Kamis, 12 Maret 2009

catatan PINGGIR... kios pasar

Apa-lah arti sebuah NAMA…. Next version


Dibilangan sisip waktu kemarin-kemarin, saya sempat nimbrung di salah satu stan pasar Cakranegara. Stan ini merupakan ajang nimbrung para pebisnis arloji second. Baik status pedagang maupun pembeli. Upaya ini sekedar refresh minimalisir beban aktifitas monoton hadapi garapan plank. Terlalu suntuk bagi saya bila terpaku hadapi ajang bisu. kepingin balik realita hadapi mahluk hidup, beragam bentuk.

Sejurus kemudian,

Saya-pun terdampar dalam kios mungil milik Sama’an. Bercampur jajaran dan gemelatung aneka onderdil motor. Sempit..minim tembus cahaya. Khas kios pasar. Persis didepan bertebaran kios lain penjaja barang bekas. Beberapa komunitas kami sebut wilayah ini “Gang”.

Kios milik Sama’an memang kini beralih fungsi jual onderdil motor. Namun tidak kehilangan fungsi “tetap” sebagai central purna jual arloji. Usaha yang sudah alih kemudi dua generasi. Sejak sang Bapak awali usaha era tahun 80-an. Berganti si anak yang mulai geluti usaha servis/retail arloji ditahun 91-an. Memang masih ada ampas papan nama kios dengan air-brush logo arloji. Hanya sudah terhalang pandang oleh tegakan rak, berisi tumpuk box varian lampu mika motor. Demikian rangkum pitutur dari pihak bersangkutan.

Gabung di jajaran orang pasar memang punya beda nuansa. Ada geliat ritual ekonomi dan cengkrama sahaja. Kilas jeda saya terbayang seniman bernama Kimpul. Pelukis yang kerap gauli dan menghiasi kanvas dengan tema warna pasar. Dedikasi hidup yang tak kenal redup dirana jual-beli ini.


Kembali muatan judul,

Dari bahasan ngalor-ngidul, selalu ada saja diwarnai arena celoteh gurau. Saat itu sesi sedang berlangsung garap si Sama’an. Satu pengunjung (penggemar arloji) beradu fluktuasi dialog gak nyambung. Lontar tanya “A” dijawab “B” oleh si Sama’an. Mengalir deras tanpa peduli interaktif mahluk lain. Seolah hendak bikin saya terhalau dari bi-alog. Sesi yang sengaja diciptakan untuk bikin pilon bin o’on. Dalam hal ini saya yang di-anggap sebagai oknum pendatang baru.

Tiba bahasan singgung nama….,

Si tamu olah nama Sama’an jadi plesetan “bareng-an”. Kian tercurah kalimat ledek, “Artinya kios ini bakal jadi milik bersama”... “rejeki toko ini hanya bisa jadi milik bersama” dst…dst…dsb….,

Berlagak serius, Sama’an menjawab responsif gaya ceramah. Sama’an ini asal kata SAMI’ atau SAMA’. Bermakna salah satu sifat Allah, Maha Mendengar. Seperti hal-nya rangkaian Asma’ul Husna yang lain. Ceracau-nya kian mengalir bangga.


Tibalah gilir saya buka katup bendahara celetuk lidah….,

wah kalo gitu saya tahu nama lengkap-mu pasti Sami’Allahu liman hamidah”.

Senyum-lah Sama’an. Yang lain tergelak dengan ritmik rendah.

tapi biasa-nya ada ketentuan beri nama anak bila pungut salah satu referensi Asma’ul husna. Biasa-nya harus disertai kata Abdul. Hamba Allah yang mempunyai sifat tertentu, harapan sesuai kriteria opsi. Gak kurang tampang serius saya pasang.

Paras Sama’an kian terpoles cerah… mungkin tersanjung.

bisa repot lho! Klo gak pake kata Abdul didepan kata sifat Allah – ntar kuwalat

Forum seolah terhenti pada koma monolog…

Saya jejali lagi “maksud ortu mungkin baik, berharap kelak si anak mempunyai pendengaran yang baik, mendengar ucapan yang bagus – kalimat-kalimat berhidayah” ini sih seolah nasehat dibalik ceramah.

Wajah Sama’an kian pendar… forum hening.

repotnya gini An, ntar bukan-nya dengar yang baik-baik, malah konotasi jadi mahluk “Tukang NgUPING.

Forum senyap, Sama’an tersenyum kecut… mungkin tersandung!

Melihat gelagat garing suasana… saya-pun meledak tawa, dengan eja-an yang disempurnakan….,

Jreng!!! semua pihak kembali ceria dengan detak melankoli parody.

Hahaha..hehehe..hohoho..hihihi..huhuhu….,

Tidak ada komentar: