Sabtu, 18 April 2009

BIO-ROCK...lanjutan!!!!


Background

Dulu, pernah dikenal istilah Rumpon. Di-translate dari Fish Aggregating Device (FAD). Lalu muncul lagi Terumbu Karang Buatan (TKB) adopsi dari terminologi Artificial Reef. Lalu ada lagi dikenalkan lagi Reef-Ball. Merujuk banyak penamaan dengan juntrung membingungkan, akhirnya saya temukan istilah induk dari perca item bahasa tadi. Artificial habitat… alias Habitat buatan.

Belakangan mencuat pamor Bio-Rock. Ogah susah-2 saya uber tentang selayang pandang. Bikin prediksi mudah saja. Bio-Rock seolah asal makna dari “BATU yang HIDUP”. Relevansi pengertian bahwa “Karang” bukanlah sekedar “batu”. Tapi merupakan mahluk hidup! Benda hidup! Dia adalah biota. Termasuk klasifikasi coelenterata (hewan berongga). Pembentuk utama terumbu karang adalah polip karang dengan bentuk sangaaaaaaaaaat Keciiiiiil. Dalam jaringan polip karang hidup algae bersel satu disebut Zooxanthellae. Si algae berfotosintesis hasilkan makanan dan oksigen. Subsidikan pada polip. Tabiat ber-simbiosis mutualistis. Juga mempengaruhi penumpukan “kapur” pada stuktur bangun tubuh luar. Termasuk sumbangsih varian warna.


Bio-rock in depth…,

Juga berupa Habitat buatan. Ambil contoh kasus kegiatan yang pernah kami garap. Struktur berbentuk kerangka atap joglo, lokasi pantai Labuanpandan-Sambelia tahun 2005. Garapan para Unyil-Diver UGM. Formasi kawat beton di-las pada pertemuan titik. Diceburkan pada lokasi kedalaman tertentu. Tadi-nya saya pikir seperti TKB pada umumnya. Ternyata, pada struktur terpasang arus listrik. Dengan bentang kabel lumayan panjang dari induk Power-Supply. Kerjanya mirip tehnik sepuh logam sederhana, anoda-katoda. Arus listrik negatif(-) dipasang pada struktur utama. Pada ujung arus kabel positif(+) terdapat alat khusus. Sirkulasi listrik ini yang konon membantu percepatan tumbuh (akresi). Ber-efek fertilisasi polip karang meningkatkan produksi larva planula-nya. Pada tiap titik kawat dipasang bongkahan karang hidup yang diambil di areal sekitar-nya. Artinya tindakan ini masih seperti aksi transplantasi karang. Merekayasa proses percepatan pertumbuhan. Dibarengi perlakuan khusus.

Selang waktu, kami lakukan monitoring. Ternyata akresi lumayan cepat. Nyaris semua bagian kawat beton sudah dilumuri penumpukan kapur. Pada specimen montipora malah telah menyatu erat pada besi beton, sebagai media tumbuh-nya (substrate). Asupan sirkulasi listrik rutin. Tugas lain lagi, harus dilakukan pembersihan beberapa biota competitor. Biasa berupa sponge maupun tunikata. Sebagai upaya mengutamakan tumbuh-nya para koloni kategori karang keras.

Dua bulan kedepan-nya lagi kami lakukan monitoring ulang. Harus jenguk karena berita cukup mengenaskan. Listrik pendukung kinerja Bio-rock mandek total. Penyebabnya gak ada lain. Gardu listrik induk yang dikelola pihak swasta wilayah Lombok Timur dirusak massa. Lombok Timur padam total beberapa hari. Nelangsa benar nasib Bio-rock yang kami tangani. Semua tubuh lonjor besi yang tadinya ditumbuhi kapur kini mati. Tertutup lumut. Program berakhir….,


Program Bio-rock “2009”

Memang masih berupa “benih” rencana dari Diskanlut Propinsi NTB. Gak pernah saya konfirmasi lagi. Tapi jika memang mengarah pada project, semoga menjadi acuan maslahat bagi upaya konservasi laut. Khususnya wilayah NTB.

Skeptis ini simple. Dulu saya pernah nimbrung program monitoring Co-fish project di Lombok Timur. Proyek Terumbu Karang Buatan (TKB). Padahal jelas-2, sekedar penyemplungan konkrit semen berbentuk mirip stupa. Kerap disebut reef-ball. Penempatan poin amburadul. Banyak beton “asal” turun dan menimpa terumbu karang alami. Bukannya melestarikan malah merusak!!!

Diklaim artificial reef (asal sebut debut TKB) padahal cuma artificial habitat. Tanpa ada serangkaian upaya rekayasa tambahan, Transplantasi karang. Paling tidak TKB project ini bisa mempertanggung-jawabkan diri benar-benar sebuah konsep Terumbu Buatan. Alhasil muncul rekayasa laporan data. Rekayasa penekanan budget operasional. Reka-reka…lokasi penempatan. Merekayasa pihak rekanan. Persis gulir opera sabun-colek! ironis melo-dramatik…. Basi kog dipelihara!

Banyak sanggahan saat presentasi hasil monitoring kami (Yayasan JARI). Yang menarik ada ungkapan pribahasa taktis pihak konsultan Co-fish project. “Dibawah permukaan bisa terjadi banyak hal” seolah turut meragukan laporan temuan kami. Padahal, sebelumnya sudah ada pesanan order susun-data laporan. “di-imbau” untuk tidak cantumkan cacat-project. Biarlah kancah berkicau. Toh dokumentasi video bawah air sudah cukup mengungkap dusta yang tersembunyi dibawah permukaan.

Visionable nan jernih di kawasan perairan NTB. Ngapain harus latah ikuti alur program baku yang dipaksakan oleh silabus resmi. Pengelolaan carut-marut. Harusnya ikuti kebutuhan mendasar dari tiap daerah bersanding variasi konflik. Lebih afdol meningkatkan pemahaman SDM lokal terhadap kepedulian SDA yang dimiliki daerah. Sementara oknum instansi terkait-pun masih banyak “buta” soal pengetahuan TERUMBU. Tapi “silau” kans proyek. Gak beda jauh saat pelaksanaan program COREMAP di era tahun 90an. Kepanjangan dari Corel-Reef Management Project. Sering saya plesetin meski cuma asupan nurani sendiri, jadi Corel-Reef Management Profit! Keuntungan mengelola Terumbu karang.


Wacana pembeda

Pepatah bilang “lain lubuk lain ikan… lain kawasan lain wawasan”. Tahun 2007-2008 saya kerap hengkang Jawa Tengah. Ikuti ajakan nimbrung beberapa pelaksanaan proyek Terumbu Karang Buatan. Ternyata kondisi lebih parah!

Lagi-lagi saya temui “obsesi” rada nyeleneh. Sekalipun bukan bermaksud menjatuhkan mentalitas hasrat membangun. TKB di Jateng bercita-cita menciptakan zona terumbu dibeberapa titik pesisir Pantura. Tergantung perwilayahan komunitas domisili nelayan. Sosialisasi program… paksain proyek. Rakyat-nya kerap jawab inggih…inggih, manggut bingung. Laut mereka jelas-2 dominan keruh. Tingkat pencemaran tinggi akibat sedimentasi. Run-off daratan…

Diving gak nyaman! Visibilitas rendah, terutama alih pergantian arus. Kian keruh…zero visibility! Rekayasa kualitas pekerjaan kian gila. Konkrit blok-TKB mengalami gradasi mutu akibat jibun sub demi sub pelaksana proyek. Pemenang lelang pekerjaan satu bendera. Trus turun bertahap, degradasi kesepakatan nominal diantara sub-pelaksana. Satu lelang bisa turun-temurun hingga 6 pelaksana. Rekayasa mudah. Kualitas campuran material… berbandingan adukan semen… penulangan besi beton kian kurus dari ukuran ideal. Gak heran concrete-blok mudah pecah… rompal coro jowo-ne!

Bersyukur, perlahan pemahaman dari pelajaran al-Furqan kian mengasah pengetahuan. Perairan jernih di NTB, pelaksanaan proyek Terumbu Buatan segitu mudah di manipulasi. Apalagi dengan kondisi air keruh seperti PANTURA. Kian ber-kiat menghilangkan cacat proyek! Bersembunyi dibalik fenomena alam yang memang terlanjur tidak terjaga. Lestarikan “merekayasa” alam. Alam gak lestari… sebagian MEREKA bisa KAYA… hanya dengan mereka-reka sumber daya alam. Dan “budaya” ini semakin membumi. Ditolerir sebagai skill spekulan… jawara proyek mendatangkan lahan rejeki.

Allahu-alam….,

1 komentar:

turiscantik.com mengatakan...

kereeenn..! thanks infonya ;)