Tampilkan postingan dengan label pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pariwisata. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Agustus 2013

mengulas Pink Beach - Lombok

dimana pasir di pijak... disitu kaki berpihak
Pantai Pink?... ah! dimana yah pantai pink di Lombok? Gumam itu acap merongrong saya dipertengahan tahun 2012 lalu.
Saking penasaran saya coba konfirmasi seorang rekan profesi guide wisata. Dimana sih keberadaan pantai yang saat itu menjadi trending topic kunjungan eksotis di Lombok. Mulut ke mulut.. dan sentuh rana maya, bilik internet. 
Konon kata, tempat ini baru ditemukan. Begitu gaung edar beritanya. Berlokasi di wilayah Lombok Timur. Mendadak saya jadi keki. Masak sih, sudah sejak tahun awal 90-an, pernah enyam jadi kuli rana wisata, kog sampe gak tau eksistensi wilayah sendiri. Hmm... gumam gantung... sisakan residu penasaran tingkat advance! Serasa daya avonturir di kebiri. Kelayapan-mu belum tuntas...,

Pokoknya satu jalur arah Tanjung Ringgit. Gitu papar singkat si kawan. Oh, I see. disambung kalimat kontradiktif, but I never seen it before,too. Belum sempat anjangsana, katanya. Yah santroni Tanjung Ringgit sih sudah lama. Tapi di-komplek mana? Memang gak semua spot daratan kami masuki. Lantaran saya pernah alami kerja bidang laut dan pesisir, mestinya ada peluang tau. Ah! biar mudah saya rekonfirm rekan senior RDC (Rinjani Diving Club). Paparannya dilalah, tempat itu memang ada. Cuma dulu tidak dinamai pink beach. Dulu taon 90'an kan pernah kita jadikan lokasi perayaan pergantian tahun baru. Poko'e inget kejadian waktu Arnawe ilang keseret arus. Yah! saya gak ikut masa itu. Cuma kebagian porsi dengar. 
Arnawa sosok hinduist keturunan kasta Brahmana. Pada upacara keagamaan menjabat resmi sebagai pedande*. Saya akrab ketika masih jaga konter dive di hotel Intan Laguna, Senggigi. Lintas alkisah, saat pasukan RDC tiba di lokasi camping ground. Arnawe bergegas lucut baju, ganti swim-suit lantas nyebur laut. Dia lagi ketiban senang. Baru di-hadiah kasur apung dari kenalan turis di hotel dia bekerja. Gak ada yang nyana, acara yang mestinya suka ria malah terselip khawatir. Arnawe hilang dari pandangan dimana dia tadi terapung. Raib terseret arus. Tipikal ceruk dan ujung tanjung disana memang berpeluang punya tabiat arus agak kwenceng! Apalagi letak geografis bertaut langsung celah selat Alas. Ada deskripsi singkat, Arnawa berjuang sendiri tengah laut. Nyaris kelenger. Bertahan hanya andalkan kasur apung yang bocor! Mesti survive meniup, berkali-kali kasur apung andalan. Gak kebayang tersiksa rahang...dan ujian bagi elastisitas kembung pipi. Hwehehe.....,
Syukurnya, dia ditemukan seorang nelayan yang kebetulan lewat. Sepulang melaut diantara alur lintas selat Alas*. Lemah tak berdaya Arnawe dipungut balik ke pesisir Lombok. Mengenang kejadian itu belakangan ada juga kreatif usil. Dibikin kaos Club limited edition, sablon tagline simpel... bertuliskan "Don't Happy... Be Worry". Memoar of Arnawa.

Biar mudah identifikasi lokasi, sengaja saya sertakan foto intipan google-earth. dan foto pribadi pendukung lain. Via intipan framing citra satelit kian gamblang. Adapun secara status wilayah Administratif, pantai Pink merupakan bagian dari desa Sekaroh. Termasuk cuil bagian  kecamatan Jerowaru. Juncto, irisan lahan besar dari kabupaten Lombok Timur.

Foto penampakan penampang wilayah desa Sekaroh. Dari sini bisa terlihat bahwa bagian "komplek" pulau lombok inilah yang merupakan wilayah spot Pink Beach berada. Bersanding beberapa spot lain dengan penamaan beda. Telusur jalur lingkar pulau trek paling kiri atas, pantai Sabui (teluk Sabui), lalu terlihat pulau kecil dinamai gili Petelu. geser timur terdapat pantai Pink dengan 2 jorok ujung tebing. Orang lokal disini menamai Temeak (lafal ujar TErasi-MEbel-AKsen). Sepanjang garis pantai warna cerah itu juga disebut pantai Tangsi. Bukan merujuk pada relevansi bahwa disitu ada peninggalan meriam, or eks wilayah pertahanan pantai tentara Heiho di era PD2. Tapi disinyalir sejak adanya alokasi pembagian tanah jatah transmigran para serdadu TNI-AD. Mestinya dijuluki TransAD (Transmigrasi Angkatan Darat), dipelenceng sebutan mudah Transat. Lalu curva ujung pulau dinamai Tanjung Ringgit. Hingga menyusuri ceruk luas  dibawahnya. Sedangkan digaris pantai putih bawah dinamai pantai Beloam/ Bloam Beach. Kawasan pantai yang kini dikelola sebagai private-resort sub-management hotel Jiva-Klui.
Pantai Pink diapit 2 corok tebing karang. Garis pantai tidak lebih dari rentang 1 Km.

Tuh! saya lagi nangkring di ujung jorok tebing sebelah barat pantai Pink. Disini persisnya spot yang dinamakan Temeak. Secara fisik tanah merupakan kontur bebatuan kapur. Alias eks gugus terumbu karang mati yang terangkat ke permukaan sebagai akibat pergerakan induksi lempeng kerak bumi. Baik di kedua ujung 2 tebing yang mengapit pink-Beach, kita masih bisa menemukan bertebaran bebatuan eks karang. Jadi, kawasan ini sebenarnya nuansa Geo-wisata masih kental. Bukan hanya sekedar dinikmati secara panorama darat dan laut saja. *BACK GROUND gunduk pulau kecil dikejauhan adalah Gili Petelu.

Pink Beach Edisi Kini
karang merah lebur partikel berbaur dengan pasir putih punya
efek pink glitter. Fisik-nya menyerupai kue sarang semut. Berongga halus
Awalnya banyak kontraversi perihal eksistensi Pink-Beach di Lombok. Rebranding ini terlihat terlambat sekaligus  mematik fenomena tersendiri. Bahkan saat itu, pertengahan tahun 2012 banyak orang lokal yang masih kernyit dahi. Tanda tanya....., 
Oknum enyam rana wisata juga bahkan dibuat runyam. Karena sebelumnya pamor "Pink Beach" mencuat lebih dahulu di blok timur, kawasan pulau kecil (gili) di NTT*. Terletak di teluk Sape, tersisip diantara celah 2 propinsi, NTB dan NTT. Spot sebelah timur NTT merupakan komplek dengan banyak pulau. Tidak lagi disebut dengan julukan gili seperti penyebutan ala Lombok. Saking banyaknya pulau, jadi tidak terpantau nama khusus.
Perama, land sea adventures..
Dikawasan ini lebih dikenal dua pulau besar, Komodo dan Rinca. Teritorial mukim endemik kadal purba pelosok timur, Komodo. Saya sendiri punya rekam jelajah di tahun 2002. Saat gabung dalam pelatihan Selam untuk komunitas lokal di Labuan Bajo. Kerjasama TNC dan Yayasan JARI. Saking banyaknya pulau, TNC (The Nature Conservancy) mempunyai agenda pengamatan rutin di 185 titik yang tersebar di antara gugus pulau. Pantai Pink - NTT, biasa menjadi areal zona singgah nelayan kecil. Pamor-nya terangkat ketika gencar di promosikan oleh beberapa operator pelaku wisata cruise. Paket wisata pelayaran yang menjual stok estapet antar nusa, dan berakhir di Rinca atawa pulau Komodo. Ada yang starting awal dari Bali, Lombok dan Pelabuhan Sape (Flores), notabene ujung pulau timur pulau Sumbawa. Tergantung opsi wisatawan yang pilih rute trip laut. Pilih durasi tempuh lama atau lebih singkat. Pelaku program sea-safari dari Bali-Lombok-Flores dirintis lebih dini oleh Perama Tour. Dari mereka-lah, ekplorasi wisata tematik kepulauan ini dilakukan. Beri efek berantai bagi pelaku wisata lain yang bermunculan kemudian.

Belakangan pantai Pink - NTT berubah inisial lagi jadi Pantai Merah. Sejauh pengamatan sejak mulai rebak pengajuan status 7 keajaiban dunia untuk versi situs natural di belahan dunia. Status pulau Komodo mulai tanjak rating. Membawa imbas pada gugus pulau disekitarnya. Terlebih sejak mulai dijual paket khusus fotografi. Gejala awal demam DLSR merebak harga friendly, tipe low-entry. Pantai Merah menjadi pulau "eye catching" sebagai sasaran obyek jepret dan wajib kudu di kunjungi. Fotografer domestik bermunculan drastis bak cendawan musim hujan. Bagus sih! sekaligus dampak positif bagi intens promosi stok potensi alam negeri sendiri. Pro-aktif dari para treveler merangkap blogger.
Dekat momentum itu pula Pink-Beach versi Lombok naik pamor. Hal ini sempat menjadi informasi simpang-siur. Seperti saat saya coba googling. Ada blog bule yang pernah coba ulas. Tapi karena berdasar sekedar bahan wacana copy-paste, malah jadi salah kaprah. Pantai Pink NTT dikatakan ada di Lombok. Lho kog??? Ternyata dia belum pahami zonasi peta, mana West Nusa Tenggara dan East Nusa Tenggara. Dan dia analogikan berdasarkan rute tempuh paket wisata antar pulau dari website Perama. Poin starting dari pelabuhan Kayangan Lombok - berakhir di Labuan Bajo-Flores. Mampir pulau diantaranya pantai Pink (notabene pantai Merah. Di-kira masih satu propinsi. Weleh! masbro bule... negeri kami itu nusantara alias archipelago. Beda kawasan ya beda tertib administratif.
Bak info semrawut.. benang kusut. Alih-alih saya coba urai benang Merah-nya. Latar belakang kisah akurat apa sehingga pantai Pink NTT menjadi pantai Merah. Gak ada titik terang. Hanya benak saya mulai susun kontruksi berpikir sederhana. Alibi sekaligus asumsi dangkal. Medio 2012 pantai Pink Lombok (NTB) adalah rebak trending topik. Gak heran sih! sebab tahun 2012 merupakan canangan progam tahun spesial. Ditetapkan pemprop NTB sebagai ajang "Lombok-Sumbawa Promo 2012". Saya pribadi tengarai ini semua akibat rekayasa getol dan "geliat dadakan".Telat memberdayakan stok wilayah sendiri. Seolah selubung pesan singkat. Eh, pemirsa... kami juga punya loh pantai Pink. Ayo mari kemari... silak mampir.
Dan entah apakah ada akad tertentu antara kubu tourism-board antara 2 propinsi. Ujug-ujug, abakadabra. Plat resmi inisial spot wisata sudah terbagi. Pantai Merah di NTT... pantai Pink di Lombok-NTB. Mudahan mencerahkan....,

Sky..Sea & Sand...my nephew between the lines!!!
Fisik pasir pink Beach...,
Jika pelotot detil. Rupa pasir di pink Beach Lombok memang unik. Butiran pecahan karang putih lebih halus dan didominasi partikel (halus pula) pecahan karang merah, seperti inset atas. Efek glittering akibat terpaan surya menjadikannya pukau warna merah muda.
Agak beda dengan rupa pasir di belahan sepanjang pesisih selatan Lombok. Dominasi butir pasir merica. Padahal kalau di telisik pecahan halus karang merah-pun biasa ditemui di manapun. Notabene pesisir Lombok selatan. Hanya prosentase campuran agak minim. Terbukti ada pula artikel lain dari penulis blog asal Lombok yang menemukan fenomena warna sama di sekitar Pantai Induk, Lombok Barat. Bahkan saat saya kongkow di selasar pantai Pemalikan bagian sekotong. Pantai disana sekilas tatapan mata biasa memang putih. Tapi gambar hasil kinerja rekam lensa menjadi beda. Bisa jadi efek bias UV. Warna pink ada disekitar garis batas pecah ombak. Dilevel atas warna pasir tergradasi lebih kelabu. 


Status Kawasan & Tata guna lahan
papan penunjuk arah ala kadar-nya
Kurun awal tuju tengah tahun. Terbilang sudah 3 kali saya kunjung Pink Beach Lombok. Pertama kali saat bertepatan maulid Nabi, 24 Januari 2012. Link dokumentasi. Bergegas pergi, usai hajat ikutkan putra saya di acara khitan masal, di Kampung Melayu - Ampenan.
As soon as possible, mengingat gelagat cuaca mudah berubah saat siang. Dominasi mendung. Cukup durasi tempuh 2 jam dari Mataram. Gak bisa ngebut. Soalnya jelang masuk pecah simpang desa Pemongkong dan Sekaroh, rupa aspal mulai bopeng parah! Medan off-road. Tapi tetap tidak mengurangi minat kunjung para remaja asal sekitaran kota kabupaten & kecamatan, Lombok Timur. Rombongan ABG meliuk ikuti trek rupa aspal lama..makadam..lumpur dan debu. Semata demi pink-beach. Tunggang Avanza , jarak yang kurang 20 kilometer ternyata cukup sita waktu. Ada juga seliweran mobil lain. Sambil laju pelan saya mulai merekam visual ala rapid observasi. Gamblang baca plank yang tertancap di lintas alur aspal.  Wilayah ini tampaknya pernah menjadi pengembangan zona pertanian intensif lahan kritis. Notabene areal rawan pangan karena krisis air. Alur bantuan lembaga GTZ. Lebih nyusup ke dalam, zona hijau mulai ditumbuhi vegetasi ber-pola tanam rapi. Terlihat pernah jadi lokasi penghijauan. Terbukti status kawasan menjadi zona konservasi. Ada tancap plank besar BKSA. Tidak ada jenis tanaman produksi buah. Mungkin menyesuaikan jenis lahan. Dipilih jenis vegetasi yang mampu beradaptasi lahan kering. Minimal mampu bertahan dalam pergantian alih musim penghujan. Jadi terlihat dominasi Sengon. Ada tegakan Nimbe, debut lokal menyebut alias lain pohon pak Karno. Gunduk lahan perbukitan kiri aspal banyak juga ditanami pohon Jambu mete. Ada juga sebilah komplek tanah tertancap rapi tegakan Akasia. Ketinggian tajuk sama identik dengan pola tanam serempak. Selebihnya ya didominasi ekosistem semak belukar. Majemuk.. hiterogen, termasuk bantenan. Vegetasi alamiah paling juga ada asem dan bidara laut.
Tiba lagi pecah simpang. Tertancap petunjuk arah lurus Tanjung Ringgit dan Pink Beach 3km. Aksi reboisasi disini ditandai marak pohon jati super. Arah kiri merujuk ceruk teluk yang dinamai Tanjung Segui. Lafal lain menyebut Sabui. Agak nelangsa rupa lansekap di gunduk bukit yang langsung menghadap singgung laut. Begitu banyak warga buka lahan. Jagung menjadi bibit primadona tepat masuki musim hujan. Petak dengan variasi luas lahan. Tapi sisi riskan, ada sedikit lingkar pantai putih (mungkin jg pink) yang beranjak legam. Akibat proses tertimpa laju sedimentasi pembukaan lahan diatasnya.

tanjung Sabui, banyak spot pulau karang. lokasi ranch kerang mutiara
Hingga ujung aspal tanjung Segui kami jumpai Bangunan besar perusahaan mutiara. Yah, saya langsung ingat. Di tempat ini dulu, tahun 1998 kami pernah dapat pinjaman fasilitas speed-boat untuk dukung aktivitas survey pesisir. Hihihi...., kenangan lama terbuka begitu tiba dan tatap langsung. Ada 2 komplek bangunan perusahaan mutiara disitu. Salah 1 atau mungkin kedua-nya adalah milik investor Jepang. Berdiri dan berkembang sejak awal tahun 90-an. Sekaligus kami terkekeh. Banyaknya inisial nama lokasi yang beredar. Saya beralibi setengah yakin. Inisial tanjung Segui berasal dari bahasa jepang,Sughoi. bermakna hebat. Namun penggunaan umum adalah terlontar saat mengagumi sesuatu. Bahkan surprise atas hal yang layak di apresiasi. Bisa tempat maupun kondisi.
Lha iya toh! gimana gak indah. View disini terpapar eksotis. Pasir cerah, air jernih. Tanjungan dengan beranda alami berupa tonjolan cadas karang tajam dan purba. Berceruk teluk kecil dengan perairan tenang. Menjanjikan lokasi ranch line apung ideal bagi padepokan gantung, kerang-kerang mutiara. Sangat strategis. Lagi! di garda depan teronggok pulau mungil, gili Petelu. Telu memaknai 3 gili kecil. 1 gili agak dekat pesisir pulau induk. 2 lagi terdemplot berdampingan, agak jauh di tengah teluk. Dwi-gili ini sangat khas dan beda rupa. yang ukuran besar ditumbuhi vegetasi khas. Yang size kecil hanya berupa pulau karang dan rimbun semak. Saat surut rendah keduanya menyatu. Tapi saat high-tide terpisah. Bagus pula untuk point snorkling. Kilas balik, disitu pernah kami lakukan rapid visual sensus pakai SCUBA. Cacah pertumbuhan karang dan biota ikan. Perairan tenang dan visibilitas aduhai. Hanya sangat riskan di ujung sisi gili terluar. Arus mendadak berubah. Laju arus luar biasa kencang. Wajar, tabiat khas dari perubahan bentuk topografi. Perpaduan tipikal pola arus tanjung-teluk dan selat. Rekan kami toh sudah pernah jadi korban. Pesan sponsor : cukuplah berkiblat pengalaman orang lain. Kecuali anda tergerak jadi Next current's victim.

Catatan penting. Jangan pernah berharap dapet poin snorkling dengan suguhan terumbu yang cantik disini. Semua kategori rusak berat. Hanya menyisakan spot-spot rubble*. Kalaupun ada hanya berupa noktah kecil. Paling edisi terumbu karang yang baru tumbuh. Proses adaptif dan rehabilitasi alamiah. Soalnya sejarah mencatat. Dasawarsa tahun 80-90 tabiat nelayan disini sangat identik ilegal fishing. Bombing. Bahan peledak cukup mudah didapat. Karena Tanjung Ringgit menyimpan banyak wreck*, battle ship eks jepang yang sempat berkuasa masa PD2. Peninggalan meriam masih ada. Dan menjadi situs sejarah. Wreck tadi kebanyakan telah dijarah diambil jadi besi kilon. Karena masa perang muatan-nya banyak amunisi peluru dan senjata. Serbuk mesiu asal amunisi itulah yang digunakan sebagai bahan peledak cari ikan oleh nelayan. Sayang, karena merupakan rentet situs,bukti dan saksi  sejarah yang terpendam di bawah perairan. Padahal relevansi histori itu yang bakal memiliki nilai berharga.
Bangkai wreck itu kebanyakan nyungsep di kedalaman 50-60 meter. Ini nurut pengakuan beberapa penyelam alam (hookah) lokal. Secara pribadi saya ogah urusan diving di kategori red-zone. Resiko tingkat tinggi. Cuma terus terang masih digayuti penasaran akut. Pada kemana jajaran kapal fregat Nihon?. Yang konon di kamuflase, sengaja diledak lalu karamkan? Memang sih ini sekedar obrolan sambil lalu. Cas-cis-cus... biang nguping di antara kisah para pemburu harta karun. Menyambung regulasi konon dan syahdan. Cobalah menyusun kerangka asumsi dan investigasi sederhana. Kalaupun ada negara dengan kapasitas maju. Eks pelaku kolonialisme...katakan lalu tergerak demi tuntutan konsesi politik etis. Menyalurkan dana bantuan berupa CSR dan alur tanam investasi jangka panjang. Secara kebetulan dipilih lokasi strategis dekat pantai or pelabuhan pakta pertahanan eks masa penjajahan era bahula. Perihal harta ghanimah yang gak sempat diangkut pulang. Akibat negara berantakan di ganjar bom Atom tentara sekutu. Rehabilitasi paska perang... idealnya ya tetap punya pundi-pundi tersembunyi. Kedalaman samudera memang paling tepat untuk jadi Bottom-Bank. Layer dasar yang gak cukup sekedar intipan snorkeling.  Gak terpantau... toh paling hanya permukaan laut saja yang bisa di nikmati. Oleh kalangan awam. Hihihi.... jika kelak bisa dipanen. Sejalan riset dan tehnologi mumpuni yang menyertai. Berapa nominal total jenderal? Ah, sudahlah.. anggap kedar kecamuk kosmologi pikiran ngelantur.


Back on trek article...,
Kunjung perdana ke Pink-Beach ini bukan sekedar penyembuh rasa ingin tau. Tapi memang ada misi survey lokasi. Dampingi ajakan rekan akibat ada keinginan orang asing (jepun lagi). Mukim di Bali yang tergerak pingin punya lahan di pink-beach, alias pantai Tangsi... wal Sekaroh binti Temeak. Terbukti bahwa tempat ini sudah bikin banyak orang kepincut. Entah sekedar penasaran.. tujuan pelesir hingga investasi. Seperti halnya, pantai Bloam yang sudah dikelola lebih private oleh Jiva-Klui. Setelah melihat fisik terlahir, betapa pendeknya garis pantai. Tidak lebih dari 1 Km. Lalu mau berapa oknum yang bakal tergerak patok lahan di areal terbatas itu. Kontras dengan Pantai Merah-NTT yang merupakan bagian dari sebongkah pulau. Secuil lahan yang demi peruntukan spot wisata. Akankah tergadai. Demi pariwisata kerakyatan atau industri besar pariwisata. Ditimbang-timbang... berat mana??
rupa turunan jalan masuk menuju pantai Pink
Dari lintas aspal compang-camping di punggung bukit. Ntar ketemu portal bambu, rangkap fungsi gapura "selamat datang" masuk pantai Pink. Welcome banner ala kadar, dengan tiket masuk Rp 10,000 untuk mobil. Alur akses menurun terjal dengan sudut ekstrim 35 derajat. Masih berupa gerus gak rata hasil garuk eksavator. Bisa jadi dulu-nya ini cuma  alur setapak yang kini diperlebar sejalan perkembangan promosi terlampir.
Jika hujan. Sebaiknya parkir dipelataran atas saja. Selanjutnya, anda harus pilih jalan kaki kebawah sana. Lumayan olahraga sekitar tempuh a half kilometer. Mending gitu daripada resiko jalan licin... belum lagi berpapasan antara mobil yang naik atau turun. Cukup was-was meredam pijakan gas dan rem. Leleh keringat.. pegal betis-paha.
Sementara petugas jaga portal belum mahir atur lalu-lalang lintas kendaraan. Dan mereka gak terbekali alat komunikasi ideal. Kebangetan juga stake-holder pengembang wisata disini. Berapa sih harga sepasang HT or walkie-talkie? Jadi harap maklum saja. Pengecualian kalo bawa mobil standar 4X4. Libas saja semua kondisi miris tadi.
Seperti jeda seminggu kemudian. 1 februari 2013 saya anjangsana kembali. Kali ini sekedar penuhi hajat rekan lain. Iba terhadap bocahnya. Nimbrung obrolan kelas gak ngeh lantaran teman lainnya bercerita soal keindahan pantai Pink. Ajakan mendadak itu saya penuhi, dengan syarat wajib pake Ford Ranger milik-nya. Bukan persoalan cari nyaman or ajang narsis-najis. Hanya menyesuaikan kondisi medan dengan daya tangguh off-road vehicle. Paling tidak saya bisa memberi balansi testimoni akurat. Bukan sekedar wacana copas.

Rupa pantai pink dijepret dari ujung jorok tanjungan sebelah timur. Belum ada bangunan resort apapun
kecuali tampak 2 bangunan bungalow milik warga asing. Lahan itu konon sudah dibeli. Sedang di ngarai bawah kiri, terdapat 3KK pemukim.  Latar muka tampak bebatuan yang terserak dan menancap di punggung tanjungan bukit. Kebanyakan berupa fosil karang yang mengeras.

Sampel batu yang saya pungut. Sekalipun sudah mengeras, tapi terlihat jelas pola alur dan motif dari asal jenis coral tertentu. Mengeras sebagai proses fosil. Note : di daerah Lombok tengah, sekitar kawasan teluk Awang dan Kuta. Saya pernah menemukan perusahan lokal rumahan yang memproduksi tegel/ubin dengan bahan batuan fosil karang ini. Di iris sesuai standar size. Lain lagi dengan asal batu yang sama, hanya serat batu lebih empuk. Kekerasan pembentuk unsur batu lebih rendah. Diukir berbagai bentuk dan menjadi komoditi bahan kerajinan pokok. Lebih dikenal dengan kerajinan Batu Paras


Fishing ground ideal....,
Tohri, profesi utama Instruktur Selam PADI. Masih komplit dibungkus bike-suit.
Menggeluti hobi sepeda tapi giliran ajak mancing ekspresi konsentrasi gak ada.
Terlihat gaya pegang joran...lebih mirip pegang tongkat manula. Efek psikologi
benar membuktikan. Sudah tekun diving...bukan berarti antusias memancing.


Kunjung ke-3, saya lakukan tanggal 2 Maret 2013. Ini-pun lantaran keputusan mendadak dari rekan pemrakarsa ajakan ke-2. Sabtu pagi kami melakukan aksi Biking singkat sekedar putar lingkar pinggiran kota Mataram. Acara ini bikin kesal. Rekan female karena tumben mancal langsung keok. Rekan senior lain maksa ikutan tapi bikin aktivitas in-hurry. Maklum jabatan KepSek, ada porsi tanggung jawab hadir tempat tugas. While, kawan lain patah hati. Postur tubuh besar-nya masih nuntut olah-fisik jatah lebih. Sampai kudu dibayar extra muter lahan jalur kompleks perumahan dan beberapa lintas blok. Hahaha... memang susah koordinasi oknum penggiat hobi jika berangkat dari beda niat, alokasi waktu dan kesiapan stamina. Saya sih oke-oke saja. Sebab sudah terpola rutin dengan aktivitas biking di kurun waktu terakhir. Hanya ketiban kecewa... masak cuma segini saja segmen porsi aksi outdoor? Gak asyik!....,
Berkutat di rumah temen female yang jadi posko. Suami-nya terlihat anteng jatah off-day. Bersit cetus niat. Kenapa kita gak alih mancing? Seliweran para pemancing di lokasi Pink-Beach serasa langsung sambung sinyal. Bahkan info blok Tanjung Ringgit memang terkenal jadi spot mancing tebing. Mendadak hati kami membuncah. Tanpa perlu komando pulang dan salin baju. Spontanitas memang kerap boyong warna batin tersendiri. Mumpung surya belum tanjak naik. Bergegas kwartet batangan... kami meluncur.

Kami lolos dikit arah Keruak. Sempatkan lunch di warung Arema. Sebab di wilayah Sekaroh belum ada warung yang memadai. Plus sekedar himpun baren* ala kadar untuk bekal ngemil . Lalu segera gegas kembali susur lintas aspal Jerowaru. Pemongkong...dan tiba pertigaan kiri Tanjung ringgit .. lurus Kaliantan. Ada perubahan rupa fisik jalan akses desa Sekaroh. Ternyata selang sebulan kunjung terakhir proyek benah infrastruktur sedang berlangsung. Timbunan material kerakal, batu dan onggok drum aspal. Serta golek silinder. Terpantau saat itu baru proses timbun dan pengerasan jalur. Masih pengerjaan segmen awal di 3-4 km ujung pecah simpang. Syukurlah! berarti ada keseriusan dari pihak PemKab Lotim. Memoles bopeng alur jalan 'neraka'... demi akses tuju Pantai Pink-Bloam-Sabui-Tanjung Ringgit. Menyeimbangkan tindak lanjut agenda pengaspalan alur Ekas dan pantai Surga yang sudah lebih dulu digarap. Betapa memang harus ada balansi. Memperlancar tujuan capai spot Surga dengan merombak jalur Neraka. Salut atas tindak responsifnya. Dan bisa jadi Agustus ini sudah kelar.
   
Akhirnya kami fokus menyalurkan hajat mancing. Komposisi lansekap  dan rupa pantai Pink tetap menyerupai khas umumnya pantai zona Kidul. Berbongkah cadas tajam dan selasar tebing dangkal dan tinggi. Menjorok tengah laut. Memudahkan posisi tongkrong. Kami tiba sana di selingi timbun anglers lain.
Yang jelas di sini bukan spot tepat memancing tipe pasiran. Tipikal bottom dasaran dipenuhi gunduk karang mati... dan lorong rock. Hampir semua menyukai pancing ala dasaran. Menyiasati opsi ganti pemberat timah bisa dipake batu dengan bungkus plastik. Terutama jika butuh lemparan lebih jangkau tengah. Tehnik lain yang dipakai juga mancing ala casting dan popping. Casting umum terlihat pake udang-udangan sekedar buru Cumi. Pilihan popping untuk sasar ikan target predator pelagis. Biarpun kondisi karang luluh lantak. Tapi beberapa tangkapan ikan cukup lumayan variatif ukuran maupun jenis. Ada kemungkinan laut ini kaya sirkulasi laju plankton. Subsidi dari pola tukar tabiat arus. Bahkan menurut kisah para angler, posisi di tebing belokan Tanjung Ringgit lokasi meriam, lebih menjanjikan tangkapan ikan besar. Tentunya bila tepat tiba musim. Dokumentasi link.
Paling tidak dari sekian point of interest, sudah bisa di dapat kajian nilai jual. Prospek inspiratif dan tentu di imbangi tindakan konservasi dan rehabilitasi lahan. Bukan demi keruk untung... eksploitasi habis. Dan AMDAL cuma sekedar formalitas carik kertas.
Sampe jumpa di kunjung berikutnya..... Pantai Pink. Semoga tidak ada yang sia-sia....,

Lampiran foto sekedar membedakan pasir Merica & pasir Pink Beach, khas Lombok. Pada dasarnya sama saja. kedua-nya berasal dari proses lebur alamiah bahan dari serpihan terumbu karang. Tentu beda dengan pasir hitam. atau pasir kuarsa. Yang berasal dari limpahan gunung api dan di transfer melalui lintas sungai. Dan menumpuk di mulut muara.


pasir Merica.. butiran lebih besar.


pasir Pink Beach... partikel lebih halus



NOTE :     
Pedande : tokoh agama hindu yang menjadi pemimpin jema'at perayaan ritual sembahyang di Pura.  
Selat Alas : selat yang memisahkan antara pulau Lombok dan Sumbawa.
Selat Sape : Selat pemisah antara pulau Sumbawa(NTB) dan Flores/NTT.
NTT : Nusa Tenggara Timur
Rubble : Pecahan karang. Salah satu ikon indikator pengamatan sensus terumbu karang. disingkat Rb
Wreck : bangkai kapal karam, mayoritas eks kolonial jepang di masa perang dunia ke-2
Baren : istilah lokal sasak untuk penyebutan umpan pancing.


 

Selasa, 12 Februari 2013

Rebo Bontong 2013

suasana Rebo Buntung di muara kali Jangkuk - Ampenan
9 Januari 2013...,
Mengulas catatan lalu. Selang 2 hari dari nota terakhir di liputan kebakaran dan paska tsunami "kecil" di pesisir Pondok Prasi - Ampenan. Ternyata masih ada kelanjutan agenda lain. Pampang baliho besar di jembatan Jangkuk cukup tegas merapal informasi. Akan digelar ritual adat " Rebo Buntung dan Tetulaq Tamperan.
Hanya saja lokasi perhelatan akbar ini agak jauh dari Mataram. Tepatnya di Pantai Tanjung Menangis, Ketapang. Kecamatan Pringgabaya masuki wilayah Kabupaten Lombok Timur. Ada banyak hal yang melatar belakangi kenapa momen ini menjadi sangat istimewa. Pertama, dikatakan warisan leluhur sebagai ritual adat yang layak dipertahankan eksistensinya. Dinas pariwisata setampat bahkan mendukung penuh, mengingat kans sangat potensial sebagai event wisata. Sehingga telah dinyatakan sebagai agenda wajib dilaksanakan tiap tahun. Sekaligus sarana hiburan bagi rakyat.

Apakah acara ini hanya dilakukan di wilayah Lombok Timur saja? Gak juga! satu referensi kanal maya menyebutkan ritual rebo Bontong hanya dilaksanakan di 3 tempat saja. Yaitu sungai Jangkuk, tepatnya dibagian alur sungai yang membelah kota, tepat di perkampungan Dasan Agung. Pantai Tanjung Menangis - Lotim, dan pantai Kurandji, masuk wilayah Lombok Barat. Pesisir persis arah zona Ampenan selatan.  (tampak pada inset diatas).
Tapi dari hasil mesin pencari, saya mendapati bahwa ritual ini-pun dilakukan oleh para warga gili MatRa (Meno-Terawaangan- Aer : red). Dan jika mengulas kali Jangkuk. Bahkan di spot muara, warga Kampung Melayu masih melakukan ritual ini. Sekalipun hanya cuma mandi.. sekedar ber-basah ria. Bersenang-senang... senda gurau, sambil balut niat setengah hati dengan bekal keyakinan ala kadar, mandi safar. Demi menyambut momen babak berikutnya, Maulid Nabi Muhammad SAW. 

dewasa.. tua-muda ngumpul jadi satu
Jika di Lombok dikenal Rebo Buntung, masyarakat Jawa, Sunda, kalimantan Selatan dan Bangka Belitung menyebut istilah Rebo Wekasan. Baik rebo Bontong dan Rebo Wekasan meyakini hal yang sama. Yaitu membersihkan dan mensucikan diri sebelum memasuki perayaan maulid Nabi. Kedua tradisi yang cuma beda istilah ini merupakan sebuah nilai muatan lokal yang terwujud dalam bentuk semangat akulturasi antar agama dengan kearifan budaya setempat. Yang kembali lagi, demi tujuan perkayaan promo wisata akan sangat berpeluang dikembangkan dan mengundang pundi PAD. Itu alasan paling mudah ditengarai. Digaris bawahi... layak bertanda centang-perenang. Hehehe....., 

Dilema 2 kubu...,
Agak riskan, bahkan cenderung miris. Ketika sebagian pihak mengaitkan seolah momen ritual adat rebo buntung dikatakan syarat nilai agama. Tuntunan mana? agama mana?. Terlebih bakal menyesatkan jika ungkapan macam ini dilontarkan oleh pemuka agama. Tokoh agama dengan plat resmi islam. Saya akan maklum klo sekedar diucapkan oleh petinggi instansi pemerintah. Toh sekedar jadi rekayasa demi obsesi mendongkrak pamor wisata. Dan yang makin parah beberapa artikel yang mengulas wacana yang sama, pun pula, ada yang dengan santai menulis, ber-kalimat penutup...Adat bersendi syara'... syara' bersendi Kitabullah.
Unik memang. Seperti sudah menjadi tabiat kolot, soal kait-mengait antar kejadian. Mungkin sudah anugerah watak mendasar klo kita paling bisa bikin rangkaian momen satu dengan lain. Sambung... jalin-pilin momentum. Pokoknya harus berantai !! dan bila perlu di perkuat dengan titah tokoh agama lokal. Pasal mau di tunjang hadist atawa landasan ayat Qurani, yang sebisa mungkin mepet makna pendukung. Bukan esensi ... namun cukup nyerempet secara bunyi bahasa. Oke-oke saja.....,

Urai kasus mudah. Semenjak awal tahun 2013 perilaku cuaca berubah intensitas ekstrim. Secara kajian BMKG ditengarai sebagai akibat badai Narelle. Beberapa wilayah di Indonesia yang dilalui 'alur badai' rentan mengalami hal serupa. Sama halnya wilayah Nusa Tenggara dikatakan juga terkena dampak sekedar 'ekor' badai Narelle. Lucu-nya dengan ada-nya limpah badai tadi gelaran ritual rebo bontong diselenggarakan. Segera di wujudkan dalam pelaksanaan sembah laut. Berbaur kutub berbagai nalar dan referensi kajian nara sumber. Opini lain bilang, menjelang ritual rebo bontong ditandai dengan transfer energi alam berupa aneka rupa penyakit. Masuk akal sih! toh badai notabene angin adalah media natural yang mampu memindahkan epidemi penyakit antar zona di belahan bumi kita. Perubahan iklim global sudah cukup mampu memberi dampak itu. Semisal mulai beredar-nya benih penyakit baru yang sebelumnya hanya ada / khas wilayah negara tertentu. Hatta, dulu-nya berada di wilayah ter-isolir sekalipun.
Dan ini semacam menjadi sinkronisasi dari ritual rebo bontong. juncto mandi safar pelaksanaan dekati fenomena kejadian badai Narelle. Konotasi wujud syukur sekaligus menolak bala yang dilakukan dengan melakukan larung sesaji. Andai saja tidak ada kejadian badai di awal tahun, lalu dalil apa lagi yang bakal jadi alibi? Pergerakan dinamika waktu yang seandainya di tahun berikut (2014) tidak ada Narelle. Kemudian jatuhnya safar persis masuki februari yang biasa ditandai dengan angin besar jelang Gong xi fat chai. Apakah badai tahun baru cina itu akan ikutan jadi alibi demi dalil kuat penyelenggaraan ritual adat. Entahlah...,
Bedah runut, toh sebenarnya acara larung sesaji di Lombok sebenarnya juga sering dilakukan oleh komunal  masyarakat nelayan di wilayah Tanjung Luar. Saya tau-nya dengan istilah Ngalamak Lauk. Hanya saja masih bersisip unsur kepercayaan Animisme, balur dengan nuansa adat sulawesi yang diwarisi leluhur adat komunal Bajo, khas masyarakat pesisir. 
Lalu lebih ditelaah lagi, tentang mandi safar. Tentang konsep berbenah, tentang program bersih diri yang konon entah diyakini semacam tuntunan demi afdol-nya masuk agenda Maulid Nabi. Menjadi ajang hiburan rakyat. Terlebih menjadi agenda menarik bagi khazanah menarik minat wisatawan untuk kunjung ke daerah. Yah! apalah beda-nya dengan mandi jama'ah bagi masyarakat hindu di India, bergenang-genang ria di sungai suci Gangga.

Mau dikaitkan apalagi? kalo masih kurang, tengok saja diwilayah Kabupaten Lombok Utara (KLU). Bahkan ada 1 wilayah yang ber-inisial Gangga. Hanya saja point of interest yang sering diunggah adalah site air terjun. KLU yang terlahir sebagai kabupaten terbaru (2008) sudah barang tentu akan menjadikan sebagai aset wisata alamiah-nya. Karena dari bentang lansekap, selain laut.. primadona 3 gili Matra. Bagian kaki Rinjani merupakan stokist dari beberapa juntai air terjun. Hanya saya belum tau tahapan ide apa yang akan digarap oleh pemda setempat. Toh bisa saja, seandai-nya dalam perkembangan membangun kota Hijau, saya pernah mendengar istilah Sister City. Dimana ada akad kolaborasi antara 2 kota beda negara menjalin kerjasama demi rupa-padan dan ciri khas adat kultur, secara misi dan visi memiliki program kompak dalam terapan aksi. Dan bahu-membahu membangun citra pariwisata yang mengandalkan utamakan lebih peduli HIJAU. 
Kenapa tidak, jika kemudian Gangga (KLU) menjadi semacam miniatur sungai Gangga India. Terlepas apakah disana... ditubuh cabang anakan sungai (creek) berpeluang dikembangkan beberapa titik ajang ritual mandi suci. Tentu bukan latah mengarahkan pada konotasi mandi safar. Tapi mandi sebenar-benar mandi. dalam arti harfiah dan etimologi muasalnya. Hehehe.....,

Bahasan jelang titik nadir...,
Perihal versi bersuci. Ternyata tidak juga cukup bagi kita 5X dalam sehari. Terlebih jika masih ditambahi ibadah sunnah lain-nya. bersuci demi bersuci... ulang-bersulang hakikat limpah hidayah air. Menampik kondisi krisis minim bahan liquid.
Lalu bagaimana bila ritual tolak bala tidak tercapai. Entah jika secara islami bisa berwujud istisqo' (mohon curah air) maupun pelaksanaan sholat Taubah sekalipun. Enggan dilakukan oleh umat pemeluk. Sebab niat yang tumpul. Setengah hati... gak rela kaffah, akhirnya senantiasa berpikir alternatif. Jahil-jahil.. liah-liah*.. modernis!
Bahkan, bukankan secara gamblang begitu sering disisip dalam bait qunut subuh. Sambil membalik telapak tangan, sang imam pemimpin... di-amini jama'ah komplit. "Allahummad fa' anna minal bala, faqsa..dst". 
Akhirnya, seolah tiba pada konklusi. Jatuhnya bala' kalaupun memang bakal datang secara kehendak sang Kuasa, bakal selalu menjadi kutub dilematis. Disatu sisi umat muslim (disini) rajin tengadah demi menghadang datang-nya Bala'. Namun sebagian yang lain justru mengharap bala' untuk disegerakan tiba. Terwujud... dan kemudian lalu dijadikan ajang "pesta" semarak. Mensyukuri bala'. Tidak ada lagi kontinuitas pahami super indera Sang Pencipta. Tidak akan pernah ada Tuhan yang Maha mengetahui segala isi hati. Lupakan juga, sebaris statemen Kitabullah.. bahwa Allah maha pengabul... dan menuruti segala apa yang di mau oleh mahluk-Nya.


Catatan Redaksi
* Liah : dalam bahasa lokal sasak bermakna liar. grasak-grusuk

Selasa, 17 April 2012

Kunjung workshop Batik Sasambo

kunjung 12 April 2012, dilokasi Vendor Resmi-Griya Parampuan.
Harap maklum yah! artikel ini hampir setahun lebih mangkrak. Cuma tampil 1 gambar (inset samping) terpasang. Indikasi pemanis alibi. Bahwa saya pernah kunjung langsung. Heran-nya, kog gak segera tergerak nulis apapun. Labil juga sih! Saat itu saya lagi cari celah titik cerah apa yang bisa saya kait dan runutkan dari wacana terkait. Semacam energi benang merah-nya. Batik Sasambo... kenapa bisa hadir. Latar belakang apa. Esensi ulasan apa. Siapa kreatornya. Bla...bla..bla..., Terasa kusut jika urai pake metode konvensional 5W+1H. Toh, Saya bukanlah reporter harian resmi. Sebatas doyan nulis. Review ala kadar, berangkat dari pondasi geluti Citizen Journalist. Acap di sebut Pewarta Warga. Masih bingung dengan istilah itu, Yowis! label paling pas ya Wartawan Indie.
Fakta-nya kini terjerembab lonjak almanak. Pelototi monitor notebook sama, masih digayut PR artikel gak kunjung tuntas. Persis jelang akhir Ramadhan (tertanggal 3 Agustus 2013). Oke, ulasan ngawur dimulai......,

Istilah SaSaMbo adalah singkatan dari gabungan ketiga etnis yang ada di NTB. Sasak-Samawa-Mbojo. Secara pesan filosofis mudah ditengarai sebagai abrreviation / akronim yang sekaligus bingkai simbolisasi dari upaya bijak dan terarah penyatuan  ke-3 unsur kultur dan suku yang mendiami tanah Nusa Tenggara Barat. Terdiri dari 2 pulau besar. Lombok dan Sumbawa. Tujuannya tentu bermuara harfiah pada terciptanya keselarasan, balansi dalam peri kehidupan. Kerangka pikir patri pada konsep semangat sub-Bhinneka Tunggal Ika.

Agak ketinggalan berita. Maklum sedikit udik. Tentang Batik Sasambo, justru saya dapat info ketika jalani peran pandu rekan Jakarta. Para surveyor lingkungan pesisir dari Kementrian Perikanan dan Kelautan (KKP). Sepulang kunjung wilayah Sekotong. Masuki alur Mataram kami langsung hinggap di Griya-Parampuan. Dengan celutuk saya jujur ngaku... selama ini saya cuma pernah tau Senam Sasambo. Juga ada lagu badendang-nya yang kebetulan pernah liat di stasiun lokal, LombokTV. Dibawakan 3 pria paruh baya, lengkap balut kostum adat per-masing suku. Mirip aksi Trio-libels. Cuma in-shoot kadang ada ayun gerak gak kompak. Kaku.. rada sipu-malu, belum bener" menjiwai bimbingan penjiwaan teaterikal.   
Paket budaya kreasi baru, saya hanya berpikir begitu. Tapi klo batik Sasambo. Swear! baru kali ini ngeh-nya!
Sejurus kemudian kami tiba di lokasi rumah produksi. Rumah merangkap gerai showroom dan pabrik olahan. Menyengat tajam bahan pewarna. Aura kontras dengan beberapa deret rumah lain. Aktivitas terlihat sibuk. Banyak individu terliat tekun pada fokus bidang kerja. Saya gak tinggal diam, tergerak aktif meliput suasana. Beberapa gelondong kain mori bahan katun standar batik tergeletak di sudut ruang.
ruang cuci - setelah proses pewarnaan
Tampaknya paket kiriman yang baru tiba. Bahkan didepan garasi merangkap ruang produksi terlihat perempuan muda sedang menatah warna outline via media canting.  Ikuti format pola pensil. Dibilik ruang lain, tampak seorang ibu sedang menggambar beberapa pola. Desainer handal. Disimak seksama oleh beberapa gelintir remaja. Kilas dialog ternyata mereka adalah siswa dari pemilik usaha ini, bapak Lalu Darmawan. Profesi utama adalah guru SMAN5 membidangi mata pelajaran kesenian. Khusus keterampilan mBatik. Inspirasi keragaman budaya yang kemudian menggerakkan beliau untuk menciptakan batik Sasambo.  Sebagai perintis utama yang kemudian mampu mengembangkan usaha batik mandiri khas daerah. Cukup membanggakan, sebab menjadi ikon resmi busana instansi. Wajib sandang hari kamis. Sehingga terlihat betapa pemerintah daerah cukup respect dan mendukung sektor usaha terkait.  Sisi lain, adalah terbukanya kans estapet muncul cikal usahawan baru. Memberi kesempatan magang bagi para siswa binaan. Sinergi dan mutualisme yang semoga jadi rangkaian bermanfaat. Kemudian hari nanti 
Di kanal lain cukup membingungkan. Tertulis bahwa pertama kali usaha ini di rintis oleh para santri Pondok Pesantren(PP) - Tarbiyahtul Ikhlas atas prakarsa seorang ustad. baca link. Lain info dari wawancara yang saya dapatkan. Menurut ibu Darmawan justru perkembangan awal batik Sasambo, sang suami yang merangkul otorita di PP itu. Upaya pemberdayaan para santri. Tidak saja mengukuhkan pondasi dasar kecerdasan spiritual. Tapi membekali kecerdasan finansial. Melek jiwa wiraswasta dan punya tabungan pengalaman sektor ekonomi. Mungkin gitu kajian konsep dan terapan-nya. T..O..P... banget!
Jadi semoga tidak ada pihak yang berusaha ngaku-ngaku perintis lain. Lantaran manfaatkan momentum keciprat tenar. Hare gene.. mental badak kog dipelihara!   


pengerjaan batik padat motif (Foto asal Googling)
Budidaya bidang Textile
Susah gampang memaknai Batik. Tapi ada cukup bahan kajian jika merunut Wikipedia. Intinya cukup di maknai sebagai karya tekstil yang berkembang sejalan peradapan manusia. Dikerjakan dengan tehnis tertentu. Juntrungnya, Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009
Secara mainstraim, sejak dulu kata 'batik' yang lekat di otak saya cuma ada kata Jawa. Juga sentuh teritorial Madura. Mengutip beberapa lampir ungkap pendapat yang menarik disimak. 
Tradisi falsafah Jawa yang mengutamakan pengolahan jati diri melalui praktek-praktek meditasi dan mistik dalam mencapai kemuliaan adalah satu sumber utama penciptaan corak-corak batik tersebut selain pengabdian sepenuhnya kepada kekuasaan raja sebagai pengejawantahan Yang Maha Kuasa di dunia. Sikap ini menjadi akar nilai-nilai simbolik yang terdapat di balik corak-corak batik menurut Djajasoebrata (dalam Anas, Biranul, 1995: 64). Pola, motif dan warna dalam batik, dulu mempunyai arti simbolik. Ini disebabkan batik dulu merupakan pakaian upacara ( kain panjang, sarung, selendang, dodot, kemben, ikat kepala ), oleh karena itu harus dapat mencerminkan suasana upacara dan dapat menambah daya magis. Karena itu diciptakanlah berbagai pola dan motif batik yang mempunyai simbolisme yang bisa mendukung atau menambah suasana religius dan magis dari upacara itu. “ Jadi batik tidak hanya untuk memperindah tubuh dan menyenangkan pandangan mata saja, tapi merupakan bagian dari upacara itu sendiri bersama dengan alat-alat upacara yang lain” ( Iwan Tirta, 1985: 3). “Motif-motif batik tidak sekedar gambar atau ilustrasi saja namun motif-motif batik tersebut dapat dikatakan ingin menyampaikan pesan, karena motif-motif tersebut tidak terlepas dari pandangan hidup pembuatnya, dan lagi pemberian nama terhadap motif-motif tersebut berkaitan dengan suatu harapan” (Kuswadji, K, 1985:10-11). 

Kesimpulan yang dapat diambil. Batik budaya jawa punya kajian filosofi (makna filosofi batik), corak dan pakem khas. Berkaitan erat sandang adat. Meski kemudian mengalami pergeseran nilai akibat generalisasi humanisme. Setara gender dan hapus jejak teori kelas pada strata masyarakat pengguna. Anggap saja lumrah manusiawi. Kesampingkan hikmah pemurnian-nya. Kembali pada kemampuan daya beli seseorang. Minat akan motif dan ketertarikan heritage budaya sendiri. Minim dimaknai sebagai khazanah langkah cagar budaya.
Justru layak sorot adalah perkembangan batik paska pengakuan resmi Unesco, tahun 2009. Sejak itu serta-merta muncul berbagai karya batik dari berbagai wilayah Indonesia. Entah ini dampak rebak ke-latah-an ter-organisir. Atau ada sebab lain? Bagaimana bisa wilayah Indonesia timur yang tadi-nya identik dengan penghasil kain tenun ikat ataupun songket. Mendadak heboh mengenalkan karya Batik unggulan khas daerah masing-masing. Bahkan ada batik Papua ???. Jika-pun ada tipe selembar "kain", mestinya berupa hasta karya simpel. Biasa berupa rajut-anyam dengan bahan alami, rumput or samak kulit pohon. Motif prime-itive dengan corak sederhana. Warna terbatas. Khas nuansa pedalaman atau corak nuansa paganisme. Yah, semisal amsal bahan selongsong koteka. Bagaimana jika ada tayang tivi. Menampilkan segmen pernikahan adat ala papua. Saat penyerahan mas kawin dari pihak laki. Tidak pernah nongol kain khas papua. Apalagi batik papua :( Justru kain idola yang dianggap berharga di acara pinangan kog malah sarung Sulawesi? :) Kontradiktif... gak mendidik otoritas logika!
Gelagat lain. selain skeptis juga ketangkep kesan upaya protektif ganjil. Berkiblat kasus budaya disabot jadi milik negara lain. Reog..pendet..angklung. Bahkan batik toh juga ditumbuh-kembangkan oleh insan jiran malaysia. Trus apa saya kudu reaksi heboh.  Ngapain.. toh motif jiplak tanpa tendensi filosofi apapun. Pengembangan lain yang ada justru motif dan corak kreasi baru. Kalo-pun ada penyertaan ikon Nusantara, cuma pemanis tampil saja. Asal comot,mix-match... kayak kreasi mozaik. Karya sadur bin jiplak selama-nya gak akan pernah bisa geser orisinalitas muasal hakekat masterpiece, Batik Indonesia.
batik Barca... batik Gaul... batik supporter fanatik :)
Cermati saja. Seperti juga tindakan pabrikan batik di tanah air, demi olah industri. Sasar pangsa penggila bola fanatik. Notabene generasi sekarang yang ogah lirik pakem batik orisinil. Lahir karya beda. Batik sisip logo tim soccer luar negeri. Gak lebih konotasi batik gaul. Jadi perlu garis bawahi sodara-saudagar..., ini hanya kecamuk industri
Disinyalir gerakan terselubung pan of java. Wah gak blas tuh! Yang ada justru gejala industrialisasi bergulir. Tehnik membatik. Bukan esensi harfiah batik. Seolah digeneralisasi apapun yang dikerjakan dengan tehnik sama.. peralatan, bahan-material dan proses serupa. Langsung di cap Batik. Tanpa bisa beda-in mana karya batik adi-luhung, mana yang kreasi baru. Pihak keruk untung, klo gak produsen/pabrikan penyokong utama rangkaian bisnis terkait. 
Konsentrasi pada wacana corak dan filosofi batik, seperti tidak lepas dari fenomena pencitraan keris khas Nusantara. Sarat pendalaman makna dan falsafah proses penciptaan. Tingkat kesulitan garap makin melambungkan eksistensi. Gaya bangun, dapur hingga jumlah lipatan maupun motif pamor. Mau pola reka maupun tiban. Hasilnya sangat layak di pamerkan. Idealisme maha karya.


Salah kaprah kian tumpang tindih. Foto diatas ini salah satu rujukan link yang kadang makin mengaburkan citra textil Lombok. Banyak di-copas web/blog jadi dokumen inset penyerta wacana terkait. Dikatakan sebagai batik SaSaMbo. Padahal gamblang itu semua adalah kain tenun ikat (songket) khas motif lombok. Kecuali warna coklat (kanan atas) identik khas Sumba (NTT). Bukan pula itu kain mori bahan batik yang kemudian di-tatto motif khas songket. Jadi seolah ada kesan pemindahan motif serupa pada media tekstil yang berbeda. Motif batik SaSaMbo sangat minimalis. Motif terinspirasi dari ikon tematik keseharian.



ini motif Batik SaSaMbo. tapi masih mewakili citra khas Sasak Only
Kiri-kanan : (1) motif burung endemik Koak-Kaok (2) motif sayur lebui
(3)motif gendang beleq. (4) motif pucuk Kangkung.  
Batik tanpa pakem tradisi
Ada ungkapan, batik SaSaMbo belum bisa diakui oleh komunitas seniman sebagai murni karya batik. Tidak dijelaskan detil kenapa. Tapi sejauh prediksi, bisa jadi alasannya sama, runut penjelasan yang saya papar di bait sub-judul perihal kait sejarah dan filosofi. 
Saat kunjung awal ke lokasi workshop bersama rekan tadi. Saya bahkan pangling. Cenderung bingung. Sangat in-konsisten dengan usungan filosofi simbolik penyatuan ke-3 warna budaya. Asumsi-nya ada temuan energi pembaharu. Menyatu desain corak & motif. Semacam esensi print-out karya 3 in 1. SaSaMbo, pada karya batik-nya, harapan saya adalah konsonan pengejawantahan uni-NTB. Sinyalemen karya fenomenal New-West Nusa Tenggara. NTB yang utuh... meski komplikasi. Karya yang mampu menyatukan tirai dan sekat pembeda, al-furqan fi teritori wal propinsi.
Sebagai kasus pembanding paling relevan bisa dilihat pada batik Jawa Tengahan. Yaitu batik dengan julukan 3 negeri. Batik ini menarik bukan secara pakem motif yang sejenis. Tapi justru bisa beragam. Batik 3 negeri awalnya mengacu pada kasualita status wilayah administratif (hak otonomi) di jaman kolonial Belanda dulu. Batik ini ke-unik-an justru pada opsi beda warna dari asal daerah yang berbeda. Merah identik asal Lasem. Biru berasal dari Pekalongan. Sementara Sogan/Coklat asalnya Solo. Dari satu lembar mori batik lalu mengalami proses pewarnaan dari asal warna 3 daerah yang berbeda. Tentu saja ini 'hanya' akan dialami oleh batik 3 negeri tipe jadul yang dikerjakan secara tehnis manual pada periodik kurun tempo dulu. Yang secara harga bisa dipastikan lebih mahal secara nilai historis-nya. Akan berbeda kasus jika dikaitkan dengan batik tiga negeri edisi kini. Bisa dipastikan perolehan warna sudah begitu mudah karena di dukung geliat industri yang mengiringi perkembangan peradapan.    
Kenyataannya, batik SaSaMbo baru hadir sebagai brand. Sertifikasi cap dagang.  Dikurun gulir 3 tahun perjalanan usaha-nya.  Motif yang terpampang lebih pada perca ikonik, individualistik. Motif Sasak meliputi kangkung, Sebiye(daun pegagan), cacing nyale(cacing laut yang muncul pada even festival budaya Putri Nyale disepanjang pesisir selatan Lombok - biasa bulan Februari), koak-kaok(nama burung), berugak, masjid, pemain gendang belek, dlsb. Sedang motif khas Samawa ada kijang, asem (buah tamarin), barapan kebo(dikaitkan dengan tradisi budaya panen masyarakat petani) . Bahkan manjareal, kue khas sumbawa sampai di jadikan obyek ekploitasi imaginatif. Belum lagi motif khusus Mbojo (meliput Bima dan Dompu). Belum tuntas saya ketemu liat ikon khusus. Mungkin buah kinca(mungkin tipe endemik..sejauh ini belum penah ketemu di tempat lain). Goal/bidara, atau barangkali perlu usung sambel khas, Siradungga. Atau kelak ada motif kalimboade (ucapan paling khas dikomunal sana saat hendak berpamitan).  
Menurut pitutur kemudian, workshop SaSaMbo juga buka peluang cetak Motive by Order. Sejurus perkembangan beda 3 budaya. Gilir ada kans dari terbentuknya kabupaten baru. Sejak ada maklumat pemprop agar pada hari kamis, dikenakan busana khusus dengan bahan batik SaSaMbo. Rupanya membuka keran ide. Kabupaten Lombok Utara baru terbentuk, konon sudah ada tim khusus pemerintah yang pesan batik SaSaMbo. Entah ikon apa lagi. Model perahu jukung? noktah 3 gili.. motif bebukit khas Rinjani. Atau model sate ikan tanjung?. Belum lagi jika KSB tergerak pesan. Nyok, berandai-andai  tentang ikon motif yang bakalan terbit. Khusus tanah berslogan resmi pariri lema' bariri. Lebah or motif sarang tawon. Atau mengadopsi formasi kemutar talu, bahkan tugu Parang. Cocok nih, bisa nyentil filosofi pakem konvensional motif batik Parang-Rusak asal Jawa. Pelenceng dikit inisial unik...Parang-Balong...Parang-Merang!. Atau sekalian bikin motif spesial Sasak. Toh kata Bateq.. nurut lokal sasak bermakna juga parang. Rada mirip lafal Batik=Bateq. Lalu mendadak lahir motif Bateq-solah... bateq-tilah or Bateq-sede*.



ka-ki : (1) motif utk samawa ada motif Kijang. (2) motif sasak ilham
daun Sebiye, biasa jadi sayur khas. (3) motif cocoa.. bisa jadi ini 
rujuk zona KLU dominasi khas vegetasi perbukitan

Motif pisah-pilah, separasi ikonik-simbolis by order. Paling tidak masih mengukuhkan diri bahwa batik sasambo masih dominan alur rana industri. Gebu kebangkitann-nya sekaligus tandai sebagai produk tekstil kreasi baru. Bentuk wujud pencitraan kini. Proses gali jati diri kolektif di tikai kubu-kubu ambigu. 
Gak masalah kog! Toh dalam perkembangan awal nama besar pabrikan batik lain (mukim jawa) juga begitu. Keluar dari pakem-pakem standarisasi njlimet. Lalu dengan berani mengumbar energi ekspresif. Muncul desain baru. Kontradiktif, nyeleneh tapi asik. Hantam krama baku :) Tengok saja batik Keris dan Semar. Sekalipun pada awalnya ada juga motif-motif afkir. Desain motif yang sekilas mirip dengan pola printing di gelaran kain pantai/sarung pantai. Marak diproduksi demi tunjang kepentingan wisata marina dan pesisir. Warna ngejreng.... eye catching. 
ByTheWay, mencermati Kain/sarong pantai. Jika ditilik pada perkembangan batik Jawa akulturasi, rasa-nya agak sedikit memiliki persamaan pada rekam jejak falsafah sederhana-nya. Batik pesisiran yang berkembang atas pengaruh unsur negri jiran, Tiongkok. Dimana bengkel/workshop batik jawa tengah bagian pesisir utara telah pesat berkembang oleh para moyang dan trah peranakan. Pesan dan muansa motif-nya egalitarian. Bisa dikenakan oleh kalangan manapun. Karena secara tujuan lebih menyasar ke rana bisnis. Disamping awal-nya juga secara historis gak bisa dipungkiri demi mendukung sektor tekstil yang telah berkembang pesat di negara asal-nya. Sentra Sutra! berkenanan dengan tematik silk-road. Penyebaran-nya tidak lagi terkendala zona daratan sejak dibuka alur laut berkat ekspedisi Laksamana ChengHo.

Sekalipun dalam laju berikutnya, ada juga motif tertentu yang dikabarkan hanya dibuat secara terbatas. Peruntukan bagi kalangan 'taipan' di masa itu. Bisa dibilang karya seni batik pesisiran ini juga merupakan batik Kontemporer dimasa awal kedatangan-nya. Akan sangat kontraversi dengan batik nilai falsafah jawanisasi yang terpusat dikalangan keraton Jawa Tengah zona selatan. Dikenal dengan kategori batik klasik. Sarat nuansa magis, sakral sekaligus pamali dan kadar kasta pemakai-nya.   

Mengutip komentar rekan, yang ternyata doyan buru dan koleksi kain. Khususnya output daerah dari setiap kesempatan kunjung kemana-pun dia hinggap. Memang batik sasambo belum bisa disejajarkan karya batik jawa yang lebih dulu eksis. Sarat kandungan motivasi pengaruh lintas jaman. Namun bagi saya layak di koleksi kog! Dari sisi eksklusifitas. Paparnya tegas. Esklusif... adalah ciri khas. Lain dari yang lain. Intinya semoga menjadi poin trigger bagi pengembang batik sasambo berikutnya. Usahawan binaan...,

Bincang gamblang, kan masih dapat dukungan pemerintah daerah tuh. Jika ini bakal jadi sentra produksi unggulan. Rangkul para seniman lokal. Selain workshop, sediakan sarana khusus membuat karya limited. Jalin kerjasama, jual harga lelang di showroom ajang pameran. Pengembangan motif bisa di siasati via lomba desain motif batik. Kans menjaring bakat-bakat potensial. Dinamis dan berdaya saing.



Pokok pikiran : Ulasan diatas putus lagi. Dari periodik 3 Agustus 2013 hingga kini, di 13 Mei 2016. Setidak-nya masih saya tinggal beberapa keyword sebagai bahan pengembang wacana di kemudian hari. Catatan paling aneh! mangkrak... ketunda jeda. Lanjut lagi. Tapi sisi positif-nya semakin bertambah rujukan referensi. Yang tentu saja semoga menambah warna khazanah dan geliat pola/buah pikir. Well done...InsyaAllah.


Support Pemerintah Daerah
Bukan bermaksud menafikkan peran pemerintah daerah yang sudah cukup berjibaku demi perkembangan ikon khas daerah sendiri. Sebagai industri tekstil terbaharukan, Batik SaSaMbo bisa jadi akan menjadi fenomena tersendiri. Bak oase segar, ketika perkembangan pariwisata daerah menjadi stagnan. Gak maju-maju, bersemayam ditempurung lama. Kog kenapa cuma yang itu-itu melulu? . Lagi-lagi, tetap saja ditengarai sebagai karya kontemporer pada lintas kurun waktu berjalan. Tapi apakah eksistensi-nya akan tetap bertahan? Menjadi ciri ikonik khas. Senantiasa di-anyomi oleh kebijakan pemerintah daerah sebagai sentra produk potensial tema "original". Entah bakal diperkuat Perda... biar kekuatan payung hukum-nya mengikat dalam sendi kehidupan komunal kemasyarakatan. Nah, ini bisa jadi hal naif. 
Faktanya, bahwa apa yang di-alami batik SaSaMbo juga serupa dengan pengalaman apa yang terjadi disegmen kurun awal 90-an. Disaat gencar-gencar-nya, pemerintah daerah maupun propinsi NTB memicu sekaligus memacu sektor pariwisata dan budaya. Apakah itu Lombok dengan prosentase lebih dibanding Sumbawa. Sebab saat itu belum ada gaung "Lombok-Sumbawa promo" seperti edisi 2012. Saat itu seperti-nya jalan sendiri-sendiri. Swear! ini bukan membuka aib, tapi hanya sebagai bahan hikmah nilai pembelajaran saja. Disamping harap maklum saja. perkembangan internet saat itu kan belum semeriah sekarang. Geliat promosi bisa dilakukan oleh oknum personal. Tidak saja lembaga yang berkompeten (bahkan klo dijadikan komparatif akan lebih up to date kanal web/blog/portal milik perorangan. hehehe...). Belum lagi ditunjang wabah penyakit fotografi. yang kelak melahirkan generasi sadar wisata. Melek ber-vakansi.. karena didukung sekelumit informasi bejibun. Apalagi ditunjang macam program acara tipi "my Trips..my adventures", Jejak Petualang dll. Klop dah! Berwisata menjadi semacam arus trend massive. Tapi sisi lain, repotnya tidak disertai bekal pemahaman lingkungan dan peduli ekosistem. Akhirnya terjebak pada konotasi wisatawan para alay doyan narsis. Wisata itu bukan semata gaya hidup hedonis. Miris kan?! Disaat kaum urban sekarang sudah terbekali perangkat pintar ala smart-phone. Menggali informasi bisa lebih instan dan lekas. Tapi gak juga merubah pola hidup. Ternyata faktor doyan baca bukan menjadi mindset. Alhasil ya kblinger begini...,
Ops..., kejauhan! ini mah curcol. Balik lagi bahas kain...,


Tentang sadar lingkungan dan situasi. Bisa dikatakan jika dibanding kain batik SaSaMbo, kain tenun tradisional macem songket Lombok akan lebih bernuansa identitas endemik. Kain yang dikerjakan secara manual (alat tenun bukan mesin) yang secara istilah jawa disebut kain gedog'an (karena patitur perulangan bunyi pemukul kayu) malah lebih sarat filosofi kedaerahan dan falsafah yang dianut masyarakatnya. Ini baru sekedar kain tenun yang ada di Lombok saja. belum lagi mengulas lebih jauh semisal Rimpu dan Tembe ngGoli, khas pakaian adat masyarakat Dompu dan bima (mbojo).
Kain tenun a.k.a Songket buatan pengrajin asli sebenarnya ada di beberapa pelosok. Hanya yang sekarang tetap eksis ada di kubu selatan, berkutat di di Sukarare - Lombok Tengah. Sementara kubu utara ada dibilangan desa Pringgasela (masuk wilayah Lombok Timur). Kedua lokasi ini sangat mendominasi laju perkembangan kain khas nuansa Sasak. Pengerjaan-nya juga sangat lamban. Mengingat satu lembar kain butuh sekian hari dalam proses bikin. 
Kenapa disebut sebagai kain tradisional dan punya khas identitas endemik? Sebab kain ini pemakaian-nya berkaitan dengan pelaksanaan upacara ke-agama-an. Ritual adat dan penuh filosofi yang sangat dipatuhi dalam hirarki komunal adat. Bahkan memiliki corak khusus. Dinamakan sebagai istilah ragi. Ada berbagai macam jenis reragian. Merujuk pada istilah motif yang dihasilkan dan fungsi. Beda pelaksanaan acara beda jenis kain yang dipakai. Ada ragi Sari menanti. Ragi poleng, adalah motif kotak-kotak yang jelas mengadopsi (pengaruh) motif kain adat hindu Bali. Jika di Bali kain poleng hanya identik permainan warna hitam-putih-kelabu. Ragi poleng sasak di-modifikasi warna lain. Diantara nama ragi yang paling terkenal adalah Ragi Genep. Seumur-umur saya mukim Lombok Ragi genep hanya menjadi nama resmi jalan di daerah seputaran Sintung dan kampung Banjar, Ampenan.


Entah darimana asal sebutan ragi ini diadopsi. Pastinya kata ragi bagi kalangan komunal sasak juga berkonotasi racikan bumbu. Karena ada dikenal nama ragi Beleq. Momentum acara bgawe (resepsi) biasa tampil pada penyajian bentuk kuliner khusus. Ragi beleq adalah pembauran multi bumbu rempah. Gebyah uyah antara taste hangat merica dan pedas cabe. Mirip-mirip racik bumbu gulai kambing. Namun klo di tebak dengan asas praduga gak bersalah. Justru ragi beleq agak  ada rekat korelasi-nya dengan ragit. Ragit penganan khas Palembang. Modifikasi ragit khas kampung melayu Ampenan agak beda. Ragit terbuat dari tepung(campur dikit garam dan air). Berbentuk mirip kulit lumpia..cuma agak tebal. Dulu, saya menamai sebagai plesetan pancake arab. Biasa-nya ada saja momen rowah. Semacam selamet-an lingkup kecil. Si empu-nya gawe akan mengundang para jama'ah sholat subuh. Biasa diadakan momen menyambut ramadhan atau beberapa hari paska penyembelihan kurban. Sambil melantunkan do-doa untuk para keluarga yang meninggal. Sajian utama-nya adalah ragit ini. 'Lumpia' gulung ini akan disantap sambil cocol kuah gulai Kambing. Jangan tanya nikmat suasana seperti apa. Karena ini adalah ajang silaturahmi paling unik yang saya rasakan. Keakraban dan kerukunan warga itu menyatu menyambut gerbang pagi. Penuh kehangatan... sehangat sajian aik Pokak. Seduhan minuman sari jahe. nimbrung racikan pandan-kapulaga-sereh-kayu manis dan gula merah.

Sejauh ini, tentu kalian kebingungan memaknai sarat kemulet bahas? Dari seulas kain kog mendadak nyasar bahasan makanan. Dari konsep duo-konotasi ragi menjadi ragit. Masalah-nya adalah pada awal proses ketika transfer pemahaman itu berlangsung. Akulturasi itu berjalan semena-mena. Kadang semau-mau-nya. Pokok-nya di-istilah-kan begitu-itu dari dulu. Hehehe..,
Dulu, pada awalnya konsep reragian itu saya maknai sebagai standar pakem motif yang dapat membedakan antara satu corak motif dengan lainnya. Reragian bisa juga dimaknai semacam hakikat unsur imbuh bumbu-bumbu tadi. Yang secara spesifik membangun kebersamaan pada hidayah corak maupun motif kain. Bukan saja cuma mengadopsi motif poleng asal Bali. Bahkan ada ragi Samarenda, pasti-nya ini mengacu pada motif Samarinda yang terkenal dengan produk sarung.


koleksi museum NTB - dok.pribadi
Dikotomi ini tentu akan runyam jika dilahap mentah. Tapi akan mudah dicerna ketika di-pilah transfer logika. Pada penulusuran saya pada identifikasi motif kain tradisional, bahkan di musem propinsi NTB pun juga tidak mencantumkan fraselogi ragi. Di etalase khusus kain tradisi khas Sasak hanya disebut Songket (tampak pada inset). langsung disebutkan motif Payung Agung, kain Sokong, Songket bintang Empet. Sementara songket Subahnala, sudah bisa dipastikan merujuk pada wirid SubhanAllah. Yang berarti sarat makna religius - penyucian diri. Pengaruh pada unsur arab. Motif lebih pada permainan bentuk geometik dengan variasi isian (isen-isen). Tidak terbaca secara tersurat. Karena pola-pola ini terbentuk dengan rekayasa kreativitas dan terkait kinerja pola alat tenun. Sudut-sudut persegi. Tanpa bisa menghasilkan pola acak liuk lekukan dinamis.
songket Subahnala, koleksi Museum NTB - dok.pribadi
Dari titik ini setidaknya bisa dipahami. Beda dengan paparan batik yang ditoreh dengan gambar tangan, cap maupun printing. Gambar bisa langsung terpampang dengan sendiri-nya. Ini yang saya katakan sebagai pesan ter-surat. Sehingga julukan motif bisa menyesuaikan tematik obyek. Sementara alat tenun menghasilkan pola tersendiri. Bisa dikatakan sangat kental sinergi dengan warna ke-Islam-an. Termasuk kajian hal pamali untuk mencantumkan gambar mahluk hidup. Sehingga pola geometris kelak di-maknai dengan nama/julukan khusus. Bisa jadi secara fisik gambar pola/motif akan tidak representatif dengan julukan yang disematkan.
Tehnik penyusunan benang tenun untuk menjadi pola kain sangat beda dengan menggambar motif batik pada selembar mori yang sudah jadi. Kain tenun dirancang menyatu dengan pola motif hingga menjadi kain utuh. Jika pada tenun motif lebih terkesan implisit. Maka pada motif batik umum-nya sifat-nya eksplisit. Pengecualian kasus : Motif tenun/songket sasak motif subahnala lebih mirip dengan motif semen (macem kawung) pada batik klasik ala keratonan. Penekanan maknawi lebih pada translasi simbolis.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan sementara. Mengapa para pengrajin songket sasak lebih menamai motif tadi sebagai ragi. Semacam menyebut unsur pembentuk rasa dari citra utuh masakan jadi. Sama-sama hasil olahan dengan cita rasa tersendiri. Dan kemungkinan besarnya konsep ragi ini hanya lebih akrab pada kalangan pengrajin jaman dulu. Entah kenapa mata rantai konotasi ini jadi kehilangan jatidiri. Citra adi-luhung yang semestinya bisa mensejajarkan diri dengan harkat pesan universal di Batik asal Jawa. Hm.. jadi wajar kalo dari cipratan opini ini kelak hadir tagline "Save kain Tenun".







batik baru.. kain songket/tenun. Rimpu.. Tembe ngGoli. Tenun Gedongan asal Pringgesela VS tenun Sukarare. Local wisdom... muatan filosofi. Ragi..demi ragi.  Korelasi perkembangan wisata tahun 90an. and 2010. Branded minded... or Brain strategy?










Dokumentasi
motif batik sasambo

motif nyale & kangkung

motif Jagung

motif Kangkung

motif masjid/ mesijit

motif kangkung

motif gendnag belek

zoom motif gendnag beleq