Minggu, 06 Maret 2016

Aktivist harian......,

Untuk sekian kali-nya....nimbrung blog. 
Apa yah, semakin kesini-nya, mangkin rasanya antusias menulis  kian menipis drastis. Ogah-ogahan tingkat dewa. Gejala kemalasan yang ter-up-date, hampir saya alami dalam kurun 4 taon belakangan. Padahal, seperti sebelumnya..., aktivasi menulis dalam tatanan lain, bagi saya merupakan kiat terapi tersendiri. Berusaha lebih mampu menuangkan dari unek-unek, opini, kiat, tips juga gagasan. Yang klo gak dituangkan dalam format tulisan akan menjadi usang. Repotnya lagi, begitu tercetus dalam segmen waktu berjalan... seperti kehilangan daya. Gak sinergitas yang ingin dibangun. Semacam kekhilangan momentum... padahal bisa jadi saat itu item-item buah pikir tadi adalah sarana untuk mencapai tujuan yang dicitakan. Sejak lama... tapi menyimpang sana-sini kehilangan arah jangkau. Sebab terabaikan oleh nikmat bumbu duniawi yang lain. Namun ini masih manusiawi kog!

are you daily activist? 
Menjadi aktivis harian..., ujung-ujungnya akan mengarah pada kategori ini. Saat kita benar-benar merasa terpuruk dan merasa terpola pada petak-petak motif tertentu. Saat itu pula geliat jenuh mulai merongrong diri. Bahkan bisa multi efek. Perang batin.. lebih lugasnya. Konfrontasi 'jeroan' ini gak akan pernah berakhir jika gak kita sendiri yang hadapi. Dengan segenap cara, baik melibatkan metodologi dan mungkin terapi mandiri. Self healing. Tapi kesadaran itu lebih menjadi pondasi penting. Bahwa selama kita hidup... embel-embel energi negatif itu sudah lumrah kita sandang. Hanya perlu di sikapi dengan bijak saat mereka muncul. Lalu segera tergugah lagi untuk memberdayakan diri.
Jadi apapun alasan-nya. Menjadi penggiat harian itu lumrah. Sudah lahiriah-nya kita sebagai manusia. Amanat Ilahiah sebagai khalifah muka bumi. Toh, sejak mata terbuka dari tidur...seluruh organ tubuh menuntut untuk digerakkan. Beraktivitas rutin alamiah. Jadi, jangan pernah merasa jadi pengangguran abadi. Come-on... move on !!! Dan paling perlu digaris bawahi...move-on...beranjak-lah dengan alamiah. Tanpa peduli peralihan fluktuasi kondisi bara politik. Atas kemauan inisiatif sendiri. Bukan buaian sesaat...para  penina-bobok jargon-jargon perubahan.

............
............
............,

Alih tematik...,
Jadi ortu itu peran multi dimensi. Punya variasi bocah dengan motif, kepentingan dan minat yang beda satu sama lain. Strata bisa dibedakan menurut alur jenjang sekolah. Belum faktor pengembangan bakat yang sepenuhnya harus kita dukung. Tapi gak harus keblinger... alias keteteran dengan penyertaan subsidi biaya mbludak. Ada peluang mengembangkan energi kreativitas. Nah, disini pentingnya berbagi fungsi peran pendampingan. Syukur-nya, soal kalkulasi numerik dimana porsi otak kiri lebih aktif mendominasi bisa di-atasi oleh ibunda nak-kanak. Terus terang.., saya agak gak telaten 100% tangani hal beginian. Sekalipun bukan berarti buta sama sekali.
Jadi, sisi lain. Saya ketiban peran sektor proyek-proyek kecil pengembangan intuitif. Dan sebisa mungkin menjalankan-nya dengan antusias dan menyisipkan kebahagian. Mengembangkan konsep kelas terbuka (outdoor)...kurikulum acakadut. yang penting bisa tulari hawa antusias dan menumbuhkan ketertarikan minat anak. Demi pondasi pergerakan-pergerakan merujuk ulasan paling atas tadi. Kurang-lebih, gitu deh pokok-nya :)


Berikut beberapa contoh kegiatan pendidikan luar kelas yang beberapa kali saya coba rintis. Diawali dengan Bird watching for Kid. Pilihannya memang gak harus ekstrim... membekali dengan peralatan menu wajib seperti binokuler, day pack.dan menyempatkan plesir ke beberapa wilayah pelosok. Untuk tahap awal cukuplah di siasati dengan sekedar membawa buku panduan lapangan. Burung-burung di Kawasan Wallacea keluaran BirdLife International. Tadinya sesekedar upaya sensus pengamatan di halaman sekitar. Tapi gak bisa dipungkiri fakta terakhir. Perburuan burung sudah marak terjadi di wilayah Mataram dan sekitarnya. Dampaknya begitu terasa. Biasanya, pada peralihan musim semi sejak penghujan lewat, tanaman mulai merenda putik di ujung ranting. Kami sudah cukup bisa menikmati ceriwis bunyi para aves kecil. Entah sekedar para kecial atau prenjak merah. Paling minis... nongol kawanan burung gereja.

Tapi, belakangan kawanan aves kecil itu hampir gak pernah tampak. Terlebih mungkin jika dikaitkan dengan perubahan iklim global. Curah hujan yang terlambat datang pada skala rutin-nya. Berakibat tumbuhan mengalami dehidrasi. Contohnya angsoka yang persis depan rumah. Dulu-nya 7 tahun lalu, angsoka ini pernah jadi tempat hinggap favorit bagi para burung itu. Sekedar mampir mengisap nektar sekar (nektarian) sambil umbar nyanyian merdu. Gak terlalu tinggi sih. Bahkan pernah saya temui bernaung sebuah sarang burung bondol (jawa : emprit). Sebenarnya aves ini identik burung sawah. Satu kelompok pemakan biji seperti halnya burung gereja. Tapi ditengarai mereka dapat hidup disekitar rumah warga disini sebab selain burung ini mudah beradaptasi lingkungan. 

Alasan paling masuk akal, sebab terdapat gudang penyimpanan beras di lintas blok utara. Kini, semenjak angsoka kami mulai layu. Bisa jadi kapasitas usia-nya sdh afkir. Tapi faktor kemarau panjang sepertinya juga punya andil jika para burung itu memilih hengkang ke beberapa wilayah yang dominan hijau. Plus, ditambahi ulah segelintir pemburu yang memasok stok para pengepul di pasar burung. 
Alhasil, trik belajar kali ini paling reasonable kunjung ke pasar/kios burung. Sesi kegiatan ini-pun kami lakukan nyambi tugas utama belanja keperluan bahan orderan dirana usaha supplier yang sudah berjalan 4 tahun belakangan. Sekaligus liputan ala kadar-nya. Tim reportir cilik diberdayakan. Paling tidak bisa belajar langsung mengamati langsung. Mana biota spesies lokal dan jenis impor. Mana jenis rentan diburu di habitat alam dan mana sekelompok aves yang hasil penangkaran. Data ini bisa dipetakan dengan mudah sesuai daya serap pengen-tahu-an para bocah.
Tapi, tidak tutup kemungkinan. Kelak kami mengembangkan aktivitas bird watching ideal. Sambil ngarep...mulai nyicil beli tool wajib intipan jarak jauh, binokuler dan bekalan lain. Lebih repotnya, keranjingan hasrat fotografi dengan tool lensa super-zoom. Hehehe... ini-ni yang belum-belum terwujud. 


Nah, lain lagi klo sektor perikanan,
Dari sejak terbikin kolam mungil di sudut teras depan. Sudah cukup efektif mengembangkan sekedar pengetahuan belajar versi rumahan. Sobat air... bercengkrama biota dan kelompok vegetasi.
Dari sejak awal para bocah sudah terlibat meski bukan berarti total berkecimpung. Tapi dalam urutan proses-nya mereka semua ikut beraktivitas. Dari sejak merancang kolam dengan design sederhana. Sistim pancuran merangkap filter. Pembelian benih mujair dan lele. Belum lagi pencarian tipikal tanaman air identik. Apu-apu dan talas/keladi sengaja kami cari di sawah tepian jalan sepulang dari anter orderan barang supply konsumen di Praya. Bahkan untuk melengkapi tanaman pengganti pagar fungsi wall barier, kami mencari-nya di sekumpulan lahan basah (wetland) di bilangan Sambelia. Masih dalam kurun berlangsung kegiatan penelitian kerang bakau edisi tiga tahun lalu.
Belajar ternak ikan dilingkup petak kecil seperti itu kelak menjadi rutinitas tambahan. Terutama jelang tahap pembesaran. Proses pemisahan 2 spesies, nila bertahan...dan lele dipindahin di sumur. Sejalan waktu ikan nila berkompetesi dalam kelompok. Artinya kudu kontrol kepadatan. Beberapa yang besar mulai di panen untuk konsumsi sendiri. Bahkan sebagian masih bisa dibagikan pada tetangga dekat. Enaknya di paparkan via segmen foto saja. let see...,

peletakan batu pertama... hehehe...
Ngisi air perdana....belum ada ikan, fungsi jadi bak mandi


persiapan tanaman hias...,











hidro-terapi...

kuras kolam

jaring ikan...

catch by hand...,

playground... sesudah isi ulang.



3 komentar:

Wawan Mamboyu mengatakan...

bukunya didapat dimana

gala-aksi mengatakan...

birdlife Indonesia.... ada websitenya. silahkan kunjungi...dan dapatkan list buku"nya.

Andika saputra mengatakan...

Iya bukunya bisa dapat di mana bang?