat penglihatan lazim. Beda dengan kerang tipe bivalva yang hanya mengandalkan sensor gerak. Direspon secara stimulan pencitraan obyek yang di eja dan diterjemahan mandiri.
Inisial yang simpel lagi. Versi indonesia belahan timur... kerap di lontar ucap para nelayan bajo. aka Kerang Balik Batu. Yah sesuai juga! Sebab secara habitat abalone suka nempel di balik gumpalan karang. Tabiat doyan sembunyi. Entah apa karena mereka sensitif terhadap over bias cahaya terang. Sehingga harus ngumpet. Jika gitu alasannya, abalone termasuk kategori nocturnal. Hewani aktif di malam hari. Hidden-stoney Shell.. , liat! betapa ngawur dan berantakan-nya jika ada translate antar bahasa sak enak puser yang bikin. Batu yang dimaksud awam kita adalah karang... bagi bule adalah hewan. Bersimbiosis menghasilkan zat kapur sebagai bahan baku utama pembentuk struktur tubuh, ber-aneka bentuk di ekosistem terumbu. Mana-mana mau dah... yang penting mudeng!
Tapi boleh juga kog. kelak, inovasi peribahasa khas bilang jika memaknai orang punya maksud tertentu atawa niat selubung. boleh ganti... DULU : ada udang dibalik batu. KINI : ada kerang di balik batu.. :) 

Pangsa konsumen 
Penyuka kuliner favorit sapa lagi kalo gak China, Jepang, Taiwan dan Korea. Ada berbagai macam sajian menu. Tapi konon tetap nikmat disantap mentah, ala sashimi jepun dengan colet pasta wasabi. Bahkan cukup di telan setelah di kecrut-in iris jeruk nipis. Penetral sengat bau amis. Ada informasi menu abalon termasuk kuliner eksotis. Menyamai sup sirip hiu dan seduh sup sarang burung walet. Mahal katanya....
Pantauan yang pernah dulu saya liput ala kadar. Bahwa memang ada permintaan dari pihak pengepul. Nelayan mencari demi tambahan sulam rupiah. Per-kilo sekian... sekian. Tapi rasa-nya gak juga menyamai harga sirip hiu. Apalagi harga sarang walet. Relatif mungkin... harga tinggi juga dijual lanjut pada eksportir. Sama halnya ketika kulit abalon pernah di order khusus sebagai bahan kerajinan. Sempat saya melihat rekan yang punya bisnis abalon, terima tanpa cangkang. Alias daging doang...., tapi kondisi kering. Artinya dalam kondisi gak fresh-pun tetap ada penampung. Apa khasiat-nya belum juga saya pernah tau.

Daging laku. Cangkang-pun juga digemari. Para shell kolektor juga menyukai abalon karena pola warna-warni yang ada di balik sisi dalam cangkang. Beberapa kerajinan mozaic yang memakai bahan kulit abalon juga bermunculan. Terutama di kawasan wisata basis pesisir. beda dengan tone warna kerang mutiara. Abalon corak warna lebih dominan hijau-biru dengan efek pantul ber-spektrum. Hanya harga per-kilo cangkang abalon lebih mahal dibanding kulit kerang mutiara. Sekalipun ke-dua biota sudah mampu untuk dibudidaya dengan pola intensif. Dulu kulit mutiara seperti gak digubris. Karena tujuan utama budidaya kerang mutiara adalah menghasilkan perhiasan butir mutiara. Menyisipkan nukleus padat bulat, sehingga sejalan waktu akan menghasilkan mutiara super. Bulat sempurna dan berat 3 gram keatas menjadi stok pangsa ekspor. Daging dan kulit jadi residu gak bernilai. Daging di ganyang karyawan silahkan... Kulit di tumpuk berantakan.

Tengok juga industri horologi, perarlojian dunia. Dikuasai 2 negara besar Swiss dan Jepang. Ada karya arloji pada dial  memanfaatkan kulit cangkang kerang. Istilah yang umum disebut "mother of pearl". Hanya belum ketahuan persis-nya yang dipakai jenis kerang mana. Apakah kerang mutiara tipe bivalva? atau ada jenis lain. Perihal oyster, bahkan nama besar produsen Rolex mengeluarkan seri spesies khusus, Rolex Oyster. Andil apresiasi biota terkait, barangkali.



Balai benih Loka-Budidaya Sekotong, termasuk instansi  sukses mengembangkan riset dan regenerasi abalon. Artinya bagi masyarakat, ada alternatif meniru dan jiplak tehnologi yang sama. Tidak lagi memungut hasil dengan cara menggantungkan pada alam saja. Saling kejar target rekrut berlebihan dengan tanpa di imbangi upaya pelestarian terhadap biota yang berkembang sangat lamban.
Membuka peluang usaha baru. Demi meningkatkan taraf hidup komunal pesisir. Mau sebagai pemilik usaha, joint venture. Atau-pun memberi lahan opsi pekerjaan bagi warga dengan beda konsentrasi usaha. Atau memang mau fokus geluti usaha.
Relevansi dari kunjungan awal ini berlanjut dengan kunjungan khusus pemilik restoran Jepang yang ada di Bali. MoU digadang-gadang sedang disepakati 2 belah pihak. Jadi, bagi instansi tidak saja mampu meriset dan sukses me-reproduksi abalon. Namun membuka peluang kerjasama bisnis efektif. Yang menjadi poin menarik dari si investor Jepang. Balai LoKa Budidaya Sekotong telah mampu melahirkan paritas abalon jenis baru. Hasil persilangan antar 2 spesies. Bravo....  semoga tidak terhenti sampai disitu saja.   



Dokumentasi foto dari beda size abalon yang ada di balai Benih Sekotong.

size 6mm

size 25mm

size 40mm populasi padat

size 50mm

size 70mm... mature abalon

abalon ter-unik...narsis genit, seolah bilang... aku mirip apa hayo???


 

Senin, 19 Agustus 2013

apa kata nurani...

 Bait satu :

and if I still left in yours....
call me out from the rest of memories
art of missing... as a part of blessing

** rasa kehilangan sebagai bagian rindu yang diberkati.
if U don't mind.... never mind.


 

Bait dua :

ada-mu partikel hawa... menguap janji fana
derai hujan yang menggantung kelam mendung.
melankoli simbolis.. kadar paruh hati.

dan 2 ada(m)-mu
wujud buncah kutub kalut
berbilik acak.. huruf-angka.
labirin statistik!!!
perani Angin...titip hantaran Ingin.

pada mana berpaling....
tentang rapuh-nya hati abadi....,




Bait tiga : 

Iya-yah!
aku memang pernah singgah barang jenak
nangkring simpang muara... menemani alih senja-mu
berkicau parau ala KingFisher
Ketuk dinding hati bak Caladi
Bahkan sempat acuhkan jelma harap
'tidak beranjak pola Merak'

Hadir ajak kamu bermain
ukir jejak keriangan, lintas jatah kwartal musim
lalu terbang... demi misi migrasi

Tanpa kesan pisah
santun tandang nagari... puan-puan jiran
Kelak taut titik temu
di tapal batas , serambi Furqan. 




Bait empat :

mesti-nya, kamu tiba dengan gembira....
bukan tergopoh, bopong sekeranjang penuh kekesalan akut.
over-load... gejala Obesitas stadium lanjut.
kenyang wejangan... kuping bengkak, radang advis.
masuk telinga kiri... keluar bisul, pantat kanan.
Masih saja kamu bertahan.

Bahkan acap,
ajak aku pilah fenomena.
bahwa ini semacam paket Cinta..

kamu unjuk ..., siap-saji.
show-off... heharum kasturi
dibumbui parfum asmara...
dimantrai senda gurau rasa..
menyentuh paras tubuh, 

tapi...,
tidak melibatkan peran hati



dan jika aku tak geming
knapa harus ambil hati
Linglungkan diri... 

larut pada kalut kreasi sendiri
di kurun dasawarsa akhir..