Sabtu, 23 Juli 2016

Cerita di balik Perangko... (again)

Tulisan comotan FB :

Gak sengaja buka buku Filateli. Semacam buka kisah energi" lama. Terutama koleksi dari negara lain. Pertama, gak sulit dapetinnya. karena saat itu saya masih aktif kerja di pariwisata. Masih saja ada nongol seliweran surat dari tamu dan kolega markas besar "Rinjani's Divers". Tapi juga ada beberapa yang khusus buat saya pribadi.
Selain bisa menikmati keunikan masing gaya penyajian gambar dari negara" itu. Sebagian besar juga menyimpan kenang cerita tersendiri. 
Semisal tamu asal Singapore. Mungkin puas dengan layanan sebagai mitra nyemplungnya. Kelak saya dikirimi Fish handbook. lengkap dengan perangko 3 jenis karang cantik spesies beda. tak pikir" mereka itu tipe orang ekspresif! Mix-matchnya sangat konek!!
Atau beberapa perangko utuh (bukan bekas) asal temen jepang. Mami Fujiwara, seorang diver juga. Gaya ikoniknya agak manga" gitu sangat khas Nihon. Koleksi ini dia kirim sejak tau klo saya punya map khusus perangkat koresponden dan tools gambar. Sekalipun akhirnya saya kehilangan jejaknya.
Perangko 'utuh' asal Amrik. ada gambar birdie.. melihat spesies dan gaya kuncung-nya mengingatkan varitas indonesia si Seriwang. Perangko bertahun 1996 ini bertampilan stiker. jadi gak perlu sibuk cari lem jika hendak digunakan. Ada juga duo-buah stroberi & Murbei total nominal 66 US$. Ikonik buah biasa tapi kisah dibaliknya gak kalah menarik. Perangko ini nongol setelah sekian hari saya mengalami "perang-batin". Ulah tamu yang hengkang mendadak dari hotel Intan Laguna Senggigi (sekarang : Santosa Hotel). eh, mereka bablas check-out hotel tanpa menyelesaikan pembayaran jasa penyelaman. Biyuh !! Terjadi di kisaran 1998 akhir selagi fluktuasi kurs dolar-rupiah kayak sedang ber'main' di trampoline. Perangko + surat mereka tiba lengkap berisi Cheque 120 US$. level kurs sedang di harga 8000-an. Terpaksa saya mudikkan sebab nilai susut yang lumayan jika dikaitkan bea administrasi bank. Saya minta opsi transfer bank konvensional saja. Pokoke tau beres. Tang-ting-tang-tung...beberapa hari kemudian transferan itu masuk mulus. Asik-nya transferan sedang nangkring top peak di 16 ribu rupiang. Yah.. ada 'alibi' hikmah ujian. Sekaligus cerita tiban untung khas para pekerja rana wisata di kurun itu. Temporari paska kerusuhan 98 dan laju dinamika reformasi. 


Sementara perangko gambar Tintin & Snowy asal Holland. Rujuk literasi karya Herge "Ekspedisi ke Bulan" itu hadir dari kiriman kartu pos. Diver asal belanda itu pernah keasykan ngobrol di Meno... selagi saya menyelesaikan satu plank Papan nama dengan tampilan gambar biota laut gaya kartunikal.
Gitu juga dengan segelintir perangko asal NewZealand. eh, ini sih alur komunikasi dengan mbak Juanita Mandagi yang sedang fokus selesaikan program S2-nya.
Terakhir, stamp triple burung asal Aussie. Klo ini mengingatkan proses sinau, sinergi dan dialog tentang Aves identik dengan seorang tamu yang punya wawasan menarik tentang burung. Persis selagi saya nimbrung di kegiatan pendampingan masyarakat gili indah. Bermukim di gili Meno.. saat identifikasi burung khas wetland di danau air asin gili Meno juga bertepatan awal pendirian Meno Bird park. One moment in time... kira-kiranya!



**Perangko itu macem batu tulis 









Aku... IBU-ku... korespondensi & FILATELI...,

Yah, 
menjalani kurun Juli.. itu semacam pit-stop bulan yang penuh dengan refleksi diri. Sejak awal dekat momen lahir. Lalu berlanjut tiba momentum Idul Fitri. Kiprah peralihan ramadhan menuju syawal. Bak tirai tipis di lintas segmen waktu. Kemeriahan-kemeriahan itu berlalu. Euphoria kemaslahatan umat juga mestinya kemampuan intropeksi diri dan kolektif. Moga saja!
Dan 11 Juli ini tiba pada momentum 2 tahun wafatnya ibu kami tercinta. Ada irisan keping haru yang tidak terlukiskan. Sekalipun sebagai ibu dan anak, kami memiliki ikatan tersendiri. Semenjak saya terpisah teritori. Yah, tulis-menulis surat menjadi satu media penyambung. Jembatan komunikasi tali asih. Dan perangko-perangko lama di album filateli menjadi jajaran koleksi dan saksi bisu. Perjalanan waktu. 

tulisan FB :
Kilas ballik, dari hubungan "spesial" kami adalah jembatan surat-menyurat. Media pamungkas menyalurkan harapan..keluh-kesah hingga menguatkan satu sama lain. Dan dari sekian lalu-lintas korespodensi itu... cuma perangko-perangko kusam penuh kenangan itu yang bisa saya simpan. Menyambung "tali bahasa" antara Malang-Mataram di kisaran 1992 hingga 2005.
Dengan membuka kitab filateli ini betapa banyak momen dan rekam peristiwa yang mewarnai. Dari sejak edisi Pelita V dan VI di-era embah "sik Penak Jaman-ku Toh"..hingga dia geblak di 1998, muncul juga edisi reformasi. dari varian perangko gambar pak Harto multi pecahan nominal. Dari harga tajuk layanan pos kilat 500,-..naik 700,- hingga lupa berapa. Serasa rekam catatan ringkas peradapan ada dibalik gambar" itu. Bahkan, jika kaum sekarang sedikit mencibir soal trending topik rebak batu Akik di 2 tahun lalu. Waduh le-tole..nduk-genduk..., bahkan pihak Pos&Giro ini pernah buat edisi Calsedony angka tahun 2000.Merah daging-nya bisa merujuk Red Baron asal Pacitan..Red Raflesia bengkulu..Kecubung Api.. hatta, sub Bacan Obi merah (yang heboh 10 tahun kemudian). Dan koleksi yang paling saya sukai adalah aneka flora-satwa endemik khas Indonesia.

Ah, apa kabar Ibunda-ku sayang? cuma selayang lantun doa-doa...yang kini bisa aku hantar. Tanpa kertas..amplop dan perangko. Rindu ku putih tak ber-materai. Engkau..adalah sosok tak tergantikan. Setiap waktu... tanpa perlu tunggu momentum 22 Desember.











Childrenhood..."the MISSING KID"


Mengulas masa-masa bocah,
Agak dikit kecil dari sosok terlampir di inset foto. Saat di Malang..kisar umur 2,5 taon sy prnh raib. Karena ngambul gak diajak paman pergi.. Saya-pun asal ngibrit niat ngadang beliau entah dimana bisa ketemu. Saya cuma ingat lari sambil nyeret sebatang meteran kayu milik embah putri. Bagian inventori dari usaha konfeksi. 

Lari-lari kecil itu terus bersimultan. Melewati sekumpulan orang rame trus blank! gak ingat apa-apa lagi. Nurut cerita versi ibu.. saya nyasar di pasar Kebalen sekitar jarak 1 Km dari rumah. Ditemukan oleh seseorang. Mungkin karena kulit putih jadi ditanyakan ke beberapa jajaran toko kelontong milik pedagang tionghoa. Dan tentu saja, semua bilang saya bukan trah anak-cicit mereka. Sampek akhirnya ada pedagang Kemoceng yang kenali saya.. "Ini cucunya Nyai Gufron di gang 3 kotalama". Saya-pun pindah gendongan lagi... sampai secara gak sengaja Bapak-Ibu saya kebetulan lewat naik becak disekitaran sana. Ibu jerit "loh..iku koyoke Opan!". Bapak saya langsung sigap loncat... insting militernya bekerja sigap. Si penjual Kemoceng hampir saja dijotos. Detik berikutnya terjadi adu argumen. Si pak kemocengER ngeyel ini cucu-nya orang Kotalama... bapak saya ngotot lah ini anak-ku! Akhirnya ditengahi ibu. Wajar klo bapak gak terlalu dikenali karena tugas dinas-nya di kandang marinir-Surabaya. Ujung"nya duit yg tadinya niat dipake belanja kain sama ortu dikasihkan pada pak Kemoceng. Sebagai bentuk kasih & sekedar imbalan ala-kadar anak-nya kembali kepangkuan. Secara gak sengaja. Hihihi....., 

ikut mengucapkan selamat lebaran 1437 Hijriah....,
Ke-2 kali. tahun 1977 Kami sekeluarga pindahan lagi ke Sumbawa besar (misi dinas bapak). Jaman itu transportasi gak selancar sekarang. Transit Mataram... diputuskan nginep disekitar Cakranegara. Sepertinya di Hotel Ratih. Agak jelang sore..si genduk (julukan khas pembantu kami ) yang diboyong dari jawa ditugasi Ibu beli gula dan makanan kecil ke toko arah timur dari hotel. bertiga kami jalan..saya dan kakak perempuan. Agak jauh karena beberapa toko sudah tampak tutup. Gitu dapat barang yang dibutuhkan, kami balik arah... saya paling depan sambil main loncat sana-sini. Trus bermain... sambil jalan dan lari kecil... eh bablas, Tersesat lagi. Gak balik arah... tapi trus jalan. Ingetnya.. saat itu akhirnya saya berhenti. Langit mulai gelap jelang maghrib. Nanya orang di pinggir jalan. Akhirnya saya di giring ke satu instansi militer. Mungkin Kodim atau sejenisnya. Antara lapar dan haus. Disodori minum teh gelas besar.. sambil ditakuti satu bintara jaga, malah di-acungi moncong senjata, entah AK47 atau M16. Gak geming blas!.. wong bocah kebingungan.
While, situasi di hotel Ratih gempar. "Ada Anak Hilang!!!!" Bapak terlontar emosi-nya "knapa gak sekalian kita semua tenggelam saja di feri tadi". Pihak hotel ikut bantu..salah satu-nya nyambang "belian" di sekitar Cakra. Konon hasil terawangan-nya "saya diculik sebangsa mahluk halus tipe wewe". Suasana makin resah. Pihak RRI juga dihubungi demi bantu siar. Gak ada kepastian. Hingga diantara kebingungan itu ada muncul staf hotel shift malam masuk jatah kerja. Diantara orang hotel yg bingung dia nyeplos. "Hei, tadi ada anak sapa itu. Nyasar di kantor kodim. Dikasih makan langsung habis. Minum 2 gelas ludes. Kayaknya capek sekali". Ibu saya yang kebetulan dengar langsung terperanjat. "Hah? gimana ciri-nya?.. bla-bla-bla... celana pendek coklat baju ada tulisan adidas?"
Staf hotel itu bilang "eh iya!!!". Lha...itu diaaaaaaaaa........, teriak ibu-ku. Singkatnya saya dijemput malam itu..pake VW kodok. Persis tiba depan hotel Ratih...ternyata sudah rame kerumunan manusia yang nonton. Huhuhu... serasa panitia penyambutan saja. 
And,,,,The Kid is back!!! kantor kodim 'lama' itu berada sekitaran Ampenan dekat" Malomba. Jarak lumayan jauh untuk anak sebaya siap masuk TK. Dipikir-pikir, mungkin kelak ini jadi mata rantai alur-nasib.. kenapa jodoh saya orang Ampenan. 
* Postingan asal FB

selamat lebaran 1437 Hijriah



Selamat menjalani syawal.... kami sekeluarga ucapkan. Meski harus telat unduh dipostingan. Semoga kita semua menjadi karakter yang lebih terbaharukan...   Amiiin

Selasa, 05 Juli 2016

Ramadhan to Syawal..,

aku INSOMNIA (lagi)...,
larut bingar kemeriahan hadrah. 
tapi kali ini beda! 
demi lembut pagi.., teduh siang, 
atau, pada malam sepekat kopi...

yang aku idam..diam-diam 

**pitstop Ramadhan



Selasa, 14 Juni 2016

Belantik & Politik daging Sapi

cut of Beef - referensi internet


Yang unik di 2016 dan momentum Ramadhan...,
Harga daging sapi dalam negri berkecamuk. Penjual dan peternak enggan ikuti imbauan pemerintah untuk turun harga karena bakal rugi. Pemerintah ambil langkah import daging. Sudah kan?! aman.. konsumen bebas pilih. Klo yg stright dengan keraguan status sembelih pasti pilih sapi lokalan, gak papa harga tinggi. di sektor pebisnis kuliner.. ya fokus cari daging murah itu sdh lumrah trik imbas nyeker untung. toh, jualnya ntar bs blipatan apalagi cari stan kala takjil. Mana ada pembeli ngeyel tawar"an harga. Pokok beli...daripada repot masak sendiri. dll, multi alasan. Di pikir" lagi, toh konsumen pangsa muslim itu tetap potensial. Gak rewel...situasi gitu bisa diterima dengan lapang dada. ngedumel..tapi paling dijalani juga. easy income...easy going kata-nya. Soal daging import gelap-pun ada. Contoh kasus di Medan itu. ditimbun oleh oknum TNI, ndekamnya di mes-asrama lagi. berkisar 3000-an KG. Aneh klo gak oknum ini maen sendiri. Gak nyiprati otorita level pangkat lebih atas-nya. atawa kongkalikong dengan mitra atasan tersanjung. tapi toh jaringan bisnis itu di bongkar juga oleh pihak internal TNI sendiri. Di-liput pula oleh media. tapi gak mungkin juga bakal di blow-up kelewatan. Itu sama saja nyari penyakit. Goyangin institusi militer? golek gawe!!!

Sudah impas kog. toh sudah diperangi dalam alur komando. Gak akan di rekayasa bahwa si bang bektor yg jadi pelaku bisnis utama-nya. Cuma yang jadi sentilan "maknyus"-nya itu (baca : make-NEWS-nya). Daging import gelap itu berlabel asal India. Ini agak kontroversi sih. Gimana tidak, lha wong region negri bollywood itu sangat sakral mensuci-kan haiwan terkait. Ini pasti statemen yang bertujuan ngadu SAPI. eh! ngadu DOMBA, di-antara penganut kubu-kubu ambigu. Pasti salah kaprah...meski dibalut analisa kiasan praduga gak ada salah-nya. Mumet koen wis!!!

Apa mungkin SAPI itu berasal dari peternakan India? Apa bukan dari NewZealand? yang terkenal dengan produk ternak terbesar dunia. Yang beberapa waktu lalu sempat heboh dan jadi viral oleh para netter untuk Boikot produk korporasi sodara se/susu-an, Nestle. lebih-lebih yang berkategori penyayang Binatang. Berdasarkan video durasi singkat. bahwa cara produksi Susu emak sampi itu, dipertahankan dengan tidak memberi kesempatan nyusui anak mereka. Begitu mrocot langsung sapih.. ada juga generasi muda sapi itu yang dimusnahkan dengan cara di pendem. Emak-nya langsung nangis.. mendhem jero-an. Demi mikul duwur pekoro strategi Kumpeni. Lah klo di tanah-air kita, bakal ludes itu semua bagian gak tersisa. Termanfaatkan oleh gerus rana kuliner dari Otak, bebalung, sop buntut, sampai kerupuk rambak! minimal terorganisir jadi bahan baku produksi samak kulit.
Adegan holocoust kanak sampi itu yang paling menyayat getir pirsawan waktu kepala mereka di kepruk. Masih kejang-kejang dihempas se-enaknya oleh si tukang jagal. Darah kececeran....yang jelas bukan warna biru. nah, cobak klo ing tanah jawi. Suda
h di-tampung itu getih. Ora pareng kebuak..mubasir. lha saged kangge DEDE. Mirip rupa agar-agar. Jadi pelengkap santap rujak cingur. Menemani irisan congor si SAPI. ah lagi-lagi.
Lha gimana dengan daging sapi import. yang memang terkenal empuk. Sebab secara tata-laksana tehnik ternak juga menyertakan asupan minum BIR. Selain itu juga tubuh gembrot-nya di susupkan di palka ruang sempit kandang. Kerja-nya makan tok! demi kriteria pedaging handal, kelak tiba masa potong. Kurang gerak. Mirip ayam broiler itu lah! Gimana status santap? Balik lagi pangsa konsumen-nya. Buat penggemar gak masalah. Yang kontra, pilihan lainnya pasti ada. Tinggal menentukan sesuai nurani. Bilangnya wong jawa..pilih bagian ' Lolor'. Bagian daging yang empuk... gak alot. Karena bukan bagian tubuh yang dominan otot gerak. macem slice of sirloin or tanderloin itu, Barangkali. 
Terakhirnya. Beda tempat dan nagari..beda wacana. Beda kebijakan dan strategi. Semacam pepatah usang..., "Lain warung PADANG.. lain ransum BELALANG".

ngidam ...Ramadhan diam-diam....,

Self-illustration made by Lenovo A3300

the circle moon almost perfect
behind the wall of the cloudy sky
there's no sound... but mind can fly
all night travellers climb the silence
.
sent the whisper... spent a chamber
where's a cheers come from?
when thou feels as a static-walker

*pejalan sunyi (al-Isra)



lingkar purnama yang hampir sempurna
di balik dinding mendung
tiada bunyi... hanya benak menyanyi
para musafir kelam memanjat sunyi
.
hantar bisikan... tuntaskan ruang-ruang
lalu, darimana gempita ini berasal?
saat dikau merasa diri pejalan diam

Minggu, 12 Juni 2016

Becak dan nostalgia Ramadhan


ilustrasi comotan asal internet.
Dulu semasa bocah di Malang (kurun 80’s..tema oldie)  Menjalani agenda shaum bisa jadi cerita menarik tersendiri. Di komplek kampong kota tempat saya tinggal, Kotalama. Pemukim warga pendatang asal Madura punya tabiat unik. Terkait tematik kecerdasan financial yang ditanamkan sejak dini pada anak keturunana mereka. Salah satunya adalah memilki Becak. Meski gak harus di tunggangi sendiri, tapi bisa disewakan kepada becak driver lain. Menerapkan sistim bagi hasil sesuai akad. Hasilnya bisa jadi tabungan bagi keperluan anak, kelak dikemudian hari. Jadi, punya becak itu sepeti memiliki asset armada moda transportasi umumnya. Semacam oplet, helicak dan bemo.

Nah! Becak milik tetangga depan rumah menyimpan sejarah silam masa bocah khas tematik urban. Menyambut hari-hari ramadhan menimbulkan keriangan tersendiri. Bisa jadi masa itu juga ada geliat fluktuasi situasi ekonomi yang bergejolak. Tapi apalah hal-hil yang begituan. Akan sangat tidak nyantol di benak kami selaku bocah. Life is so easy going…
Kembali soal becak di musim puasa. Saya gak gitu suka dengan ‘patrol’. Itu-tuh aksi unjuk bebunyian untuk membangunkan warga saat jam makan sahur. Istilah malangan-nya “Kote’an”. Nimbrung dengan rekan Madura banyakan usil-nya. Selain pukul-pukul berbagai macam bekal alat apa-adanya. Kadang diselingi usil yang kelewatan. Malah agak ‘neror’ notabene warga yang sudah disasar oleh kelompok kecil tadi. Biasanya tipe tetangga yang galak pada bocah. Atau tipikal pelit berbagi hasil buah tanaman yang dimiliki. Bisa juga keusilan ekstrim lain. Yang mungkin agak gak pantas diumbar dimari. Hehehe… biar gak nulari hawa efek negatif dari para ekstrimis berwujud bocah.

Nah, saya sih bukan tipe anak super alim. Tapi juga kadang juga masih sadar kadar  dan batas nila-nilai kepantasan. Terutama gak doyan usil yang agak kurang ajar terhadap orang-orang dewasa. Jadi pada porsi tertentu mulai mengatur pilih teman. Disisi lain memang tipe saya memang gak suka dengan tema-tema stag. Temen itu-itu saja. Selalu mencari keasyikan nimbrung dengan rekan lain. Mendingan pilih blusukan gang kecil di kampung-kampung sebelah. Pakai Becak! Yang nimbrung bisa 4-5 anak sekaligus. Bisa 6, asal 1 duduk nangkring di penutup fender ban belakang. Agak kuat.. karena bahan-nya terbuat dari plat besi tebal. Saat kejadian yang gak bisa dbikin lupa. Rekan pemilik becak bernama Mat-Rudji. Dalam setiap aksi blusukan dia selalu ikut kawal. Sebab gak bisa begitu saja yakin meminjamkan asset-nya tanpa kontrol ketat. Kebetulan dia ngalah duduk fender, sementara anak lain pada milih duduk jok utama. Yang berpostur tubuh besar, dan memang lebih senior akan berpotensi sebagai tukang pancal/kayuh.
Sekali waktu saya didaulat jadi tukang kayuh. Maksudnya biar gak enak-enakan jadi penumpang sadja. Tapi dasarnya gak pernah enyam tehnik yang benar. Baru pada kayuhan awal start..maklum, dengan menyesuaikan berat tunggangan, posisi becak langsung miring. Hal ini bikin para temen yang di jok pada otomatis berloncatan. Menyelamatkan diri. Hehehe…, garuk kepala sambil saya cengar-cengir. Padahal saya belum tuntas unjuk kebolehan. Meremehkan sekali mereka!
Segi positifnya. Akhirnya saya memang jadi porsi anak bawang. Gak bisa diganggu gugat. Karena secara postur saya paling kecil. Aksi mbecak-pun dilanjutkan. Mau gak mau si Sholeh senior (almarhum) kudu rela jadi tukang pancal-nya. Mat Rudji… yang cukup dipanggil Rudji masih menduduki singgasana fender belakang. Gang demi gang kami lewati… hingga tiba di satu ujung mulut gang mengarah aspal jalan utama. Becak meluncur kecepatan sedang…ada gundukan polisi tidur. Roda depan berhasil melewati… giliran ban belakang..Eh, ada suara aneh seperti kampas rem berdecit. Sembari ditambahi suara gaduh si Rudji di belakang. Rupanya, lonjakan ban belakang melewati gundukan tadi berujung insiden kecil. Tumit kaki Mat Rudji terselip diantara pelek ban. Sholeh cepat ngerem! Kami semua turun dari jok. MatRudji duduk di hamparan aspal sambil mengaduh kesakitan. Nangis juga! Lha wong tumit belakangnya agak terkilir dan berdarah sedikit. Kami trenyuh melihat penderitaan yang dialami-nya.
Tempat itu jadi pit-stop sejenak kami. Sambil menghibur si Matrudji agar sedikit pulih dari syok ringan-nya. Nah, selang sekian menit kami-pun bergegas untuk pulang. Jadwal makan sahur di rumah masing-masing. Eh ada lagi celetukan si Sholeh. “Oalaa Rudji… nasib-mu kog yo apes. Wis jenenge Rudji…sikil-mu KO karo ruji ban becak”. Seketika menggelagar tawa kami… menghias perjalanan balik kampung. Kali ini saya ngalah duduk di tahta belakang fender. Senyap sesekali di alur laju becak. Mendadak saya cekikikan sendiri. Gak bisa mendam gelitik ungkapan si almarhum Sholeh tadi. Ah…, kenangan manis ini semoga jadi catatan amal baik untuk masbro Sholeh di hadirat alam-Nya.
Kepada rekan-rekan saya di Malang sana. Bisa jadi kita tak lagi lancar bertegur sapa seperti keriangan di masa lalu. Namun paling tidak, serpihan mozaik tutur kata ini bisa menjadi pengikat silaturahmi penguat tersendiri. Selamat jalani Ramadhan 2016. Bersama anggota keluarga masing-masing. 


Marhaban ya Ramadhan,  



Minggu, 03 April 2016

Batik LokCan

dokumentasi pribadi
Tuntut-lah ilmu sampai ke negri China....,
Terlepas dari kekuatan sanad hadist yang masih jadi wacana perdebatan. Bahwa gak bisa di pungkiri peradaban negeri Tiongkok itu sudah mahsyur sejak lama. Melewati perkembangan lalu-lintas budaya dan peradapan yang sudah diakui eksistensi-nya oleh berbagai ragam bangsa di belahan dunia.
Saking mahsyur-nya, nyaris semua rana aspek humaniora berdampak nyata pada bidang kehidupan. Semisal bidang ilmu pengetahuan, dunia maritim, sastra, seni, kesehatan. dan lain-lain. Geliat warna sejarah itu sedemikian rupa berkulindan. Baik sebab proses pembauran budaya. akulturasi. Penyebaran dalam sisip alur duta perdagangan, darat-laut. Proses kunjung-singgah hingga menetap pada sirkulasi pola demografi suatu wilayah teritorial.
Lalu apa hubungan-nya sejarah dengan selembar textiel? dalam hal ini relevansi budaya dari produksi secarik kain sebagai perangkat busana. Dalam kurun waktu lalu telah memberi kontribusi corak dan motif khas. Selanjutnya dipadupadankan dengan kesenian batik tulis. Dan kenapa juga disebut sebagai Batik LokCan?



kehebatan armada laksamana ChengHo
Benang merah runut sejarah....,
Ucapan syukur dan terima kasih tak terhingga kepada para pendahulu yang telah membudi-dayakan kebiasaan menulis. Setidaknya makin mudah merangkai kisah sejak epos perjalanan sang penjelajah asal Tiongkok, Laksamana ChengHo. 
Disebut dalam kurun abad 1400-an telah melakukan perlawatan ke Nusantara. Terutama zona kawasan utara Jawa Tengah. Salah satu kru/anak buahnya dianggap sebagai tokoh sentral pengembang gaya corak batik LokCan. Dengan wilayah sentral pengembangan batik Lasem (Lao Sam). Yaitu Bi Nang Un dan istrinya Na Li Ni.  Apalagi Lasem sangat identik dengan julukan Tiongkok kecil. Kedua pasangan itu yang kemudian banyak melakukan inovasi pengembangan corak batik khas. Selain tentu saja membuka bengkel batik demi tujuan perniagaan. Paling tidak terjadi proses pengenalan tehnik dan motif itu kepada para karyawan-nya. Kelak secara turun-temurun akan berkembang secara signifikan dalam skala home industri bagi kalangan pribumi. workshop-workshop berdikari.
Menariknya lagi kawasan pesisir utara (dikenal sebagai garis Pantura) merupakan peta global penghubung sentra batik khas tema Pesisiran. Motif dan corak lebih berani karena membawa nuansa egalitarian. Sekalipun begitu bukan dianggap sebagai pioner dalam pengembang batik jawa. Sebab jauh sebelum para moyang dan rentet tionghoa peranakan ini mengembangkan mata rantai bisnis tekstil batik. Kebiasaan batik sudah banyak dikembangkan khusus oleh kerajaan non pesisir sebagai kepentingan internal mereka. Motif berkesan klasik. Punya kesan filosofi dalam. Dan tentu saja hanya digunakan kalangan istana saja. Menjadi tugas desainer, atawa ahli tata busana istana untuk lebih piawai mengatur urusan itu semua. Batik bermotif yang memiliki hirarki kasta. Sebab dibedakan untuk kalangan keluarga istana/penguasa... tingkat punggawa hingga abdi dalem. Kalau-pun ada berkembang sentra pengembang batik diluaran tembok istana. itu semata gaya kemudian. Secara tehnik pengerjaan masih juga dipengaruhi oleh kalangan unsur istana. Namun inovasi corak kudu beda. Sehingga kemudian lahir istilah pembeda, kenapa ada batik saudagaran hingga batik petani. Dus, pengkhususan batik sandang untuk kalangan jelata. Arus bawah. Semacam korelasi kenapa ada penyertaan isen-isen motif Rumput. Ya itu tadi, semacam pesan kesadaran diri...wong cilik, komunal akar rumput. 


burung Hong
Memang akan sangat kontra jika dibanding motif batik gaya 'pesisiran' yang menghalau total kesan monarkhi tadi. Motif bervariasi.. berani secara corak. Gak tergantung pakem tradisi. Namun gak berarti tanpa muatan filosofi sama sekali. Dan banyak mengadopsi ikon-ikon khas dari negeri induk, China. Dari sekian ikon binatang, singa, naga, burung merak hingga adaptasi multi-rupa burung phoenix. Aves Phoenix paling banyak menjadi atribut utama. Dikenal sebagai debut burung Hong. Perlambang pembawa keberuntungan. Kelahiran kembali hingga dipercayai kemunculan pada masa damai dan makmur. Sebagai burung mitologi sebenarnya phoenix tidak saja disanjung di negeri Tiongkok sana saja. Phoenix telah menjadi milik silih bergantinya  multi peradaban silam yang sarat tafsir pemaknaan juga di apresiasi dengan porsi lebih. Fabelous animal. 


Eksistensi-nya begitu sangat fenomenal. Legenda Fenghuang. Padahal kalaupun di runut kadar kenal ciri bisa jadi keindahannya adalah refleksi dari fisik Golden Pheasant. Ayam hias asal Tibet. yang tentu saja secara kompleks wilayah masih merupakan kerabat dekat negeri Tiongkok. Negeri dataran tinggi (up land) yang di identikkan negeri para Dewa. Semacam energi keabadian berada di titik dataran puncak sana. Well, bisa jadi ini baru sekedar sekelumit singgungan yang hanya porsi upil di ujung jari. Bertebaran informasi menarik bisa ditemui di kanal-kanal maya sana. Semisal demi menikmati eksotisme si burung Golden Pheasant bisa melacak di rujukan KLIK. Phoenix... as Hong. Pantas saja negeri tirai bambu itu dikenal dengan sebutan lain HongKong.

Apa sih batik motif LokCan ?
Kembali topik utama bahasan batik Lokcan. Titik awalnya, saya kesulitan runut nama khas paling identik pada ke-4 koleksi batik tua yang kami miliki. Hanya ada embel-embel ringkas 'batik Rembang' dari pemilik pendahulu. Melalui serangkaian browsing akhirnya ketahuan juga nama batik ini adalah Batik Lokcan. Ciri paling khas dari penampilan ornamen sangat sederhana. Warna tunggal. Untuk tipe lokcan asli garapan tempo bahula bahan dasar kain dari sutera alam. Merupakan bahan impor langsung dari negri tiongkok. Sinergi-nya tidak lepas dari alur legendaris supply jalur sutra (silk road). Bahan akan lebih lembut dan serat kain lebih halus dari sekedar batik bahan mori katun. Meski juga dibandingkan dengan kain katun import pada generasi batik-batik tempo dulu.


dokumentasi pribadi
Motif lokcan memang unik. Selain menampilkan burung Hong sebagai menu wajib juga dibubuhi pernik ragam hias isian motif kembang. Tapi yang paling mudah di tandai adalah penyertaan tambahan helai-helai menjulur pada daun & buah/bunga. Bagi saya pribadi seolah rupa sisir. Sehingga cocok disebut langgam Comb looks-like. Entah ada maksud tertentu dari penampilan rupa itu dari buah pola pikir atau sebatas inovasi dan hasil kreativitas abstrak para pembuat desain-nya. Yah! ada beberapa probabilitas.
Satu kanal menyebut bahwa Lokcan (eja : luk cuan) secara etimologis berasal dari Lo bermakna BIRU dan Can artinya sutera. Inisial sutera biru merujuk asal bahan. Konon bahan asli sutra sebelum diwarnai agak warna kesan kebiru-biruan. Sekalipun pada salah 1 dari ke-4 sampel batik lokcan ada beberapa sudut bagian kain yang menyiratkan warna biru. Riskan juga jika dikaitkan dengan konotasi asal warna dasar tadi. BIsa jadi benar tapi bisa salah jika ternyata biru ini akibat tertular lunturan dari kain lain saat pencucian. Masih perlu penelitian kasus lebih jauh.


format dasar desain padi-kapas 
Kanal lain agak sedikit menguak hakikat lokcan. Koleksi salah satu butik textiel yang pemilik orang luar negeri menyebut serangkaian motif bunga pada lokcan adalah gambaran cotton(katun) itu sendiri. Cotton..katun.. ya identik tanaman kapas. Kapas merupakan material dari pembuatan dasar kain. Analisa ini wajar jika secara mudah dikaitkan dengan falsafah pemenuhan kebutuhan dasar manusia, yaitu Sandang. Pakaian pembalut kulit sebagai tameng adaptif lingkungan. Toh, secara nilai-nilai dan filosofi khas bangsa indonesia memang tidak jauh dari sana. Bahkan secara kajian kasualistik simbol negara maupun organisasi juga menyertakan ikon wajib berupa lingkar bentang Padi dan Kapas. Setidaknya ini jadi penalaran gampang bahwa sang kolektor berusaha menggali runut logika dari identitas khas tadi. Tapi..., saya belum cukup puas hasil analisa itu. Kenapa? Sebab jika kembali pada pusaran sejarah awal. Motif ini tentu merupakan pakem murni dari negara asalnya Tiongkok sana. Murni..orisinil, dalam arti belum mengalami sentuhan indo-modif. Belum ada nuansa kesan akulturasi apalagi modifikasi dari perancang lokal. Tidak mengadopsi ikon-ikon khas lokal seperti hal-nya contoh motif Tiga Negeri. Watu pecah dan Latohan. Ke-3 pakem motif ini sudah cukup banyak penjelasan tentang latar belakang julukan motif itu hadir. 
gambar bulir padi 'kuning' pada motif lokcan
identifikasi awal saya duga daun pakis (fern)
(dok. pribadi)

NOTE : Pada salah satu isian motif lokcan yang patut ditandai dan dicermati. Terdapat juga motif flora yang secara rupa fisik-nya sangat mirip menggambarkan performa untaian bulir butiran Padi. Liat pada inset samping. 
Jadi pertanyaan berikutnya... vegetasi lokcan itu apa? Sekalipun dalam lintas kultur budaya dan bisa saja tanaman khas penghias motif kain ini besar kemungkinan terdapat di wilayah Nusantara. Hanya mungkin beda kiat apresiasi terhadap lingkungan dari jenis tumbuhan yang dapat memberi sumbangsih penting/vital bagi kehidupan manusia.
Yuk! penelitian dilanjutkan....,    

Lokcan... Lok Cuan... Latohan,
Jika pada awal identifikasi saya kebingungan nama motif ini. Belakangan baru tercerahkan berkat nama LokCan. Belakang-belakangan lagi, sempat curiga jangan-jangan terkaitan dengan nama Latohan? Faktanya Rembang memang memiliki satu motif batik dengan nama Latohan. Ada 2 versi yang beda. Satu kanal menyebutkan Latohan adalah nama buah dari tanaman khas pantai. Itu saja! tanpa penjelas gambar identik. 
batik motif Latohan khas Rembang
Kanal web lain menyebut Latoh adalah sejenis rumput laut yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat pesisir disana. Biasanya diramu sebagai urap (lalapan) maupun tambahan menu rujak cingur. Sebatas pengalaman pribadi memang saya pernah liat sendiri. Bahwa ada jenis rumput laut dengan rupa bulatan kecil mirip rangkaian anggur. Berhubung bidang pekerjaan saya terkait bidang laut dan pesisir. Rumput laut yang saya temui itu memang sangat beda jauh dengan jenis seaweed catoni. Jika catoni adalah jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan di wilayah Bali dan NTB. Rupa rumput laut yang mungkin 'latoh' ini sangat beda bentuk. Bukan hasil budidaya tapi merupakan hasil kembang biak alamiah. Tepatnya di Jepara menu rumput laut itu pernah saya temui. Dus, bagi sebagian masyarakat Demak bahkan Semarang konon juga akrab mengenal sayuran 'laut' itu. Rujukan wikipedia tentang kabupaten Jepara. Lato memang resmi disebut dalam deretan sajian menu khas, sub kategori salad, "Sejenis rumput laut, enak dimakan dalam keadaan segar, dan konon bisa menyembuhkan radang tenggorok, amandel".

Caulerpa lentillera 
Lebih jauh. Latoh/lato merupakan jenis rumput laut hijau dari genus Caulerpa, masuk dalam kelompok Chlorophyceae (alga hijau). Dua spesies yang paling umum di konsumsi adalah Caulerpa lentillifera dan Caulerpa racemosa. Sebagai bahan makanan mereka sudah cukup dikenal dipelbagai sajian menu aneka bangsa. Sehingga mendapat inisial khas. Seperti julukan "Green Kaviar" bagi masyarakat eropa. Sebab bentuknya menyerupai 'butiran' telur ikan. Sementara secara indonesia disebut anggur laut translasi sea grapes.
Orang philipina menyebut-nya dengan nama ar-rosep, lato atau arosip. Sementara khalayak Malaysia cukup akrab dengan sebutan latoh. Lain pula jepang, warga Okinawa menamai C. lentillifera dengan lafal lokal 
umi-budō (海ぶどう) yang berarti juga anggur laut. Pada masyarakat pesisiran Jawa Tengah dikenal nama latoh. while, bagi komunal masyarakat Sulawesi lebih dikenal nama lawi-lawi. 
Oiya, tanaman eksotis ini disebut sebagai tanaman tingkat rendah dan hidup pada media substrat pasir. Layaknya beberapa jenis rumput laut (seaweed) lainnya. Bedanya klo secara morfologi fisik dibandingkan spesimen lamun (seagrass) memiliki profil lengkap akar-batang-daun dan bunga. Pada struktur seaweed  Terdapat rumpun yang sederhana hingga kompleks pada susunan tanaman rumput laut sebagai representatif batang, daun dan akar. Lawi – lawi/latoh berkembang melalui perkawinan gamet atau spora. Ditengarai kandungan nutrisi sangat bermanfaat untuk kesehatan. Dapat berfungsi sebagai pencegah jamur, penyakit rematik, bahan pembuatan kosmetik bahkan pencegah tumbuhnya tumor didalam tubuh. Dari sini ada titik terang, paling tidak mengungkap mengapa latoh layak di apresiasi secara dinamika lintas peradapan global. Seperti 'nasib'-nya menjadi ikon motif batik latohan khas Rembang/Lasem. 

Pertanyaan berikutnya. Batik Latohan versi lokal secara paparan gambar dominasi terbanyak adalah ikon isen-isen rupa liuk vegetasi latoh. Menu ikon utama justru bouquet (buket) serangkai bunga tanpa penyertaan burung Hong. Ataupun tidak tutup kemungkinan, kasus tertentu, mungkin ada juga motif pakem latohan juga menyertakan Hong.
Sedangkan pada ke-4 sampel batik yang kami miliki, dikatakan Lok-Can namun secara sajian menu gambar utama adalah Hong. Ada ornamen bunga yang masih dicari identitas riel-nya. Sementara jika dicermati seksama juga 'tampak' ikon
latoh. Hanya porsi-nya sedikit saja sebagai imbuhan ornamental. "Latoh" ini loh yang sedari awal pencarian sidik motif selalu saya dibingungkan. Apakah ini sejenis daun paku-pakuan (pakis/fern)? Atau malah si bulir padi (tematik padi-kapas) yang diterjemahkan oleh kolektor asing tadi?. Analisa lanjutan bisa mengerucut begini. Sangat tidak mungkin jika itu tanaman paku/pakis a.k.a fern (terutama jenis yang bisa dikonsumsi). Karena pakis lebih identik tipe tanaman zona lembab. Bukan kategori tumbuhan pesisir. Juga kecil probabilitas merujuk Padi. Jika kembali mengaitkan penyidikan topik utama adalah kajian rana Batik Pesisiran. Mestinya sejauh tematik khasanah dan nilai maupun kadar motif akan ada korelasi nuansa marina. The circumstance of the sea..., 



So what is LokCan? 
Baik-lah..., analisa selanjutnya semoga kian mengarah pada identitas lok-can yang sejati. Metode-nya cukup sederhana saja. Mengapa nama resmi motif batik Latohan justru diambil dari serangkaian motif atribut gambar pengisi. Artinya pesan tersirat penyertaan burung Hong ataupun buket bunga BUKAN merujuk gelagat sebagai panduan mengenal nama motif si batik bersangkutan.
Sekaligus cara ini saya anggap sebagai kiat taktis mem'
baca' LokCan. Burung Hong... buket bunga, adalah motif penguat identitas saja. Jadi LokCan bisa jadi adalah sejumlah rupa tumbuhan yang terdapat jelas pada kain batik itu. Perhatikan pada gambar inset pendamping. Apakah motif tumbuhan itu juga tanaman khas pesisir seperti hal-nya Latoh? Sekali lagi, sebagai asumsi nuansa batik pesisir mesti-nya begitu. Esensi pesan dan korelasi pasti saling terkait. Motif apapun pasti memiliki karakter. Pada tahap pemikiran kali ini artinya saya mulai membuang jauh konotasi lokcan berasal dari etimologi frase 2 kata bahasa cina yang bermakna Sutera Biru. LokCan mestinya merujuk nama vegetasi tertentu. Fakta-nya buruan buka kamus bahasa Cina. Tentang warna memaparkan bahwa 蓝色 Lán sè : Biru (umum) dan 浅蓝色 Qiǎn lán sè : Biru muda. Sementara untuk kata sutera bahasa pinyin menyebut Sixian. Bahasa china 丝线.  

Melalui serangkaian tahap blusuk-blusuk informasi. Bingo! akhirnya terkuak inisial LokCan. Salah satu kanal website www.bharian.com. Juga rujukan salah seorang blogger asal Malaysia. Hanya ada satu poin yang menjadi saya masih sangsi. LokCan ini secara gamblang disebut sebagai alias Berembang. Sebagai buah tanaman khas asal Aceh (Indonesia). "..sejarah mengenai pokok lokcan di Kedah bermula ketika angkatan armada dari Aceh diketuai Iskandar Muda Mahkota Alam pada tahun 1619 ke Kota Siputeh bagi menyerang pusat pemerintahan negeri ketika itu. 
Sonneratia caesolaris

Pada wacana itu disebutkan bahwa LOKCAN adalah buah yang memiliki latar kisah sejarah. Sebab  awal eksistensinya dikaitkan dengan momentum penyerangan kerajaan Pasai Aceh menuju Kedah Malaysia. Buah LokCan/Berembang adalah bekal para prajurit Pasai yang biji-nya banyak dibuang disekitaran sana.Sehingga kelak bertumbuh-kembang. Entahlah. Apapun yang menjadi dalil dari latar belakang kisah  warna sejarah, sudah selayaknya patut dihargai.
Sejauh praduga, secara etimologi bahasa, asal kata Lok agak mendekati kata Lhok . Dalam bahasa Aceh, Lhok dapat berarti dalam, teluk, palung laut . Jadi, secara kaji literasi masih terkait dengan tematik laut dan pesisir. Bahwa memang di wilayah aceh pesisir terdapat nama khas dengan awalan Lhok. Lhokseumawe, Lhoknga, Lhok Mata ie dan masih banyak lagi. 
Namun jika merujuk alibi ilmu pengetahuan mungkin bisa bertolak belakang. Kenapa? Jika dirunut lebih jauh ternyata buah lokcan, atau secara istilah masyarakat Aceh menyebutnya Berembang. Tak lain..tak bukan, adalah buah dari pohon Pidada (pidada merah) atau Prapat. Merupakan bagian utama vegetasi Mangrove. Tipe tanaman khas pesisir! Bahkan secara klasifikasi kelompok  dalam himpun ekosistem dikatakan sebagai mayor komponen. Mayor komponen adalah tipikal sekelompok Mangrove yang zona hidupnya berada pada wilayah rendaman pasang-surut air laut (mampu bertoleransi pada zona salinitas tinggi). Seperti halnya kelompok Avicienna, Brugeira dan Rhizophora. Beda lagi kelompok minor adalah sejumlah vegetasi sekelompok mangrove yang zona tumbuh pada juga lingkungan pasang-surut tapi yang agak dekat atau cenderung mengarah ke daratan. Zona yang ditengarai sebagai wilayah salinitas rendah. Namun kategori mayor-minor ini terdapat juga pengecualian untuk beberapa varian individu.


akar napas Sonneratia sp.
Prapat.. Pidada.. also known as Sonneratia dibedakan atas 2 jenis. Yaitu Sonneratia alba dan Sonneratia caseolaris. Secara ciri fisik kedua-nya sama. Dari model akar napas yang khas tegak (pencil like). Akar ini dikatakan khas karena berfungsi sebagai alat napas sebagai pendukung pola respirasi struktur kesatuan pohon. Seperti layaknya fungsi snorkel bagi diver. Ciri batang besar. Bentuk daun..hingga buah sama. Karena buah berbentuk 'gumpal' maka sebagian masyarakat pesisir menyebut Apel laut.
Cara paling mudah membedakan antara S. alba dan S. caseolaris adalah dengan mengamati saat momen pembungaan. Perbedaan itu terlihat dari warna petal (mahkota bunga). S. alba berwarna putih..dan S. caseolaris berwarna merah. Cukup unik kan!?
Selain ciri-ciri tadi secara rumpun bagian dari asosiasi mangrove hanya pidada/berembang yang dapat dimakan. Sebagian daerah di Indonesia malah sudah mengolahnya sebagai bahan penganan kecil, Dodol bakau. Juga sebagai menu hidang minuman sirup.

Sehingga dapat ditarik kesimpulan mengapa buah ini sangat layak mendapat apresiasi khusus bagi komunal pesisiran. Sebab secara manfaat hanya pidada (lokcan) yang dianggap menyokong kehidupan manusia. Sebagai opsi bahan pangan. Selain aneka biota asal lautan tentunya. Meliputi ikan, krustasea, moluska dan lain-lain.
Agar lebih mudah perhatikan lagi motif batik LokCan (inset). Biar gampang sengaja saya sertakan beberapa poligon dengan warna-warni pembeda. Terlihat dengan gamblang, perhatikan poligon segi6 biru - lingkaran hijau - dan persegi 4 biru.  Terlihat jelas beda tahapan bentuk motif. Dari pemaknaan proses geliat tumbuh sejak bunga..mahkota putik/petal hingga Buah (bongkahan dengan cuat untaian satu helai). Lingkaran oranye ditengarai sebagai 4 kuntum bunga/bakal buah. Sementara pada lingkaran putih sejauh prediksi adalah bentuk buah dalam kondisi terbelah. Menandakan bisa dimakan. Demikian sejauh penalaran ringkas dan upaya translasi dari maksud gambar. Bisa jadi begitulah sekelumit tips dari para seniman ataupun perancang motif bahula terhadap refleksi diri terhadap penghargaan lingkungan. 
Pertanyaan berikutnya, sebenarnya buah berdasar eja kata LokCan ini berasal dari kosakata bahasa mana? Apakah sebenarnya kata  lok-can merujuk nama buah atau hanya kiasan asal bahan si sutra biru?. Masih kontradiktif... sekalipun sangat mudah ditelaah berdasarkan runut dalil dan analisa di atas.


seorang rekan  berlatar belakang pohon Sonneratia sp.
Tampak  terlihat model khas bentuk tegakan disebut tipe akar nafas.
kegiatan : penelitian kerang Bakau di gili Lawang-Sulat 2013 (Dok. pribadi) 
Mendekati akhir bahas. Tentu saja sebagai himpunan struktur ekosistem, mangrove tidak hanya ada di sekitar Nusantara saja. Bahwa dalil berembang asal Aceh-pun sangat mudah terbantahkan. Apalagi jika dikaitkan dengan konsep kajian ilmu geografi. Perihal teori landasan benua. Sama-sama zonasi Paparan Sunda. Selat Malaka. Semenanjung Malaya dan Sumatera dulu-nya adalah satu cakupan wilayah namun terpisah melalui rangkaian perubahan dinamika waktu. Sangat besar secara peluang memiliki varian vegetasi darat dan laut-nya sama. Begitu juga dengan aneka biota penghuni. Sebagaimana ungkapan , demikianlah hakikat tentang citra bangsa serumpun. Faktor genetika lingkungan bahkan tautan ras adalah selaziman fakta tak terbantahkan.  
Sejauh cerita berkembang soal tanaman yang pernah 'hijrah' atas campur tangan manusia. Saya pernah menyimak dari seorang antropolog asal Australia. Asam (Tamarindus indica) adalah salah satunya. Menurut kajian ilmu botani setempat. Asem yang ditemui disepanjang wilayah pesisir disana bukanlah tanaman khas Australia. Melainkan vegetasi pendatang asal Nusantara. Asem bisa tumbuh disana karena 'ulah' para pelaut/nelayan asal Sulawesi(Bajou). Mereka biasa membawa asem sebagai bahan bumbu masak dalam trip pelayaran. Diperkiraan ada dari mereka yang sengaja menanamnya sebagai tanaman stok jika kelak datang lagi ke daratan. Benarkah begitu?
Yah, kembali lagi pada lembaran sejarah lama. Jauh sebelum bangsa Eropa melakukan perlawatan laut. Entah itu masa kejayaan portugis hingga trending topik jalur rempah oleh Belanda. Ataupun ekspedisi ChengHo di abad 15. Nenek moyang Nusantara sudah terkenal sebagai penjelajah samudra. Perairan sisi utara-barat benua Australia sudah jadi menu wajib kunjung. Karena disana merupakan mata rantai historical fishing's ground. Paling ngetop sebagai lokasi perburuan ikan hiu. Jauuuuuuh sebelum wilayah itu dikuasai para pendatang. Sangat besar kemungkinan para pelaut/nelayan bajou sudah berinteraksi lebih dulu dengan para penghuni asli. Suku Aboriigin. 

Last but not least...,
Sekelumit kisah tadi semoga bisa menjadi pembuka jalan semata upaya identifikasi batik LokCan. Dan sebagai tipe tanaman pesisir..secara penyebaran benih mereka tidak seperti sifat tanaman khas darat. Bisa berpindah secara alamiah (trans-lokasi) akibat peran burung tipe pemakan biji-bijian. Boleh juga peran serta lebah dalam aksi polinasi. Ataupun campur tangan manusia pembawa-nya. Sekalipun mangrove memang sangat mudah dibudidayakan. Benih Mangrove 'sanggup' berkelana sesuai amanat garis takdir-nya. Semenjak dari puncak kematangan buah. Terjatuh, lepas dari pohon indukan. Lalu kelayapan bebas merdeka...beradaptasi dengan arah tabiat arus. Nah, kalau sudah gini tepatlah sebaris cuplikan ayat Ilahiyah. 

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; 
tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, 
dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, 

dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), 

dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, 

dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)".
Al-An-am:59    


Wassalam...,
    
KEYWORD :
Lokcan alias Berembang (Brembang) ataupun buah pidada merah. Secara harfiah memang merujuk nama tanaman khas pesisir. Sebagaimana diketahui pidada/prapat seperti halnya mangrove berjenis Rhizopohra stylosa (eng: Red Mangrove). Menghasilkan tanin..getah berwarna merah yang sangat bermanfaat untuk pewarna alami jaring ikan. Dipercayai memiliki aroma khas yang mengundang ikan untuk berasosiasi. Dalam industri tekstil juga dipakai sebagai bahan pewarna non chemical.
REMBANG secara leksikal besar faktor kemungkinan adalah penyebutan lain muasal Berembang/Brembang. Korelasi sinergis dari asal mula berkembangnya batik motif lokcan di wilayah Rembang-Jawa Tengah. Sebagaimana paparan penghantar sebelumnya.
Identifikasi nama daerah di hampir seluruh pelosok Nusantara, hampir mengenal sistim  korelasi identik dengan tanaman/vegetasi khas dominan di lokasi bersangkutan. Banyak contoh. Misal : pelabuhan Teluk Bayur (Bajur) - Sumatra Barat.  Tanjung Bira - Sulawesi Selatan. SundaKelapa-pantai Indah Kapuk di Jakarta. Pelabuhan Ketapang - Banyuwangi. Pelabuhan Benoa (Benuang) - Bali.  Pulau Bungin (Bongin) - Sumbawa.  Dll.

Khusus pulau *Lombok sejauh yang saya kenali sesuai lingkar pulau. Starting poin dari ujung barat. Bangko-Bangko (bakau),  LabuhanPoh, Pandanan(sekotong), Pantai Cemare-Lembar, Pantai Kurandji, Makam Bintaro, pantai Senggigi (ujar lain Sentigi/Pemphis acidula), pantai Kerandangan (kerenda, renda, ilm : Carissa carandas), Pantai Klui (Kluwih), pantai Nipah (Nypa frutican), Pantai Pandanan-Malaka, pantai Mentigi, teluk Nara (kemungkinan mengarah Angsana). Tanjung, Dadap, Menanga Baris & LabuPandan (wilayah Sambelia), Lian, Gili Bidara, Pantai Ketapang-Pringgabaya. Pohgading, Pantai Rambang wilayah LabuanHaji.  


Koleksi batik LokCan
**ke-4 koleksi batik tulis lokcan tempo dulu berbahan sutera. Perhatikan seksama ragam hias memiliki variasi berbeda. Klik pada masing-masing keterangan gambar jika hendak merunut tentang detil gambar dan kondisi-nya. Termasuk penjelasan singkat dan upaya identifikasi lebih lanjut.

Batik tulis (sutera) rembang kuno motif LokCan 1

Batik tulis (sutera) Rembang Kuno - motif LokCan 2

Batik tulis (sutera) Rembang Kuno - motif LokCan 3

Batik tulis (sutera) Rembang kuno - motif LokCan 4